
Sudah tiga hari Andre tidak kembali ke rumah nya, dia berharap Alettha bisa memaafkan dirinya. Sementara Andre akan berada di rumah ibunya sampai Alettha bisa menerima semua itu.
DRDRDRD
Alettha mencari ponselnya dengan tergesa-gesa berharap itu dari Andre.
"iya Boby ada apa, apa ada sesuatu yang penting? " Jawab Alettha.
"Halo Alettha ku hanya ingin memberi tahu mu, bahwa Nafisah akan melahirkan hari ini. Bisakah kau kemari menemani ku. " Ucap Boby
"Benar kah itu, baik lah dirumah sakit mana aku akan kesana sekarang. " Ucap Alettha senang.
"Dirumah sakit kasih bunda, segera lah kemari. " Ucap Boby.
Alettha bangkit dari duduk nya kemudian berjalan menyambar tas dan pergi dari kamarnya, Alettha terdiam sejenak saad melihat Leo yang terdiam di depan pintu.
Hati nya berkata bahwa ini salah, tak seharusnya dia menyalahkan Leo yang salah tetap lah ibu nya bukan anaknya. Namun Alettha memilih mengacungkan hati nya berlalu begitu saja dihadap Leo.
"Tante Alettha mau kemana? " Pekik Leo.
Alettha terus saja berjalan memasuki mobilnya tanpa sepatah kata pun untuk Leo.
"Tante Alettha kenapa, apa tante marah sama Leo... huhuhu. " Ucap Leo sembari menangis.
Tania langsung keluar saad tahu Leo menangis, dia menatap nanar anak laki-laki itu yang dulu kehadirannya sangat dinantikan oleh Alettha dan sekarang dia tak peduli lagi padanya.
"Sayang jangan nangis lagi yaaa, kan ada mbk Tania disini. " Ucap Tania.
Tiba-tiba mobil Andre memasuki perkarangan rumah dan melihat Leo yang sedang menangis.
"Leo ada apa sayang kenap kau menangis, apa kau terjatuh? " Tanya Andre.
"Aku mau pulang om, tante Alettha marah pada ku di tidak mau ada aku disini. " Ucap Leo tersedu-sedu.
Andre lantas menggendong Andre dan menenangkan nya dengan penuh kasih sayang.
"Cup cup anak tampan tidak boleh menangis, nanti tampan nya hilang loh. " Ucap Andre menghapus air mata Leo.
Andre mengajak Leo masuk kedalam diikuti Tania dibelakang, Andre menceritakan semua kejadian tempo hari pada Leo Tania dan juga bik Sum.
"Pantas saja tuan, nyonya sangat tidak suka saad mendegar tangis Aurora. Tapi apa nyonya akan tetap membenci nya? " Celetuk bik Sum.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bik, semoga saja dengan berjalan nya waktu semua akan kembali lagi. " Ucap Andre.
Alettha mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, hatinya benar-benar sedang kacau sekarang dia bingung harus bagaimana hanya Nafisah yang bisa memberikan jawab untuk nya.
Alettha menuruni mobilnya menuju kedalam rumah sakit dia melihat Boby sedang berbicara dengan seorang dokter.
"Boby, bagaimana Nafisah? " Ucap Alettha.
"Baiklah dok lakukan yang terbaik untuk istriku. " Ucap Boby berjabat tangan dengan dokter itu.
Nampaknya Boby sedang tidak baik baik saja, wajahnya terlihat gusar dan gelisah.
"Boby jawab aku, apa semua baik baik saja? " Ucap Alettha.
"Tidak Alettha semua tidak baik baik saja, Nafisah mengalami pendarahan yang hebat dan dokter bilang aku harus memilih satu diantara mereka. " Ucap Boby.
Alettha terkejut dan menutup mulutnya tidak percaya dengan semua itu, Boby Terduduk lemas menatap dan menunggu dokter selesai oprasi.
Alettha memeluk Boby yang sedang menangis tersedu, baru kali ini Alettha melihat seorang Boby pria yang bahkan tak pernah menangis itu kini terlihat begitu rapuh.
"Berdoa lah Boby percayalah pada Allah dia tahu mana yang terbaik, semoga mereka berdua selamat. " Ucap Alettha.
Mereka menunggu dengan cemas Boby bahkan tak henti nya berjalan kesana kemari menunggu dokter keluar dan menyampaikan kabar baik, setelah 2 jam pintu itu pun terbuka lebar dan menapakkan dokter yang tadik berbicara dengan Boby.
"Bagaimana dengan Istri saya dok, semua baik baik saja kan? " Ucap Boby.
Dokter nampak agak takut saad ingin menjawab pertanyaan Boby, ada raut kebahagiaan dan kesedihan dimata nya.
"Bayi anda selamat pak Boby, dan Istri anda juga... " Ucap Dokter terputus.
"Maksud dokter bayi saya selamat apa, anak dan istri saya selamat dok? " Ucap Boby senang.
Suara bayi terdengar begitu nyaring bergema diseluruh ruang oprasi itu, dengan sigap Boby meninggalkan Alettha dan dokter sendiri.
"Dengar buk saya harus menyampaikan ini pada anda, Bahwa kami hanya bisa menyelamatkan satu diantara mereka saja dan bayi itu sudah selamat. " Ucap dokter sedih.
Alettha begitu terkejut dengan ucapan dokter itu dia tak menyangah bahwa ini adalah hari dimana Nafisah akan pergi jauh dari mereka semua.
Alettha lantas masuk kedalam ruangan itu yang terdengar nyarinya suara bayi baru lahir itu, terlihat Boby begitu bahagia dan mengucapkan terima kasih pada Nafisah.
Terlihat wanita itu selalu tersenyum walaupun dia tahu bahwa dia tidak bisa bersama dengan keluarga nya lagi, tubuh nya terlihat begitu pucat tapi senyuman selalu menghiasi bibinya.
__ADS_1
"Alettha kemari lah. " Ucap Nafisah lembut.
Alettha kemudian mendekati Nafisah dengan deraian air mata, sedang Boby ikut bersama suster mengantar bayi nya.
"Nafisah aku tahu semua nya, aku... aku.. "Ucap Alettha terbata.
" Tak apa Alettha aku ikhlas yang penting bayi ku dan suami ku bahagia, Alettha dengar kan aku kamu orang baik kamu pasti bisa menghadapi semua rintangan dengan mudah. Aku titipkan putri ku dan Boby bersama mu. "Ucap Nafisah.
Nafisah memegang erat tangan Alettha dan tersenyum manis, Alettha tak tak bisa membendung air matanya yang semakin deras mengalir.
Boby tahu bahwa jika bayinya selamat maka dia akan kehilangan Nafisah untuk selamanya, Boby menangis di luar ruangan Nafisah dia tidak sanggup untuk melepaskan istri tercintanya untuk pergi jauh.
Perlahan Nafisah menutup mata nya dan pegangan tangan Nafisah mulai melemas,nb Alettha memeluk wanita yang selama ini sudah seperti kakak bagi nya.
"Nafisah Nafisah bangun lah Nafisah... " Pekik Alettha.
Mereka hanya bisa iklas untuk merelakan orang yang paling baik dan selalu sabar itu kembali ke pangkuan sang Pencipta, selamat jalan Nafisah.
Alettha menelepon Andre dan mengabari kepergian Nafisah saad berjuang melahirkan bayi nya.
"Baik lagi Alettha aku segera ke rumah sakit, tunggu lah. " Ucap Andre.
Alettha mematikan hubungan telepon nya, lantas menatap Boby yang hanya terdiam membisu di depan jenazah cantik istrinya.
Walaupun wanita itu sudah meninggal tapi wajahnya tetap terlihat sangat cantik dan bercahaya, mungkin karena Nafisah adalah orang yang baik dn selalu tawakal pada sang ilahi.
"Boby Ikhlas Nafisah, aku tahu kamu sakit dan berduka tapi ada Gresia dan juga bayi mu yang butuh dirimu Boby. " Ucap Alettha.
"Aku baik baik saja Alettha, aku hanya terasa seperti mimpi saja. Lihatlah wajahnya nampak seperti seorang yang sedang tertidur kan. " Ucpa Boby memeluk Nafisah.
Seorang suster datang akan memandikan tubuh Nafisah yang sudah memucat, Boby membiarkan suster itu untuk membawa istri dengan berat hati.
Alettha mengajak Boby untuk duduk dan menunggu semua selesai dan akan membawa Jasad Nafisah kembali ke rumah mereka.
Tak lama Andre datang dan menemui Alettha dan Boby yang sedang duduk, Andre memegang pundak Boby yang kian bergetar karena tangis nya.
"Aku pernah merasakan apa yang kamu rasa kan Boby, harus memiliki salah satu diantara orang yang sangat kamu harapkan untuk bersanding sampai akhir. " Ucap Andre menatap Alettha.
Alettha menatap mata Andre dengan sebuah pertanyaan yang sulit diartikan.
"Dia sudah pergi jauh Ndre, bahkan melihat nya ajaa aku tak sanggup. " Ucap Boby.
__ADS_1
Andre menepuk pundak Boby agar pria itu terlihat lebih tegar menghadapi semua cobaan ini.
"Apa yang kamu katakan tadik ndre, apa kamu juga melakukan hal yang sama seperti Boby? " Batin Alettha berkecamuk.