
Alettha dan Andre memberi kan hadiah pada Gresia, gadis berusia 5 tahun itu nampak sangat bahagia. Alettha memeluk Gresia sesaat, dia sangat merindukan anak dari mendiang sahabat baiknya.
"Ku nampak semakin besar saja, apa yang bunda mu beri kan? " Tanya Alettha pada Gresia.
"Bunda memberi ku makan yang sangat bayak tante, bunda juga beri aku susu agar aku cepat besar katanya. " Jawab Gresia dem lugu.
"Sudah lah sana duduk bersama ayah dan om Andre buka hadiahnya dan berterima kasih ya nak. " Ucap Nafisah lembut.
Gresia terseyum meninggal Alettha dan Nafisah di dapur, Alettha nampak duduk termenung menunggu Nafisah yang mengantarkan minuman pada Andre dan suaminya.
Nafisah menatap Alettha yang hanya terdiam lesu, Nafisah mendekati Alettha dan duduk didepan nya.
"Ada apa? " Ucap Nafisah.
Seketika air mata Alettha jatuh begitu saja, entah kenapa hati nya terasa sakit.
"Alettha kenapa kau menangis, aku mintak maaf jika ada kata kata dari ku yang menyakitkan hati mu. " Ucap Nafisah.
Nafisah mengelus punggung Alettha yang bergetar hebat karena isak tangisnya, Nafisah nampak sangat khawatir melihat sahabat nya menangis tersedu sedu.
"Ku mohon berhenti lah menangis, beri tahu aku kenapa kau menangis Alettha? " Ucap Nafisah.
"Aku capek selalu di hina oleh mertua dan adik iparku Nafisah, aku sering mereka sindir kalau aku mandul. " Ucap Alettha.
"Mandul maksud kamu apa? Bukan kah kita sama Alettha pernikahan kita sama menginjak 5 tahun dan aku sama mas Boby juga belum diberikan momongan. " Ucap Nafisah menenangkan.
"Aku tahu tapi tidak seorang pun yang akan membuatmu berpikir kalau kamu bukan wanita yang sempurna, sedangkan aku aku minder selalu dibilang wanita tak bisa memberi anak. " Ucap Alettha memeluk Nafisah.
"Sudah lah Alettha cukup jangan terlalu mendengar kan ucapan yang tidak baik, fokus saja mungkin karena kamu stres dan bayak pikiran makanya kamu belum diberi kepercayaan. " Ucap Nafisah.
Alettha menghapus air matanya penuturan Nafisah membuat hatinya melembut, mungkin perkataan Nafisah ada benar nya karena dirinya terlalu stress memikirkan semua pendapat orang.
__ADS_1
"Mungkin kamu benar Nafisah, aku yang terlalu memikirkan ucapan mereka dan membuat pikiran ku menjadi tidak tenang. " Balas Alettha.
"Kita sama sama istikomah saja Alettha, semua sudah di tulis oleh Allah jadi kamu jangan menyerah sama seperti ku. " Ucap Nafisah menguatkan Alettha.
Semagat dalam dirinya kini kembali pulih, Alettha berteka dia tidak akan memikirkan semua perkataan dan cacian dari mertua dan adik ipar nya lagi.
"Terima kasih Nafisah karena kamu aku bisa kembali kuat, aku akan masa bodo an menghadapi mereka. " Balas Alettha.
Mereka kini nampak tersenyum dengan menganti topik pembicaraan yang lebih akan membuat pikiran menjadi lebih santai.
"Jadi cerita kan kenapa kau bisa kembali pada Boby? " Usia Alettha.
Alettha sama sekali tidak tahu saad Boby menjalani hubungan ta'aruf dengan Nafisah, saad itu saad dia lebih memilih masa lalunya ketimbang Boby dia kehilangan semua hal tentang Boby.
Setelah dia menikah dengan Andre baru lah Boby kembali dan memberikan kabar tentang pernikahan dirinya dengan Nafisah.
Flashback
Nafisah menghentikan langkah nya dan menatap gadis yang baru saja menyapa dirinya.
"Saya mau bertemu dengan abah, ada yang bisa mbk bantu untuk kamu? " Balas Nafisah.
Nafisah berada di pondok pesantren Al furqon milik orang tuanya, dia mulai berada disana saad tahu Boby melamar Alettha.
"Oh tidak mbak aku pikir mbk mau kemana, soalnya tadik ada laki laki yang mencari mbak Nafisah. " Ucap Gadis itu.
"Mencari mbk untuk apa ya, memang nya laki-laki itu dimana sekarang? " Balas Nafisah.
"Berada di pondok pesantren mbk, bersama pak kyai burhan. " Balasannya.
"Untuk apa seorang pria menemui abah.. " Gumam Nafisah.
__ADS_1
"Mau melamar mu barang kali mbk Nafisah, mbk kan sudah cukup umur sekarang. " Ucap gadis itu disusul tawa dari nya.
"Sudah lah kembali kekamar mu, aku mau bertemu abah dulu. Assalamu'alaikum. " Balas Nafisah malu.
"Waalaikumsalam mbk Nafisah, kalau iya kabarin aku ya.. " Teriak gadis itu.
Nafisah tak menggubris ucapan dari gadia itu, dia berpikir bagaimana jika ucapan nya adalah benar. Nafisah mempercepat langkahnya ingin bertemu dengan abah nya.
"Maaf abah saya lancar kemari, saya benar-benar menginginkan Nafisah menjadi istri saya bah. " Udap Boby.
Suara itu lantas menghentikan gerakan tangan Nafisah yang hendak mengetuk pintu, Nafisah hapal betul kalau itu adalah suatu dari Boby.
"Apa benar itu kamu Boby, apa sedang bermimpi. Tapi tempo hari kau melamar Alettha didepan mata ku. " Ucap Nafisah.
"Begini nak Boby bukan nya Abah menolak mu, bukan kah abah pernah berkata kalau kau ingat menikah anak abah kau harus bisa melewati semua persyaratan dari abah." Ucap Kyai Burhan.
"Saya siap bah menerima semua persyaratan dari abah dan Nafisah, demi membuktikan kalau saya benar-benar mencintai Nafisah. " Ucap Boby lantang.
Setelah menerima penolak berulang kali dari Alettha, membuat Boby teringat janjinya pada seorang gadis.
"Aku berjanji aku akan melamar mu, tunggu aku datang pada abah mu . Aku tidak akan pernah bisa menikah selain dengan mu. " Ucap Boby.
Janji itu terucap saad Boby masih remaja, dia sungguh menyukai gadis bernama Nafisah itu. Saad dia mengungkapkan perasaan nya pada gadis itu, gadis itu menolak nya.
Flashback On
"Dan begitu lah cerita nya, sampai dia benar-benar melamar ku. " Ucap Nafisah.
"Sungguh pria yang malang. " Balas Alettha.
Mereka menertawakan masa lalu dan kekonyolan Boby, melupakan sejenak kesedihan diri Alettha.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR NYA MASUKAN KE FAVORIT KALIAN JUGA YAAA TERIMA KASIH.