Alettha ( Si Anak Pelakor)

Alettha ( Si Anak Pelakor)
Kabar Duka Aletta


__ADS_3

Hari minggu itu di lewati dengan riang oleh aletta. Menyapu memasak bertaman dan lain lainnya, dia begitu senang. Udara pagi begitu segar suara kicauan burung nyaring terdengar.


"Laa.. laaa. laaaa... laaaa. " senandung Aletta.


"Bunga bunga yang indah, burung burung bernyanyi... laaa... laaa. laaa... hahahah... " tawa Aletta tampak bahagia.


Di balik pohon mangga itu, nampak Arsya memandang gadis berambut panjang itu dengan senyuman yang sulit di artikan.


"Kenapa rasa ini semakin hari semakin nyata.... " ucap Arsya.


Dr.. Dr.. Dr..


( Mami


Arsya kerumah sakit sekarang bersama Axcel dan Aletta. Papi mu kecelakaan saad akan menuju pengadilan sidang akhir. ).


Arsya terkejut, walaupun dia sangat membenci ayah nya itu tapi Arsya masih merindukan sosoknya. Dengan tergesa-gesa gesa Arsya masuk ke dalam rumah.


"Axcel.... Aletta aaaaaa... " teriak Arsya keras.


"Kak kenpa sie teriak teriak... " ucap Axcel kesal.


"Ayo kerumah sakit papi, papi... " ucap Arsya sedih.


"Papi.... iyaa papi... kenpa kak... " ucap Axcel.


"Sudah lah ayooo, kita kerumah sakit... " ucap Arsya.


Arsya dan Excel menuju garasi mobil.


sepertinya Aletta tak mendengar kegaduhan dia saudara itu. Dengan sigap Arsya menarik tangan Aletta dengan keras. Sampai sampai Aletta tersentak akan tarikan pada tangan nya.


"Mau kemana... " ucap Aletta binggung.


Arsya hanya diam, membuka pintu mobil dan mendorong aletta agar masuk ke dalam mobil.


Hening tak ada suara didalam mobil itu. Setelah beberapa saad merak sampai ke rumah sakit.


"Ikuti sekarang. " ucap Arsya.


Axcel dan Aletta mengikuti Arsya dengan tergesa-gesa.


"Sebenarnya ada apa kenpa mereka begitu panik... " Batin Aletta.


"Mami... papi kenpa mi... " ucap Axcel.


"Tantee Kauren.. " Aletta semakin binggung.


"Kalian tenang dokter sendang menangani. " ucap Kauren lesu.


Axcel tampak menangis tersedu sedu. Aletta yang hanya diam tak mengerti kondisi apa yang sedang mereka alami.


"Nyonya Kauren... " ucap Dokter.


Dengan sigap tanye Kauren berdiri didekat dokter pria itu.


"Bagaimana keadaan nya... " Ucap Kauren


"Maaf kami sudah berusaha. " Ucap dokter pergi meninggalkan kami.


Teriakan histeris keluar dari mulut Axcel. Aletta yang bingung masuk kedalam ruangan melihat siapa yang meninggal. Dengan terkejut Aletta menutup mulutnya dan menangis.


"Ayah... bunda.. aku pasti bermimpi... " ucap Aletta.


Aletta terduduk lemas di lantai, bagaimna bisa setelah semua nya dan kini dia kehilangan orang tua nya.

__ADS_1


"Sayang, tenang lah kita semua disini sedih sama seperti mu. " ucap Kauren.


"Kenapa tante dan Axcel begitu terluka melihat ayahku... " ucap Aletta.


"Dia ayah ku... Ayahku yang kau dan ibu mu itu rebut... Aku kehilangn ayahku karna kau... " teriak Axcel frustasi.


"Aletta dengar sekarang bukan waktunya tuk menjelaskannya, Axcel mami mohon bersabar lah sayang. Arsya bawak aletta pulang. " Perintah Kauren.


"Gak aku gak mau aku mau bersama ayah dan bunda ku, lepaskan aku... " Teriak Aletta.


Dengan sigap Arsya membawakan Aletta pergi menjauh. Membawakan nya kembali ke rumah, menanengkan Aletta.


Didalam mobil aletta trus saja menangis.


"Berhenti lah menangis bukan kau saja yang sedih, kami pun merasakn termasuk Axcel. " Ucap Arsya penuh penekann.


"h jadi karna itu kalian begitu benci pada ku, karna aku anak dari... " Ucapan Aletta terpotong.


"Berhenti berbicara. " Bentak Arsya.


Aletta lantas berhenti dan menangis dalam diam.


Mereka meluncur menuju rumah kauren.


Aletta lantas masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Memeluk bingai foto nya dengan kedua orang tua nya.


"Kenapa kalian tak beri tahu aku, kenapa saad ayah dan bunda pergi aku harus menerima kenyataan ini. " Ucap Aletta.


Aletta menagis terseduh seduh, membayangkan hidupnya setelah ini. Bagaimana dia bisa hidup sendiri tanpa ada yang menyanyinya.


Kring Kring


Bunyi telpon Aletta berbunyi nyaring.


"Kenapa tan, aku mau melihat bunda terahir kali aku mohon... " Ucap Aletta memelas.


TTitttt


Telepon dimatikan sepihak oleh Kauren. Dengan sedih Aletta keluar kamar an akan menyusul kauren dirumah sakit. Namun aksinya dihentikan oleh Arsya.


"Mau kemana kamu, mami sudah katakan bahwa kau tidak bisa pergi dari rumah ini. " Ucap Arsya.


Dengan kuat Arsya memegang lengan Aletta sampai memerah.


"Lepaskan tangan mu, kau bukan siapa-siapa jadi jangan halangi aku... " Ucap Aletta brontak.


Namun tenaga nya tak sebanding dengan tenaga Arsya. Dengan frustasi Aletta terus menangis dan berteriak. Dia benar benar tidak habis pikir dengan mereka semua kenpa Aletta tak boleh datang di pemakaman orang tua nya sendiri.


Dengan satu sentakan Aletta sudah berada dipelukan Arsya.


Aletta menagis dan memukul dada bidang Arsya, Arsya hanya terdiam membiarkan Aletta memukulnya.


Tiba tiba Aletta ambruk dipelukan Arsya, dengan sigap Arsya membawakan nya kekamar menidurkan nya di kasur besar itu.


"Maaf, mungkin ini menyakiti mu. Tapi ini balasan yang pas untuk mu karna dulu Axcel juga merakan tidak bisa bertemu dengan ayah ya. " Ucap Arsya.


Arsya memohon pada Kauren untuk tidak mengajak Aletta kepemakam, karna itu adalah balasan yang pas untuk nya. Itu adalah balasan sepadan untuk apa yang Axcel lalui dulu.


Arsya memandang lama wajah Aletta, walaupun dia membencinya namun hati nya berkata lain.


"Setiap aku menatap mu hati menjadi tak karuan Aletta. " Batin Arsya.


Ddr... Dr.. Ddrrr..


"Haloo mii, apa semua sudah selesai. " Tanya Arsya.

__ADS_1


"Iyaa semua berjalan lancar. Bagaimana Aletta? Mami harap kamu tak menyakitinya. " Ucap Kauren.


" Dia sedang istirahat, mami tenang saja. " Ucap Arsya.


"Mami titip Aletta nak, untuk sementara mami dan Axcel akan dirumah omah. Kamu jadi dia baik baik. " Ucap Kauren.


Arsya hanya diam, menutup telepon sepihak.


Arsya memandang Aletta lama, entah apa yang ada dipikiran nya saad itu.


"Bundaa... bunda.. " Igau Aletta.


Dengan sigap arsya mendekati aletta.


"Hey kau kenapa, Aletta...? " ucap Arsya.


Hening tak ada suara dari merka, Arsya memegang kening Aletta. Terasa hangat mungkin dia terkena deman.


"Hangat sekali tubuh mu.. " Ucap Arsya


Arsya pergi ke dapur mengambil air untuk mengompres Aletta.


Setelah beberapa saad arsya pergi dari kamar Aletta. Dia pergi kekemarnya membersihkan diri lalu turun kebawah untuk membuat makanan.


Aletta merasakannya tubuhnya lemas, lagi lagi dia mengingat orang tua nya yang baru saja meninggal bebrapa jam yang lalu. Aletta melirik jam dinding dikamrnya, waktu sudah menunjukan pukul 17.50wib.


"Berapa lama aku disini.. Kenapa sepi sekali. Tapi aku tak peduli lagian merak jahat pada ku... " Ucap Aletta menangis.


" Kau sudah bangun.. " Ucap Arsya.


Aletta tersentak kaget dengan suara berat Arsya.


Aletta membuang muka nya lalu pergi ke balkon kamarnya melihat langit yang mulai berubah warna.


"Malam lah aku sudah buat kan untuk mu.. " Ucap Arsya menyodorkan nampan bersisi bubur dan susu hangat.


"Aku tak lapar, untuk apa kau peduli pada ku sebaiknya pergi lah aku tak ingin berbicara. " ucap Aletta.


"Apa kau ingin mati perlahan-lahan, menyusul orang tua mu itu.. " Hardik Arsya.


Aletta yang mendengar lantas berdiri dari duduk nya dan menampar Arsya.


plakkk


"Aku mati atau hidup itu bukan urusan mu, lagian apa pedulimu haaa... " Ucap Aletta marah.


Dengan marah Arsya melempar nampan makan itu keluar balkon.


Dengan kasar Arsy mencengkram pundak Aletta, Aletta meringis merasakan bahunya terasa panas dan sakit akibat cengkraman Arsya.


Aletta merasa takut namun tak membuatnya mundur dan menangis.


"Dengar bodoh, jika kau mati lantas siapa yang harus merasakan bagaimana sakitnya adik ku saad kau merebut sosok ayah dari nya,dan siapa yang akan merasakan betapa hancurnya ibu ku selama 10 tahun ini... Kau yang akan menggantikan setiap rasa sakit itu Aletta. " Ucap Arsya marah.


"Kau mau balas dendam pada ku... " Ucap Aletta sendu.


"Lakukanlah apa yang membuat mu bahagiakan.. lakukanlah. " ucap Aletta.


Dengan marah Arsya mencium Aletta, Aletta berusaha melepaskan diri dari cengkraman Arsya.


Arsya tersadar dengan perbuatannya membuat nya mendorong Aletta keras hingga Aletta terjatuh dan membuat punggung nya menabrak meja di balkon nya.


Aletta meringis kesakitan meraakan punggung nya terasa sakit. Arsya dengan marah berlalu dari kamar aletta dan menutup pintu dengan keras.


"Kenapa kau begitu jahat pada ku... " Ucap Aletta menagisi hidup nya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2