
Sementara Meka dan Zain menikmati kebersamaan mereka di Paris. Hingga saat tiba waktunya, Zain dan Meka kembali ke Indonesia.
Meka memberikan khabar ke Papanya dan Mertuanya bahwa mereka akan segera kembali ke Indonesia.
"Sayang, semuanya sudah di siapkan? Tidak ada barang yang tertinggal lagi kan?" tanya Zain saat mereka sudah berada di lantai bawah untuk cekout.
"Sudah Mas, Insyaallah tidak ada lagi yang ketinggalan," balas Meka.
Selah cek out dari hotel, mereka berangkat ke Bandara. Sepanjang perjalanan, Meka melihat pemandangan dari jendela mobil. Matanya tak henti-hentinya melihat banyak orang yang berjalan kaki.
Tak terasa, mereka sampai di Bandara. Meka dan Zain segera masuk ke dalam.
Sementara Deon dan Isna yang mendapat khabar dari Meka bahwa dia akan kembali, merasa senang dan khawatir. Semua perasaan bercampur aduk di dalam hati Isna dan Deon.
"Na, aku belum cerita sama Mamaku disana tentang keadaanku. Menurutmu gimana?" tanya Deon saat mereka di Kampus.
Deon dan Isna hari ini berangkat ke Kampus karena keadaan Deon sudah mulai membaik. Dia merasa tak enak sama Ustadz itu jika harus membebani mereka.
"Lebih baik tidak usah De, kasihan Mama kamu nanti kepikiran. Apalagi ini menyangkut dengan hal ghaib. Aku rasa tidak perlu di sampaikan," jawab Isna sambil mengunyah makanannya.
Isna dan Deon saat ini sedang berada di kantin Kampus untuk makan siang setelah jam pelajaran selesai.
"Mama mau ke sini melihat kostan baruku Na. Aku udah mencoba untuk tidak memperbolehkannya ke sini. Tapi mau sampai kapan?" tanya Deon bingung.
"Bilang aja, kamu sering di tempat teman karena mau mengurus KKN. Nanti kalau udah selesai baru Mama kesini. Kamu bilang aja seperti itu De," jawab Isna yang memberi pendapatnya.
"Iya ya, coba nanti aku sampaikan seperti itu. Oh ya, berarti besok kita baru ketemu sama Meka ya?" tanya Deon.
"Iya, besok Meka akan datang ke tempat Ustadz itu sekalian bersilaturrahmi," jawab Isna.
"Kira-kira apa ya yang di maksud dengan Ustadz itu? Apa Meka mengalami hal yang menyeramkan disana?" tebak Deon.
"Aku juga gak tau De, apa yang sudah terjadi dengan Meka disana. Ternyata menjadi Meka itu tidak enak dan tidak nyaman ya De. Semua hal yang ghaib bisa kita lihat, dan itu menurutku sangat menyiksa kehidupan kita," jelas Isna.
"Kamu benar Na. Pak Zain orang yang sangat kuat berada di sisi Meka. Aku salut dengan hubungan mereka yang saling mempercayai dan mendukung. Aku juga ingin seperti itu," ucap Deon dengan melirik ke Isna sekilas.
"Jangan mencoba melirikku Deon. Aku tau apa maksud kamu. Tidak perlu meragukan diriku. Aku juga orang yang pengertian terhadap pasangan," ketus Isna.
Dalam hati Isna, dia merasa tertantang untuk menjadikan dirinya yang terbaik di hadapan Deon. Isna berusaha menjadi pasangan yang mengerti dan mendukung Deon dalam setiap langkahnya.
"Kamu lucu banget Na. Terkadang aku tak habis pikir, kok bisa kita jadian ya. Padahal dulu kita sahabat dekat. Sekarang menjadi sepasang kekasih," ucap Deon dengan terkekeh.
__ADS_1
"Itulah takdir Deon. Kita tak bisa tebak sama siapa kita akan menjalani hidup. Ya semoga kita bisa bersama selamanya," harapan Isna.
Lalu mereka menikmati makan siangnya dengan obrolan santai. Isna dan Deon sudah tak sabar untuk bertemu dengan sahabat mereka Meka.
Setelah mereka selesai makan siang, Deon mengajak Isna untuk menghabiskan waktu sampai malam ke mall.
"Na, setelah ini, ayo kita jalan ke mall. Aku pengen hiburan aja," ajak Deon.
"Wah boleh itu De, aku mau. Kita nonton yuk disana!" ucap Isna semangat.
Deon dan Isna masih semangat menjalani kehidupan mereka selama di rumah Ustadz itu. Mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika mereka kembali ke kostannya.
Kejadian yang menimpa Deon beberapa hari yang lalu, membuat Isna tak dapat mempercayainya. Deon harus berurusan dengan hal ghaib yang terjadi dengan dirinya.
Deon selalu bermimpi setiap malam. Dia di datangi dengan sosok perempuan yang sangat cantik. Perempuan itu memakai pakaian yang sangat menggoda. Bentuk tubuhnya terlihat karena pakaian yang ngepas body. Tapi dandanannya biasa saja. Wanita itu tersenyum melihat Deon dan melambaikan tangannya memanggil Deon dengan senyum menggoda.
Seperti terhipnotis, Deon menerima ajakan perempuan itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang di dalamnya sudah di hiasi bunga-bunga yang harum. Di tempat tidur itu juga ada taburan bunga harum semerbak. Membuat Deon semakin terpesona dengan perempuan itu. Lalu perempuan itu naik ke atas tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya yang menggoda. Dia sengaja membuka kedua kakinya lebar-lebar hingga Deon bisa melihat keindahan di dalamnya. Dan itu sangat memancing gairah Deon.
Perempuan itu menghembuskan sesuatu melalui tangannya ke arah Deon sehingga Deon seperti kehilangan kesadarannya.
"Kemari Deon...sentuh aku...!" seru perempuan itu yang mulai menggerak-gerakkan tubuhnya dengan mengusap-usap miliknya.
Deon terbelalak mendapatkan pemandangan yang menggairahkan seperti itu. Jakunnya naik turun dan dia sulit untuk menelan ludahnya.
Perlahan Deon mendekat ke arah perempuan itu. Dia naik keatas tempat tidur dan mulai merangkak di hadapan perempuan itu. Deon berhenti sejenak menatap penuh gairah ke arah perempuan yang sedang mengusap-usap miliknya.
Lagi-lagi Deon terbelalak dengan pemandangan yang sangat menggairahkan. Deon dengan jelas melihat milik perempuan itu dengan kondisi kaki terbuka lebar.
Deon tak kuasa menahan gairahnya, dia langsung memegang miliknya yang sudah mengeras.
Perempuan itu menyeringai, dia terus menggoda Deon dengan terus mengusapnya dan sesekali mengangkat bokongnya keatas. Perempuan itu memainkan miliknya sendiri di hadapan Deon.
Deon tak kuasa melihatnya, dia langsung merangkak ke atas tubuh perempuan itu dan mulai menjelajahi tubuh perempuan itu. Perempuan itu merasa senang karena mangsanya berhasil di perdaya olehnya.
Perempuan yang berhasil merangkak naik ke atas tubuhnya adalah sosok iblis yang menginginkan perjaka Deon. Dia akan mengambilnya dan menghisap energi tubuh Deon sehingga perlahan-lahan Deon akan melemah dan tubuhnya akan semakin pucat dan menghitam lalu tewas. Begitulah keinginan si iblis itu.
Namun keinginannya itu harus terhenti karena Isna datang ke dalam kamar Deon dan membangunkan Deon walaupun di tengah malam.
Isna yang saat itu masih berada di kamarnya merasa tak tenang, nyak kenapa pikirannya masih tertuju dengan Deon. Isna merasa gelisah tak nyaman berada di dalam kamarnya. Dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya Deon. Lalu Isna membuka pintu kamar Deon dan melihat Deon sedang gelisah di atas tempat tidurnya. Isna menghampiri Deon dan membangunkan Deon.
Deon yang saat itu berada dalam mimpinya, tak mendengarkan ucapan Isna. Dia terus melakukannya tanpa kesadaran.
__ADS_1
Lalu Isna mencoba membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mendekatkan bibirnya di telinga Deon.
Laki-laki itu mendengar suara seseorang mengaji. Tiba-tiba dia berhenti dan telinganya terus mendengar suara itu. Sedangkan iblis itu mengerang kesakitan, namun dia bertahan agar Deon tak curiga.
Isna terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an di telinga Deon.
"Ayo Deon sadar...!" ucap Isna dengan suara pelan.
Deon mendengar suara orang itu semakin jelas dan dia tersadar atas apa yang dilakukannya.
Deon terkejut melihat dirinya yang setengah telanjang. Dan dia bingung dengan keberadaannya.
Sedangkan Isna terus-menerus menggoncang tubuh Deon dengan kuat. Dia melakukan berbagai macam cara, namun Deon tak kunjung bangun. Isna bingung dan dia pasrah dengan keadaan Deon.
Hingga pagi menyapa, Deon tak kunjung bangun. Jiwanya sedang tersesat di alam mimpinya. Isna tidak tau berbuat apa. Dia masih mencoba mengaji di dekat Deon tapi tak berhasil menyadarkan Deon.
Isna kembali ke kamarnya dan mendapatkan pesan dari Meka. Dia bingung mau menceritakannya atau tidak. Isna pun mengarang bahwa dia tidak membawa ponselnya. Isna hanya menceritakan sedikit tentang keadaan Deon. Sehingga Meka menyarankan membawanya ke Ustadz.
Saran Meka di ikuti Isna. Dia membawa seorang Ustadz ke dalam kamar Deon. Saat itu Ustadz mengatakan bahwa Deon sedang berada di dunia lain. Iblis perempuan menginginkan keperjakaannya dan memiliki jiwanya.
Sontak Isna terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka hal seperti ini akan tetap terjadi walaupun tidak adanya Meka.
Ternyata hal ghaib itu bisa saja terjadi dimana-mana. Tak memilih tempat dan waktu. Semua bisa terjadi dengan sendirinya. Isna menghela nafas kasaralnya.
"Terus gimana Ustadz, apa bisa dia kembali?" tanya Isna takut.
"Saya tidak bisa membantu banyak. Dan orang yang bisa membantunya, mereka yang memiliki kelebihan supranatural," jawab Ustadz itu.
Isna berpikir, otaknya terus berputar memikirkan siapa kiranya yang bisa mengembalikan jiwa Deon. Hingga akhirnya dia mengingat sebuah nama yaitu Ustadz Ahmad.
"Ustadz, bisakah saya minta tolong, untuk membantu saya membawa teman saya ke dalam mobil. Saya tidak ingin teman kost disini tau tentang keadaan teman saya ini," jelas Isna.
"Baik Mbak," balas Ustadz itu.
Lalu mereka membawa Deon ke dalam mobil yamg di parkir saat keadaan kost sepi. Sehingga tak ada satupun anak kost yang dapat melihat keadaan Deon saat itu.
"Terima kasih Ustadz," ucap Isna.
"Iya Mbak, hati-hati di jalan," balas Ustadz itu.
Ustadz yang datang ke tempat Deon itu pergi meninggalkan kost-kostan mereka bersama dua orang santrinya.
__ADS_1
Sementara Isna pergi menuju rumahnya Ustadz Ahmad yang agak jauh dari kostannya. Isna terus berdo'a sepanjang jalan agar sampai ke tempat Ustadz itu dengan selamat.