Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 74


__ADS_3

Shinta marah dan matanya merah menyala, menatap Meka tak suka.


"Sialan Lo Mek....lagi-lagi Lo menghancurkan keinginan gw!" teriak Shinta.


"Sadar Shin! Perbuatan Lo gak benar. Lo terlalu terobsesi, ingat kita ini bersahabat!" Meka juga teriak membalas Shinta.


"Persetan dengan persahabatan, gw menginginkannya! Gw hanya mau dengan dia!" Shinta masih dalam kondisi emosi.


"Jangan bersekutu dengan iblis Shinta, kau akan terjerat selamanya! Berhentilah dan bertaubat!" ucap Meka yang khawatir dengan sahabatnya itu.


"Kau sudah merusak rencanaku, sekarang rasakan ini!" Shinta berteriak dan menghempaskan tubuh Meka ke samping sehingga Meka terluka.


Zain buru-buru menghampiri istrinya, dan memeluk Meka dan menatap Shinta dengan amarah yang membuncah.


"Perempuan gila....! Pergi dari sini..!" Pak Zain mencoba membawa Meka keluar cafe. Tapi dia tidak bisa bergerak, seperti ada yg yang menahannya.


Tiba-tiba Shinta terhempas diserang Khodam Meka. Khodamnya muncul dan mengaum kencang.


"Grrrrrrrrr," Sosok Harimau Putih besar muncul dan sudah berada di hadapan iblis nenek bongkok itu.


"Tidak mungkin, dia memilikinya!" seru iblis nenek bongkok itu.


"Jangan ganggu dia, kau sudah melukainya, dan aku akan memusnahkanmu sekarang juga," ucap Harimau Putih itu.


"Siapa kau, jangan ikut campur urusanku! Aku menginginkan laki-laki itu untuk memberikan keturunan terhadap perempuan bodoh itu, agar dia bisa memberiku makanan janin yang segar!" teriak iblis nenek bongkok itu.


"Kau iblis yang sudah menyesatkan manusia. Sekarang juga enyahlah dari hadapanku...!"


"Grrrrrrr," Harimau itu mengaum kencang dan menerkam iblis itu dengan mencabik-cabik tubuhnya hingga musnah menjadi asap hitam yang berbau busuk.


Meka menyaksikan Harimau itu mencabik-cabik tubuh iblis itu. Dia merasa jijik dan mual melihat koyakan daging iblis itu yang berjatuhan kelantai.


"Pergilah dari sini Meka. Dia tidak akan kembali. Tapi berhati-hatilah dengan temanmu itu, dia tetep akan terus mengejar suamimu sampai dia mati nantinya akibat bersekutu dengan iblis," jelas Khodamnya.


Lalu Meka berdiri dan dia mengajak suaminya keluar. Keadaannya pulih karena bantuan Khodamnya.


"Sayang, kamu udah baikan? Bukannya tadi kamu terluka?" tanya Zain kebingungan.


"Aku baik-baik aja Mas. Dia sudah menyembuhkan ku. Ayo kita keluar dari sini. Mereka sudah menunggu diluar," ajak Meka


"Iya sayang," Zain memeluk pinggang Meka dari samping, membantunya untuk berjalan.

__ADS_1


Sedangkan Shinta dikembalikan ke tempat mejanya semula dalam keadaan tidur dengan posisi kepala telungkup di atas meja.


"Itu mereka," tunjuk Isna yang melihat Meka dan Dosganya berjalan keluar dari cafe.


"Kenapa tuh Meka, beib..? Wajahnya pucat banget? Perasaan tadi baik-baik aja ya, sekarang berubah," Deon memperhatikan dari raut wajah Meka.


"Kayaknya Meka ini punya mata bathin deh beib. Eike yakin dia punya kelebihan itu. Buktinya dia bisa tau tentang kematian Bokap eike,"


"Iya ya Deon, gw juga curiga sejak lama tentang Meka. Dan hari ini juga dia kelihatan aneh kan?" tanya Isna yang membenarkan ucapan Deon.


Meka sampai dihadapan sahabatnya dan berusaha tersenyum.


"Ayo kita berangkat ke kost kalian," ajak Meka.


"Mek, Lo baik-baik aja kan?" tanya Isna khawatir.


"Baik Na, ayo kita ke masuk kemobil."


Mereka berempat masuk ke dalam mobil. Zain mulai melajukan mobilnya menuju kostan Isna dan Deon.


Di dalam mobil, Meka memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Zain melirik kearahnya dan mengambil tangan Meka lalu meletakkannya diatas pahanya.


Deon melihat adegan itu langsung menyikut lengan Isna dan memberi isyarat menunjuk kearah tangan Dosganya.


"Kalau sama aku, mau gak Na?" tanya Deon tiba-tiba.


Isna terperanjat menatap kearah Deon. Dia gak percaya kalau Deon akan berbicara seperti itu terhadapnya. Lalu dia terbahak-bahak mendengar guyonan Deon.


"Wkkkkkkk, Lo aneh-aneh aja Deon, emang sih Lo ganteng, wajah Lo menawan, tapi Lo kan suka sama sejenis Lo," Isna kembali tertawa sambil geleng-geleng kepalanya.


"Emang Lo gak mau bantuin eike buat jadi laki-laki sejati Na?" tanya Deon penuh harap.


Isna menjadi salah tingkah. Dia pun gugup menjawab pertanyaan Deon. Karena posisi Deon juga sangat dekat dengannya.


Deon memiliki wajah yang tampan, tapi sayangnya dia sedikit gemulai dan tidak ada yang tau apakah benar dia penyuka sesama jenis atau tidak. Tapi semua menyimpulkan dia seperti itu karena sikap dan gayanya yang gemulai.


Orang tuanya tidak ada yang perduli dengan keadaannya. Bahkan Mamanya sering mencemoohnya karena sikap gemulainya. Karena tidak adanya perhatian dari orang tua sehingga Deon menjadi terbiasa dengan sikap gemulainya.


"Ah Lo Deon, udah jangan bercanda mulu. Capek tau!" Isna mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Eike serius Na...., apa yei udah punya kekasih?" tanya Deon dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


"Udah Na, terima aja Deon. Kalian terlihat cocok, saling melengkapi. Sapa tau emang kalian berjodoh," tiba-tiba Meka ikut menimbrung.


Dari tadi Meka dan Zain mendengar Deon mengutarakan keinginannya untuk menjadi kekasih Isna. Sehingga Meka menoleh kebelakang dan ikut mendukung keinginan Deon.


Isna menatap serius ke Meka. Awalnya Isna memang memiliki perasaan terhadap Deon. Tapi karena Deon tidak pernah merespon dirinya yang terkadang memberikan perhatian terhadapnya, membuat Isna perlahan-lahan mengubur perasaannya terhadap Deon.


Dan saat ini, pada waktu yang tidak tepat, Deon justru mengutarakan keinginannya menjadi kekasih Isna.


"Ah dia cuma iseng doang kok Mek. Lo kan tau gimana Deon" jawab Isna.


"Eike serius Isna....!" seru Deon.


"Lo mau serius tapi ngomong masih seperti itu, manggil eike dan yei. Gimana mau berubah kalau gak dimulai dari sekarang," celetuk Isna.


"Kalau gw berubah, Lo bakalan Nerima gw kan?" tanya Deon dengan suara aslinya yang ngebas.


Isna terkejut mendengar suara asli Deon yang seksi. Dia menatap tak percaya dengan kearah Deon. Sungguh macho dan terdengar tegas.


"Ini benaran Lo Deon?" Isna menepuk-nepuk wajah Deon.


"Kenapa, Lo jadi naksir kalau gw jadi seperti ini dan tidak gemulai lagi?" tanya Deon balik.


Isna salah tingkah dan gugup. Ternyata sosok Deon terlihat cowoknya saat suaranya terdengar ngebas dan tegas.


Darah Isna langsung berdesir seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Tatapan Deon benar-benar membuat Isna malu merah merona.


"Kayaknya nih ada yang bakalan jadian nih," timpal Meka disaat Isna merasa gugup.


"Siapa yang jadian Mek...!" seru Isna.


"Kita kan udah jadian sekarang Na. Saat ini kita sepasang kekasih. Mau kan?" Deon memegang tangan Isna, berharap dia mau menerima Deon.


Isna bingung mau berkata apa, dia merasa bahagia akhirnya cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi dia kurang yakin apakah Deon bisa menjadi laki-laki sejati.


"Gimana Na, malah bengong aja. Kita sepasang kekasih kan saat ini?" Deon mengulangi pertanyaannya lagi.


"Udah terima aja Na, biar kalian saling menjaga dan memperhatikan satu sama lain," sambung Meka dari depan.


"Mmmm, iya gw terima deh. Tapi Lo harus membuktikan kalau Lo serius berubah," pinta Isna.


"Gw akan merubah diri gw buat Lo Na. Lo harus nerima gw apa adanya. Karena saat ini kekasih Lo ini bukan orang kaya lagi. Tapi sudah menjadi orang biasa saja," ungkap Deon serius.

__ADS_1


"Gw akan terima Lo apa adanya kok Deon. Kita jalani bersama dalam suka maupun duka," balas Isna tegas.


__ADS_2