
Aurora terus saja berteriak dan meminta para polisi itu mengeluarkan nya dari sana, beberapa kalo polisi membentak gadis itu untuk diam namun dia tidak mengidah kan nya.
Seorang tahanan wanita yang bertubuh gempal yang sudah sangat kesal pada Aurora kemudian menjambak rambut gadis itu dengan keras, makian terus saja keluar dari mulut wanita itu agar Aurora diam.
Sedangkan teman satu sel mereka hanya menyoraki dan tertawa melihat Aurora yang hampir tak sadarkan diri karena di pukuli oleh wanita gempal itu, terlihat wanita itu begitu puas telah menyumpal mulut Aurora dengan tangannya sendiri.
"*Dasar anak baru disini aku yang berkuasa kau paham, jika sampai kau berbuat hal seperti itu lagi ku habisi kau. "Ancam wanita itu dengan menjambak rambut Aurora terakhir kalinya.
" Sama sama pembunuh saja munafik lo, makanya jangan jadi pembunuh kalau tidak punya mental bodoh. "Ucap yang lain*.
Mereka nampak menertawakan kemalangan Aurora yang sedang tergeletak di lantai putih yang dingin, wajahnya nampak memar dan berdarah gadis itu begitu takut berada di ruangan yang sama dengan wanita itu.
Bahkan mengeluarkan isakan pun dia sudah tidak berani lagi Aurora menghapus air matanya dan juga darah segar di ujung bibir dan pelipisnya, dengan sendu gadis itu duduk di depan sel jeruji besi menunggu seseorang membebaskan nya.
"*Ayahh... aku takut disini. " Batin Aurora mengingat Andre yang selalu berlaku lembut padanya.
__ADS_1
"Aku dengar dari para polisi itu gadis itu membunuh saudara angkat nya, anak kandung dari dua orang tua yang sudah mengadopsi nya. " Ucap salah seorang tahan wanita.
"Benarkan dia anak pak Andre kan, pengusaha terbesar di kota kita. Dasar anak tidak tahu malu dan Terima kasih dia pantas berada di sini." Sahut yang lain dengan tatapan sinis.
"Dasar gadis bodoh dia sudah enak di adopsi orang kaya dan lihat apa yang dia beri kan pada keluarga itu. " Ucap yang lain*.
Nampak seorang polisi wanita menghampiri mereka dan terkejut melihat keadaan Aurora yang sudah babak belur, polisi itu segera membuka sel dan mengeluarkan nya dari ruangan itu.
"*Apa ini perbuatan kalian? " Ucap Polisi itu dengan tegas.
"Ya elah buk salah siapa berisik, kita kan terganggu juga dengar dia teriak terus. " Ucap wanita tambun itu dengan santai.
Mereka tertawa saat polisi wanita itu pergi bersama dengan Aurora yang hanya diam karena ketakutan, tak terasa sudah 5 jam gadis itu berada disana sendiri. Aurora dibawah oleh polisi itu keruangan kesehatan.
"*Jika kau tidak ingin seperti ini lagi ku harap kau berbuat hal yang tidak baik, denagar nona Aurora kau dan mereka sama saja tapi jika mereka tidak menyukai mu maka imbasnya akan begitu terlihat seperti saat ini. " Ucap polisi itu membersihkan luka Aurora.
__ADS_1
"Aku ingin pulang kumohon ayahku pasti datang untuk membebaskan ku, jadi sekarang biarkan aku menunggu diluar aku tidak mau kembali bersama mereka. " Ucap Aurora dengan isakan.
"Maaf tapi keluarga mu belum ada yang datang untuk menebus mu atau pun menyelesaikan dengan kekeluargaan, kau tahu nak yang kau lakukan itu salah. Keluarga mu pasti begitu kecewa dengan perbuatan mu itu. " Ucap polisi itu lembut menenangkan Aurora yang nampak menangis histeris.
"Aku tidak sengaja sungguh aku tidak bermaksud melenyapkan nya, aku hanya menusuk nya tidak berharap dia mati.. " Pekik Aurora histeris.
"Tenang lah nona Aurora jika kau tidak bisa tenang aku bisa panggil kan dokter kejiwaan untuk mu.. " Bentuk polisi itu memang tangan Aurora.
"Aku tidak gila... Lepas.. " Teriak Aurora mendorong polisi wanita itu dengan keras hingga terjatuh menabrak meja*.
Dengan cepat Aurora berlari dari ruangan kesehatan yang berada di luar kantor polisi berlari tanpa alas kaki dengan cepat, dia hanya ingin keluar dari sana dengan menabrak beberapa polisi yang berada didepan ny.
"Tangkap gadis itu sekarang. " Teriak polisi itu pada para polisi yang berada di luar.
Mereka semua dengan sigap menangkap Aurora yang semakin histeris ingin keluar dari sana, dengan cepat para polisi itu menyeret nya kembali kedalam sel bersama para tahanan itu lagi.
__ADS_1
"Lepaskan aku.. aku mau pulang.. " Pekik Aurora luruh ke lantai dengan lemas.
Para wanita yang berada di dalam tahanan iu nampak hanya diam dan memerhatikan Aurora yang terduduk dengan bersimbah air matanya, nampak kaki gadis itu terluka karena berlari untuk keluar dari kantor polisi yang sangat ketat itu.