Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 231


__ADS_3

Deon dan Isna meninggalkan area pemakaman itu dan kembali ke rumah eyangnya untuk melakukan pengajian. Sepanjang jalan kesedihan terus dirasakan Deon. Kehilangan Mamanya menjadi pukulan berat untuk menyadarkannya betapa jahatnya dia menjadi sahabat Meka yang sudah banyak membantunya.


"Na, aku mau coba menghubungi Meka lagi. Aku mau meminta maaf sama dia," ucap Deon yang menatap jalanan.


"Apa kamu yakin dia bakalan memaafkan kita?" tanya Isna yang menoleh ke Deon.


"Aku tidak tau Na, apa Meka mau memaafkan kita. Dia teman terbaikku Na. Hanya dia yang dari dulu mengerti aku. Kamu tau kan gimana Meka?" Deon membalikkan pertanyaannya.


"Hah," Isna mengelak nafasnya beratnya. "Ya, aku tau Meka teman yang sangat care dan dia sangat baik terhadap kita. Aku juga menyesal De, dan aku tidak mau berakhir seperti sahabat kita Shinta," jawabnya.


"Kamu benar Na. Cukup Shinta aja yang meninggalkan kita, kalau bisa kita harus tetap menjadi sahabat yang saling mendukung walaupun dalam keadaan apapun," jelasnya.


Sepanjang jalan, Deon mengingat bagaimana persahabatan mereka yang terjalin begitu erat. Mulai dia merasa sendiri, Meka lah yang selalu ada buatnya. Bahkan perubahan yang dialaminya juga ikut andil Meka. Deon sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan mengkhianati sahabatnya itu mulai dari sekarang.


"De, kita sudah sampai. Ayo, mereka sudah menunggu di dalam," ajak Isna.


Deon terpelongo melihat ke depan. Dia seperti orang linglung yang kehilangan kesadaran sesaat. Pikirannya masih berkecamuk karena kesalahannya terhadap Meka berakibat kesalahannya terhadap Mamanya.


"Ah iya Na, sorry," ucapnya.


"De, jangan terlalu memikirkannya. Yuk kita selesaikan urusan di sini dan setelah itu kita kembali ke Jogja," Isna menyadarkan Deon untuk tidak terpuruk terlalu lama. Dia pun merangkul Deon memberikan ketenangan untuknya.


"Makasih ya Na, kamu ada disisiku saat ini. Aku akan menyelesaikan semuanya. Semoga tidak terlambat," balasnya.


Mereka pun melangkah berjalan ke arah rumah eyangnya. Di dalam rumah, sudah banyak saudara yang menunggu. Ada yang membencinya dan ada juga yang bersimpatik terhadap dirinya.


"Gara-gara kamu, Mamamu pergi meninggalkan kita semua. Coba kamu tidak datang, mungkin saat ini Mamamu msh di sini," ucap salah satu saudara yang tiba-tiba mencibir ke arah Deon.


"Iya nih si Deon buat masalah aja. Kasihan Mamanya," sambung saudara lainnya.


"Sudah-sudah, kalian ini bisanya mencibirnya saja. Dia juga lebih kehilangan Mamanya. Bukan kalian saja ngerti. Kita masih dalam keadaan berduka, tolong jangan ribut," Eyangnya Deon menengahi keadaan.


Deon menghampiri Eyangnya dan memeluknya dengan erat sehingga Eyangnya bisa merasakan tubuh Deon yang bergetar.


"Sudah sayang, jangan bersedih. Kamu harus bisa mengikhlaskan Mama kamu. Biarkan dia tenang di sana," hibur Eyangnya.


"Iya Eyang, Deon hanya masih tidak mempercayainya. Ini semua salah Deon," ucapnya merutuki dirinya.


"Jangan seperti itu Deon. Ini semua sudah kehendak Allah SWT. Ayo lebih baik kita mendo'akan Mamamu biar tenang di sana," balas Eyangnya.


"Eyang, kenapa harus membela dia. Semua salahnya," tegur sepupu Deon yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

__ADS_1


Eyangnya langsung melepaskan pelukannya dan menatap cucunya itu dengan mata mendelik penuh amarah.


"Jangan buat keributan di sini. Kalau kau tidak senang melihat kehadiran Deon, lebih baik pergi dari sini," usir Eyangnya tanpa ampun.


Sepupunya Deon terbelalak tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari bibir Eyangnya.


"Eyang tak pernah berubah. Terus saja membelanya. Ntah apa yang di cekokinnya terhadap Eyang," protes cucunya itu. "Saya akan pergi, dari pada melihat orang yang sudah mengorbankan Mamanya karena menyelamatkannya," ucap sepupunya itu dengan ketus.


Ketika Eyangnya hendak menjawab perkataan cucunya itu, Deon menahan pergelangan tangan Eyangnya. Deon pun menggelengkan kepalanya untuk memberikan isyarat agar Eyangnya tak melanjutkan perdebatan mereka.


Deon mengajak Isna dan Eyangnya untuk beristirahat sejenak. Meluapkan kesedihannya di dalam kamar.


"Eyang, aku mau istirahat dulu. Eyang juga sebaiknya istirahat dulu. Nanti malam akan ada pengajian," Deon mengingatkan Eyangnya.


"Iya sayang, Eyang akan ke kamar. Kamu juga beristirahatlah. Lihat mata kamu membengkak akibat kebanyakan menangis," balas Eyangnya.


"Iya Eyang," Deon melangkah meninggalkan Eyangnya dan Isna.


Sementara Isna kembali ke kamarnya untuk segera beristirahat.


Di dalam kamarnya Deon mencoba menghubungi Meka. Dia sudah bertekad untuk meminta maaf walaupun Meka membencinya karena perbuatannya. Deon menunggu namun panggilannya tidak diangkat sama Meka.


Deon mencoba lagi menghubungi Meka hingga beberapa kali panggilan, namun Meka tidak juga mengangkatnya. Akhirnya Deon memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya.


"Assalammu'alaikum Meka, gw mau memberi khabar ke Lo, bahwa nyokap gw udah tidak ada lagi. Beliau sudah pergi dengan damai meninggalkan gw selamanya. Meka gw hanya ingin memberitahu Lo khabar ini sekalian meminta maaf atas kesalahan gw yang besar karena telah meninggalkan Lo dalam keadaan menghadapi masalah. Maaf Meka, gw minta maaf," ucap Deon putus asa.


Lalu Deon pun mengirim pesannya ke Meka. Dia berharap meka membacanya dan mau memberikan maafnya.


Di sebuah kamar, Meka sedang menunggu Zain yang berada di dalam kamar mandi. Dia menikmati tontonan kesukaannya. Namun ketika Meka serius menonton, ponselnya berdering menandakan adanya pesan masuk.


"Ah itu pasti dari Deon. Biarkanlah, buat apa dia tadi menghubungi gw dan sekarang mengirim pesan.


Lebih baik gw gak usah membacanya," gumam Meka yang masih menatap layar ponselnya.


Lalu Meka mengembalikan ponslenya ke atas meja. Meka terus menikmati siaran TV hingga suara pintu kamar mandi terdengar dan Zain keluar dari dalam sana.


"Sayang, kamu sudah siapkan pakaian Mas?" tanya Zain.


"Sudah Mas, itu di atas tempat tidur aku letakkan Mas," ucap Meka sambil berjalan ke arah Zain. Meka menghampirinya dan mengambil pakaian Zain. Lalu dia memberikannya dan membantu Zain memakainya.


"Kamu sudah mengirim pesan ke Papa, bahwa kitaggg akan menjemput Papa ke Bandara?" tanya Zain mengingatkan.

__ADS_1


"Sudah Mas, aku sudah mengirim pesan ke Papa. Saat ini Papa sudah berada di Jakarta karena transit. Sebentar lagi Papa akan berangkat ke Jogja Mas. Papa juga udah membalas pesanku Mas," jelas Meka.


"Ya sudah kalau begitu kita siap-siap biar berangkat ke Bandara," ucap Zain.


"Baik Mas, aku mau siap-siap dulu ya," balas Meka.


Meka dan Zain bersiap-siap untuk pergi ke Bandara. Meka belum sempat membuka pesan dari Deon. Meka tak menghiraukannya. Saat ini dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Papa dan adik Mama yang sangat di rindukannya.


"Ayo Mas, aku udah siap," ajak Meka setelah dia selesai berdandan.


"Kamu sudah siap sayang? Ayo berangkat," Zain pun menggenggam tangan Meka berjalan keluar dari dalam kamar mereka.


Di dalam rumah Zain sudah sibuk dengan aktifitas untuk menyiapkan acara buat besok. Beberapa saudara sudah pada berdatangan untuk membantu persiapannya.


"Loh Zain, kalian mau kemana?" tanya Omanya yang melihat Meka dan Zain berpenampilan bagus dan rapi.


"Kami akan keluar sebentar Oma," balas Zain tanpa ekspresi.


"Zain, kapan Papanya Meka datang ke Jogja?" tanya Mamanya yang datang menghampiri mereka berdua.


"Hari ini Ma, nih kami mau menjemput beliau," jawab Zain. "Mama mau nitip apa nanti saat kami kembali?" tanya Zain.


"Ah tidak usah sayang. Kalau begitu Mama akan menyiapkan kamar buat besan dan keluarganya," jawab Mamanya.


"Tapi Ma, mereka akan menginap di hotel nantinya Ma. Papa datang bersama adik Mama dan istrinya," Meka menyambung ucapan mertuanya.


"Huh, kenapa harus menginap di hotel. Harusnya tinggal di rumah besan," sindir Omanya Zain.


Meka menggeram dan tak sengaja menggenggam erat lengan Zain hingga Zain merasakan sakit. Zain menoleh ke arah istrinya yang berusaha menyembunyikan rasa ketidaksukaannya terhadap Omanya.


"Saya lebih suka jika Papa mertua dan adiknya mertua tinggal di hotel. Agar mereka tenang dan nyantai di sana," sarkas Zain yang tidak memperdulikan tatapan tajam dari Omanya. "Maaf Ma, kami berangkat dulu. Assalammu'alaikum Ma, Oma," pamit Zain.


Meka pun melakukan hal yang sama. Namun tatapannya beralih ke Omanya Zain. Meka menatapnya dengan pandangan dingin tak ada senyum yang terlihat di wajah cantiknya.


Zain dan Meka pergi meninggalkan rumah itu. Namun saat mereka hendak keluar, Mamanya Mona datang dan mereka berpas-pasan di depan pintu.


"Zain, kalian mau kemana sayang?" tanya Mamanya Mona berpura-pura baik.


Zain tak menggubrisnya, dia melangkah acuh tak acuh. Mamanya Mona menggeram dan menggerutu di dalam hatinya.


"Awas saja kau Zain, sebentar lagi kau akan masuk ke dalam kekuasaan anakku Mona," bathin Mamanya Mona yang menampilkan senyum menyungging.

__ADS_1


__ADS_2