Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 166


__ADS_3

Meka masih memperhatikan jalanan di depannya. Dia melihat mobil Deon yang berada di depan.


Tak berapa lama, mobil masuk ke area kostan Deon dan Isna.


Begitu juga dengan mobil Zain, yang memasuki area kostan Deon dan Isna.


Meka terus menatap ke depan dimana ada sosok genduruwo yang selalu berada di depan rumah itu.


Meka hanya diam melihat ke depan. Dia tak menyadari kalau Zain mengajaknya ke luar mobil.


"Sayang, ayo turun, kita udah sampai. Deon dan Isna juga sudah menunggu," ajak Zain.


Zain berpikir kalau Meka mendengarnya dan segera turun. Tapi ternyata setelah Zain keluar duluan dan menunggu di depan mobil, Meka tak kunjung keluar.


Akhirnya Zain menghampiri Meka kembali di dalam mobil.


"Sayang, ayo turun! Kamu kenapa? Deon dan Isna sudah nungguin!" ucap Zain memanggil Meka.


Namun Meka tak menyadarinya dan tetap diam.


Zain bingung, lalu dia menyentuh lengan Cha dan menyadarkannya.


"Ah iya kenapa Mas?" tanya Meka heran.


"Sayang, kita sudah sampai. Lihat Deon dan Isna sudah menunggu dari tadi," ucap Zain yang menunjuk ke arah sahabatnya.


"Oh udah sampai ya. Maaf Mas, aku melamun," balas Meka.


Lalu Zain dan Meka keluar dari dalam mobil. Mereka menghampiri kedua sahabat Meka.


"Kok lama Mek? Apa ada sesuatu?" tebak Deon.


"Ah nggak ada De, ayo kita kemana dulu nih?" tanya Meka.


"Kayaknya kita ke kamar gw dulu deh Mek, buat ambil beberapa pakaian," jawab Isna.


"Ya udah kalau gitu kita kesana dulu," balas Meka.


Mereka berempat berjalan ke arah kamar Isna. Meka mulai merasakan hawa yang tak nyaman di sekitarnya. Sekilas Meka melirik ke arah kamar yang berada di hadapan kamar Isna.


Kamar itu tertutup rapat, tapi Meka tau kalau di dalamnya ada penghuninya yang sedang melakukan ritual pemanggilan iblis. Meka meminta Isna segera ke kamarnya.


"Na, ayo cepat ambil beberapa pakaianmu, kita harus segera meninggalkan kost-kostan ini," ucap Meka menyuruh nya bergerak cepat.


"Iya Mek, aku akan segera mengambil beberapa pakaianku, sebentar," balas Isna.


Lalu dengan sigap Isna mengambil beberapa pakaian yang di butuhkannya.

__ADS_1


Sementara Meka dan yang lainnya menunggu di luar kamar. Meka masih menatap fokus ke arah kamar itu. Meka khawatir jika iblis itu bisa mencium aroma Deon dan Isna yang masih perjaka dan perawan. Lalu dia menyuruh Deon mengambil pakaiannya segera tanpa menunggu Isna selesai.


"Deon lebih baik kamu ke kamar langsung mengambil pakaianmu, dari pada menunggu disini," suruh Meka.


"Iya, ayo saya temani kamu Deon. Biar cepat selesainya," sambung Pak Zain.


"Baik Mek, kita ketemu di depan ya," ucap Deon.


Lalu mereka berjalan ke arah kostan Deon yang berada di ruangan samping.


Sementara Meka terus melihat kamar itu. Dan dia masuk ke dalam kamar Isna untuk mengingatkannya agar cepat menyelesaikannya.


"Ayo Na, kita tidak bisa lama-lama disini," ucap Meka mengingatkan.


"Iya Mek, ini udah selesai. Ayo keluar," balas Isna yang langsung membawa tas ranselnya.


Mereka langsung keluar dari kamar itu dan berjalan dengan cepat meninggalkan kostan perempuan.


Saat Meka dan Isna hendak mendatangi kamar Deon, mereka di hadang dengan sosok genduruwo.


"Aaaargggghhhhhh," genduruwo itu menatap tajam ke arah Meka.


Meka mencoba tak menghiraukannya dan berjalan menghindarinya. Namun genduruwo itu tak memberi kesempatan untuk Meka kabur.


Meka menatap tajam ke arah genduruwo itu. Dan berusaha untuk menghindar.


"Na, sepertinya kita sedang di permainkan," ucap Meka.


"Mek, kita kok balik lagi kesini. Perasaan tadi udah lewat dari tempat ini. Kenapa bisa begini?" tanya Isna bingung.


"Kita di buat masuk ke dalam lingkaran ilusi Na. Jadi sebenarnya kita tidak melangkah dari tempat kita ini, kita hanya berputar-putar saja disini," jelas Meka.


"Meka.....gimana ini?" tanya Isna yang mulai ketakutan.


"Kamu tenang ya, aku coba menghapus lingkaran ilusi ini," jawab Meka.


Lalu Meka memanggil Khodamnya melalui bathinnya.


"Kenapa kamu kembali ke tempat ini Meka?" tanya Khodamnya.


"Aku menemani sahabatku untuk mengambil keperluannya ke sini," jawab Meka.


"Kau sudah masuk ke dalam lingkaran ilusi yang di buat iblis itu!" seru Khodamnya.


"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Meka bingung.


"Kau harus berkonsentrasi dan mengarahkan liontinmu ke udara seperti kau menusuk sesuatu di udara," jawab Khodamnya.

__ADS_1


"Apa hanya itu yang harus di lakukan?" tanya Meka lagi.


"Tidak, kau harus meneteskan sedikit darahmu ke liontin itu agar lingkaran ilusinya terbuka. Dan jika sudah terbuka, segeralah keluar dari sini. Dan jangan menoleh ke belakang. Waktumu hanya 5 menit saat lingkaran ilusi itu terbuka. Jika tidak, kau dan temanmu akan terhisap ke dalam lingkaran itu, dan menjadi penghuni selamanya di dalamnya," jelas Khodamnya.


Meka pun melakukan apa yang di suruh Khodamnya, lalu dia meneteskan darahnya ke liontin nya. Dan menusukkannya ke udara. Dengan sigap dia langsung menarik tangan Isna keluar dari kostan itu.


Saat mereka berlari dia teriak kencang di kostan itu.


"Deon cepat keluar....!" teriak Meka sambil berlari.


Zain yang mendengar teriakan dari istrinya, menandakan bahwa situasinya memburuk. Dia langsung menarik Deon keluar dari dalam kamarnya dan berlari ke arah luar kost.


Di luar kost dia melihat Isna dan Meka sedang ngos-ngosan habis berlari yang kejar mengejar dengan waktu.


"Mek ada apa?" tanya Deon bingung dengan nafas tersengal.


"Ayo Mas kita pergi dari sini," ajak Meka yang tidak memperdulikan pertanyaan Deon.


"Na, ada apa?" tanya Deon ke Isna.


"Ayo kita pergi dari sini! Kita ke tempat Ustadz Ahmad sekarang," pinta Isna yang sudah gemetaran.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil masing-masing. Kedua mobil melaju dengan kecepatan yang lumayan cepat.


Meka masih belum bisa mereda rasa keterkejutannya dari keadaan tadi.


Zain yang menyadari ada yang tidak beres dengan kejadian tadi, langsung memberikan pertanyaan nya.


"Sayang, kenapa suara kamu tadi teriak begitu? Apa yang terjadi?" tanya Zain sambil menyetir


"Mas, tadi kami tidak bisa menghampiri kamar Deon. Kami berjalan di tempat dan tidak beranjak. Namun kami seakan-akan sudah berjalan ke arah kamar Deon. Tapi tidak sampai juga," jelas Meka.


"Oh kenapa seperti itu. Mas gak ngerti kok bisa begitu?" tanya Zain heran.


"Itu dia Mas, ternyata kami berada di lingkaran ilusi, yang memperlihatkan seakan-akan kami sudah berjalan meninggalkan tempat kami berdiri. Ternyata tidak," sambung Meka.


"Terus kok kamu bisa keluar dari lingkaran itu sayang?" tanya Zain lagi.


"Khodamku yang membantuku Mas. Dia menyuruhku untuk menggunakan liontinku yang sudah dilumuri darahku agar di arahkan ke udara dengan cara menusuk. Sehingga lingkaran ilusi itu terbuka. Tapi kami harus keluar dari kostan itu dalam waktu 5 menit," jelas Meka lagi.


"Oh pantes kamu teriak kencang ya sayang."


"Iya Mas, karena gak mungkin aku dan Isna menghampiri kalian. Waktu yang di berikan hanya 5 menit saja. Dan aku harus mengambil kesempatan itu untuk melaut dari kostan itu."


"Kenapa kalian berada di lingkaran ilusi itu sayang?" tanya Deon.


Meka pun menceritakan perihal pertemuannya dengan genduruwo itu dan saling diam tanpa bersuara.

__ADS_1


__ADS_2