Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 159


__ADS_3

Isna terus melajukan mobilnya ke rumah Ustadz itu. Dia bisa menggunakan mobil karena Deon yang mengajarinya. Deon sangat menyayangi Isna. Dia ingin Isna bisa mengendarai mobil, Jika sewaktu-waktu Isna bisa menggantikannya.


Isna merasa tegang dan tangannya mulai berkeringat. Dia harus membuang rasa takutnya ketika membawa tubuh Deon yang tanpa jiwanya. Dia terus menerus berdo'a hingga mobilnya memasuki pekarangan rumah Ustadz itu.


Isna segera turun dari mobil dan berlari memanggil Ustadz Ahmad.


"Ustadz...Ustadz...., tolong saya..!" teriak Isna dari luar rumahnya.


Mereka yang berada di dalam rumah terkejut mendengar suara perempuan yang berteriak kencang.


"Siapa itu Pak yang memanggil-manggil," ucap istri Ustadz itu.


"Bapak lihat dulu ya Bu," balas Ustadz itu.


Lalu Ustadz Ahmad berjalan ke depan rumahnya dan mendapatkan Isna dengan wajah ketakutan. Istrinya Ustadz itu juga mengikuti suaminya ke depan. Dia melihat Isna yang terlihat pucat.


"Ustadz, tolong Deon, dia....dia... tidak sadarkan diri dari kemaren malam," ucap Isna dengan gemetar.


"Apa yang terjadi nak Isna?" tanya Ustadz itu.


Lalu Ustadz itu menghampiri Isna dan mengikutinya ke dalam mobil.


Istrinya Ustadz Ahmad juga mengikuti suaminya yang berjalan ke arah mobil dan melihat keadaan Deon yang pucat.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Istri Ustadz Ahmad terkejut.


"Ayo bawa ke dalam cepat," seru Ustadz itu.


Isna dan Ustadz serta di bantu sama orang tua yang pernah di tolong Meka waktu itu membantu untuk menggotong Deon ke dalam kamar yang biasa di gunakan untuk pengobatan.


"Apa yang terjadi nak Isna?" tanya Ustadz itu saat sudah membaringkan Deon di tempat tidur.


Isna menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Mulai dari dia yang merasa cemas dengan keadaan Deon malam itu, sampai dia mendatangi kamar Deon untuk melihat keadaan Deon. Isna juga menceritakan Deon yang tak bangun-bangun hingga satu hari satu malam.


"Kalau begitu, biar saya yang melihatnya," ucap Ustadz itu yang penasaran mendengar cerita Isna.


"Kakek, bisa ikut saya untuk melihat keadaan Deon," ajak Ustadz itu.


"Bisa nak," balas Kakek tua itu.


Isna menunggu keduanya di ruang tamu di temani sama Umi dan Nenek tua. Sedangkan Ustadz dan Kakek itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.


"Kakek, bantu saya untuk mengembalikan jiwa Deon ke tubuhnya sebelum terlambat. Saya akan masuk ke dalam mimpinya.


"Baik nak, saya akan membantu sebisa mungkin," balas Kakek tua itu.


Lalu Ustadz itu memegang tangannya Deon dan mulai menerawangnya. Dia bisa melihat kalau Deon sedang tersesat di perkampungan dimana penghuninya mahluk tak kasat mata.


Ustadz itu mendekat ke arah Deon yang sedang duduk di pinggiran pohon sedang ketakutan. Namun dia melihat kalau Deon sudah di tutupi lapisan ghaib yang tidak sembarangan orang menembusnya.


Kemudian Ustadz itu duduk bersila dan mulai merapalkan ayat-ayat Al-Qur'an. Namun tidak semudah itu menembus dinding pembatas ghaib itu. Dia di serang oleh bola api yang melesat ke arahnya.


Ustadz itu langsung menangkisnya dengan melindunginya dengan lapisan ghaib.


"Mau apa kau kemari wahai manusia!" tiba-tiba terdengar suara laki-laki menggema.


"Aku mau membawa muridku kembali ke dunianya," balas Ustadz Ahmad dengan lantang.


"Hahahahaha, kau ingin mengambilnya?" tanya mahluk itu yang tak lain adalah suruhan iblis itu.


"Ya," balas Ustadz itu singkat.

__ADS_1


"Kau tak akan bisa mengambilnya. Karena dia sudah menjadi milik penguasa kami," ucap mahluk itu dengan sombongnya.


"Aku tidak perduli dengan siapa penguasamu. Aku tidak takut, aku hanya takut sama sang Maha pencipta," ucap Ustadz itu dengan berani dan menantang.


"Beraninya kau...!!" teriak mahluk itu.


Mahluk itu langsung menyerang Ustadz dengan memberikan bola- bola api ke arahnya.


Perkelahian pun terjadi dengan sengit. Mahluk itu terus menghancurkan Ustadz itu. Hingga akhirnya mahluk itu kalah dan musnah.


Lalu dengan langkah cepat, Ustadz itu menembus lapisan ghaib itu dan membawa Deon langsung pergi dari tempat itu. ustadz itu langsung kembali ke raganya dan begitu juga dengan Deon. Dia terbangun dengan batuk-batuk dan sedikit mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


Begitupun dengan Ustadz itu yang selesai bertarung dan mengeluarkan banyak energi hingga tubuhnya melemah dan sedikit batuk darah.


Si Kakek yang melihat keadaan Ustadz itu langsung memberikan air putih dan menyuruhnya meneguk langsung.


Ustadz itu pun segera meminumnya. Begitu juga dengan Deon. Dia menerima air putih dari kakek tua itu dan meminumnya.


"Syukurlah nak Deon dan Pak Ustadz bisa kembali dengan selamat," ucap Kakek tua itu.


"A--apa yang terjadi kek?" tanya Deon.


"U--ustadz, kenapa ada disini? Dan saya kenapa ada disini lagi?" tanya Deon bingung.


"Alhamdulillah nak Deon sudah kembali, semoga nak Deon tidak kembali ke sana," ucap Ustadz itu.


"Maksud Ustadz apa?" tanya Deon.


Deon menatap Ustadz dan Kakek tua itu silih berganti. Dia mengerutkan keningnya karena bingung dengan keadaannya. Deon juga menatap sekeliling hingga dia merasa curiga.


"Lebih baik nak Deon beristirahat disini. Saya akan panggilkan nak Isna untuk menemani nak Deon disini," jawab Ustadz itu.


Lalu Ustadz dan Kakek tua itu keluar meninggalkan Deon di dalam kamar. Mereka keluar dari dalam kamar, kemudian menghampiri yang lainnya di ruang tengah.


"Ternyata Deon sering mengalami mimpi bertemu dengan perempuan yang sangat cantik. Deon tidak tau bahwa perempuan itu jelmaan dari Iblis yang menginginkan, maaf, keperjakaannya. Dan kemaren malam saat nak Isna melihat ke kamarnya, mereka akan melakukan hubungan badan. Tapi karena nak Isna melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, membuat kesadaran Deon kembali seperti semula, dan kejadian itu tidak terjadi. Tapi jiwanya telah di tahan oleh iblis permeouan itu," jelas Ustadz Ahmad.


"Terus gimana sekarang Ustadz dengan Deon?" tanya Isna penasaran.


"Alhamdulillah semua sudah berakhir. Deon sekarang sudah kembali normal," jawab Ustadz itu.


"Alhamdulillah ya Ustadz," ucap Isna yang bersyukur atas keselamatan Deon.


"Nak Isna, sekarang Deon istirahat di dalam. Nak Isna mau melihatnya silahkan. Tapi lebih baik biarkan dia istirahat dulu," balas Ustadz itu.


"Baik Ustadz."


Seperti itulah kejadian yang dialami Deon ketika tiga hati yang lalu dan dia sudah kembali normal seperti biasanya. Namun itu bukan menjadi patokan bahwa mahluk itu tidak menginginkannya lagi.


Dan sekarang Deon bersama Isna sedang menuju mall. Mereka ingin menghabiskan waktu berdua hingga sore menjelang malam.


Sesampainya di mall, mereka masuk ke dalam dan berjalan-jalan keliling mall. Lalu Isna mengajak Deon langsung ke bioskop.


"Deon, aku ingin beli popcorn dulu sebelum masuk ke bioskop," pinta Isna.


"Baiklah, kita akan membelinya," balas Deon.


Lalu mereka membeli tiket masuk ke dalam bioskop dan membeli popcorn untuk cemilan di dalam.


Sementara di kediaman Ustadz Ahmad. Ustadz itu merasa khawatir dengan keadaan Deon. Dia belum mengatakan kalau mereka jangan kembali ke sana. Karena itu sangat berbahaya. Mahluk itu masih menunggu Deon kembali.


"Kenapa Pak, kok gelisah seperti itu?" tanya istrinya.

__ADS_1


"Iya Bu, Bapak memikirkan Deon. Seharusnya mereka diingatkan untuk tidak kesana sebelum Meka kembali."


"Loh kenapa Pak?" tanya istrinya.


"Karena mahluk itu masih menginginkannya Bu. Apa yang harus Bapak lakukan ya Bu?" tanya suaminya balik.


"Kita berdo'a saja Pak, supaya mereka tidak melangkah kesana. Dan langsung kembali kesini," ucap istrinya dengan penuh harapan.


"Semoga saja ya Bu."


Deon dan Isna sudah selesai menonton film yang disukai mereka. Saat ini mereka berjalan keliling-keliling untuk mencari cafe.


"De, laper nih! Ayo kita makan dulu ya," pinta Isna.


"Iya, sama. Aku juga laper. Kayaknya disana cafenya boleh juga tuh Na," tunjuk Deon ke arah sebrang tempat mereka berdiri.


"Ayo kesana!" seru Isna.


Lalu Deon dan Isna berjalan ke arah cafe itu. Sesampainya di depan cafe, Isna melihat ramainya pengunjung cafe tersebut. Kemudian mereka masuk ke dalam cafe dan mencari tempat duduk yang kosong.


"Ayo kita duduk disana aja Na," ajak Deon sambil menunjuk tempat yang kosong.


"Oh iya, itu ada yang kosong, ayo."


Mereka berdua berjalan ke meja kosong itu. Isna pun duduk di kursi berbentuk sofa, membuatnya nyaman untuk bersender.


Lalu pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan buku menunya.


"Mbak, Mas silahkan di pesan makanannya," ucap pelayan itu ramah.


"Kami lihat dulu ya Mbak menunya," balas Isna.


"Baik Mbak, kalau sudah selesai, bisa panggil saya ya Mbak," ucap pelayan itu.


"Baik Mbak."


Lalu pelayan itu meninggalkan meja mereka dan kembali ke tempatnya.


Sementara Deon dan Isna masih melihat-lihat menu yang diinginkan.


Setelah memesan makanan, mereka lanjut ngobrol santai. Sesekali Isna mengedarkan pandangannya ke pengunjung yang ada di cafe itu.


"Ramai banget ya De, tempat ini. Pasti makanannya enak nih," ucap Isna.


"Sepertinya begitu sih Na. Buktinya pengunjungnya banyak, berarti makanannya juga enak, ya kan," Deon membenarkan ucapan Isna.


"Iya De, aku jadi gak sabar nih. Makin laper aja nih perut," celetuk Isna tanpa rasa malu di hadapan Deon.


Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Pelayan mengantarkan makanan yang di pesan dan di hidangkan di atas meja mereka.


"Silahkan Mbak, Mas di nikmati. Kalau ada yang mau di pesan lagi, bisa panggil saya ya Mbak, Mas," ucap pelayan itu sopan.


"Baik Mbak," balas Isna.


Lalu pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka dengan senyum menyeringai serem.


Isna dan Deon tidak tau kalau tempat yang mereka singgahi itu sangat ramai karena pemiliknya menggunakan penglaris. Hingga membuat makanannya lezat terasa di lidah.


Mereka mencoba makanan yang di atas meja. Deon dan Isna seperti orang yang berhari-hari tidak makan. Mereka makan dengan lahap. Sama halnya dengan pengunjung yang lainnya.


Mereka berdua menyantap makanan itu dengan sangat rakus.

__ADS_1


Itu semua terjadi karena campur tangan mahluk ghaib yang membuat makanan disana terasa lezat dan membuat pengunjung ketagihan untuk terus datang ke cafe tersebut.


__ADS_2