
Hai pembaca setia Novel qu, senang kalian masih mau terus mengikuti cerita si Meka yang memiliki Khodam.
Aku juga mau mengeluarkan Novel baruku yang sedang di rancang, ceritanya tentang hal ghaib juga, karena aku lebih suka menceritakan hal ghaib dari pada romantisme.
Karena novel pertamaku gagal produk, hehehe.
Sebenarnya sih ceritanya bagus, tidak seperti cerita kebanyakan. Jadi nanti aku akan membuat cerita berbau ghaib.
Dukung terus ya karya-karyaku, jangan lupa kasih VOTE, LIKE HADIAH dan KOMENNYA YA.
Itu sangat membantu penulis untuk mendapatkan hasil dari karyanya. Nuhun😎🙏
___________________________________________
Meka melihat suaminya yang ternyata juga sedang melihatnya.
"Kalau gitu kita langsung aja bantu kalian pindahan kost, gimana?" tanya Meka.
"Tapi Mek, semua Dosen kayaknya bakalan ngelayat deh ke tempat Bu Arin. Gimana dengan Pak Zain?" tanya Deon mengalihkan pandangannya.
Meka pun ikut menoleh ke suaminya. Ingin mendengar apa jawaban suaminya.
"Biarkan, saya hanya tidak ingin ada keributan nantinya. Bagaimana pun, keluarganya akan mengenal saya dan Meka. Saya tidak ingin Meka kena masalah disana," jawab Dosga mereka.
"Kenapa Pak Zain bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Isna.
"Karena anak mereka pergi karena saya dan Meka yang menghalanginya, tentu sebagai orang tua, mereka tau perbuatan anaknya. Jika orang tuanya mengamuk histeris saat melihat Meka, tentu semua orang akan melihat Meka dengan berbagai macam tatapan. Saya tidak ingin itu terjadi, apa kalian paham?" jawab Pak Zain dengan tegas dengan menekan Deon dan Isna untuk tidak berkata tanpa dipikir.
"Maaf ya Pak, saya tidak memikirkan sejauh itu. Pak Zain emang hebat, selalu mementingkan keadaan Meka sahabat kami," puji Deon yang merasa tak enak hati.
"Ya udah, sekarang lebih baik kita segera bergerak, yuk," ajak Meka yang mencoba mencairkan suasananya.
"Ayo deh Mek, biar cepat selesai ya," balas Isna.
Lalu mereka berempat segera keluar dari ruangan Dosga mereka. Ke empatnya berjalan menuju parkiran Kampus. Deon dan Isna naik mobil Deon, sedangkan Meka naik mobil bersama Zain.
Dalam perjalanan Deon masih kepikiran dengan kejadian tadi. Dia benar-benar merasa tak enak dengan Dosganya.
"Na, apa tadi Pak Zain marah ya sama kita? Karena terus-terusan menyuruh mereka untuk pergi ngelayat?" tanya Deon.
"Kayaknya nggak deh De, itu hanya perasaanmu saja. Mungkin intonasi Pak Zain saja yang sedikit tegas. Tapi itu hanya mengingatkan kita, bahwa kematian Bu Arin itu dikarenakan Pak Zain dan Meka. Jadi Pak Zain tidak ingin kita membahas tentang melayat lagi, yang aku tangkap sih seperti itu," jawab Isna menjelaskan.
"Pak Zain sayang banget ya sama Meka. Dia benar-benar melindungi Meka. Mereka emang jodoh," ucap Deon.
"Iya, kadang aku kasihan sih lihat Meka yang harus menjalani hidup seperti itu. Kurang nyamanlah kalau memiliki mata bathin, ya kan?" balas Isna.
"Aku juga sayang banget sama kamu Na. Buktinya selalu bersama kamu dalam keadaan apapun," Deon senyum-senyum mengucapkannya.
"Buktikan, dan ayo kita menikah!" tantang Isna.
__ADS_1
"Waowww sapa takut. Mau kapan, sekarang? Ayo kita ke penghulu minta dinikahkan. Aku udah siap secara bathin, tapi kalau lahir sih belum hehehe," balas Deon cengengesan.
"Huuuuuuu, harus siap dua-duanya dong. Masa mau bathinnya aja siap, hmmm," ucap Isna cemberut.
"Iya sayang, nanti kalau kita udah kelar kuliah dan aku dapat kerjaan, aku akan melamar kamu untuk menjadi istriku," balas Deon sambil menggenggam tangan Isna.
Isna yang mendengar ucapan manis Deon, merasa tersanjung dan wajahnya merah merona, hatinya berbunga-bunga, matanya memancarkan kebahagiaan. Hal yang sangat diinginkannya dari Deon yang ingin menjadikannya sebagai pendampingnya.
Sedangkan Meka dan Zain, mereka membahas tentang liburan mereka ke Paris.
"Mas, nanti kalau kita udah di Paris, aku mau jalan-jalan sepuasnya disana. Dan ingin berbelanja disana," ucap Meka yang sudah tidak sabaran.
"Iya sayang, Mas akan ajak kamu ke tempat-tempat romantis disana."
"Aku udah gak sabar Mas ingin cepat-cepat berangkat kesana."
"Oh ya, Mas tadi udah menghubungi Mama. Katanya, kita datang aja ke rumah. Mama gak kemana-mana kok," jelas Zain.
"Oh.., habis bantuin Deon dan Isna, kita kerumah Mama kan?" tanya Meka memastikan.
"Iya sayang, tapi sebelum ke rumah Mama, kita singgah dulu ya ke toko roti langganan Mama. Tadi Mama sempat mesan dibawakan roti kesukaannya," jawab Zain.
"Iya Mas."
Hingga akhirnya mereka sampai di Apartemen Zain dan masuk ke dalamnya.
"Na, kalau barangnya gak muat di mobil Deon, bisa di letak sebagian di mobil Pak Zain aja," saran Meka.
"Iya gak apa-apa, letak aja," suruh Meka yang mengizinkannya.
Setelah mereka selesai mengepak barang-barang Deon dan Isna, mereka bergegas meninggalkan Apartement itu. Lalu mereka menuju kost-kostannya Isna dan Deon.
"Lumayan ya Na, banyak juga barang Lo," ucap Deon yang kecapean.
"Iya De, kemaren kan sempat ngekost. Jadi ya barangnya lumayan banyak," balas Isna.
"Semoga tempatnya nyaman ya Na, syukurnya dapat kost-kostan campur, jadi kita tetap selalu berdekatan," ucap Deon bersyukur.
Tak berapa lama dalam perjalanan, mereka pun sampai di kost yang lumayan luas. Zain dan Meka turun dari mobilnya. Dan Isna serta Deon juga turun dari mobil. Deon membantu Isna membawakan barang-barangnya ke kamar Isna terlebih dahulu. Begitupun Meka, dia ikut membantunya.
Meka melihat kost-kostan Isna yang di penuhi aura jahat. Dia melihat sosok genduruwo yang sedang menjelma sebagai laki-laki tampan sedang berada di ruang tamu. Meka sengaja tidak ingin melihatnya, Dia tidak ingin berurusan dengan mahluk itu.
Meka memilih berjalan disamping Zain dan menggandeng lengannya. Zain mengerti dengan sikap istrinya seperti itu. Zain pun menggenggam erat tangan Meka.
Mereka melewati genduruwo itu yang sedang berduaan dengan salah satu anak kost disini. Dan mereka tiba di kamar yang bersih.
Isna membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
"Ini dia kamar gw Mek, gimana, bagus kan?"
__ADS_1
tanya Isna antusias.
"Bagus Na, sudah bersih ya. Apa kalian kemaren sudah membersihkannya terlebih dahulu?" tanya Meka.
"Iya Mek, kemaren kami udah membersihkannya. Ibu kostnya juga baik, dia menyuruh orang untuk ikut merapikannya," jawab Deon yang meletakkan beberapa barang dibawanya.
"Oh gitu ya."
Lalu Meka keluar dari kamar Isna dan melihat sekeliling kost-kostan yang modelnya terbuka. Namun Meka dikejutkan dengan beberapa penampakan yang berlalu. Meka sempat melirik kamar di sebelahnya, dia mengerutkan keningnya.
"Kenapa aroma kamar itu bau banget ya? Ada apa dengan kamar itu? Auranya gelap dan bau busuk banget," bathin Meka.
Meka tak ingin berlama-lama di depan kamar Isna, dia segera masuk ke dalam. Dia membantu Isna merapikan barang-barangnya. Meka tak ingin bercerita tentang kost-kostan Isna. Dia tidak mau Isna dan Deon merasa tak nyaman dengan apa yang dilihatnya. Mereka akan tidak senang. Meka membiarkan mereka sendiri yang mengetahuinya dan menemuinya.
Meka tak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan mereka. Ini sudah menjadi keputusan mereka. Meka tak ingin jika dia di bilang mengatur atau semacamnya dalam hidup Deon dan Isna.
Akhirnya selesai juga mereka merapikan barang-barang yang dibawa mereka.
Lalu Meka dan Pak Zain berpamitan untuk ke rumah orang tua Pak Zain.
"Kalau gitu gw sama Pak Zain pamit dulu ya Na, De. Kapan-kapan main ya ke Apartement gw lagi. Atau gw yang main kesini," ucap Meka.
"Pasti Mek, kita akan main ke tempat Lo. Makasih banyak ya Mek atas bantuan Lo dan Pak Zain selama ini. Kalau gw ada kesalahan selama disana, ya Lo maafin gw ya," ucap Isna tersenyum.
"Iya Mek sama, gw juga mengucapkan banyak makasih sama Lo. Lo sahabat terbaik gw dan Isna," sambung Deon.
"Iya sama-sama. Gw senang kok membantu kalian. Kalau gitu kami pergi dulu ya," ucap Meka berpamitan.
"Iya Mek, Pak Zain, hati-hati di jalan."
"Iya Assalamu'alaikum," ucap Meka.
"Wa'alaikumussalam," balas Deon dan Isna.
Lalu Meka dan Pak Zain meninggalkan kost-kostan Isna dan Deon. Saat mereka melewati ruangan tamu itu, dia tidak melihat keberadaan genduruwo itu lagi. Meka merasa legah dan terus berjalan hingga masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di dalam mobil, Zain memandang Meka dengan penuh arti.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Zain to the point.
"Mas tau, apa yang terjadi denganku?" tanya Meka balik.
"Kamu itu istri Mas, apapun yang kamu rasakan, Mas bisa merasakannya juga," jawab Zain sambil membawa mobilnya.
"Iya Mas, kamu benar. Aku melihat kost-kostan Isna dan Deon ada mahluk ghaibnya. Tapi aku gak mau mengatakannya dengan mereka. Aku takut mereka merasa tak nyaman jika aku memberitahukan keberadaan hal ghaib disana," jelas Meka.
"Ya itu lebih bagus sayang. Mas juga gak mau kamu terlalu terlibat dalam kehidupan orang lain. Biarlah mereka mengetahuinya nanti. Tapi bukan kamu yang memberitahunya," balas Zain.
"Iya Mas, itulah yang aku pikirkan tadi. Biar mereka tau sendiri keadaan disana. Kalau mereka membutuhkan aku, maka aku akan membantunya.
__ADS_1
Zain pun mengangguk membenarkan ucapan istrinya yang sudah mengambil langkah tepat.