Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 174


__ADS_3

Deon dan Isna berjalan di depan, sedangkan Zain dan Meka mengikuti mereka di belakang. Sesampainya di dekat ruangan kelas mereka, Zain berpisah dengan Meka.


"Sayang, kalau kamu udah selesai jam kuliah, datanglah ke ruangan Mas. Mas akan nunggu disana," ucap Zain.


"Iya Mas, nanti aku akan ke ruangan kamu," balas Meka.


"Ya sudah, Mas tunggu ya sayang," Zain mengecup kening Meka.


Deon dan Isna pura-pura tak melihat keromantisan Meka. Mereka langsung berpaling ketika kejadian itu berlangsung.


"Ah Meka, Dosga kita romantis banget. Aku jadi iri pengen di gituan sama Deon," ucap Isna menoleh ke Deon sambil memainkan alis matanya.


"Kamu mau aku buat seperti itu sayang, sini aku kasih kecupan yang manis," balas Deon langsung menarik Isna ke dekapannya.


"Deon...., malu ah dilihat Meka," rengek Isna.


"Gimana sih kamu Na, tadi minta di perlakukan seperti Dosga kita. Sekarang malah gak mau. Gaje kamu," balas Deon.


Mereka berdua asyik berdebat membahas tentang perlakuan seperti Dosga mereka. Tanpa mereka sadari ada sosok mahluk ghaib yang menyeringai menatap keji ke arah mereka berdua. Lalu tatapan itu mengarah ke Meka yang berada di sampingnya.


Mata itu menyalang merah menatap Meka. Aura membunuh pun muncul di dirinya. Sosok itu yang tak lain adalah Bu Arin. Yang sudah tidak sabar ingin menghancurkan Meka.


"Tuungguu buulaaan puurnaaamaaa Meekaaa. Kaaamuu aaakaaan kuuhaancuurkaannn, HAHAHAHAHA," bathin mahluk yang bernama Bu Arin itu.


Meka merasakan aura jahat berada di sekitarnya. Dia juga mencium aroma busuk di dekat mereka. Meka langsung menoleh ke belakang, namun tak ada yang terlihat. Meka mencari keberadaan bau busuk itu. Dia mengendus-enduskan hidungnya untuk mendapati bau itu.


Sedangkan Bu Arin yang mengerti kalau Meka merasakan kehadirannya, dia langsung kabur menghilang. Bu Arin tidak ingin gegabah saat ini. Dia lebih berhati-hati menghadapi Meka.


Meka berhenti di tempat tadi mahluk ghaib Bu Arin muncul. Terasa sangat nyengat di penciuman Meka. Meka menoleh kesana kemari, tetapi tak menemukan hal yang mencurigakan.


"Ada apa Mek?" tanya Isna yang menghampirinya.


"Lo kenapa jalan kemari? Emang ada yang Lo cari disini?" Deon pun bertanya.


"Gw merasakan kehadiran mahluk ghaib di dekat kita. Tapi tidak ada yang kelihatan," jawab Meka.


"Serius Lo Mek?!" tanya Deon yang mendekat ke Meka dengan suara pelan.


"Mek, apa jangan-jangan--," Isna berhenti berbicara sambil menutup mulutnya.


"Jangan-jangan apa Na? Kamu jangan bilang itu demitnya nek lampir, ups," Deon langsung menutup mulutnya juga.


"Jangan kenceng-kenceng Deon ngomongnya. Nanti demitnya keluar lagi," balas Isna.


Deon dan Isna menoleh ke belakang, ke samping, takut akan ada yang muncul.


"Ayo ah kita ke kelas. Ngapain bahas yang gak penting," ajak Meka yang sengaja mengalihkan pembahasan.

__ADS_1


"Iya ayo keruangan, gw juga gak mau bahas itu, takut demitnya muncul," balas Deon.


Lalu Meka, Deon dan Isna berjalan ke arah ruangan kelas mereka.


Sesampainya di dalam kelas, mereka melihat kehebohan teman-teman lainnya. Meka dan yang lainnya saling berpandangan bingung.


"Ada apa ya Mek?" tanya Isna yang masih berdiri di depan kelas bersama kedua sahabatnya.


"Gw gak tau Na, ah sudahlah, ayo masuk dan kita duduk manis di bangku aja," jawab Meka.


Meka mendengar suara-suara bisik dari teman yang duduk di dekat mejanya.


"Eh, Lo dengar gak dari teman kelas yang lain, katanya Robby seperti orang yang kesambet. Hari ini dia tidak masuk," ucap salah satu Mahasiswi.


"Serius Lo Nit? Emangnya Lo tau dari mana cerita itu?" tanya temannya.


"Iya Nit, jangan buat heboh kelas kita. Bisa di bilang sebar fitnah loh," sambung teman lainnya.


"Gw serius loh, gw dengar tuh dari si Bambang. Kalau gak percaya tanya aja sama dia, tuh orangnya juga lagi gosip sama yang lainnya," ucap Nita sambil menunjuk ke arah Bambang.


Sementara Deon yang duduk dekat laki-laki mendengar cerita tentang Robby.


"Gw serius loh. Rumah dia tuh dekat dengan rumah gw. Kami tetanggaan. Bahkan tadi Nyokapnya itu minta tolong sama Ibu gw, untuk nyari kan Ustadz yang bisa menyembuhkan anaknya," ujar si Bambang yang penyebar berita.


"Bam, sejak kapan si Robby seperti itu? Bukankah kemaren dia masih bagus aja?" tanya teman lainnya.


"Lo tau darimana kalau dia ngomong gitu?" tanya teman yang satunya lagi.


"Ibu gw cerita gitu. Karena Nyokapnya Robby yang cerita," jawab Bambang.


"Terus sekarang gimana? Gw jadi pengen lihat dia," ucap teman yang lainnya.


"Ah gw gak mau. Takut ikut kena juga. Mending gak usah kita kesana. Kalau Lo mau kesana pergi saja sendirian," balas teman satunya lagi.


Deon ikut mencuri dengar dari mereka yang bergosip. Lalu Isna datang menghampiri Deon yang sedang fokus mendengar.


"De, mereka sedang ngomong apa?" tanya Isna.


"Sini Na, kamu tau gak mereka sedang bahas apa?" Deon malah bertanya.


"Yeeee, aku nanya, malah kamu nanyain lagi. Ya aku gak tau Deon....!" jawab Isna.


"Na, mereka sedang membahas Robby teman kita yang kemaren ngelihat Bu Arin," ucap Deon dengan suara pelannya.


"Apa!" pekik Isna.


"Hussst kamu berisik banget," tegur Deon.

__ADS_1


Meka dan yang lainnya mendengar suara Isna, langsung menoleh ke sumbernya.


"Hehehehe, maaf berisik ya," Isna cengengesan saat di lihatin yang lainnya.


Lalu dia kembali duduk merapat ke Deon. Dan mendekatkan dirinya agar bisa ngobrol pelan-pelan.


"Emang kenapa si Robby, De?" tanya Isna penasaran.


"Katanya hari ini dia sakit dan minta di datangkan Ustadz untuk menyembuhkannya. Terus wajahnya juga terlihat pucat," jawab Deon.


"Emang Lo tau darimana berita itu?" tanya Isna lagi.


"Tuh si Bambang yang cerita. Dia ternyata tetangga si Robby. Dan Nyokap si Robby, minta tolong sama Ibu si Bambang untuk minta di panggilkan Ustadz. Terus katanya si Robby kemaren malam ketakutan teriak gitu dan bilang, jangan bawa aku...," gitu cerita si Bambang," jawab Deon lagi.


"Ya ampuuun, kasihan banget tuh anak. Apa dia di gangguin sama Bu Arin ya. Gw jadi merinding nih De," ucap Isna ketakutan.


"Gw juga Na, masalahnya kemaren kita juga ikut sama Robby kan," balas Deon.


"Terus gimana dong De! Kita harus cerita ke Meka nih," ucap Isna.


"Iya lebih baik kita kasih tau Meka. Lagian kasihan juga si Robby dan orang tuanya."


"Iya kamu benar. Nanti habis jam kuliah selesai, kita bicarakan aja sama Meka. Sapa tau dia mau bantu si robby," Isna berharap terhadap Meka.


Kemudian seorang Dosen masuk ke dalam ruangan mereka.


"Pagi semuanya!" sapa Dosen itu.


"Pagi Pak...!" sahut beberapa Mahasiswa.


"Kok kelihatannya pada gak semangat hari ini. Apa ada sesuatu disini?" tanya Dosen itu.


"Pak, Robby hari ini gak masuk. Dia izin sakit," Bambang tiba-tiba ngomong dari bangku belakang.


"Oh...sakit apa?" si Dosen penasaran.


"Kesambet mahluk halus Pak, kata Bambang," celetuk Mahasiswa lain.


"Siapa yang kesambet? Dimana?" tanya Dosen itu lagi.


"Si Robby Pak, dia kesambet di Kampus kita ini," jawab yang lainnya.


"Hust jangan mengada-ada. Gak mungkin di Kampus kita ini ada demitnya," balas Dosen itu.


Keadaan kelas pun semakin heboh dengan pembahasan masalah Robby. Suasana menjadi tak kondusif lagi. Mereka heboh bergosip. Si Dosen juga malah ikut membahasnya.


Hingga jam pelajaran selesai, mereka masih membahas masalah Robby. Akhirnya Dosen itu keluar dari ruangan Meka tanpa memberikan pembelajaran. Waktu yang ada di habiskan untuk mendengar cerita tentang Robby.

__ADS_1


__ADS_2