
Pagi pagi sekali Alettha sudah terbangun segera mandi lalu membuat nasi goreng kesukaan nya dan Boby. Dari semalam Alettha sudah memasuki semua baju dan barang barang nya yang sedikit kedalam sebuah koper yang tak begitu besar.
Dia sudah menurunkan koper itu ke lantai bawah membuat kan sebuah sarapan terakhir untuk dirinya dan juga Boby. Pagi itu di iringi oleh senyum manis dan kebahagiaan bagi Alettha.
Alettha tak henti bersenandung riang sembari memasak, Boby yang semalam tak begitu bisa tertidur lantas terbangun mendengar suara Alettha yang sedang bersenandung dan masak.
"Wah wah burung ku pagi pagi sudah berkicau saja. " Ucap Boby bersandar di anak tangga terakhir.
Alettha yang terkejut dengan suara Boby lantas menoleh dan tersenyum melihat nya, Alettha merasa malu dengan tingkah nya pagi ini.
"Maaf Boby aku menganggu tidur mu, aku tak bermaksud begitu. " Ucap Alettha.
Boby nampak berjalan mendekati Alettha dan duduk di meja makan, menatap gelas berisi susu hangat untuk nya.
"Tak apa angap saja itu tanda perpisahan kita, toh aku tak akan mendengar kicauan mu lagi esok hari. " Ucap Boby.
"Apa kau akan tetap berada di Paviliun mu, apa kau tak akan ikut ke kota lagi." Tanya Alettha.
Alettha meletakkan dua piring nasi goreng di hadapan Boby, duduk di kursi bersama dengan Boby.
"Aku akan menjual Paviliun ini, lagi pula aku tak bisa bersantai seorang diri disini terus kan. Jadi sudah ku putuskan kita akan pergi ke kota dan memulai hidup baru. " Ucap Boby mengengam tangan Alettha erat.
"Aku selalu mendukung apa pun kehendak mu, jika itu demi kebaikan mu dan kebahagiaan dirimu sendiri Boby. Ayo sarapan dan kita akan segera berangkat. " Ucap Alettha semangat.
Boby tersenyum memakan sarapan nya, mereka bercerita dan bercanda gurau dimeja makan.Mungkin hal itu akan menjadi mimpi jika mereka sudah memulai hidup baru dan bekerja.
Alettha sudah mencuci piring dan juga cangkir sisa sarapan sedang kan Boby memasukkan koper Alettha dan koper nya kedalam mobil.
"Apa kau sudah selesai? Ayo kita berangkat sekarang. " Teriak Boby.
Alettha yang mendengar teriakan Boby lantas segera mencuci tangan dan mengelap nya, berjalan tergesa-gesa menuju Boby yang sedang bersandar di pintu mobilnya.
"Kenapa kau berjalan begitu kau nanti bisa terjatuh, lagi pula akan tak akan meninggalkan mu." Ejek Boby gemas.
"Biarin aku terlalu bahagia Boby, setelah sekian lama Akhirnya aku bisa berdamai dengan dunia dan juga diriku sendiri. Semua itu berkat dirimu. " Ucap Alettha tersenyum.
"Sudah masuk lah, kita kan segera kesana dan membersihkan rumah baru mu terlebih dahulu. " Ucap Boby.
Alettha memasuki mobil dan duduk dengan senyuman yang selalu mengebang dipipi mulusnya. Boby bahagia melihat Alettha selalu tersenyum bukan lagi menangis karena keadaan yang tak selalu berpihak pada dirinya.
"Tersenyumlah terus Alettha, kau nampak semakin cantik dan kau harus tetap bahagia selalu. " Ucap Boby.
Alettha membalas ucapan Boby dengan senyuman, mereka melaju meninggal Paviliun yang selama ini menjadi rumah Alettha untuk bersembunyi dari keadaan dan kenyataan.
__ADS_1
Alettha menatap Paviliun itu cukup lama, ada rasa bahagia dan ada rasa kehilangan saad menjauh dari Paviliun yang sudah menemani dirinya. Sungai dan pepohonan yang selalu menemani dan juga angin yang akan senang menerpa rambutnya.
"Selamat tinggal Paviliun, semoga saja orang yang membeli mu akan menyayangi dirimu. Selamat tinggal suasana tenang dan sungai yang jernih. " Batin Alettha sedih.
Mereka berkendara dengan kecepatan sedang sembari menikmati suasana yang tenang ini untuk terakhir kalinya.
Alettha akan mengubur dalam setiap penderitaan dan rasa sakit nya, kini dia akan kembali sebagai Alettha yang jauh lebih kuat dan mandiri.
Setelah berjalan selama 4 jam mereka sampai di sebuah rumah yang terletak di pinggir kota, suasana yang tenang jauh dari riuk pikuk kebisingan kota.
"Nah disini lah rumah nya Alettha, ayo masuk. " Ajak Boby pada Alettha.
Alettha menatap bangunan ya nampak sederhana tapi masih sangat bagus, pemandangan nya masih asri di pinggir kota rumah tetangga dan rumah ini nampak tak jauh.
"Aku akan betah disini, apa lagi lumayan jauh dari kebisingan kota Bob. " Ucap Alettha.
Boby nampak tersenyum sembari menurunkan barang Alettha yang sedikit, membuka pintu yang nampak berdebu. Lantai rumah itu sungguh kotor dipenuhi tanah dan juga dedaunan.
"Sepertinya pekerjaan kita bayak deh, ayo kita mulai. " Ucap Alettha.
Mereka membersihkan rumah itu dengan gembira, rumah itu memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi ditambah dapur dan juga ruang tamu yang minimalis. Diluar rumah nampak pekarangan yang luas, ditumbuhi pepohonan dan juga bunga.
Sudah hampir 3 Jam mereka berkerja sama membersihkan rumah lama itu, sedangkan Boby sudah terduduk di kamar itu menahan lelah.
Alettha yang sedang menganti sprei dikamar yang akan di pakai terkejut mendengar Boby berteriak, Alettha lantas melangkah menuju kamar tamu itu.
"Boby ada apa?Kau terluka atau apa ha.. " Ucap Alettha.
"Aku lelah dan lapar kau tahu... " Ucap Boby sembari tersenyum.
Alettha menggeleng karena tingkat Boby yang seperti anak kecil itu, dia tertawa melihat Boby.
TOK TOK TOK
Alettha dan Boby saling pandang, terasa heran siap yang bertamu dirumah barunya.
"Biar ku lihat siapa. " Ucap Alettha pergi berlalu meninggal Boby.
Alettha menuju pintu utama dan melihat seorang wanita berhijab didepan pintu sembari tersenyum manis.
"Asalamualaikum mbk. " Sapa nya pada Alettha.
"Waalaikumsalam, maaf mbk rumahnya masih sangat kotor dan belum ada tempat duduk. " Ucap Alettha sungkan.
__ADS_1
"Ah tak apa saya kemari hanya mau memberi makan dan juga minuman, sepertinya kita akan menjadi tetangga. " Ucap nya lembut.
"Ya ampun mbk, kok repot repot sih. Saya Alettha penghuni baru rumah ini. " Ucap Alettha menerima rantang dan juga minuman itu.
"Saya Nafisha rumah saya tepat didepan rumah mbk Alettha, jika butuh sesuatu langsung datang saja kerumah saya. " Ucap wanita itu yang bernama Nafisha.
"Terima kasih mbk Nafisha,maaff merepotkan. " Ucap Alettha.
"Saya permisi dulu ya mbk, Assalamu'alaikum. " Ucap Nya.
"Waalaikumsalam mbk Nafisha. " Balas Alettha.
Alettha kembali kekamar dimana Boby duduk terdiam disana. Alettha nampak bingung melihat Boby mengintip Gadis bernama Nafisha itu.
"Dia cantiknya? " Ucap Alettha.
Boby terkejut hingga menabrak Alettha hingga terjatuh.
"Awww Boby... " Pekik Alettha.
"Maaf Alettha aku tak sengaja. bangun lah ayoo.. " Ucap Boby bersalah.
"Gadis itu memberi makan dan minuman untuk kita. Apa kau mengenal gadis berkerudung itu? " Tanya Alettha.
"Kenal dia itu Nafisha Mawarni, anak pak kiyai di sini. Dia dulu seorang guru di SMA dekat sini jika kau berteman dengan nya kau selalu bahagia. " Ucap Boby.
Boby membuka rantang pemberian Nafisha dan memakannya, Alettha yang melihat tingkah Boby menjadi curiga kalau Boby menyembunyikan sesuatu darinya.
Alettha dan Boby menikmati makanan dari Nafisha dengan gurauan canda tawa, jika ada yang mendengar mungkin mereka akan mengira mereka adalah sepasang suami-istri yang baru menikah.
"Selesai makanan mu, setelah ini kita belanja untuk keperluan mu selama di sini. " Ucap Boby.
"Baik lah, tapi Boby kau tahu aku tak punya uang.. " Ucap Alettha malu.
"Sudah lah tak perlu memikirkan itu, cepat habiskan ayo berangkat keburu sore. " Balas Boby.
Alettha kemudian membawa rantang kosong itu kedapur, lalu mencuci tangan dan menghampiri Boby yang sudah didepan pintu.
Lagi lagi Alettha melihat Boby terdiam memandang rumah Nafisha dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayoo berangkat, udah jam 16.48 WIB nih" Ucap Alettha.
Boby terkejut dan segera menyusul Alettha ke mobil tak lupa mengunci rumah itu. Kini rumah itu sudah nampak cukup bersih, tinggal menyapu halaman dan memotong bunga yang menjalar ke mana mana.
__ADS_1