Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 242


__ADS_3

Malam pun tiba, Mamanya Zain sudah menyiapkan kamar untuk Papanya Meka dan yang lainnya. Meka pun turut serta membantu mertuanya mengurus kamar.


"Meka, sudah kamu istirahat saja. Mama sudah menyuruh si bibi menyiapkannya. Nih mama hanya mengecek saja, apa sudah siap kamarnya atau belum," ucap mertuanya yang tidak ingin Meka capek.


"Gak apa Ma. Meka senang membantu Mama," balasnya dengan senyuman.


Sementara Papanya Zain dan Papanya Meka serta Omnya dan Zain lanjut ngobrol setelah melaksanakan Maghrib. Mereka duduk santai di ruang makan dimana ruangan tersebut memiliki kolam ikan yang enak di pandang dan ada pintu kaca besar yang bisa memperlihatkan keindahan taman di area belakang rumah Papanya Zain.


"Pa, gimana cara Zain menjelaskan tentang kepergian kami ke Medan nanti sama Mama?" tanya Zain di saat mereka ngobrol.


"Sepertinya lebih baik kamu tidak usah ngomong sama Mama. Biarkan nanti Mama tau sendiri," jawab Papanya Zain. "Jadi kapan rencana kalian mau berangkat ke Medan?" tanya Papanya Zain.


"Zain ngikut Papanya Meka aja," jawab Zain.


"Papa pengen berkunjung ke rumah Ustadz Ahmad dulu Zain. Gimana, apa kamu dan Meka mau ikut?" tanya Papanya Meka.


"Iya Pa, kami akan menemani Papa kesana. Sekalian kami ingin berpamitan dengan mereka juga," jawab Zain.


"Papanya Zain tidak ingin ikut?" tanya Papanya Meka.


"Saya ingin berkunjung ke sana. Tapi kalau saya dan istri ikut ke sana, dia bisa tau kalau Zain dan Meka akan ke Medan. Dan saya tidak bisa menghentikannya kalau Mamanya Zain tidak setuju," jawab Papanya Zain.


"Saya mengerti. Semoga nanti ada waktunya kita berkunjung bersama ke rumah Ustadz Ahamd," ucap Papanya Meka.


"Iya Insyaallah Mas," balas Papanya Zain.


Sedangkan Mona dan Mamanya saat ini berada di kamar Omanya menyusun strategi untuk menjauhkan Meka dari kehidupan Zain.


"Oma, seperti besok kita sudah bisa menjalankan keinginan kita," ucap Mona.


"Biar Oma lihat situasi dulu. Karena Oma tidak ingin Zain jadi membenci Oma karena membuatnya lepas dari wanita itu," balas Omanya yang tidak mau jelek di mata Zain dan anaknya.


"Ya, Mona serahkan sama Oma. Gimana baiknya nanti. Mona ngikut aja. Yang penting keinginan Mona tercapai. Nenek kan merestui hubungan Mona dan Mas Zain kan?" tanya Mona yang berpura-pura bergelayut manja.


"Tentu sayang, Oma akan merestui. Tapi kamu jangan lupakan Oma, jika sudah menjadi istri Zain, kamu harus menyenangkan Oma dengan memberikan apapun yang Oma mau ya," ucap Omanya percaya diri.

__ADS_1


Mona hanya mengangguk mengiyakan keinginan Omanya. Padahal matanya melirik ke arah Mamanya dan menyunggingkan senyuman yang jahat.


Mamanya Mona pun membalas dengan seringai jahatnya. Dalam hatinya berkata, "Dasar Nenek tua, mau memeras anak gw. Enak aja, gw aja belum menikmatinya, masa kamu yang harus duluan menikmatinya. Saya yang mati-matian mengatur semuanya, kamu Nenek tua tinggal menikmati. Mimpi kamu!" begitulah bathin Mamanya Mona berbicara.


Di dalam kamar, Mamanya Zain dan Meka sudah selesai mengecek kamar untuk Papa dan Omnya Meka. Istri Omnya juga ikut serta dalam membenahi kamar.


"Ayo sekarang kita ke luar. Kita siapkan makan malam untuk semuanya," ajak mertua Meka.


"Ah iya Ma," balas Meka. "Ayo Tante kita ke luar," ajak Meka.


Mereka pun keluar dari dalam kamar itu berjalan menuju ruang makan. Mamanya Zain langsung mengecek persiapan makan malam.


"Sepertinya obrolannya sangat menyenangkan ya," ucap Mamanya Zain saat menghampiri mereka.


"Iya Ma, kami sedang membahas tentang kegiatan Pak besan esoknya," balas Papanya Zain. "Gimana Ma, apa udah siap makan malamnya?" tanya Papanya Zain.


"Ah iya Mama nih mau ngecek dulu Pa persiapannya," jawab Mamanya Zain yang melupakan keinginan awalnya untuk mengecek makan malam.


"Udah pada kelaparan nih Ma," ucap Papanya Zain lagi.


Ternyata makan malam sudah di hidangkan di atas meja makan oleh si Bibi.


"Ah Nyonya, semua sudah di siapkan," ucap Bibinya. Selain Bibi rumah itu, ada juga perempuan suruhan Mamanya Mona yang menyiapkan hidangan itu.


"Baiklah Bi, terima kasih sudah menyiapkan hidangan. Bibi bisa memanggil semuanya ke sini," suruh Mamanya Zain.


"Baik Nyonya," si Bibi berlalu dari sana dan berjalan menghampiri mereka yang berada tak jauh dari meja makan.


"Tuan, Nyonya minta agar tuan dan yang lainnya ke meja makan karena makanan sudah di siapkan," ucap si Bibi memberitahu.


"Baik Bi," balas Zain.


"Ayo Pa, Om kita makan malam," ajak Zain.


Sementara di meja makan, Meka masih melihat perempuan suruhan Mamanya Mona. Dia khawatir jika perempuan itu berbuat sesuatu dengan makanan yang ada di meja makan. Meka terus mengawasi perempuan itu hingga Zain dan yang lainnya datang ke meja makan.

__ADS_1


"Eh Mas, Pa, Om, ayo kita makan," ajak Meka yang sudah bersiap-siap untuk mengambil tempat duduk.


"Iya sayang," balas Zain.


"Bi, bilang sama Mama dan yang lainnya untuk bergabung buat makan malam bersama," suruh Papanya Zain.


"Baik tuan," balas si Bibi.


Papanya Meka mengambil tempat duduk di samping Papanya Zain. Zain memilih duduk di samping Meka yang bersebelahan dengan istri Omnya. Tepat ketika mereka sudah mengambil posisi duduk, Oma dan Mamanya Mona serta Mona datang bergabung dengan mereka.


"Oh jadi juga besan kamu menginap di sini?" tanya Omanya Zain.


"Ma, tolong ya. Kita sedang menikmati makan malam. Jadi jaga sikap saat ini," tegas Papanya Zain yang menatap tajam ke arah Mamanya.


Omanya Zain mendengus sebal karena di tegur oleh anaknya sendiri di hadapan orang lain. Selera makannya pun tak ada lagi.


"Kalau begitu Mama makan di kamar aja. Dari pada mengganggu di sini," ucapnya dan meninggalkan meja makan.


Sedangkan Mamanya Mona serta Mona masih bergabung dengan mereka. Keduanya tak ingin melewati kesempatan untuk mengetahui isi pembicaraan mereka.


Makan malam pun berlalu dengan suasana yang hangat. Tidak ada kerusuhan yang terjadi. Setelah makan malam, Papanya Zain dan Omnya serta istrinya berpamitan mau beristirahat.


"Meka, Papa dan yang lainnya ingin beristirahat. Maaf kami gak bisa menemanimu sampai larut malam," ucap Papanya Meka.


"Iya Pa, gak apa. Kami juga mau istirahat kok Pa," balas Meka.


"Iya Pa, besok juga kita akan berkunjung ke rumah Ustadz Ahmad. Jadi Papa dan Om serta Tante lebih baik beristirahat," sambung Zain.


"Pak besan, saya dan yang lainnya mau beristirahat lebih dulu. Maaf kalau tidak bisa lanjut buat ngobrol," pamit Papanya Meka.


"Ah tidak apa Mas, saya dan istri juga sudah mau beristirahat," balas Papanya Zain.


Mereka semua pun pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Meka dan Zain masuk ke dalam kamar. Mereka membersihkan tubuhnya yang sudah gerah. Setalah itu Meka dan Zain menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur sambil ngobrol santai.


Sementara Mona dan Mamanya memanggil permeouan yang menjadi pembantu di rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2