Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 197


__ADS_3

"Gubrak," pintu pun langsung tertutup rapat dan tak bisa dibuka lagi oleh mahluk itu.


"Daasaarrr kaauu Kaakeek tuuuaaa, kaauu aakaan maattiii....!" teriak mahluk itu dari luar rumah.


Saat ini Kakek tua dan Ustadz Ahmad tidak mengetahui apa yang akan terjadi ketika malam bulan purnama. Melihat mahluk itu yang berulang kali mengulang ucapannya, mereka berdua mencoba memikirkan sesuatu.


"Kenapa perasaan saya tidak nyaman ya kek?" tanya Ustadz Ahmad yang masih berdiri.


"Iya Ustadz, saya juga merasakan hal yang sama. Perasaan saya tidak tenang," menyetujui ucapan Ustadz Ahmad. "Gimana dengan nak Meka ya?" tanya Kakek tua yang juga masih berdiri di samping Ustadz Ahmad.


"Lebih baik sekarang kita melihatnya ke kamar. Mungkin dia sudah siuman," jawab Ustadz Ahmad.


Saat mereka hendak berjalan ke arah kamar Meka, tiba-tiba Ummi datang menghampiri.


"Pak, habis Isya jadikan meminta bantuan murid-murid Bapak untuk mengaji disini" tanya Ummi kepada suaminya.


"Jadi Bu, apa Ibu udah menyampaikan kepada mereka?" tanya Ustadz Ahmad.


"Sudah Pak, Ibu hanya memastikan saja. Biar semua di persiapkan," jawab Ummi.


"Kakek sama Bapak mau kemana?" tanya istrinya.

__ADS_1


"Kami mau melihat nak Meka. Apa Ibu sudah melihatnya?" tanya Ustadz.


"Belum Pak, ayo kita lihat bersama," ajak Kakek tua yang ikut nimbrung.


"Mari kek," balas Ustadz.


Ketiganya berjalan ke arah kamar Meka untuk melihat keadaannya. Sesampainya di depan kamar itu, Ummi mengetuk pintunya.


"Tok tok tok, Pak Zain...," panggil Ummi dari luar kamar.


Lalu Pak Zain keluar dari dalam kamar dan membuka pintu itu dengan lebar.


"Maaf Pak Zain mengganggu, kami hanya ingin mengetahui perkembangan keadaan nak Meka. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa nak Meka sudah siuman?" tanya Ustadz Ahmad.


"Silahkan masuk Ustadz, kek, Ummi. Meka sudah siuman dan lagi duduk bermeditasi," jawab Pak Zain memberitahu.


"Oh kalau gitu kami tidak mau mengganggu kalau sedang bermeditasi," balas Kakek tua.


"Oh tidak apa-apa kek. Meka sudah dari tadi melakukan meditasinya," ungkap Pak Zain.


"Ayo silahkan masuk," ajak Zain.

__ADS_1


Ummi lebih dulu masuk ke dalam, lalu di ikuti oleh Ustadz dan Kakek tua.


"Assalamu'alaikum," ucap Ustadz Ahmad ketika memasuki kamar Meka.


"Wa'alaikumussalam," sahut Meka yang mendengar salam dari Ustadz dan yang lainnya.


Meka membuka matanya ketika mendengar suara ramai di depan kamarnya. Dia melihat kedatangan Ummi dan Kakek serta Ustadz Ahmad ke dalam kamarnya.


"Gimana keadaan kamu nak Meka?" tanya Ummi yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Alhamdulillah Ummi saya sudah merasa baikan. Maaf kalau jadi merepotkan Ummi dan yang lainnya," ucap Meka merasa gak enakan.


"Jangan bicara seperti itu nak Meka. Kami tidak merasa terbebani dengan apa yang nak Meka hadapi. Kita harus sama-sama melaluinya karena ini sudah menjadi keputusan kami untuk membantu," balas Ustadz Ahmad dengan bijak.


"Terima kasih Ustadz, saya berharap semua akan cepat selesai," Zain langsung berucap.


"Insyaallah ya Pak Zain. Kita sama-sama berdo'a agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Dan masalah ini terselesaikan dengan cepat," balas Kakek tua.


"Aamiin, semoga ya Pak Zain," balas Ustadz Ahmad yang juga mendukung ucapan Pak Zain.


Tiba-tiba Meka angkat bicara dan membuat mereka yang ada di dalam kamar terkejut mendengar apa yang di sampaikan Meka karena ini di luar dari dugaan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2