Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 185


__ADS_3

Zain yang melihat Meka jatuh ke lantai, langsung berlari ke arah Meka.


"Sayang.....!" Zain menggendong Meka langsung ke sofa. Dia membaringkannya di sofa.


Zain ketakutan melihat ada darah yang keluar dari sudut bibir Meka. Dia berlari ke dapur meminta air putih sama Istrinya Ustadz Ahmad.


Sementara Ustadz Ahmad yg berada di samping Kakek tua itu langsung memapah tubuh Kakek itu ke sofa dan mendudukkannya.


Kemudian Zain datang membawa dua gelas air putih untuk Meka dan Kakek tua itu.


"Ini Ustadz air putihnya," Zain menyerahkan gelas itu ke tangan Ustadz Ahmad.


"Terima kasih Pak Zain.


Tiba-tiba dari luar rumah yang sudah tertutup, terdengar suara amukan iblis itu.


"Arrrrgggg, maanuusiiaa kaauu aakaan maatiiii, tuuungguuu peembaalaaasaankuuu!" iblis itu murka dan membakar pohon yang berada di halaman rumah Ustadz itu.


Lalu iblis itu menghilang dengan suara dentuman keras menggelegar dan tentunya yang merasakannya hanya Meka dan yang memiliki mata bathin.


Sementara Zain dan istri Ustadz Ahmad serta Nenek tua itu tidak bisa merasakan dahsyatnya dentuman di depan rumah Ustadz Ahmad.


Zain masih sibuk mengurus Meka yang sedikit terluka. Meka yang tidak memiliki ilmu kanuragan dalam dirinya, terpaksa menerima bantuan tenaga dalam dari Kakek tua itu. Meka hanya mengandalkan liontin pemberian Khodamnya yang memang diincar oleh banyak dukun-dukun berilmu hitam.


"Bawa Meka ke dalam ruangan Ustadz itu. Aku akan memulihkan tenaganya," suruh Khodam Meka.


"Pak Zain cepat bawa Meka ke ruangan tempat pengobatan saya sekarang!" perintah Ustadz Ahmad.


"Tapi saya tidak tau dimana ruangannya?" tanya Zain yang memang tidak mengetahuinya.


"Ummi.....cepat kemari...!" panggil Ustadz Ahmad kepada istrinya.


"Iya Pak, ada apa?" tanya istrinya yang datang dengan tergopoh-gopoh.


"Tolong bawakan nak Meka keruangan pengobatan. Temani dia disana. Bantu Meka untuk pemulihan di dalam ruangan itu," perintah Ustadz Ahmad.


"Iya Pak,"


"Ayo Pak Zain bawa Mekanya," ajak istri Ustadz Ahmad.


"Iya Ummi," Zain pun membawa menggendong Meka dan mengikuti Ummi ke dalam ruangan pengobatan.

__ADS_1


"Letak di atas sini aja Pak Zain," suruh Ummi.


Zain pun meletakkan Meka di atas tempat tidur yang memang khusus pengobatan.


"Dudukkan Mekanya. Aku akan memberikan pemulihan tenaga kepadanya," ucap Khodam itu yang tidak mau memperlihatkan wujudnya.


Zain tersentak saat mendengar suara yang menggelegar di dalam ruangan itu.


"Siapa itu? Keluar jangan menakutiku...!" bentak Zain yang tidak menyadari kehadiran Khodam Meka.


"Aku Khodamnya Meka. Biarkan dia bersamaku di dalam ruangan ini. Aku akan menolongnya," ucap Khodam itu memberitahu.


Zain terkejut karena ini pertama kali dia berinteraksi dengan penjaga dari istrinya. Zain menoleh ke arah Ummi, istrinya Ustadz Ahmad.


"Ummi ayo kita keluar dari ruangan ini. Karena Meka akan di bantu pemulihannya," ajak Zain saat melihat ke arah Ummi.


"Tapi siapa yang mengobatinya Pak Zain. Sementara Ustadz sedang membantu Kakek di luar," balas Ummi.


"Penjaga Meka yang akan membantu pemulihan Meka. Kita menunggu di luar aja Ummi," ucap Zain memberitahu.


"Oh baiklah Pak Zain, saya akan menemani Nenek di ruang makan. Kasihan sendirian. Pak Zain aja yang menunggu nak Meka ya," balas Ummi.


"Iya Ummi."


Khodamnya Meka yang melihat keduanya sudah meninggalkan ruangan ini, segera mengambil posisi duduk di belakang Meka. Dia mulai bermeditasi untuk menyalurkan tenaga dalam serta energi positif ke dalam tubuh Meka.


Kegiatan itu sangat memakan waktu, Khodamnya Meka melakukan pemulihan Meka selama satu jam lebih.


Zain yang cemas, berjalan mondar-mandir di depan kamar pengobatan. Dia tidak berani mengintip ke dalam. Tapi dia hatinya menginginkan untuk mengintip keadaan Meka dari celah pintu.


Tepat ketika Zain hendak melakukan keinginannya, pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya. Zain yang melihat pintu terbuka sendiri, terbengong menatap ke depan.


Zain bingung kenapa pintu itu bisa terbuka sendiri. Tidak seseorang yang keluar dari dalam ruangan itu. Zain pun sempat bergidik, bulu kuduknya berdiri.


""Masuklah, temani Meka," perintah Khodam Meka.


Zain berjalan perlahan memasuki ruangan itu, dia melihat tubuh Meka yang berada di atas tempat tidur sedang berbaring. Lalu Zain berlari menghampiri istrinya. Dia melihat dan mengecek tubuh istrinya.


"Mas," sapa Meka ketika dia merasakan kehadiran Zain.


"Sayang, kamu udah bangun. Alhamdulillah, Mas seneng bisa lihat kamu udah siuman," ucap Zain terharu.

__ADS_1


"Iya Mas, kamu baik-baik aja kan?" tanya Meka yang juga khawatir dengan kondisi suaminya.


"Aku baik kok sayang. Kamu gimana, apa masih sakit badannya?" tanya Zain.


"Udah tidak lagi Mas. Khodamku udah membantu memulihkannya," ucap Meka sambil menunjukkan ke arah Khodamnya.


Zain pun menoleh ke belakang melihat ke mana arah telunjuk Meka menunjuk. Tapi tetap juga Zain tidak bisa melihat keberadaan Khodamnya.


"Mas, gimana dengan keadaan Kakek dan Ustadz Ahmad? Apa mereka baik-baik aja? Dan bagaimana keadaan di luar rumah?" tanya Meka dengan hal sabaran.


"Nanya nya satu-satu dong sayang...Ustadz Ahmad baik-baik aja, Namun si Kakek juga terluka seperti kamu sayang. Tapi tidak parah karena Kalsel itu bisa memulihkan tenaganya sendiri," jawab Zain.


"Ummi dan Nenek diluar gimana Mas? Apa mereka aman?" tanya Meka lagi.


Meka merasa tidak enak hati atas kekacauan yang terjadi di ruang Ustadz Ahmad. Dia khawatir jika keduanya terluka karena serangan para mahluk ghaib itu.


"Mereka baik aja kok sayang. Malah justru mereka yang mengkhawatirkan keadaan kamu sayang," jawab Zain tersenyum hangat.


"Syukurlah Mas. Ayo Mas, bawa aku ke depan. Aku ingin melihat kondisi yang lainnya," pinta Meka.


"Iya sayang, ayo Mas bantu kamu jalan," ajak Zain.


Zain membantu Meka turun dari tempat tidur. Lalu dia memapah Meka berjalan. Zain dan Meka perlahan berjalan keluar dari ruangan itu. Mereka berdua melihat Kakek tua itu dan Ustadz Ahmad sedang duduk bermeditasi di ruangan itu.


Ustadz Ahmad yang mendengar kedatangan Meka dan Pak Zain, langsung menoleh ke samping melihat kehadiran mereka berdua.


"Nak Meka!" sapa Ustadz Ahmad.


"Apa pemulihan kamu udah selesai?" tanya Ustadz Ahmad.


"Udah Ustadz, Alhamdulillah saya baik-baik aja Ustadz," jawab Meka sambil duduk di sofa dekat Ustadz itu.


"Syukurlah. Gimana kalian akan menginap disini kan?" tanya Ustadz Ahmad.


"Maaf Ustadz, sepertinya kami harus kembali. Karena Deon dan Isna berada disana," jawab Meka.


Meka tidak ingin merepotkan Ustadz Ahmad dan keluarganya. Dia memilih untuk menjauh dari Ustadz itu agar menghindari mereka dari gangguan mahluk ghaib yang di kirim iblis itu.


"Tapi setidaknya kalian harus makan dulu," ajak Ustadz Ahmad.


"Baiklah Ustadz, kami akan makan malam dulu disini," balas Zain.

__ADS_1


Akhirnya setelah pertarungan itu, mereka berkumpul di ruangan makan. Di sana mereka semua makan malam bersama.


__ADS_2