Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 67


__ADS_3

Hai pembaca setia Novel ku...! Pantau terus ya kelanjutannya. Jangan lupa berilah Author vitamin supaya makin bagus buat novelnya berupa


LIKE, VOTE, HADIAH YANG BANYAK DAN KOMEN YANG PEDAS JUGA GAK APA.


Oh ya Author juga punya karya baru loh....Nih dia !



________________________________________________


Malam pun tiba, Zain sedang memesan delivery makanan untuk mereka berdua. Saat selesai memesan makanan, ponsel Zain berdering. Zain menatap layar ponselnya yang terdapat nama Papanya. Zain diam sesaat, dia menoleh ke arah Meka yang sedang asyik menonton TV.


Zain menjauh dari Meka dan mengangkat tlp nya.


"Hallo Assalamu'alaikum Pa!"


"Wa'alaikumussalam Zain!" jawab Papanya.


"Ada apa Pa?" Zain bertanya.


"Kamu dimana sekarang? Apa sudah kembali ke Apartemenmu?" tanya Papanya lagi.


"Iya Pa, Zain sudah kembali ke Jogja. Rencananya besok sehabis kerja, Zain akan ke rumah menemui Papa dan Mama. Zain juga membawa seseorang untuk diperkenalkan ke keluarga," jawab Zain dengan tegas dan serius.


"Maksud kamu, membawa seorang perempuan gitu Zain?!"


"Iya Pa, Zain harap keluarga bisa menerimanya."


"Apa maksud kamu Zain?" bingung Papanya.


"Besok Zain akan menjelaskannya Pa. Sampaikan sama Mama, besok Zain akan ke rumah."


"Baik, besok kami tunggu kamu di rumah. Tolong jangan kecewakan Mama dan Papa." ucap Papanya dengan intonasi keras dan tegas.


"Iya Pa, Assalamu'alaikum." ucap Zain sebagai penutup obrolan.


"Heum Wa'alaikumussalam." balas Papanya.


Lalu obrolan berkahir dan tlp dimatikan. Saat Zain membalikkan badannya, ternyata Meka sudah berdiri tak jauh darinya. Zain menatap Meka dengan senyuman manisnya. Dia menghampiri Meka dan memeluknya.


"Besok kita kerumah menemui orang tuaku. Kamu siap kan sayang?" bisik Zain ditelinga Meka.


"Aku takut Mas, mereka akan menolakku. Bagaimana jika mereka tidak menerima kehadiranku Mas?" tanya Meka yang merasa was-was.


"Kalau mereka tidak menerimamu dalam keluarga, Mas tidak akan melepaskanmu sayang. Kita akan tetap bersama disini. Mas sudah berjanji dengan Almarhum Mama kamu, untuk slelau menjagamu sampai maut memisahkan kita," ucap Zain yang membuat hati Meka merasa tenang.


"Makasih Mas kamu mau menjadikanku teman hidupmu," Meka memeluk erat suaminya.


"Oh ya, Mas sudah pesan makan malam kita. Mungkin sebentar lagi datang. Kamu sudah lapar kan sayang?" tanya Zain.

__ADS_1


"Iya Mas laper banget," jawab Meka.


Zain mengajak Meka duduk di sofa dan menonton TV menunggu pesanan makanan mereka.


"Mas, kemaren saat aku sama Asih jalan ke Malioboro. Aku melihat wanita tua berada di dekat Dosen Arin. Awalnya aku berpikir kalau dia diganggu mahluk halus. Tapi ternyata dia yang menggunakannya untuk sesuatu hal," Meka memberanikan diri mengungkap tentang Dosen Arin.


"Kamu tau dari mana sayang?"


"Sewaktu aku di Medan saat kepergian Mama. Aku pernah bermimpi bertemu mahluk itu. Dia hendak mencekikku Mas," jawab Meka. yang duduk mengahadap Zain.


"Kenapa kamu gak cerita Meka...! Kenapa baru sekarang ceritanya?" Zain marah dengan sikap Meka yang menyembunyikan hal penting darinya.


"Maaf Mas, aku kan dah bilang. Kalau aku takut kamu menganggap aku aneh," Meka menundukkan wajahnya.


"Kamu tidak aneh sayang, itu kelebihanmu. Mas menerimanya. Mulai saat ini dan kedepannya cerita sama Mas."


Meka menganggukan kepalanya tanda dia menyetujuinya.


"Terus apa lagi yang belom kamu ceritakan ke Mas. Sekarang Mas mau mendengarnya," pinta Zain dengan tetap tersenyum.


"Aku hanya diberi peringatan Mas sama Khodamku untuk berhati-hati kedepannya. Karena akan banyak sekali tantangan dalam kehidupanku setelah menikah denganmu," jelas Meka.


"Kita akan melewati bersama tantangan itu sayang. Aku mencintaimu Meka ku selamanya," Zain memeluk Meka dengan erat. Meka pun membalasnya.


Tiba-tiba bel berbunyi. Zain melepaskan pelukannya dari Meka.


"Itu mungkin pesanan kita sayang yang datang," Zain bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu Apartemennya.


"Hay sayang....,aku kangen banget sama kamu!" wanita itu nyelonong masuk tanpa diizinkan Zain.


"Mau apa kamu!" Zain mengejarnya dan mencoba mengusirnya.


"Sayang, kenapa kamu sensitif begitu denganku. Sebentar lagi kita akan menikah bukan? Jadi aku berhak menemui calon suamiku!" ucap wanita itu tanpa tau malu.


"Aku tidak menerima perjodohan itu. Sekarang keluar dari Apartemenku!" bentak Zain dengan emosi.


"Oh ayolah sayangku, jangan menghindar dariku. Aku mencintaimu," wanita itu mendekat kearah Zain dan meraba dada Zain.


Zain menepis tangan wanita itu dengan kasar.


"Jangan menyentuhku! Aku tidak ada urusan denganmu. Jadi keluar sekarang juga!" Zain menyuruh wanita itu keluar dari Apartemennya.


Meka yang menunggu di dalam kamar mendengar suara keributan diluar kamarnya. Lalu dia beranjak dari sofa dan melihat keadaan diluar kamar. Meka terkejut saat melihat seorang wanita berdiri dekat dengan suaminya. Dia keluar dari kamar dan berjalan menghampiri keduanya.


Wanita itu terkejut melihat kehadiran Meka. Dia tidak menyangka jika Zain menyimpan wanita lain di dalam Apartementnya.


"Sayang, siapa wanita ini?" tanya wanita yang dijodohkan dengan Zain.


Zain menghampiri Meka dan memeluk pinggangnya, lalu dia berkata,

__ADS_1


"Dia istriku. Kami sudah menikah seminggu yang lalu. Jadi kamu tidak perlu repot-repot berusaha mendekatiku lagi, mengerti!" tekan Zain dengan intonasi tegas.


"Kamu bercanda kan sayang! Pasti Papa dan Mama kamu belom tau wanita itu kan? Aku akan mengadukan semua ini dengan mereka." ucap wanita itu yang gak terima.


"Silahkan, aku tak perduli. Sekarang kamu keluar dari Apartemenku!" Zain mengusirnya kembali.


Lalu wanita itu mendekat kearah Meka. Dia menatap Meka dengan tajam dan rasa kebencian.


"Kamu tidak akan aku biarkan mendapatkan Zain. Dia milikku, sebentar lagi kamu akan ditinggalkannya," ucap wanita itu yang mengancam Meka.


Meka membalas tatapan wanita itu dengan tajam. Dia tidak takut dengan apa yang diucapkan wanita itu.


"Sayang, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok. Aku udah gak sabar pengen cepat-cepat menghabiskan malam panas kita nanti," wanita itu membisikkan kata-kata itu ditelinga Zain sambil melirik ke arah Meka dan menyunggingkan senyumannya.


"Keluar...!" Zain membentaknya dan mengusirnya.


Wanita itu tidak marah dengan ucapan Zain. Justru dia malah tertantang untuk memilikinya.


"Aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya. Aku ingin menghabiskan malam panas kita. Oh Zain pasti kamu hot sekali diranjang," gumam wanita itu tanpa tau malu. Dia meninggalkan mereka dan keluar dari Apartemen Zain.


Zain menatap kearah Meka, dia tidak ingin istrinya berpikiran buruk terhadapnya.


"Sayang, Mas bisa jelaskan semuanya. Kamu jangan berpikiran yang buruk ya tentang Mas," pinta Zain.


Zain mengajak Meka masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidur.


"Kenapa kamu gak cerita Mas tentang perjodohanmu dengan wanita itu?" tanya Meka yang merasa marah.


"Maaf, Mas tidak mau menceritakannya karena takut kamu tidak akan menerima Mas sebagai suamimu. Makanya Mas tidak cerita ke kamu sayang. Mas takut kamu menolak pernikahan kita. Mas gak mau itu terjadi. Mas sangat mencintaimu," ungkap Zain dengan memegang tangan Meka.


"Aku justru semakin takut Mas kalau orang tuamu tak merestui kita. Aku juga gak mau kehilanganmu Mas," Meka memeluk Zain dengan erat.


"Kita akan berjuang bersama ya sayang. Aku gak akan meninggalkanmu dan berpaling ke yang lain." Zain juga memeluk Meka dengan erat.


Suasana semakin hari, karena keduanya takut kehilangan dan saling mencintai. Tiba-tiba belnya berbunyi lagi. Zain menatap Meka dan melepaskan pelukannya. Dia hendak berjalan keluar tapi dicegah Meka.


"Aku ikut Mas," Meka menghampiri suaminya yang sudah berjalan didepan.


Zain menggenggam tangan Meka dan mereka keluar dari kamarnya. Zain membuka pintu Apartement dan melihat seorang pengirim pesanan makanan mereka.


"Tuan ini pesanannya," ucap pengantarnya sambil menyerahkan pesanannya.


"Oh iya, tunggu sebentar," Zain mengambil uang di dompetnya dan menyerahkannya ke pengantar itu.


"Makasih Tuan," ucap pengantar pesanan.


Lalu Zain menutup kembali pintunya dan dia membawa makanan ke meja makan.


"Ayo sayang kita makan," ajak Zain.

__ADS_1


"Iya, aku siapkan dulu ya Mas," Meka menyiapkan semuanya diatas meja makan.


"Mas seneng banget sekarang ada temannya disini. Biasanya Mas sendirian ngapa-ngapain. Sekarang sudah ada istri Mas," ucap Zain sambil memandang Meka dengan tatapan sayangnya.


__ADS_2