
Meka masih terdiam menunggu masukan dari mereka yang lebih tua.
"Oh ya, Deon dan Isna kemana ya nak Meka?" Ustadz Ahmad bertanya untuk memecahkan keheningan.
"Mereka sedang ada kuliah Ustadz. Saya tidak masuk kuliah karena kaki saya terluka, jadi kami tadi ke rumah sakit mengobatinya," jawab Meka.
Meka tidak ingin menceritakan kepada Ustadz Ahmad tentang kejadian kemaren yang di alaminya. Meka menganggap, tidak semua masalah yang ada harus diketahui oleh orang lain kecuali mereka ikut mengalaminya juga bersama Meka.
"Loh nak Meka kakinya sakit ya. Gimana kejadiannya?" Ustadz itu malah balik bertanya.
"Gak apa-apa Ustadz, tidak ada kejadian yang membahayakan kok Ustadz," jawab Meka.
"Syukurlah kalau gitu," balas Ustadz Ahmad.
Sementara si Kakek tua, menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Meka. Dia seperti mengerti apa yang di sembunyikan Meka. Dia mengerti kalau Meka tidak ingin berbagi dengan yang lainnya tentang kejadian yang di alaminya.
"Oh ya Kek, tadi kami ke klinik di dekat daerah sini. Ada beberapa Ibu-ibu bercerita tentang Ibu hamil yang kehilangan janinnya. Apakah itu ada hubungannya dengan iblis itu? Atau itu perbuatan yang lain?" tanya Meka penasaran.
Meka memang sudah sangat penasaran tentang ini. Sehingga dia memutuskan untuk menemui Kakek ini. Dia ingin menanyakannya kepada Kakek ini. Walaupun sebenarnya Meka bisa saja menanyakan hal ini ke Khodamnya. Tapi Meka tidak ingin bergantung sepenuhnya terhadap Khodamnya.
"Hmm, berarti dia sudah bertindak. Dia sangat ingin mengembalikkan orang tuanya dan memanfaatkan jiwa perempuan itu untuk mendapatkan kekuatannya dengan memberikan tumbal janin segar dan nyawa Ibunya juga," jawab Kakek itu.
"Berarti benar kalau janin yang hilang itu hasil dari perbuatan iblis itu?" tanya Meka lagi.
"Ya itu benar. Tadi malam saya juga memantau iblis itu. Sepertinya iblis itu mengetahui tentang kamu Meka. Dia bisa melihat kamu memiliki pendamping. Tapi dia tidak bisa melihat bagaimana dan siapa Khodammu. Karena sepertinya Khodammu membuat sesuatu untuk dirinya agar mereka yang tidak diinginkannya, tidak bisa melihat siapa Khodammu," jelas Kakek itu.
"Maksud Kakek, iblis itu tidak bisa melihat bentuk asli Khodam nak Meka? Dan siapa Khodam nak Meka, dia juga tidak bisa melihatnya?" giliran Ustadz Ahmad yang bertanya.
"Ya benar sekali. Apalagi iblis itu masih sangat muda dan masih banyak membutuhkan tumbal demi kekuatannya yang besar. Kita tidak bisa menghentikannya saat ini, iblis itu semakin gencar mendapatkan tumbal. Berhati-hatilah Meka dengan wanita itu. Dia bisa saja mencoba menarik jiwa Pak Zain," ucap Kakek itu memperingati Meka.
Meka dan Zain saling bertatapan. Meka menjadi risau dan tak tenang.
Zain bisa melihat kecemasan dalam mata Meka. Zain tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan terus memanjatkan do'a untuk keselamatan mereka berdua.
__ADS_1
Kakek tua itu seperti bisa membaca situasi yang di alami Meka dan Zain. Padahal Kakek tua itu tidak mengetahui bahwa yang sudah mencoba membawa jiwa suaminya adalah keluarga Zain sendiri. Meka belum menceritakan tentang kejadian itu kepada Zain. Karena memang waktunya belum pas.
Meka ingin mengatakan kepada Zain, tapi takut jika suaminya tidak bisa menerimanya. Meka masih melihat situasi yang tepat untuk menceritakannya. Selagi Zain tidak mempertanyakannya, maka Meka juga tidak akan menceritakannya.
"Kek, kalau boleh tau, kenapa iblis itu menginginkan ayah dan ibunya kembali hidup? Sedangkan keduanya tidak mungkin tinggal di Desa itu. Apa yang di diinginkan iblis itu?" Zain yang hanya mendengarkan cerita mereka tadi, mencoba mencari hasil dari kejadian itu.
"Iblis itu ingin membuat banyak pengikut Pak Zain. Ayah dan Ibunya tidak akan tinggal di Desa itu. Mereka akan tinggal di Desa yang sedikit terpencil. Dimana Desa itu tidak banyak penghuninya. Dengan kembalinya orang tuanya, iblis itu bisa memanfaatkan tubuh keduanya dan jiwa Bu Arin serat Pak Zain untuk mencari tumbal dan pengikut," jelas Kakek itu.
"Maaf, Kakek bisa tau dari mana tentang ini semua?" tanya Meka penasaran sambil memicingkan matanya menatap Kakek itu.
"Meka, saya memiliki kelebihan yang sama dengan kamu. Hanya bedanya, kalau kamu bisa melihat kejadian yang terjadi saat ini, sementara saya bisa melihat kejadian kedepannya melalui mimpi. Sebelum kamu dan rombonganmu kemaren ke Desa tua itu, saya sudah diberi penglihatan melalui mimpi, bahwa akan datang seorang perempuan beserta pasangannya yang akan menghancurkan Ki Baron. Dan itu ternyata terjadi dengan kedatangan kamu Meka," jawab Kakek tua itu.
"Pasti Kakek banyak mengalami hal yang berat selama ini," ucap Meka prihatin.
"Ya Meka, tapi saya tidak ingin terlibat terlalu banyak dalam hal ghaib Meka. Karena itu akan menyiksa saya dan keluarga. Saya harap kamu juga bisa menempati mana yang memang perlu di bantu. Karena dengan kamu membantu mereka yang terlibat dengan hal ghaib, maka kamu akan terima konsekuensi nya dalam kehidupan kamu," terang Kakek tua itu.
Meka diam sejenak, dia paham arti dari perkataan Kakek tua itu. Meka pun ingin hidup tenang. Tapi itu sangat mustahil dalam hidupnya.
Meka teringat akan Papanya di sana. Bahwa Papanya juga tidak menginginkan ataupun menerima Khodam itu mendampinginya. Papanya Meka menutup mata untuk tidak perduli dengan hal ghaib. Walaupun sebenarnya dia bisa melihat juga. Tapi dia mencoba berpura-pura bodoh dan tidak bisa melihat.
Lalu disaat mereka sedang asyik membahas tentang rencana mereka, tiba-tiba angin kencang menghempaskan pintu rumah Ustadz Ahmad.
"Bum..!" suara meledak terdengar di depan ruang Ustadz itu. "Gedebuk..! Prang..!" terdengar suara seperti ada yang jatuh dan suara pecahan.
"Astaghfirullahal'adzim..! Meka terlonjak kaget mendengarnya.
"Astaghfirullahal'adzim, apa itu?!" tanya Zain yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Astaghfirullahal'adzim, apa yang terjadi?" Ustadz Ahmad langsung berdiri juga.
Kakek tua itu juga tak kalah terkejutnya sama dengan yang lainnya.
"Ada apa ini Ustadz?" tanya Meka bingung.
__ADS_1
"Ayo kita lihat," ajak Ustadz Ahmad bingung.
"Hati-hati, jangan semuanya kesana. Biar saya yang melihatnya ke depan. Kalian berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi," pinta Kakek tua itu.
"Tapi Kek...!" Meka ingin ikut melihatnya.
"Jangan Meka, sepertinya iblis itu bisa mencium keberadaan kamu disini. Karena jarak Desa tua itu tidak jauh dari rumah ini," jelas Kakek tua itu.
"Iya nak Meka, kita tunggu disini. Kita harus waspada dengan serangan yang mendadak datang," ucap Ustadz Ahmad.
"Baiklah Ustadz."
Zain menggenggam tangan Meka. Dia tidak ingin istrinya kenapa-napa. Dia memberikan kode mata ke arah Meka, supaya Meka tidak berjalan ke depan.
Lalu Kakek tua itu berjalan ke pintu depan. Dia berhenti sebentar, sebelum membuka pintu rumah itu. Kakek tua itu bisa merasakan ada sesuatu yang ada di depan pintu rumah itu.
"Tunggu.....!!" tiba-tiba suara Khodam Meka menghentikan gerakkan Kakek tua itu.
Meka berjalan menghampiri Khodamnya dan melihat kehadirannya.
"Ada apa?" tanya Meka.
"Jangan di buka. Di depan sana banyak mahluk ghaib yang akan masuk ke dalam rumah ini. Jika kalian membukanya, maka mahluk itu akan langsung memangsa kalian yang belum ada persiapan," jawab Khodamnya.
"Biarkan mahluk itu diluar sana sampai terdengar Adzan Maghrib. Mereka akan lemah, dan di saat itulah Kakek dan Meka bisa memusnahkan mahluk itu semuanya," termahal Khodamnya.
Kakek itu membalikkan badannya melihat kehadiran Khodamya Meka.
"Baiklah, kita akan menunggu Adzan Maghrib tiba. Tapi bagaimana kami memusnahkannya?" tanya Kakek tua itu.
"Kalian bisa menjalankan Maghrib dahulu bersama-sama. Setelah itu Meka dan Kakek duduklah bermeditasi dan bacalah mantra memusnahkan mahluk itu. Sementara Ustadz bisa membaca dzikir untuk membantu mereka. Yang akan membukakan pintu itu harus laki-laki ini, karena dia tubuhnya sangat harum untuk di mangsa. Biarkan mahluk itu mendekat, ketika mahluk itu berada di depan pintu, saya akan membuka pagar ghaib kalian. Kakek dan Meka bisa menghancurkan mahluk itu," jelas panjang Khodamnya.
"Baiklah, kami akan melakukannya," jawab Meka dan yang lainnya.
__ADS_1
Suara-suara yang berada di depan rumah semakin kencang dan banyak.