
Orang yang bertemu dengan mereka merasa bingung. Karena orang tersebut kuncen di pemakaman itu. Yang membuat kuncen itu bingung, mereka barusan menemui kuncen didalam pemakaman.
"Maaf Tuan, anda bilang bertemu kuncen?" tanya orang tersebut.
"Iya Pak, tadi didalam kami bertemu kuncen pemakaman ini. Ada apa Pak, kenapa wajah anda bingung begitu?" tanya Zain balik.
"Iya Tuan, saya bingung. Karena kuncen disini itu hanya saya. Dan tidak ada yang lainnya," ungkap orang itu.
Zain bengong mendengar kata-kata orang tersebut. Berbeda dengan Meka dan Papanya yang sudah paham dengan apa yang disampaikan orang tersebut.
"Ta...ta..tapi Pak, tadi," ucapan Zain terhenti karena Meka langsung menyambar ucapan Zain.
"Tadi kami ingin menemui kuncen Pemakaman ini Pak, tapi didalam ternyata tidak ada," sambung Meka.
"Ada perlu apa ya Mbak?" tanya kuncen itu yang memperhatikan Meka.
"Saya dan orang tua saya mau meminta tolong agar Bapak mau memperhatikan makam Ibu dan adik saya, takut ada yang berbuat jahat, karena mereka baru saja dimakamkan," jelas Meka.
"Oh...begitu ya Mbak. Saya akan memperhatikan setiap makam yang baru. Itu sudah menjadi kewajiban saya Mbak, Tuan," balas kuncennya.
"Baik kalau gitu Pak, kami permisi dulu. Kalau ada apa-apa ini kartu nama saya ya Pak," Papanya Meka memberikan kartu namanya dan amplop kecil untuk ucapan terima kasih.
"Baik Tuan," balas kuncen itu.
Lalu Meka dan Papanya serta Zain kembali kedalam mobil. Zain melajukan mobilnya ke rumah Meka. Di dalam mobil Zain masih berpikir dan belom bisa mencerna apa yang terjadi dihadapannya.
"Kenapa nak Zain? Apa ada yang sedang dipikirkan?" tanya Papanya Meka.
"Hah, eh, kenapa ya Pak?" tanya Zain yang melirik sekilas kearah Papanya Meka.
"Kamu itu sedang mikirin apa? Kelihatannya ada yang mengganjal ya dipikiranmu?" tanya Papanya Meka.
"Iya Pak, saya bingung. Kenapa orang tadi mengaku dia sebagai kuncen Pemakaman itu ya? Padahal kita kan tadi sedang menemui kuncen didalam?" tanya Zain tanpa menoleh Papanya Meka.
"Nak Zain, yang kita temui itu memang kuncen di Pemakaman itu. Tapi beliau sudah meninggal lama. Dan tadi kita berhadapan dengan mahluk tak kasat mata, yang bisa memperlihatkan dirinya dengan orang-orang tertentu. Dan salah satunya kita.
"Ja...ja..jadi tadi kita ketemu mahluk halus ya Pak?" tanya Zain sambil bergidik.
"Ya seperti itulah nak Zain," jawab Papanya Meka.
__ADS_1
"Pak Zain takut ya!" ledek Meka dari belakang.
"Ya takut dong Meka...!" balas Zain.
"Trus gimana dong, kalau Pak Zain takut. Lah Meka saat ini berhubungan dengan yang namanya sosok tak kasat mata. Apa Pak Zain masih mau menikah sama Meka?" tanya Meka.
"Ya mau dong Meka...! Namanya sayang, apapun akan dijalani. Kita harus saling menerima kekurangan dan kelebihan seseorang yang kita sayangi. Dan aku sudah berjanji dengan Almarhum Mama kamu," tegas Zain.
Papanya Meka merasa puas mendengar jawaban dari Zain. Mereka tidak salah memilih pasangan untuk Meka.
"Kamu dengar kan nak, Pak Zain mau menerima kelebihan dan kekurangan kamu!" sambung Papanya.
"Iya Pa," balas Meka.
Meka tidak membalas ucapan Zain. Dia diam dan memandang keluar jendela. Saat dia memandang diluar jendela, dia melihat sepintas Harimau putihnya mengawasi mereka dari samping mobil. Lalu Meka mengalihkan pandangannya kearah Zain.
"Jadi kamu sekarang sudah mengerti kan nak Zain, dengan apa yang kita alami sekarang? Bapak harap kamu bisa menyiapkan mentalnya dengan kondisi seperti ini, jika nanti kalian menikah. Karena Almarhum Mamanya Meka juga menerima kelebihan dan kekurangan saya," ungkap Papanya Meka.
Hingga tak terasa, mereka sampai di rumah Meka. Dihalaman, sudah terparkir beberapa mobil. Meka mengerutkan keningnya melihat siapa yang datang dengan mobil itu. Lalu mereka keluar dari mobil.
"Siapa Pa yang datang?" tanya Meka penasaran.
"Ayo Pa kita lihat didalam, siapa yang datang," meka mengajak Papanya masuk kedalam rumah.
Lalu tiba-tiba terdengar bisikkan peringatan dari Harimau Putih.
"Berhenti Meka..! teriak si Harimau putih.
Seketika Meka berhenti. Mereka masih beberapa langkah dari parkiran mobil. Lalu Meka melihat kesana kemari tapi tak melihat Harimau itu.
"Berhati-hatilah, terus melangkah dan jangan melihat kearah mereka yang datang. Bawa laki-laki itu ke kamarmu," ucap Harimau itu.
Meka pun melangkah mengikuti Papanya dan menggandeng tangan Zain.
"Ada apa sayang?" tanya Zain yang keheranan melihat tingkah Meka seperti tak biasa.
"Terus Zain, nanti dibahas. Kamu ikut aku ya langsung ke kamarku dan jangan melihat tamu yang datang," pinta Meka dengan suara pelannya.
Mereka terus berjalan dan masuk kedalam rumah. Meka berada dibelakang Papanya. Saat kakinya melangkah masuk, dia merasakan hawa yang panas diruangan tersebut. Lalu dia menarik tangan Zain dan berlalu masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan mereka yang ada diruangan tamu.
__ADS_1
Ternyata tamu yang datang adalah teman sepupunya beserta mahluk tak kasat mata yang dibawa teman sepupunya. Salah satu dari teman sepupunya menggunakan susuk untuk mempercantik dirinya agar setiap laki-laki yang melihatnya terpikat. Tapi tentu saja sepupunya Meka tidak mengetahui itu.
Sedangkan hawa panas yang dirasakan Meka adalah adanya kehadiran sosok kuntilanak pemakan janin yang ditumbalkan oleh teman sepupunya Meka.
Papanya Meka bingung kenapa Meka dan Zain langsung menuju kamarnya Meka.
Sepupunya Meka merasa kesal karena tidak bisa membawa Zain kehadapan teman-temannya. Karena dia sudah mengatakan kepada temannya, bahwa dia memiliki kekasih saat ini.
"Om itu Mekanya kenapa ya, kok nyelonong aja gak mau gabung sama kita?" tanya sepupunya.
"Biarkan mereka. Mungkin ada yang ingin dibahas sama mereka berdua," jawab Papanya Meka.
"Padahal aku mau ngajak Meka bergabung," bohong sepupunya.
"Lain kali aja. Ya sudah Om masuk dulu ya kedalam," Papanya Meka menghindari banyak pertanyaan dari keponakannya itu.
Sepupunya Meka hanya bisa memandang kepergian Omnya dan menatap pintu kamarnya Meka.
"Apa aku samperin aja ya Zain dikamarnya Meka!" bathin sepupunya sambil menatap teman-temannya.
Sepupunya Meka tidak menyadari, bahwa salah satu temannya yang menggunakan susuk sedang memperhatikannya. Lalu temannya itu datang menghampiri sepupunya Meka.
"Ada apa Ir, kenapa kamu menatap kearah kamar itu? Emang ada yang spesial dikamar itu?" tebak temannya.
Sepupunya Meka menoleh kearah temannya yang datang menghampirinya dengan tatapan tidak suka.
"Yuk kita gabung lagi sama yang lain," ajak sepupunya Meka.
Temannya itu mengikuti Irna dari belakang dan dia kembali menoleh kearah kamarnya Meka.
Sedangkan didalam kamarnya Meka, Zain menatap bingung kekasihnya. Dia duduk disamping Meka, lalu dia bertanya,
"Kamu tadi kenapa sayang? Kok langsung narik tangan aku masuk kekamar kamu. Aku gak enak sama Papa kamu," ucap Zain.
Meka pun menjelaskan tentang suara yang menyuruhnya agar langsung menuju kamar dan tidak memperdulikan tamu yang ada didalam ruangan itu.
"Terus kenapa kamu juga membawaku masuk kedalam kamarmu sayang?" tanya Dosganya.
"Suara itu juga menyuruhku untuk mengajakmu masuk kedalam kamar, dan jangan menoleh ke tamu yang berada diruangan itu," jelas Meka.
__ADS_1
"Nanti malam tahlilan terakhir. Aku akan mengambil tiket kita pulang ke Jogja besok. Dan malam ini habis tahlilan, benahi barang-barang kamu ya," ucap Zain yang duduk disamping Meka.