
Meka tak berpikir sejauh itu. Dia memiliki pikiran yang polos.
"Aku rasa mereka tidak akan berpikir seperti itu Mas. Lagian ini juga untuk kebaikan kita kan. Kamu menjaga aku dan anak kita di kampung Mas," ucap Meka yang menginginkan Zain ikut bersamanya.
Zain belum bisa memutuskan apakah dia akan ikut bersama Meka atau tidak. Namun hatinya berdebat dengan pikirannya sendiri. Jauh di lubuk hatinya dia ingin ikut bersama Meka, menemani istrinya melewati masa kehamilannya selama sembilan bulan.
"Kita pikirkan nanti ya sayang. Mas akan coba bicara sama Papa tentang hal ini. Semoga beliau bisa mengerti tentang keadaan kita ya sayang," harap Zain.
"Iya Mas, aku pun berharap seperti itu."
Waktu pun terus berlalu hingga hari perayaan syukuran atas kehamilan Meka akan segera tiba. Zain dan Meka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya Zain.
"Gimana sayang, semua sudah di siapkan?" tanya Zain saat menyiapkan barang bawaannya.
"Udah Mas, untuk beberapa hari di sana sudah di siapkan. Nanti kalau ada yang kurang, kamu kan bisa kembali ke sini Mas," ucap Meka yang masih mengemasi beberapa pakaian ke dalam tasnya.
"Iya sih, Tapi kan Mas tidak mau ninggalin kamu di sana sendirian. Lebih baik semua keperluan selama di sana harus disiapkan biar gak bulak balik sayang," balas Zain.
"Iya Mas, aku akan cek lagi apa yang kurang."
Meka pun kembali mengecek keperluan yang akan dibawa mereka ke sana. Setelah semua selesai, Zain dan Meka turun ke lantai bawah menuju mobil. Zain membawa barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Udah siap kan semuanya sayang?" tanya Zain. Kalau gitu ayo kita berangkat," ajak Zain dengan semangatnya.
"Iya Mas, ayo," balas Meka. Dia pun semangat untuk pergi ke rumah mertuanya. Meka merasa bahagia karena acaranya akan segera di laksanakan. Dan Papanya akan segera datang ke Kota Jogja nantinya.
Meka masih belum mengetahui apa yang akan terjadi dengannya nanti. Mona yang merupakan sepupu Zain, sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat Meka bersedih selamanya.
Saat ini Mona sudah menyelesaikan ritual pertamanya yaitu tidur dengan melayani dukun itu selama tiga hari. Dan ritual selanjutnya Mona harus mandi dengan darah ayam cemani yang di taburi bunga kembang tujuh rupa untuk membuka aura hingga cantik paripurna membuat para lelaki akan terpesona melihatnya.
"Sekarang kau akan melanjutkan ritual berikutnya. Apa kau sudah siap?" tanya dukun itu memastikan.
Mona tidak akan menyerah karena dia sudah mengorbankan kehormatannya demi mendapatkan Zain. Sehingga mata hatinya sudah buta dan apapun akan di lakukannya untuk bisa segera memiliki Zain.
"Saya siap menjalaninya," tegas Mona dengan ekspresi dingin. Mona menatap dukun tua itu dengan tatapan jijik karena sudah menyentuh dirinya.
Terbesit dalam benak Mona ingin menghancurkan dukun itu dengan menggunakan bantuan iblis yang akan membantunya mendapatkan Zain. Tapi untuk saat ini, Mona hanya fokus dengan menjalani ritualnya saja agar dia bisa secepatnya pergi dari tempat ini.
"Kalau begitu, saat malam nanti malam tepatnya malam Jum'at Kliwon, kita akan melakukan ritualnya. Dan persiapkan dirimu," ucap dukun itu yang kemudian berlalu dari hadapan Mona.
Mona terdiam di dalam kamarnya dan dia melihat ke luar jendela dari tempat tidur. Mona merindukan Mamanya yang sudah beberapa hari tidak di lihatnya.
__ADS_1
"Sebentar lagi Ma, aku akan menyelesaikan ritualku. Dan apa yang aku inginkan, akan aku dapat sebentar lagi, hahahaha," gumam Mona sambil tertawa mengerikan.
Di dalam perjalanan, Zain dan Meka diam dengan pikiran masing-masing. Meka masih kepikiran dengan Zain yang melihat sekelebet bayangan hitam. Dan begitu juga dengan dirinya yang melihat sekelebet bayangan hitam di depan rumah Zain.
Sementara Zain memikirkan tentang bagaimana dia akan berbicara memberitahukan tentang rencana mereka yang akan tinggal di kampung selama Meka hamil.
"Mas."
"Sayang," Zain dan Meka secara bersamaan membuka suara dan memanggil satu sama lain.
Zain dan Meka saling menoleh lalu tersenyum karena bersamaan memanggil.
"Kamu mau ngomong apa sayang?" tanya Zain yang langsung berbicara.
"Mas, aku teringat akan bayangan hitam yang kemaren aku lihat. Apa itu ada hubungannya dengan bayangan hitam yang kamu lihat ya Mas," ucap Meka memberitahu.
Zain justru tidak memikirkan hal itu. Tapi saat Meka mengingatkannya kembali, dia pun mengingat ucapan Meka yang kemaren melihat sekelebat bayangan hitam di depan rumah Mamanya.
"Ya Mas ingat. Kemaren kamu juga melihatnya. Tapi kenapa bayangan hitam itu meneror kita?" tanya Zain bingung.
"Aku juga gak tau Mas. Tapi sepertinya dia mengincar kamu Mas. Buktinya kamu melihat sekelebet bayangan hitam itu ketika aku gak bersama kamu," jawab Meka yang mencoba menebaknya.
"Ah sudahlah sayang, gak usah kita bahas. Mas jenuh banget kalau menyangkut hal ghaib terus. Mas malah memikirkan tentang nanti apa yang akan Mas sampaikan ke Papa dan Mama. Menurut kamu kira-kira apa ya yang harus Mas jelaskan?" tanya Zain yang meminta pendapat istrinya.
"Aku juga gak tau Mas apa yang harus di jelaskan. Aku juga merasa gak enak sama orang tua kamu. Aku takut keduanya menganggap aku yang memaksakan kamu ikut bersamaku di kampung," jawab Meka.
"Itulah yang Mas pikirkan sayang. Mas masih belum mendapatkan ide untuk itu," balas Zain.
"Ya sudah Mas, nanti kita pikirkan lagi ketika sudah sampai di sana. Oh ya Mas, gimana dengan tiket Papa udah di pesankan?" tanya Meka yang teringat akan Papanya.
"Sudah sayang, Mas sudah mengambil tiketnya. Papa tinggal berangkat aja hari Sabtu pagi," jawabnya.
"Aku senang banget Mas, akhirnya bisa ketemu dengan Papa. Lagian kita juga sudah lama tidak berkunjung ke makam Mama dan Biyu. Aku merindukan mereka Mas," ucap Meka dengan wajah sendunya. Tiba-tiba air mata Meka menetes mengingat kedua orang yang sangat disayangnya dan dirindukannya.
"Sayang, kamu menangis?" tanya Zain karena melihat dari ekor matanya kalau Meka sedang menangis. Zain pun menoleh ke arah Meka.
"Aku sangat merindukan mereka Mas."
"Sini Mas peluk," Zain menarik tubuh Meka ke dalam dekapannya sambil menyetir.
Perjalanan pun menjadi hening, Meka memejamkan matanya dalam dekapan Zain. Dia mengingat kesedihannya kala kepergian Mama dan adiknya.
__ADS_1
"Nanti kita akan berkunjung ke sana ya sayang. Mas juga gak enak karena sudah lama tidak mengunjungi mereka. Mudah-mudahan, Mas bisa memberikan penjelasan sama Mama dan Papa nantinya tentang ikutnya Mas ke kampung," hibur Zain.
Meka tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Akhirnya mereka pun sampai di kediaman orang tuanya Zain. Ternyata Mama dan Papanya sedang berada di rumah sore ini.
Dari dalam rumah terdengar suara mobil datang. Mamanya Zain beranjak dari sofa dan berjalan ke depan rumah ingin melihat siapa yang datang.
Kemudian Mamanya pun membuka pintu depan dan melihat kedatangan Meka dan Zain anaknya.
"Akhirnya kalian datang juga. Mama pikir besok kalian kemari," ucap Mamanya saat melihat Zain dan Meka berjalan ke rumah.
"Kasihan Meka, Ma. Kalau malam-malam harus kemari. Kalau siang lebih baik, kenapa harus malam kan Ma," balas Zain sambil menyalami tangan Mamanya.
Meka pun melakukan hal yang sama ketika sampai di hadapan Mama mertuanya.
"Pinter sekarang kamu jawabnya ya Zain," ledek Mamanya.
"Hehehe," Zain pun cengengesan. "Oh ya Ma, Papa masih di kantor?" tanya Zain yang tidak melihat Papanya.
"Ada tuh di dalam lagi nonton TV," jawab Mamanya. "Ayo sayang kita masuk," ajak Mamanya sambil menggandeng lengan menantunya.
"Oh ya Zain, kalian sudah makan?" tanya Mamanya.
"Sudah Ma tadi," jawab Zain.
"Nah tuh Papa," tunjuk Mamanya saat mereka sudah berada di dalam rumah.
"Assalamu'alaikum Pa..!" sapa Zain yang langsung menghampirinya.
"Wa'alaikumussalam Zain," sahut Papanya.
"Kalian nginep di sini kan Zain?" tanya Papanya saat melihat mereka membawa koper kecil.
"Iya Pa, kami akan menginap di sini sampai acaranya," jawab Zain. Zain dan Meka duduk di sofa di hadapan kedua orang tuanya.
"Oh ya Pa, kemungkinan Sabtu, Papanya Meka akan sampai ke sini. Zain kemaren memberi khabar kalau Meka sedang hamil dan memintanya datang ke acara syukuran atas kehamilan Meka," terang Zain.
"Oh ya gak apa-apa Zain. Papa senang, biar sekalian kami kenal sama orang tua Meka," balas Papanya.
"Sayang, kamu sudah minum susu kan buat Ibu hamil?" tanya Mama mertuanya.
__ADS_1
"Sudah Ma, kemaren Mas Zain sudah membelikannya untuk Meka," jawab Meka tersenyum.
"Syukurlah, Mama senang kalau Zain memberi perhatian besar sama kamu dan anak dalam kandunganmu nak. Ya sudah, Mama mau nyuruh si Bibi buat masak kesukaan kalian dulu ya buat makan malam kita," ucap Mamanya yang kemudian beranjak dari sofa meninggalkan mereka bertiga.