Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 156


__ADS_3

Ternyata Meka tak sanggup menajalankan keinginannya lagi untuk jalan-jalan. Dia mencoba membuat dirinya untuk beristirahat.


Setelah Zain dan Meka memiliki kekuatan untuk melanjutkan perjalanannya, mereka memilih kembali ke Hotel.


Sesampainya di Hotel, Meka langsung meletakkan barang-barang belanjaannya. Dan dia pun membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


Sementara Zain dia mendudukkan bokongnya diatas sofa sambil memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak sambil menunggu Meka selesai dari kamar mandi.


Meka pun keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan segar. Dia menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian yang akan digunakannya. Lalu Meka berjalan menghampiri Zain dan memegang bahunya untuk membangunkan Zain.


"Mas, kamu mandi dulu, habis tuh baru tiduran di tempat tidur, ayo Mas," Meka meminta suaminya untuk segera membersihkan tubuhnya.


Zain membuka matanya dan melihat ke Meka yang sudah bersih dan wangi. Lalu Zain menarik Meka agar duduk di atas pangkuannya.


"Kamu wangi banget sayang," ucap Zain yang mengendus tubuh Meka.


"Mas mandi dulu sana, gak baik pulang dari luar, gak segera bersih-bersih," ucap Meka mengingatkan.


"Baiklah, Mas akan mandi dulu. Mas pengen istirahat, capek," balas Zain.


Meka langsung berdiri dari atas pangkuan Zain. Dia memilih duduk di samping sambil menonton TV sembari menunggu Zain selesai mandi.


Sementara Zain berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia segera membersihkan tubuhnya tanpa berlama-lama.


Meka menyenderkan kepalanya ke belakang senderan sofa. Dia memejamkan matanya dan mengingat keadaan Deon. Meka melihat wajah Deon yang pucat dan berbeda. Namun sampai saat ini ntah kenapa Isna tidak memberinya khabar mengenai Deon. Disisi lain Meka tak ingin Zain marah karena dia terlalu berempati terhadap orang lain tanpa melihat kondisinya saat ini.


Mendengar suara pintu kamar mandi di buka, Meka membuka matanya yang tadi terpejam. Dia menoleh ke belakang, melihat suaminya keluar dari dalam kamar mandi. Zain keluar dari sana dengan menggunakan handuk sebatas pinggang. Meka yang melihat pemandangan indah itu hanya bisa menelan ludahnya.


Tubuh Zain sangat menggoda membuat Meka merinding memandangnya.


"Sayang, jangan memandangku seperti itu," tegur Zain.


"Kalau hanya memandang, tak ada salahnya kan Mas," balas Meka.


Meka menghampiri suaminya yang sedang menggunakan pakaiannya. Dia membantu Zain menyelesaikanny.


"Mas, tubuhmu sangat menggoda, tapi kita saat ini sama-sama kelelahan. Sepertinya pertempuran akan dilaksanakan esok hari, bagaimana Mas?" tanya Meka dengan menggoda.


"Sekarang, kamu sangat pinter menggoda Mas. Besok Mas akan memberikan hukuman atas sikap beranimu ini," jawab Zain sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Meka.

__ADS_1


"Sapa takut Mas," tantang Meka.


"Hmmm kemajuan yang bagus."


"Ayo sekarang kita beristirahat. Malam sudah semakin larut Mas. Aku udah ngantuk," ucap Meka mengajak Zain ke tempat tidur.


Zain pun mengangguk mengiyakan ajakan istrinya.


Mereka berdua berjalan ke tempat tidur. Zain dan Meka naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh mereka.


Sebelum mereka tertidur, Zain selalu mengecup pucuk kening Meka dan memeluknya dari samping. Mereka pun memejamkan matanya hingga keduanya sama-sama terlelap.


Matahari perlahan memperlihatkan sinarnya di pagi hari. Cahayanya menembus tirai jendela kamar Zain dan Meka


Meka membuka matanya dan sedikit memicing karena cahaya yang masuk ke dalam kamarnya. Lalu Meka bangun dan terduduk. Meka menoleh ke samping bawah melihat Zain yang masih terlelap sambil memeluk pinggangnya.


Meka melepaskan tangan Zain dari ppinggangny. Dia perlahan-lahan turun dari tempat tidurnya. Lalu Meka membuka tirai penutup jendela agar sinar matahari masuk seluruhnya ke dalam kamarnya.


Zain yang masih setia di bawah selimut, merasa dalam mata terpejam merasa pandangannya terlalu terang. Dia membuka matanya dan sedikit silau sehingga dia langsung terduduk dan cahaya tidak terarah ke wajahnya.


Zain mengedarkan pandangannya, namun tak melihat keberadaan Meka. Tapi samar-samar Zain mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi dan itu menandakan kalau Meka berada di dalam.


Meka tersenyum melihat wajah polos Zain yang menggemaskan. Lalu dia memakai pakaiannya dan berjalan menghampiri Zain.


"Sayang, kamu tidak bersih-bersih. Aku ingin kita sarapan di kamar saja. Bisakah Mas meminta pelayan Restaurant mengantarkan sarapan kita kesini?" tanya Meka yang sudah duduk di samping Zain.


"Mas akan coba ya sayang. Sekarang Mas mau bersih-bersih dulu. Kamu tunggu sebentar ya," ucap Zain.


Lalu Zain beranjak dari tempat tidur. Dia segera berjalan ke dalam kamar mandi. Sedangkan Meka mengambil ponselnya dan mengecek isi ponselnya. Meka berharap dia mendapatkan khabar dari Isna.


Meka segera melihat pesan masuk ke ponselnya. Dia melihat pesan masuk dari Isna. Meka semakin penasaran dengan isi pesan Isna. Lalu Meka membuka WA nya dan membaca pesannya. Meka terkejut kala membaca pesan dari Isna. Dia tak menyangka itu terjadi.


"Mek, sorry kalau gw baru ngirim Lo pesan sekarang. Karena gw harus menjaga Deon selama keadaannya tidak baik. Maaf ya Mek, sebenarnya gw gak mau menggangu liburan Lo, tapi ini keadaan yang kurang baik. Mek, saat ini gw dan Deon berada di rumah Ustadz Ahmad. Gw gak bisa banyak cerita ke Lo. Kalau Lo udah kembali ke Indonesia, segeralah ke rumah Ustadz itu, gw dan Deon menunggu disini," isi pesan Isna.


Meka mengerutkan keningnya, membaca pesan Isna. Dia sudah memiliki firasat yang kurang baik terhadap sahabatnya itu.


Saat Zain keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Meka yang fokus melihat ponselnya. Zain pun menghampiri Meka yang tidak sadar akan kehadiran Zain.


Zain sudah berdiri di hadapan Meka, namun Meka masih belum menyadarinya dan bergelayut dalam pikirannya.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?" Zain memegang bahu Meka untuk menyadari Meka atas kehadiran dirinya.


Meka tersentak dan langsung menoleh ke arah Zain.


"Mas, kamu udah selesai mandinya?" tanya Meka yang jelas-jelas jawabannya sudah.


"Sayang, ini Mas berdiri di hadapan kamu, itu artinya Mas udah selesai kan" jawab Zain yang merasa aneh dengan sikap Meka.


"Ah iya Mas, hehehe, Meka cengengesan.


Zain memicingkan matanya melihat Meka. Dia tau istrinya ini menyembunyikan sesuatu. Zain Zain duduk di samping Meka, dan menggenggam tangannya.


"Sayang, jujur sama Mas, ada apa?" tanya Zain tenang.


"Mas, a--aku gak mau memikirkannya. Saat ini kita lagi liburan, aku gak mau honeymoon kita berantakan," jawab Meka yang mengambang.


"Mas tau, kamu tidak mau Mas protes ataupun marah. Tapi Mas juga tidak mau melihat kamu tidak tenang seperti ini. Sekarang Mas minta ceritakan ada apa?" tanya Zain yang masih bersikap tenang.


Meka menatap Zain dengan lekat dan dalam. Dia berharap Zain tidak marah karena Isna mengirimnya pesan tentang keadaan mereka disana. Lalu Meka menghela nafas dengan kasar.


Kemudian dia menyerahkan ponselnya ke Zain dan meminta Zain untuk membacanya agar Zain tau apa yang sedang terjadi.


Zain menerima ponsel Meka dengan dahi berkerut. Dia melihat pesan yang sudah terbuka. Kemudian Zain mulai membaca pesan tersebut. Lagi-lagi dahinya berkerut membaca isi pesan itu. Sesekali dia melirik ke arah Meka dan lanjut menatap isi pesan itu.


Meka yang berada di samping Zain, harap-harap cemas dengan sikap Zain. Dia mulai memilih bajunya, takut kalau Zain tidak suka kalau Isna memberi khabar seperti itu di saat mereka sedang liburan.


Zain menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Dia menatap Meka tanpa ekspresi di wajahnya.


"Mas, maaf, aku gak bermaksud membuat liburan kita berantakan. Aku gak akan memikirkannya kok, suer," ucap Meka sambil mengaitkan dua jarinya di hadapan Zain.


Zain yang awalnya memperlihatkan ekspresi datar, sekarang malah dia tersenyum.


"Mas tau, kamu sangat perduli terhadap sahabat kamu. Besok kita akan kembali ke Indonesia. Kalau kamu mau," ucap Zain yang mengerti keinginan Meka.


"Ma--mas, kamu tidak marah?" Meka terkejut dengan sikap Zain yang perduli.


"Kenapa harus marah sayang? Toh kita sudah beberapa hari ini disini. Jadi gak masalah kalau kita buang satu hari untuk segera kembali ke Indonesia," jawab Zain.


Meka langsung berhambur dalam pelukan Zain. Dia merasa senang karena Zain sangat perduli dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2