
Mereka masih saja ngobrol santai di meja makan. Meka sangat senang karena mertuanya sangat baik dan perhatian terhadap keluarganya.
"Ma, Pa, kami harus segera berangkat. Karena nanti kami akan ikut berkunjung ke rumah Ustadz Ahmad," Zain ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
"Terus kalian akan kemari lagi kan nak?" tanya Mamanya Zain.
"Tidak Ma, aku dan Meka akan kembali ke Apartement. Karena Zain masih mengurus kuliah Meka untuk bisa mengambil cuti," Zain terpaksa tidak jujur. Lalu dia melirik ke arah Papanya.
Ternyata Papanya sedang menatap dirinya yang sedang berbicara menjelaskan kepada Mamanya Zain.
"Ma, biarkan mereka kembali. Nanti mereka akan kemari kalau sudah selesai urusannya. Biar Meka tidak bolak balik ke sana kemari, jadi Papa rasa Meka lebih nyaman di Apartement mereka," Papanya Zain mencoba memberikan pandangan terhadap istrinya.
"Baiklah kalau gitu. Tapi kalian berdua harus selalu khabari Mama ya. Oh ya, bukannya Meka akan kembali ke Medan? Apakah kamu berubah pikiran Zain?" tanya Mamanya menaikkan kedua alisnya.
"Kemungkinan jadi Ma, kalau tidak ada perubahan, Meka akan ikut sore nanti Ma ke Medan," jawab Zain.
"Terus kamu gimana Zain? Kalau gitu kamu tinggal sama kami aja di sini biar Mama yang mengurusmu," ucap Mamanya.
Meka dan keluarganya terdiam, begitu juga dengan Zain dan Papanya. Mereka saling memandang menunggu Zain memberi jawaban.
"I--itu maaf Ma, Zain lebih suka tinggal di Apartement. Biar lebih fokus ngurus tugas Zain," balas Zain sedikit gugup.
"Ta--," Mamanya ingin membalas ucapan Zain namun disambung sama Papanya Zain dengan buru-buru.
"Ma, biarkan Zain di sana. Mungkin Zain tidak mau meninggalkan Apartementnya karena dia merasa nyaman dia. Dia bisa mengenang Meka saat merindukannya. Mama ngerti dong apa yang Papa maksud," Papanya mengedipkan matanya ke arah istrinya.
Kemudian Mamanya Zain tidak lagi bertanya, dia mau tak mau harus mengerti arti kedipan mata suaminya.
"Sayang, kalau kamu berangkat hari ini ke Medan, Mama ikut ya mengantarnya nanti sore," pinta Mamanya.
"Ndak usah Ma, Mama di rumah aja. Karena kami akan langsung ke Bandara setelah dari rumah Ustadz Ahmad, Ma," Zain buru-buru menjawabnya.
"Iya Ma, kalau Mama nganter mereka, nanti pulangnya sama siapa? Karena Zain kemungkinan langsung ke kampusnya, bukan begitu Zain," sambung Papanya dan meminta dukungan Zain.
"I--iya Ma, itu benar. Zain akan langsung ke kampus nantinya," ulang Zain dengan sedikit gugup.
Zain sangat tidak ingin membohongi Mamanya, namun dia juga tidak bisa jujur terbuka sama Mamanya karena tentu saja dia tidak akan di perbolehkan ikut bersama Meka.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, nanti khabari Mama kalau Meka jadi berangkat ya sayang," pinta Mamanya.
"Iya Ma, pasti kami akan memberikan khabar sama Mama," kali ini Meka yang menjawabnya.
Setelah obrolan santai di barengin dengan sarapan pagi. Meka dan Zain serta keluarga Meka bersiap-siap untuk pergi ke Apartement Meka.
Saat ini Papa dan Mamanya Zain sedang menunggu mereka di ruang keluarga.
Pembantu perempuan yang bernama Nina langsung memberikan laporan kepada Mona dan Mamanya. Dia berjalan ke arah kamar mereka secepat mungkin.
"Tok tok tok," pembantu itu mengetuk pintu kamar Mona hingga beberapa kali ketukan. Hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Mona membuka pintu kamarnya dan melihat pembantu perempuan itu sedang berdiri di depan pintu.
"Ada apa? Kenapa kamu malah ke sini?" tanya Mona dengan tidak suka akan kehadiran pembantunya.
"Nona biarkan saya masuk karena saya punya informasi penting," ucap pembantu perempuan itu.
"Baiklah, masuk!" perintah Mona.
Pembantu itu masuk ke dalam kamar Mona setelah memastikan tidak ada yang memantaunya di luar kamar itu. Saat berada di dalam rumah, Nina sang pembantu melihat Mamanya Mona dan Omanya sedang ngobrol di sofa dan mereka menghentikan obrolannya.
"Dia mau memberikan informasi penting katanya Ma," sambung Mona.
"Informasi penting?" ulang Mamanya Mona.
"Ya Nyonya, saya punya informasi tentang tuan Zain," jawab pembantu itu.
"Ada apa dengan anak itu?" Omanya Zain pun ikut bertanya.
"Tuan Zain dan Non Meka serta keluarganya saat ini sedang bersiap-siap untuk ke Apartement tuan Zain. Setelah itu mereka akan ke rumah Ustadz Ahmad," jawab pembantu itu.
"Oh Zain mau mengajak mertuanya melihat Apartement mewah mereka. Baguslah kalau mertuanya pergi dari sini. Oma tidak suka melihat mereka," ketus Omanya.
"Iya Nyonya besar. Dan sorenya mereka akan kembali ke Medan," jelas pembantu itu lagi.
"Wah itu berita bagus. Biar keluarga perempuan itu tidak menggangu rencana kita," ucap Mamanya Mona dengan sangat senang.
__ADS_1
"Dan ada lagi Nyonya beritanya," si pembantu membuat mereka bertiga penasaran.
"Berita apa lagi? Kamu itu ngomong kok gak sampai selesai sih, buat orang kesel aja. Ceritakan semuanya, jangan setengah-setengah," protes Mona yang geram melihat ulah pembantu perempuan itu.
"Hehehe, maaf Nona. Tapi ini ada imbalannya Non. Karena saya yakin berita ini akan membuat Nona lompat-lompat kegirangan," ucap pembantu itu sambil terkekeh.
Pembantu itu sangat licik, jadi dia tidak akan memberikan informasi gratis kepada mereka.
"Imbalan terus. Kamu itu mau memeras kami, hah. Mau cari mati iya?!" tekan Mamanya Mona yang kesal dengan sikap pembantunya yang mulai kurang ajar.
"Nyonya jangan marah-marah, nanti Nyonya tidak dapat menikmati hidup mewah. Jadi silahkan, mau memberi saya imbalan atau tidak sama sekali mendapatkan infonya," pembantu itu mulai berani terhadap mereka.
Mona dan Mamanya saling berpandangan. Mereka geram melihat sikap menantang pembantunya. Kemudian Mona membisikkan sesuatu ke telinga Mamanya. Lalu Mamanya pun mengangguk.
"Baik, apa imbalan yang kamu mau?" tanya Mamanya Mona.
"Hahaha, saya sudah tebak, kalian tidak akan menolak kemauan saya," ucapnya penuh kemenangan.
"Katakan saja apa imbalannya?" ucap Mona berang.
"Baik, baik, saya ingin kalian membelikan saya mobil mewah serta uang tunai senilai 100 JT, besok harus sudah ada. Kemudian saya ingin libur beberapa hari karena saya ingin menikmati mobil baru saya. Bagaimana?" tanya pembantu itu dengan senyum menyeringai.
Tentu saja permintaannya itu membuat Mona dan Mamanya melotot gak percaya. Mona merutuki permintaan pembantu sialannya itu.
Tiba-tiba Omanya angkat bicara dan dengan lantang menjawab. "Baik, saya akan mengabulkan semua permintaan kamu itu. Dan sekarang katakan apa informasi yang sangat membuat heboh."
Pembantu itu bersorak senang dalam hatinya, akhirnya dia menjadi orang kaya dengan hanya memberikan informasi kepada mereka. Namun pembantunya itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengannya selanjutnya.
Mona dan Mamanya sudah berencana untuk menjadikan dia tumbal buat iblis yang saat ini membantu Mona. Ibu dan Anak itu saling pandang dan menyeringai.
"Informasinya, besok sore Non Meka akan ikut bersama keluarganya ke Medan. Dan itu artinya tuan Zain akan sendirian di Apartementnya," jawab pembantu itu.
"Apa, dia ke Medan?" tanya Mona gak percaya.
"Ya, Non Meka akan kembali sendirian ke Medan bersama keluarganya," ulang pembantunya itu.
"Hahahaha, ini benar-benar berita yang sangat bagus. Saya suka informasi dari kamu. Gak sia-sia saya mempekerjakan kamu di sini," puji Mamanya Mona.
__ADS_1
Mona sangat bahagia, akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Zain kembali. Bibirnya terus tersenyum.