Alettha ( Si Anak Pelakor)

Alettha ( Si Anak Pelakor)
Karena Aku Akan Tetap Mencintaimu


__ADS_3

Mereka membawa jenazah Nafisah kerumah Abah nya di surabaya, sejak Nafisah menikah abah nya kembali mengurus Pesantren di kota Surabaya.


Boby menghubungi Abah Nafisah dengan berat hati karena kabar yang akan dia terima adalah kabar yang akan membuat luka pada orang tua yang berusia 70 tahun itu.


Alettha berada didalam mobil Ambulan bersama Boby, sedangkan Andre menjemput Gresia untuk tinggal di rumahnya bersama Tania tak lupa dia menitipkan anak anak itu ke mereka dan menyiapkan bajunya dan Alettha.


"Aku menjemputnya dengan bismillah Alettha dan aku mengembalikan nya dengan tubuh tanpa nyawa pada orang tuanya. " Gumam Boby.


"Itu sudah garis dari yang kuasa Boby, kumohon jangan terus bersedih dengan semua cobaan ini. " Ucap Alettha dengan suara yang bergetar.


Lagi lagi hanya air mata dan isakan yang mengisyarat keadaan mereka saad ini, setelah berjalan selama 3 jam dan waktu sudah mulai sore akhirnya mereka sampai ke kediaman masa kecil Nafisah.


Boby turun dari dalam mobil disusul Andre dibelakang nya, langkah nya terlihat gontai menatap pria bersorban itu dengan mata yang sebab.


Pertahanan Boby runtuh dibawa kaki ayah mertuanya, Boby tidak sadarkan diri Pak Burhan dengan sigap membantu Boby untuk tetap beristighfar.

__ADS_1


Mereka membawa Boby kedalam rumah pak Burhan, sedangkan jenazah Nafisah berada di depan bayak para pelayat dari kalangan ulama dan juga tetangga berdatangan.


Andre dan Alettha menyambut mereka dengan lapangan dada bayak diantara para pelayat yang menangis melihat jenazah Nafisah yang masih terlihat seperti dia tengah tertidur.


"Liat lah nak Nafisah malang sekali nasib mu nak, semoga Khusnul khotimah. " Ucap seorang pelayat.


"Iyaa padahal baru tahun kemarin dia datang kemarin dan sekarang dia pulang dengan keadaan yang sudah berpulang ke rahmatullah. " Ucap Pelayat lain.


Alettha mendegar setiap pujian dan juga semua kebaikan yang setiap orang bicarakan tentang wanita yang sudah tidak bernyawa ini.


Mereka semua membaca surah yasin untuk Nafisah dan akan segera disholatkan lalu dikubur sore itu juga, semua pria dan wanita serta para santri ikut andil dalam pengolahan Nafisah dengan isakan tertahan.


Boby masih terduduk lemas menatap istri nya disholatkan dan siap untuk di kuburkan, setelah sholat selesai mereka membawa keranda dan memasukkan Nafisah ke dalam nya.


Pak Burhan selaku abah Nafisah mendekati menantu nya yang terlihat sangat berduka dengan kepergian puterinya.

__ADS_1


"Boby bagun lah nak, ikut aku mengangkat tubuh istri mu untuk kembali ke rumahnya sekarang. Hapus air mata mu anak ku,tidak hanya engkau yang berduka tapi aku dan semua orang disini. " Ucap Pak Burhan.


Boby menatap pria paru baya itu dan menghapus air matanya, berdiri dan mengikuti pak Burhan untuk mengangkat keranda mayat milik Nafisah.


Karena perkuburan tak jauh dari pesantren akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan membawa Nafisah sembari membawa berkeliling untuk terakhir kalinya.


Nafisah di kuburkan dengan bayak nya air mata yang terjatuh bahkan langit pun menangia mengikuti kepergian Nafisah itu, hujan mulai turun membasahi tanah dengan deras pemakaman itu selesai dengan hujan deras yang mengguyur.


Boby terduduk di atas tanah Merah pemakaman Nafisah, dia memegang papan bertuliskan nama Nafisah dengan tatapan yang sendu sebagai dari pelayat ada yang sudah pergi dan sebagainya masih menatap tak percaya dengan semua itu.


"Ayo pulang nak, bair kan Nafisah tidur dengan tenang. " Ucap pak Burhan.


Boby menolak untuk pulang dia tidak ingin meninggalkan Nafisah sendiri di guyuran hujan itu, namun pak Burhan dan Andre tak bisa meninggalkan Boby sendiri.


Akhirnya dengan bujukan Boby bisa luluh dan ikut pulang bersama dengan kami, Boby benar-benar kacau dengan kepergian Nafisah dia bahwa mengurung dirinya didalam kamar sedari pulang dari pemakaman tadik.

__ADS_1


__ADS_2