
Iblis menggeram melihat Rudy yang tak menantangnya.
"Kau masih kecil dan bukan tandinganku! HAHAHAHA," iblis itu tertawa puas karena sudah menyepelekan Rudy.
Rudy hanya tersenyum mendengar ucapan iblis itu. Lalu tanpa sepengetahuan iblis itu, diam-diam Rudy mengambil kalung liontin bulan sabit miliknya dan menggenggamnya. Kemudian dia menekan ujung liontin itu hingga melukai telapak tangannya.
Tepat pada saat itu sang iblis berdiri dengan congkak di hadapannya. Dalam sekejap, Rudy menusukkan liontin bulan sabit miliknya tepat di jantung iblis itu.
Mata iblis itu membulat terkejut dan melihat ke arah Rudy yang tanpa merasa takut. Iblis itu tak percaya kalau jantungnya tertusuk liontin bulan sabit yang berubah menjadi belati tajam. Hingga akhirnya iblis itu meraung kesakitan dan mencekik leher Rudy dengan mata memerah.
"K--kau....., akkkkkhhhhh......! Kurang aja......rrr!" iblis itu meraung kesakitan.
Belati itu tetap menancap di jantung iblis itu. Rudy menyeringai menatap mata iblis itu yang sudah kesakitan.
Hingga akhirnya iblis itu perlahan-lahan berubah menjadi asap hitam tebal yang pekat dan musnah tak berbentuk.
Rudy menghela nafasnya merasa legah karena sudah memusnahkan iblis yang mengganggu Meka.
Sementara dukun yang sudah sekarat akibat hantaman dari Rudy, menjadi santapan genduruwo-genduruwo yang kelaparan di luar rumah.
Meka syok dan masih tak percaya melihat semua yang terjadi. Dia menyaksikan bagaimana iblis dengan tubuh besar, taringnya tajam dan mata yang merah menyala, mencekik Rudy. Dan yang membuat Meka masih tak percaya, Rudy memiliki liontin bulan sabit sama seperti dirinya.
"Dia memilikinya?" bathin Meka yang masih menatap heran ke arah Rudy.
Lalu Rudy membalikkan tubuhnya menghadap ke Meka dan tersenyum. Dia berjalan ke arah Meka dan berkata. "Semua sudah selesai Meka. Ayo kita kembali ke dunia kita," ajak Rudy dengan senyum menawannya.
Kakek tua yang berada tak jauh dari mereka, menghampiri Meka dan Rudy.
"Terima kasih nak Rudy, kamu sudah membantu kami menyelesaikan masalah ini," ucap Kakek tua itu dengan rasa senang.
Rudy pun mengangguk mengiyakan ucapan Kakek tua. Anggukan dan senyum penuh arti terpancar dari sorot mata Rudy.
Ketika mereka berkumpul, Khodamnya Meka muncul di hadapan mereka bertiga.
"Ayo kembali ke tubuh kalian. Waktunya sudah tidak lama lagi. Dan tempat ini akan saya musnahkan, agar tidak menjadi sarang bagi mahluk lain. Karena hawa disini sangat kuat untuk mahluk disini akan membangkitkan iblis itu kembali," jelas Khodamnya.
Rudy dan Meka serta Kakek tua bergegas meninggalkan rumah itu. Ketiganya sudah keluar dari rumah dukun itu. Lalu Rudy dan Meka membalikkan badan mereka melihat rumah itu di musnahkan sama Khodamnya.
__ADS_1
"Akhirnya semua selesai," gumam Meka yang berdiri menatap rumah itu musnah terbakar sambil bernafas legah.
Rudy menoleh ke samping melihat Meka dengan tatapan senang.
"Ya, kamu bisa tenang sekarang. Kalau perlu bantuanku, kamu tinggal temui aku. Oh ya ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Namaku Rudy," ucap Rudy sambil mengulurkan tangannya.
Meka menghadap ke Rudy dan menatap Rudy dengan banyak pertanyaan. Meka bingung harus menerima uluran tangannya atau tidak. Tapi Meka mengingat bagaimana Rudy menolongnya tadi, Meka pun menerima uluran tangan Rudy.
"Aku Meka," balasnya. "Terima kasih, kamu sudah menolongku tadi. Aku gak tau mau membalasnya seperti apa. Oh ya, gimana dengan luka di punggung kamu?" tanya Meka penasaran yang teringat luka di punggung Rudy.
"Ah ini, sudah membaik kok," jawab Rudy sambil mengusap punggungnya dengan tangan ke belakang yang menyentuh punggungnya.
Meka mengernyitkan keningnya merasa heran.
"Bagaimana mungkin? Bukannya tadi lukanya parah dan ada bekas luka kuku tajam iblis itu?" tanya Meka bingung.
"Iya, tapi sudahlah gak usah kamu pikirkan. Ini tidak terlalu sakit kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," ucap Rudy dengan senyum menggodanya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih," balas Meka.
"Sayang, pertemuan kalian terlambat terjadi," gumam Kakek tua itu penuh arti.
"Hei...ayo cepat kembali. Kita harus kembali ke tubuh masing-masing dan memberi khabar kepada mereka yang sedang menunggu!" teriak Kakek tua itu yang terus berjalan meninggalkan Meka dan Rudy.
"Ayo Meka kita kembali. Ada yang sudah menunggumu bukan?" tanya Rudy.
"Heum," balas Meka singkat.
Lalu mereka berdua berjalan mengikuti Kakek tua yang berada di depan mereka. Rumah dukun itu beserta mahluk ghaib lainnya musnah dalam sekejap. Khodamnya Meka berhasil meluluhlantakkan rumah itu.
Sepanjang jalan, Meka masih terus berpikir mencari kebenaran. Dia penasaran dengan Rudy yang memiliki liontin bulan sabit sama seperti dirinya.
Sedangkan Rudy tidak tau kalau Meka juga memiliki liontin bulan sabit yang sama persis seperti miliknya. Tapi rasa penasaran di diri Rudy juga ada untuk Meka.
"Mmmm, aku boleh nanya?" secara bersamaan mereka melontarkan pertanyaan.
Rudy dan Meka saling menatap hingga akhirnya mereka tertawa bersama karena merasa lucu.
__ADS_1
"Ya, kamu aja duluan. Kamu mau menanyakan apa?" tanya Rudy senyum-senyum.
"Maaf kalau aku lancang. Tadi sekilas, aku melihat kamu menggunakan liontin bulan sabit. Apa itu milikmu?" tanya Meka yang memang sudah sangat penasaran.
"Liontin bulan sabit?" tanya Rudy mengulanginya.
"Heum, aku melihatnya," jawab Meka mengangguk.
"Sudahlah, kamu tidak perlu tau. Kita tidak bertemu akan bertemu lagi. Tapi kalaupun suatu saat kita di pertemukan kembali, itu artinya kita memang di takdirkan untuk bersama," kata Rudy yang memiliki makna.
"Maksud kamu? Berjodoh, takdir?" tanya Meka mengerutkan keningnya.
"Nanti juga kamu akan tau kalau sudah waktunya. Aku akan tetap menerima apapun yang terjadi," balas Rudy.
Mereka melanjutkan perjalannya mengikuti Kakek tua. Hingga cahaya putih terlihat di depan mereka. Ketiganya berjalan ke arah cahaya itu hingga kembali menyatu dalam tubuh masing-masing.
Di alam nyata, Ustadz Ahmad dan yang lainnya sudah merasa cemas. Kakek tua dan Meka serta Rudy sudah pergi selama tiga jam lebih. Dan itu artinya mereka harus kembali saat ini juga karena waktu subuh sebentar lagi akan tiba.
Saat mereka fokus mengaji, Meka dan Rudy serta sudah sadar terlebih dahulu. Keduanya membuka matanya dan membiasakannya dengan cahaya di ruangan itu.
Sementara Kakek tua masih belum sadarkan diri karena jiwanya belum menyatu utuh. Hingga akhirnya Kakek tua sadar dan membuka matanya.
"Lihat mereka sudah sadar....!" teriak Ummi yang memang gak sengaja melihat ke arah ketiganya.
Semua yang ada di ruangan itu menoleh menatap ketiganya. Mereka mengucapkan syukur atas kembalinya mereka.
"Alhamdulillah ya Allah, mereka selamat!" ucap Ustadz Ahmad.
"Ya Allah akhirnya mereka kembali juga... Terima kasih ya Allah," ucap Nenek tua.
Zain yang tadinya sempat was-was karena istrinya tak kembali dan pergi dengan laki-laki lain, ketika melihat Meka sadar dan membuka matanya. Air mata Zain menetes bahagia. Akhirnya istrinya kembali juga.
"Syukurlah sayang kamu bisa kembali dan selamat. Terima kasih ya Allah," ucap Zain yang bersyukur.
Mereka tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas kembalinya mereka bertiga. Itu menandakan kalau maslaah yang mereka hadapi sudah diselesaikan ketiganya.
Ummi dan Nenek tua meneteskan air mata haru dan legah karena keadaan yang mencekam ini berakhir juga.
__ADS_1