Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 121


__ADS_3

Meka ingin menghabiskan waktunya untuk berada di dalam kamar. Dia tidak ingin keluar dari kamarnya. Setelah Meka memberitahukan Isna tentang makan malamnya, Meka duduk di sofa menonton TV.


"Mas, gimana ya saat kita masuk kampus nanti? Aku jadi penasaran Mas? tanya Meka.


"Kita lihat aja sayang, semoga tidak ada hal yang aneh nantinya," jawab Zain.


Saat mereka menonton TV, tiba-tiba mereka melihat berita yang menggemparkan.


"Selamat malam pemirsa. Sore ini Polisi telah menemukan penemuan mayat tiga orang perempuan bersama beberapa laki-laki. Mereka ditemukan di pinggiran hutan dekat Desa tua. Mayat-mayat itu ditemukan tanpa busana, tergeletak bebas di hutan dekat Desa tua. Polisi belum menemukan fakta dan penyebab tentang kematian mayat tersebut. Mayat-mayat itu langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk di otopsi. Saat ini pihak Polisi mencari data yang terkait dengan mayat tersebut. Di duga sementara mereka meninggal karena habis berpesta porah minum-minuman keras. Karena ditemukan banyak botol minuman yang terdapat di sekitar mayat tersebut. Sekian berita malam ini, tetaplah waspada!" ucap penyiar berita.


Meka dan Zain saling menatap dan kembali melihat ke layar TV.


"Mas, apakah itu mayat dari rombongan bersama kita kemaren?" tanya Meka dengan wajah datarnya.


"Mungkin sayang, Mas juga gak tau karena mereka tidak memperlihatkan wajah dari mayat-mayat tersebut," jawab Zain yang masih menatap ke TV dengan wajah bengongnya.


Meka langsung menghambur ke dalam pelukan Zain. Dia merasa takut dan khawatir karena kejadian kemaren teringat kembali.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Zain yang sadar dari bengongnya.


"Mas, aku takut kalau mereka tau bahwa kita terlibat dengan kematian mereka," jawab Meka.


"Hussst, cukup ya sayang. Kita sudah sepakat, itu kita tutup saat kita sudah lepas dari hutan angker itu. Dan yang mengetahui itu hanya Ustadz dan Kakek beserta keluarga," ucap Zain yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Bagaimana dengan Isna dan Deon?" tanya Meka.


"Mas rasa, mereka tidak akan membuka suara. Apalagi mereka terlibat dalam kejadian itu," jawab Zain.


"Apa Deon dan Isna juga melihat berita ini ya Mas?" tanya Meka lagi.


"Mungkin, kita tunggu aja mereka pasti akan menyamperin kita," jawab Zain.


Tak berselang lama setelah Zain mengatakannya, terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka.


"Mek....!" panggil Isna.


Meka pun berdiri dari sofa dan berjalan menghampiri pintu. Lalu dia membuka pintu kamarnya dan melihat kedua sejoli sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kenapa kalian berdua kemari?" tanya Meka yang pura-pura tak mengerti.


"Mek, Lo dah lihat berita malam ini?" tanya Deon.


Meka mengajak mereka keruangan tengah membahas berita yang ditonton barusan.


"Ayo kita duduk dulu disana, sambil menunggu pesanan makanan," ajak Meka.


Lalu mereka bertiga berjalan ke ruangan tengah dan duduk di sofa.


"Mek, apa Lo lihat berita barusan?" tanya Deon kembali.

__ADS_1


Meka menatap kedua sahabatnya yang keliatan ketakutan.


"Ya De, Na. Aku udah lihat berita malam barusan. Penemuan tiga mayat perempuan dan beberapa laki-laki tanpa busana," jawab Meka.


"Iya Mek, gimana dong! Aku takut kita ketahuan Mek! seru Deon dengan wajah takutnya.


"Mek, apa kita akan terlibat dalam kejadian itu?" giliran Isna yang bertanya.


"Tidak ada yang mengetahui kejadian itu kecuali Ustadz dan Kakek serta para istri mereka dan kalian berdua. Gw harap Lo berdua tidak pernah bercerita tentang kegiatan itu," ucap Meka penuh ketegasan.


"Gw gak akan cerita kok Mek! Mana berani gw menceritakan itu sama orang lain!" balas Deon.


Meka terdiam memandang kedua sahabatnya. Ada keraguan di mata Meka melihat mereka. Hingga dia mencoba berbicara melalui bathinnya kepada Khodamnya.


"Apakah mereka bisa menutup mulut selamanya tentang kejadian itu?" tanya Meka terhadap Khodamnya.


"Lebih baik aku memusnahkan ingatan mereka tentang kejadian dan asal muasal kejadian itu, bagaimana?" tanya Khodamnya.


"Itu lebih baik. Biar aku dan Zain serta Ustadz dan Kakek aja yang mengetahuinya," balas Meka.


"Baiklah, aku akan melakukannya nanti saat mereka tertidur. Dan saat mereka terbangun, mereka tidak akan mengingat kejadian itu lagi," ucap Khodamnya.


Lalu Meka tersenyum melihat kedua sahabatnya. Dan berkata,


"Jangan dipikirkan, semua akan baik-baik aja kok. Yang penting kalian tidak bercerita sama yang lainnya," ucap Meka.


"Iya Mek," jawab keduanya.


"Buka Dae, mungkin itu makanan pesanan kita," suruh Isna.


Saat Dae hendak beranjak dari sofanya, Zain keluar dari dalam kamar dan berkata,


"Biar Mas aja yang buka sayang," ucap Zain sambil berjalan kearah pintu.


Saat pintu dibuka, Zain melihat pengantar makanan yang datang. Dia pun mengambil pesanannya dan langsung membayarnya.


Setelah itu Meka datang dari belakang menghampiri suaminya. Dia membantu Zain membawa tentengan makanan ke meja makan.


"Ayo kita makan. Nih udah datang," ajak Meka.


Isna membantu Meka menyiapkan semuanya diatas meja makan. Kemudian semua berkumpul untuk menikmati makan malam bersama.


"Oh ya Na, Deon. Mungkin besok gw akan ke rumah orang tua Pak Zain. Gw gak bisa ajak kalian. Jadi kalau kalian ingin jalan-jalan berdua, ya silahkan. Biar kalian refreshing besok, gimana?" tanya Meka sambil melirik Zain.


"Boleh juga tuh Mek. Udah lama gw gak jalan-jalan," jawab Deon.


"Gw sih nurut kata Deon aja deh Mek. Kalau dia mau jalan-jalan besok, ya gw ngikut aja," sambung Isna.


"Emang kalian jam berapa Mek berangkat?" tanya Deon.

__ADS_1


"Mmmm, mungkin habis sarapan. Biar makan siang bareng di rumah Pak Zain," jawab Meka.


"Wah....bakalan ketemu mertua lagi nih. Semangat ya Mek besok!" seru Isna merasa senang.


"Makasih Na. Kalian besok jam berapa mau jalan?" tanya Meka.


"Kalau gw sih pengennya habis sarapan juga. Biar bareng kalian keluar Apartementnya," jawab Isna.


"Mmmm, ya udah kalau gitu kita habis sarapan besok keluar bersama-sama dari sini," ulang Meka.


Mereka berempat menghabiskan makan malam sambil ngobrol. Setelah selesai menikmati makanannya, mereka kembali ke kamar masing-masing.


Isna meminta Deon untuk menemaninya tidur di dalam kamar. Dia masih belum bisa melupakan kejadian yang dialaminya. Rasa takut dan cemas masih menghantuinya.


"Deon, kamu tidur di kamar aja ya, aku masih takut kalau sendirian," pinta Isna dengan wajah memohonnya.


"Iya, aku juga masih takut Na, kalau sendirian di sofa tidurnya," balas Deon.


Setelah Meka dan Zain masuk ke dalam kamar mereka. Giliran Isna dan Deon berjalan masuk ke dalam kamar Isna.


"Deon, kamu bisa tidur di bawah menggunakan kasur kecil itu," ucap Isna yang menunjuk tempat tidur lipat.


"Iya, biar aku yang bereskan. Aku lapis selimut tebal aja ya biar gak tipis," balas Deon.


Setelah semua selesai, mereka pun membaringkan tubuhnya masing-masing tempat. Deon dan Isna memejamkan matanya hingga mereka terlelap.


Pada saat bersamaan, Khodamnya Meka menghapus beberapa memori yang terkait dengan kejadian kemaren.


Sedangkan di dalam kamar yang lainnya. Meka dan Zain masih asyik ngobrol. Meka memberitahukan kepada Zain tentang kegelisahannya terhadap kedua sahabatnya itu.


"Mas, aku minta Khodamku untuk menghapus memori yang berhubungan dengan kejadian kemaren," ucap Meka.


"Kenapa kamu menginginkannya sayang?" tanya Zain heran.


"Iya Mas, aku takut mereka tidak sengaja keceplosan," jawab Meka.


"Iya kamu benar juga. Mas juga gak mau ambil resiko. Itu lebih baik sayang," ucap Zain.


"Besok pagi mereka akan bangun dengan keadaan yang berbeda Mas," balas Meka.


"Maksudnya?"


"Besok mereka tidak akan mengingat apapun tentang kejadian itu. Mereka akan bersikap normal kembali dan tidak ada rasa ketakutan lagi dalam diri mereka," jelas Meka


"Oh..., ya syukurlah sayang. Lebih baik sedikit yang mengetahui dari pada nanti membahayakan kamu sendiri," cemas Zain.


"Iya Mas. Ya udah kita tidur yuk. Besok kan mau ke rumah Mama," ajak Meka.


"Ayo sayang," Zain memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


Mereka memejamkan matanya hingga terlelap. Malam semakin larut, mereka semua tidur dengan mimpi yang indah.


__ADS_2