
Zain merasa kepalanya agak pusing setelah bangun. Tapi senyumnya mengembang kala melihat Meka yang sudah bangun.
"Gimana tidur kamu sayang, apa nyaman?" tanya Zain sambil menggenggam tangan Meka.
"Alhamdulillah Mas, aku nyaman," jawab Meka. "Apakah hari ini kita akan kembali ke Medan Mas?" tanya Meka.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Mas ingin kamu benar-benar beristirahat dulu di sini. Mas khawatir dengan keadaan kamu dan bayi kita," jawab Zain protes.
"Aku merasa tidak nyaman Mas di sini. Aku merasakan bahaya di sekitarku," balas Meka.
"Oh ya, kapan Papa dan Om datang kemari?" tanya Meka.
"Mereka akan ke sini. Tapi Mas belum tau khabarnya jam berapa mereka datang," jawab Zain. "Kalau gitu Mas coba menghubungi Papa dulu ya," ucapnya.
"Iya Mas, sekalian aku pesan nitip lontong kuah kacang sama gorengan kalau mereka ke sini," balas Meka.
"Iya, Mas akan menghubungi Papa dulu." Lalu Zain mengambil ponselnya di meja dan dia segera menghubungi nomer mertuanya.
Beberapa kali panggilan, namun tak juga diangkat. Zain mencoba lagi menekan nomer tlp mertuanya.
"Assalamu'alaikum Zain, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Papanya yang saat ini masih berada di rumah Ustadz Ahmad.
"Wa'alaikumussalam Pa, tidak ada hal yang mengkhawatirkan kok Pa. Hanya saja Meka menanyakan kedatangan Papa dan Om ke sini," jawab Zain.
"Oh...syukurlah kalau tidak ada masalah. Papa dan yang lainnya akan segera ke sana Zain. Apa Meka menginginkan sesuatu?" tebak mertuanya dengan benar.
"Ya Pa, Meka ingin makan lontong kacang sama gorengan Pa," jawab Zain. Zain tidak bisa meninggalkan Meka sendirian di dalam kamar, sementara dia keluar. Sehingga Zain meminta bantuan mertuanya. "Apa Papa bisa membelikannya?" tanya Zain hati-hati.
"Oh...nanti coba Papa tanyakan sama Ustadz Ahmad dimana membeli lontong kuah kacang," jawab mertuanya. "Kalau gitu, Papa dan yang lainnya akan segera berangkat biar Meka tidak terlalu lama menunggu makanannya," ucap mertuanya.
"Terima kasih Pa," balas Zain tulus.
"Papa titip Meka, tolong jaga dia di sana. Kami akan segera datang," mohon mertuanya.
"Pasti Pa, Zain akan menjaga dan melindungi Meka Pa," balas Zain. "Kalau gitu, kami tunggu Papa dan yang lainnya di sini, Assalammu'alaikum Pa," ucap Zain yang menyudahi obrolannya.
"Iya Zain, Wa'alaikumussalam," balas mertuanya.
__ADS_1
Setelah obrolan berhenti, Zain membantu Meka membersihkan tubuhnya. Meka beranjak dari tempat tidurnya. Lalu dia berjalan ke kamar mandi di bantu sama Zain.
"Mas, kamu jangan jauh-jauh ya," pinta Meka yang memang tidak mau Zain meninggalkannya di dalam kamar mandi sendirian.
"Iya sayang, kamu kenapa, kok jadi penakut begini sayang?" tanya Zain bingung.
"Ya sesekali kan boleh Mas kalau aku takut," bohong Meka.
"Hehehe, Mas bersyukur kalian berdua selamat, Mas sangat khawatir, jangan tinggalin Mas ya sayang," ucap Zain dengan wajah sendunya menatap Meka.
"Iya Mas, kita berdo'a ya semoga kami berdua selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin," balas Meka.
"Aamiin...."
Kemudian Meka membersihkan tubuhnya sebentar, sementara Zain menunggunya di depan pintu kamar mandi. Setelah selesai, Zain membantu Meka keluar dari dalam kamar mandi dan Zain pun membantu Meka berpakaian.
"Mas, kamu nanti aja ya mandinya. Tunggu Papa dan yang lainnya datang. Biar aku ada temannya di sini," pinta Meka.
"Iya sayang, Mas gak akan kemana-mana kok. Mas akan temani kamu di sini," balas Zain.
Sementara di rumah Ustadz Ahmad, Papa Meka dan yang lainnya saat ini sudah baru menyelesaikan sarapannya. Mereka bersiap-siap ingin berangkat ke rumah sakit menemui Meka.
"Udah siap semuanya Pak?" tanya Ustadz Ahmad yang sudah menunggu keluarga Meka di ruang tamu. Ustadz Ahmad dan Kakek tua akan ikut bersama mereka ke rumah sakit.
"Sudah Ustadz, kita bisa berangkat sekarang," balas Papanya Meka.
Sandy dan istrinya juga sudah kumpul di ruang tamu bersama Ustadz Ahmad dan Kakek tua.
"Kalau begitu kita berangkat," ucap Ustadz Ahmad. "Bu, kami ke rumah sakit dulu melihat keadaan Meka. Mungkin hari ini Meka sudah bisa kembali ke sini. Ibu sama Nenek tunggu kami saja di rumah ya," ucap Ustadz Ahmad kepada istrinya.
"Iya Pak, salam buat Meka dan Zain. Nanti khabari kalau mereka pulang ke sini, biar Ibu masakan makanan buat semuanya," pinta istrinya.
"Pasti Bu, nanti Bapak khabari ya," balas Ustadz Ahmad.
Kemudian mereka bergegas berangkat menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Papanya Meka terus memikirkan keadaan Meka saat kemaren malam.
"Apa yang terjadi ya tadi malam, apa Meka nyenyak tidurnya, atau anakku itu terus diganggu mahluk ghaib?" bathin Papanya Meka yang terus berkutat dalam pikirannya. Hingga dia tak menyadari jika Ustadz Ahmad mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Bang, Bang, di panggil Ustadz itu," Sandy menegur Abang iparnya dengan menyentuh lengannya barulah Papanya meka tersadar.
"Oh kenapa San?" tanya Papanya Meka.
Belum sempat Sandy menjawab, Ustadz Ahmad sudah menegurnya kembali. "Sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu sehingga tidak mendengar apa yang saya ucapkan," ucap Ustadz Ahmad yang melirik dari kaca spion depan.
"Maaf Ustadz, saya sedang memikirkan Meka. Saya sangat khawatir, apakah mahluk ghaib di sana mengganggunya tadi malam. Karena kondisi Meka yang kurang baik," balas Papanya Meka.
"Anda jangan khawatir Pak, Meka sudah ada yang menjaganya. Saya percaya dia akan selalu terjaga dan tidak ada iblis yang bisa mencelakainya," hibur Ustadz Ahmad.
"Semoga saja Ustadz." Papanya Meka menatap ke arah luar jendela kacanya. Dia memandang keramaian di Kota Jogja pagi ini.
"Bang, apa gak sebaiknya kita bawa Meka kembali ke Medan hari ini juga. Sepertinya di sini berbahaya baginya," Sandy tiba-tiba membuka suaranya dan memberikan saran kepada Abang iparnya.
"Nanti kita bahas setelah sampai di rumah sakit San. Abang perlu melihat kondisi Meka dulu. Mudah-mudahan hari ini memang dia bisa diajak kembali ke Medan," balas Abang iparnya.
"Saya setuju dengan saran Pak Sandy. Kalau Meka memang bisa keluar dari rumah sakit. Lebih baik kalian segera kembali ke Medan. Karena seseorang yang ingin mencelakai Meka, tidak akan bisa melakukannya jika kalian sudah berada di Medan," sambung Kakek tua yang duduk di depan mendukung ucapan Sandy.
"Saya juga setuju Pak, kita lihat kondisi Meka. Kalau memang dia sudah pulih, kalian bisa membawanya. Saya bukan mengusir anda dan yang lainnya, tapi ini juga demi Meka. Karena bayi yang di kandungnya sangat diincar banyak mahluk ghaib di sini. Kalau Meka di Medan, mungkin akan lebih nyaman karena itu wilayah kekuasaan Khodamnya," Ustadz Ahmad juga memberikan suara dukungannya.
Tak lama kemudian mobil sampai di rumah sakit tempat Meka di rawat inap. Ustadz Ahmad memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk.
"Kita sudah sampai. Ayo kita temui Meka dan Zain," ajak Ustadz Ahmad.
"Meka pasti sudah kelaparan. Dek kamu bawa lontong pesanan Meka ini ya," perintah Sandy kepada istrinya.
"Iya Bang," balas istrinya.
Lalu mereka semua berjalan ke arah rumah sakit. Saat Papanya Meka melangkahkan kaki ke pintu masuk, dia melihat banyak mahluk ghaib yang mengendus-endus ke arah jalannya menuju kamar Meka.
Penampakan seperti itu membuat Papanya Meka semakin khawatir dengan keadaan Meka.
"Ayo San, kita harus segera menemui Meka di kamarnya," ajak Papanya Meka dengan langkah yang cepat.
Pagi ini begitu banyak mahluk ghaib yang berdatangan ingin berebut mendapatkan janin dari rahimnya Meka. Mahluk-mahluk itu datang karena panggilan dari iblis yang sengaja mendatangkannya guna mengacaukan keadaan sehingga iblis itu bisa menculik Meka pada saat keadaan lengah.
Papanya Meka dan yang lainnya berjalan dengan cepat agar tidak terlambat sampai di kamar Meka.
__ADS_1