Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 262


__ADS_3

Meka yang sudah dari tadi tertidur di dalam kamarnya, akhirnya terbangun. Dia pun duduk diatas tempat tidur sambil melihat sekeliling ruangan yang ditempatinya.


"Aku kembali lagi ke sini? Apakah dia yang membawaku ke sini?" gumam Meka yang beranjak dari tempat tidurnya.


Saat Meka berjalan melihat-lihat isi ruangan itu, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka lebar. Sosok laki-laki tampan masuk ke dalam ruangan kamarnya.


"Bagaimana tidurmu Meka? Apakah kamu lebih baik?" tanya Rudy dengan senyumnya.


"Ya aku lebih baik, dan kondisiku juga sudah membaik," jawab Meka. "Tapi sampai kapan aku berada di sini? Bagaimana dengan Papa dan suamiku? Pasti mereka mengkhawatirkan ku," ucap Meka yang berjalan menghampiri Rudy.


"Kamu tidak perlu khawatir. Mereka sudah mengetahui keberadaanmu di sini. Lebih baik kau memikirkan dirimu dan bayi dalam kandunganmu. Karena iblis itu masih menunggu di depan kamarmu," balas Rudy.


"Kenapa dia menginginkan bayiku?" tanya Meka yang menatap tajam ke arah Rudy.


"Karena kamu bukanlah manusia seutuhnya. Kamu lahir dari hubungan jin dan manusia. Sehingga bayimu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa nantinya. Dan itu akan membuat semua iblis tidak bisa menyentuhnya," jelas Rudy.


Meka terkejut, dan dia mundur selangkah kebelakang karena kaget mendengar ungkapan Rudy.


"Apa kamu bilang?" tanya Meka tak percaya. Dia syok mendengar apa yang diucapkan Rudy.


"Ya Meka, kamu bukan manusia seutuhnya. Kamu adalah bangsa kami dan manusia. Sehingga banyak dukun yang menginginkanmu untuk dijadikan tumbal. Karena energimu serta jiwamu sangat membuat iblis dan dukun menjadi kuat dan berkuasa.


"Hah, ini tidak mungkin! Kenapa Papa tidak menceritakannya?" tanya Meka yang seketika tubuhnya terasa lemas. Kakinya seperti tak bertulang lumpuh. Kakinya lunglai jatuh kelantai dan terduduk. Meka menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya.


"Apa yang kamu dengar itu adalah kenyataannya Meka. Nanti setelah iblis itu selesai mengeluarkan energinya yang banyak, dia akan pergi dari sana. Dan saat itu aku akan mengembalikan mu ke ruangan kamar itu lagi. Dan kamu bisa menanyakan nya dengan Papamu," ucap Rudy.


Meka duduk dilantai dengan wajah tertunduk lemas. Air matanya jatuh seketika ke lantai. Meka teringat akan almarhum Mamanya.


"Apakah Mama juga mengetahui tentang cerita ini? Kalau memang Mama mengetahuinya, kenapa Mama tidak menceritakannya kepadaku? Ada apa ini?" bathin Meka berkecamuk.

__ADS_1


"Meka jangan bersedih. Takdir kita sudah ada yang menentukannya. Kamu harus kuat menjalani semua ini. Lebih baik kamu istirahat dan jaga kesehatanmu. Mari aku bantu kamu ke tempat tidur," Rudy mendekat ke Meka dan dia membantu Meka berdiri. Namun dia tidak ingin ke tempat tidur. Meka memilih duduk di sofa.


"Tolong tinggalkan aku sendirian di sini. Aku ingin menenangkan pikiranku," ucap Meka dengan wajah sendunya.


"Baiklah, aku akan keluar. Kamu bisa beristirahat di sini," Rudy segera keluar dari dalam kamar Meka. Dia meninggalkan Meka dengan sejuta pikirannya.


"Maafkan aku Meka. Tapi aku ingin kamu segera mengetahui tentang identitas mu yang sesungguhnya. Aku hanya ingin membantumu mengetahuinya," gumam Rudy yang masih berdiri di depan pintu kamar Meka.


Sementara Meka, menangis tersedu-sedu di sofa. Dia tidak tau harus berkata apa.


"Apakah Zain sudah mengetahuinya? Dan jika Zain mengetahuinya, apa dia masih tetap mencintaiku dan mau hidup bersamaku?" gumam Meka yang terus berbicara.


Akhirnya Meka kelelahan karena memikirkan apa yang sedang di jalaninya. Dia pun tertidur di sofa dalam kamarnya.


Malam pun tiba, Rudy masuk ke dalam kamar Meka. Dia melihat Meka yang tertidur di sofa. Rudy pun berinisiatif memindahkan Meka ke atas tempat tidur.


"Kasihan sekali kamu Meka. Ini semua karena Khodam mu yang aku juga belum mengetahui apa rencananya dibalik semua ini," gumam Rudy sambil membelai lembut wajah Meka.


Lalu Meka melihat ada makanan diatas meja dekat tempat tidurnya. Meka yang memang sudah kelaparan, langsung beranjak dari tempat tidur. Meka berjalan ke arah meja yang terdapat banyak makanan.


"Apakah makanan ini Rudy yang membawanya?" gumam Meka.


Kemudian tanpa membuang waktu, Meka mengambil makanannya dan mulai menyantapnya. Meka menghabiskan semua makanan yang ada diatas meja itu.


"Hah...ini benar-benar lezat. Sayang, kamu pasti sudah kenyangkan?" Meka mengajak bayi dalam kandungannya berbicara.


Lalu Meka teringat akan Zain. "Bagaimana denganmu Mas di sana? Aku merindukanmu, semoga kita bisa secepatnya ketemu ya Mas," gumam Meka sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.


Setelah Meka selesai menikmati makanannya, dia pun berjalan ke arah tempat tidur. Meka pun membaringkan tubuhnya yang sudah kekenyangan.

__ADS_1


Sedangkan di alam nyata, Papanya Meka dan Kakek tua masih berada di dalam kamar tempat Meka dirawat inap. Keduanya menunggu sampai Meka kembali.


"Apakah iblis itu masih berada di luar sana?" tanya Papanya Meka terhadap Kakek tua.


"Sepertinya iblis itu masih berada di luar sana. Lebih baik kita bergantian berjaga di kamar ini. Sekarang giliran saya yang berjaga, untuk memastikan keadaan di luar," balas Kakek tua.


"Itu lebih baik. Kalau begitu saya akan beristirahat dulu. Kalau ada apa-apa kek, segeralah bangunkan saya," pinta Papanya Meka.


"Pasti saya akan melakukannya. Beristirahatlah." Kakek tua berjalan ke arah pintu, dia bisa melihat keberadaan iblis itu.


Lalu tiba-tiba Khodamnya datang ke dalam ruangan itu menghampiri Kakek tua.


"Terima kasih karena sudah membantuku untuk membuat iblis itu terkecoh dengan aroma Meka yang masih melekat dalam ruangan ini. Sehingga iblis itu tidak mengetahui keberadaan Meka sesungguhnya," ucap Khodam itu tulus.


"Aku membantu Meka karena dia sudah sangat baik dan juga menolongku keluar dari Desa tua itu. Dan aku ingin selalu berbuat kebaikan untuknya," balas Kakek tua.


"Ya aku tau itu. Khodam itu hendak meninggalkan ruangan itu namun Kakek tua menghentikannya.


"Tunggu!" Serua Kakek tua.


Sang Khodam berhenti dan terdiam membelakangi Kakek tua.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tebak Khodam itu.


"Sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas Meka darinya? Jangan sampai dia kecewa karena sesungguhnya dia bukan manusia seutuhnya," ungkap Kakek tua.


Sang Khodam tidak terkejut mendengar ungkapan Kakek tua yang ternyata mengetahui identitas Meka. Karena sesungguhnya, Kakek tua itu memiliki ilmu yang tinggi, tapi dia sengaja menyembunyikannya.


"Setelah ini berakhir, aku akan memberitahunya. Aku tidak ingin membuatnya kepikiran, karena akan berakibat fatal untuk janinnya," ucap Khodam itu.

__ADS_1


"Semoga Meka tidak ayok saat dia mendengarnya. Kasihan dia, karena saat ini suaminya juga sangat syok mengetahui kejujuran tentang identitasnya," balas Kakek tua.


Sang Khodam terdiam, dia tidak bisa menyalahkan dirinya karena ini memang sudah takdir yang harus dijalani Meka.


__ADS_2