
Alex sudah berada di dalam pesawat menuju Jerman dimana orang tuanya berada. Menunggu waktu cukup lama perjalanan Indonesia Jerman membuat Alex memejamkan matanya, dimimpi Alex melihat Aletta sedang berada di rumah sakit.
Keringat membasahi kening dan tubuh Alex, seketika suara pramugari membangunkan Alex karena sebentar lagi pesawat akan turun landasan.
"Astaga mimpi apa aku ini, terasa nyata sekali. " Ucap Alex gusar.
Alex dan para penumpang pesawat itu pun turun ke bandara Jerman, Alex mencari supir yang disuruh menjemput nya saad di bandara.
"Pak Alex bukan? " Tanya seorang pemuda.
Alex seketika menoleh ke asal suara, Alex mengingat siapa pemuda yang memanggil nya itu seperti tak asing.
Pemuda itu tersenyum melihat Alex yang mencoba mengingat siapa dirinya.
"Saya Ikhsan pak Alex, anak pak samsul. Supir pribadi tuan Steven Wijaya. " Ucap pemuda itu yang bernama Ihsan.
Alex tersenyum melihat pemuda berusia 23 tahun itu, padahal dulu saad Alex pergi dari Jerman dia masih terlihat cupu dan kecil.
"Ihsan ihsan kau benar ihsan? Sudah besar sekarang. " Ucap Alex menatap pemuda itu.
"Sudah dong pak, saya kan di kasih makan. " Gurau ihsan.
"Sejak kapan kau memanggil ku pak haaa? " Seru Alex.
__ADS_1
Ihsan dan Alex berjalan beriringan menuju mobil, diperjalanan menuju rumah Steven Wijaya mereka bayak mengobrol.
"Bagaimana keadaan ayah mu Ihsan? " Tanya Alex pada Ihsan.
"Baik Pak, dia sudah pensiun sekarang. Jadi saya yang mengganti kan menjadi supir pribadi tuan Steven. " Ucap Ihsan panjang lebar.
Mereka sudah sampai dikediaman Steven Wijaya, Alex berjalan keluar dari mobil. Menatap rumah yang dia tinggalkan selama 7 tahun lamanya, membuat nya teringat kenangan bersama Sandra dulu.
"Mari masuk pak Alex, nyonya pasti sudah menunggu dari tadik. " Ucap Ihsan pada Alex.
Alex tersenyum melangkah masuk kedalam rumah orang tua nya itu, suasana yang masih tetap sama.
"Alexander.... " Ucap seorang wanita melihat Alex memasuki rumah.
"Ibu sangat merindukan mu, kemarin lah nak. " Ucap Mawar ibu Alex yang nampak masih cantik diusianya yang menginjak kepala lima.
Alex berjalan menuju sofa depan televisi, duduk disana bersama wanita yang sangat merindukan anak lelakinya.
"Bagaimana kabar mu dan rayen nak? Apa rayen tak ingin kembali lagi. " Ucap sang ibu.
"Rayen sibuk ma, lagian dia tak suka berbisnis. Biarkan saja dia mengejar cita-citanya sendiri. " Ucap Alex.
"Istirahat lah kau pasti lelah, sembari menunggu papa mu pulang dari perusahaan. " Ucap mawar.
__ADS_1
Alex tersenyum dan memeluk ibunya dengan penuh kerinduan, sang ibu mengerti mengapa Alex tak mau kembali ke Jerman. Karna perpisahan nya dengan Sandra membuat Alex begitu frustasi.
Alex berjalan kekamar yang dulu dia dan Sandra sering menghabiskan waktu bersama. Alex terdiam dide pintu menatap tulisan yang di depan pintu.
"Kenapa mama tak membuat ini semua. " Gumam Alex.
Alex membuka pintu dan melihat kamar semasa kecil dan remaja nya, masih sama interiornya suasana dan juga semua barang nya.
"Tak perna berubah sedikit pun. " Ucap Alex.
Alex merebahkan tubuh nya dia atas kasur lama nya, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru.
"Sedang apa kau Alettha, apa kau merindukan aku. " Ucap Alex.
Alex lantas mengeluarkan ponsel dari sakunya, dia mengecek keadaan rumah nya dan Alettha.
Terlihat Gisel yang sedang menaruk minta pada Lantai tangga itu, dia tersenyum sinis membayangkan Alettha akan terjatuh.
Alex melihat semua rekaman di dalam CCTV-nya, dia mengepalkan tangganya saad Gisel yang dia tahu adalah sahabat Alettha ternyata menyimpan dendam.
"Tunggu aku kembali Alettha, akan ku buat sahabat mu itu bertekuk lutut di kakimu. " Ucap Alex begitu marah.
Alex menghubungi boby untuk memintanya mengawasi Gisel dan Alettha. Seperti nya Gisel mempunyai rencana baruk pada Alettha.
__ADS_1
Alex melihat betapa sakitnya saad Alettha terjatuh terpeleset dari lantai atas. Membuat nya benar benar marah.