
Malam itu Alettha tak melihat Boby keluar dari kamarnya, Alettha berinisiatif untuk masuk melihat Boby.
"Dia masih tertidur, sebaiknya aku bangun kan dia pasti lapar. " Gumam Alettha lirih.
Alettha maasuk kedalam kamar Boby, perlahan mendekati Boby yang masih tertidur dengan selimut tebal nya.
Alettha mengoyak kan tubuh Boby, Alettha terkejut saad menyentuh lengan Boby yang terasa hangat. Alettha memindahkan tangannya pada kening Boby dia nampak terkena demam.
"Astaga badan mu panas sekali, pantas saja kau tak keluar makan. Bob, bangun lah... " Ucap Alettha mengoyang tubuh Boby.
"Ada apa Alettha, badanku terasa lemas sekali. " Ucap Boby lirih.
"Badan mu panas, kau harus makan setelah itu minum obat. Aku akan turun mengambil kan makanan untuk mu. " Ucap Alettha berlalu dari hadapan Boby.
"Ada apa dengan ku, kenapa rasanya tubuh ku sakit dan ngilu sekali. " Gumam Boby.
Alettha datang dengan membawa nasi dan juga obat untuk Boby, dia menyuapi Boby dengan perlahan.
"Kau harus makan, maaf pasti karena aku kau sakit. " Ucap Alettha.
__ADS_1
"Aku hanya lelah saja, sudah aku sudah kenyang. " Ucap Boby menolak suapan dari Alettha.
"Minum lah obat penurun panas ini, biar kau cepat sembuh. " Ucap Alettha memberi sebutir obat dan air putih.
Boby lantas meminum obat dan kembali tertidur di kasurnya, memejamkan mata nya. Dia benar-benar lelah dan tidak ingin berbicara.
"Selamat malam Boby, lekas sembuh. " Ucap Alettha.
Alettha mematikan lampu dikamar Boby, berjalan keluar meninggal kan Boby yang sudah terlelap. Alettha kembali ke dalam kamarnya duduk terdiam melihat bintang di langit luar.
"Alex... Apa kau baik baik saja? Sungguh aku merindukan mu, sangat merindukan mu. " Ucap Alettha.
Setetes air mata turun dengan cepat membuat Alettha segera menghapus nya, dia tak bisa begini terus dia harus bisa hidup dan move on dari masa lalunya.
"Dia ku untuk mu, Bahagia selalu Alex walaupun bahagia mu bukan bersama ku. Aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu, sebagai teman dan aku melihat mu bahagia bersama dia pilihan mu. " Gumam Alettha berderai air mata.
Alettha memejamkan matanya mengingat masa manis dan bahagia saad bersama Alex, kini dia harus bisa memikirkan hidup nya. Dia harus bisa bekerja dan memulai hidup yang baru.
Alettha tak akan mengambil semua yang telah Alex berikan pada dirinya, dia akan mulai hidup dengan kakinya sendiri. Kini Alettha benar-benar sendiri tak ada lagi orang tua, tak ada sahabat dan saudara yang mungkin kini sudah melupakan diri nya.
__ADS_1
"Aku hanya punya Boby, hanya dia yang mau mengerti diriku. Hanya dia sahabat sekaligus kakak bagiku. " Ucap Alettha menghapus air matanya.
Dia tersenyum menghapus air mata yang turun di pipinya, mulai menguatkan dirinya untuk membuka sebuah lembar hidup baru dengan kakinya sendiri.
Alettha menutup pintu balkon kamarnya, merebahkan tubuh nya di kasur queen size miliknya, Memejamkan mata untuk kembali berkelana ke alam mimpi yang tak bisa menyakiti dirinya.
Sedangkan Alex sedangkan berada di sebuah baru disana, memesan sebuah minuman keras dan sekali teguk minuman itu habis seketika.
Alex benar-benar hancur dan kini hati nya remuk tak berbekas, hanya sebuah penyesalan yang tak berujung. Dari ketidak tegasan dirinya sendiri, membuat nya merasakan sakit yang kedua kalinya sakit yang amat sakit dia rasakan.
"Alettha... Aku mencintaimu.... " Gumam Alex.
Alex terjatuh dari kursi yang dia duduki tergeletak tak sadar kan diri, seorang wanita datang membantu membawa kembali ke rumah.
"Ah ini dia dompet nya, oh perumahan itu sebaiknya aku antara kan pulang saja. " Ucap Gadis itu.
Dia dibantu supirnya membawa Alex menuju mobilnya, melaju pergi meninggalkan Bar malam itu. Di perjalanan Alex tak pernah berhenti memanggil nama Alettha.
"Alex.... Haaa ahh haaa.. " Teriak Alettha.
__ADS_1
Alettha terbangun dengan keringat di wajahnya, seluruh tubuh nya berkeringat dia berteriak memanggil nama Alex.
"Kenapa kau hadir di mimpiku, kenapa. " Ucap Alettha mengusap kening nya.