Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 278


__ADS_3

Sementara Zain yang berdiri di hadapan Mona, masih bingung dengan tindakan apa yang akan di ambilnya. Tetapi tatapan mata Zain terhadap Mona penuh hasrat gairah. Perlahan Zain mendekati Mona dan dia mulai merangkak naik ke atas tempat tidur.


Mona yang merasakan debaran dahsyat, merasa ingin terbang karena berhasil memikat Zain. Dia tersenyum menggoda menatap Zain. Perlahan tangannya mulai membuka kancing bajunya dari atas satu persatu.


"Mas Zain, mendekatkan," ajak Mona dengan menggoda.


Zain yang tatapannya tidak normal menyambut uluran tangan Mona.


Di depan pintu Apartement Zain, Mamanya sudah sangat gelisah. Mamanya merasakan kalau Zain dalam bahaya.


"Ayo Pa, cepat buka password nya. Mama yakin Zain dan Mona di dalam," desak istrinya.


"Iya Ma sabar, nih Papa lagi coba membukanya," balas suaminya.


Zain sama Meka pernah memberitahukan sama Mama dan Papanya Zain kode pintu Apartment mereka. Kode itu diberikan kepada orang tua Zain, jika ada sesuatu yang mendesak, dan mereka bisa bebas masuk ke dalam.


Saat ini ketika Mama dan Papanya Zain merasakan sesuatu yang membuat mereka gelisah, keduanya mengetahui kode password nya.


"Terbuka Ma, ucap suaminya.


"Ayo Pa, masuk cepatan," Mamanya Zian sudah tidak sabaran.


Papa dan Mamanya Zain buru-buru masuk ke dalam ruangan itu, namun mereka tidak menemukan siapa-siapa di dalam ruangan itu. Namun ketika Mamanya Zain ingin melangkah ke ruang dapur, tak sengaja dia melihat tas perempuan di atas meja kecil dekat ruang ke dapur


"Tas siapa ini?" gumam Mamanya.


Lalu Dnegan perasaan tak enak, Mamanya langsung berjalan ke dalam kamar Zain. Tepat saat mereka membuka pintu kamar itu, keduanya melihat Zain berada di atas Mona yang sudah setengah terbuka.


"Zai.....n!" teriak histeris Mamanya dengan amarah memuncak melihat keadaan mereka berdua.


"Mona apa yang kau lakukan....! Kurang ajar kau....!" teriak Mamanya yang langsung berlari menghampiri keduanya. Mamanya langsung naik ke atas tempat tidur dan menarik Mona dengan kasar dari hadapan Zain.


Kemudian "Plak, plak," suara tamparan yang begitu keras mendarat di pipi mulus Mona.


Mona yang tak siap, akhirnya lima jari itu membekas di wajahnya dan membuatnya sangat nyeri hingga mengeluarkan darah merah di sudut bibirnya.


Zain terkejut ketika mendengar suara Mamanya yang berteriak histeris. Dia langsung turun dari tempat tidur. Syukurnya Zain masih memakai pakaian yang lengkap. Hanya saja Mona sudah setengah terbuka.


"Mama, Papa," Zain menjadi pucat ketika tatapan mematikan dari Papanya.

__ADS_1


"Anak kurang ajar.....! Plak, plak," suara tamparan pun terdengar sekali lagi. Tapi kali ini yang mendapatkannya adalah Zain.


Zain terkejut tanpa menduga, dia pun terhuyung ke belakang. Zain memegang pipinya yang panas dan nyeri. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Lalu Zain menatap nyalang ke arah Papanya. Dia berdiri dan menantang Papanya.


"Apa yang Papa lakukan!" teriak Zain membalas.


"Kau bilang, apa yang Papa lakukan?" ulang Papanya yang tak percaya dengan pertanyaan anaknya. "Papa yang harusnya bertanya, apa yang kau lakukan dengan dia?" teriak Papanya yang juga emosi.


"Mona akan menjadi istri Zain. Apa salahnya?" tanya Zain dengan balas teriak.


Kedua orang tua Zain bagai tersambar petir kala mendengar pengakuan Zain yang tak di sangka.


Mamanya Zain langsung turun dari atas tempat tidur dan berjalan menghampiri Zain, lalu, "Plak, plak," Zain mendapatkan tamparan yang sangat keras dari Mamanya.


"Apa yang Mama lakukan!" bentak Zain terhadap Mamanya. Mata Zain memancarkan amarah yang besar melihat Mamanya.


"Zain, sadar nak. Ini bukan Zain yang Mama kenal. Ada apa nak....?" tanya Mamanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zain.


Mona yang berada di atas tempat tidur, merasa geram karena malam panjangnya di hancurkan oleh Mamanya Zain.


"Sialan wanita tua ini, kenapa bisa dia datang ke sini? Awas saja kau wanita tua, akan aku buat kau membayar penghinaan ini," bathin Mona sambil mengusap-usap wajahnya yang terasa panas dan nyeri.


Mona yang mendengar Zain membela dan memujinya, menyunggingkan senyum jahatnya. Dia merasa puas karena iblisnya benar-benar menepati janjinya.


"Kau bilang dia perempuan baik-baik? Lihat Zain, dimana letak baiknya? Dia tau kau sudah menikah, tapi justru menggoda mu," Mamanya Zain semakin emosi melihat anaknya.


Mona pun turun dari tempat tidur Zain. Dia berjalan penuh kemenangan menghampiri orang tua Zain.


"Tante, kenapa kalau Zain memilih Mona? Kami saling mencintai," ucap Mona sambil bergelayut manja dengan Zain.


"Lepaskan anakku, perempuan gak tau malu," Mamanya Zain langsung menarik tangan Mona hingga Mona terjatuh ke samping.


"Akh..., sakit Tante...," Mona berpura-pura kesakitan agar Zain semakin membenci Mamanya.


"Ma, apa yang Mama lakukan sama Mona!" teriak Zain. Zian menghampiri Mona dan membantunya untuk berdiri.


"Buat apa kau membantu perempuan itu? Zain, dimana Meka?" tanya Mamanya yang masih emosi.


Zain tersadar saat nama Meka terdengar. Nama yang mampu menyihirnya hingga dia merasakan sesuatu yang sangat dekat dengannya. Tanpa sadar Zain melepaskan Mona dan dia berdiri. Zain bersikap seperti orang linglung. Dia menatap Mamanya tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Zain, bukannya kamu sedang di Medan bersama Meka?" tanya Papanya yang menatap anaknya khawatir.


Mamanya Zain berpikir saat melihatnya. "Sepertinya ada yang tidak beres dengan dia. Kenapa Zain bisa membela si Mona?" bathin Mamanya yang curiga dengan perubahan sikap Zain.


"Meka?" tanya Zain mengerutkan keningnya. Zain merasa nama itu sangat dekat dengannya. Saat ini Zain seperti orang yang tak mengingat apa-apa tentang dirinya yang sudah menikah.


Mona sengaja membuat memory Zain tentang Meka menghilang dengan sebuah mantra.


"Iya dimana istrimu Zain? Ada apa denganmu nak?" tanya Mamanya yang merasa kecewa.


"Meka, istri? Apa yang Mama bicarakan? Zai. dan Mona belum menikah. Calon istri Zain hanya Mona, Ma," ucap Zain bingung.


Mama dan Papanya terkejut dan syok mendengar Zain yang tidak mengenal istrinya yaitu Meka.


"Pa, apa yang terjadi dengan anak kita Pa?" tanya Mamanya Zain sambil menoleh ke arah Mona dengan memberikan tatapan tajam.


"Mona, lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan ganggu Zain, dia sudah beristri," usir Papanya Zain keras.


"Jangan pergi Mona!" teriak Zain yang rela jika Mona pergi meninggalkannya.


"Biarkan dia pergi Zain," tegas Mamanya.


"Pergi kamu dari sini!" bentak Mamanya yang mengusir Mona dengan menariknya keluar dari Apartment Zian.


Sementara Papanya Zain menahan anaknya agar tidak mengejar Mona. Mona di seret paksa oleh Mamanya Zain hingga menghempaskan ya ke lantai depan pintu.


Mona menggeram dan menatap tajam ke Mamanya Zain.


"Tante, lihat saja. Aku akan membalas semua penghinaan ini. Zain akan menjadi milikku. Lihat saja sebentar lagi Zain akan menikahi ku!" teriak Mona dengan amarah yang menggebu.


"Mimpi kamu. Saya tidak sudi punya menantu seperti kamu berhati iblis. Pergi kamu dari sini!" teriak Mamanya Zain mengusir Mona.


Orang yang kebetulan lewat dari depan ruangan Zain, menatap Mona dengan mencibir.


"Wah ada pelakor di sini. Mendingan sama saya saja Mbak. Masa mau sama laki-laki sudah tua," cibir laki-laki yang melewati ruangan Zain.


"Hahaha, pelakor sama tua bangka, menjijikkan," sambung temannya yang lain.


Beberapa orang yang lewat terus mencibir dan menghina Mona dengan puas.

__ADS_1


__ADS_2