
Setelah Alex membawa Bella berlibur beberapa hari di Vila, wanita itu merasa lebih jauh lebih baik. Dia akan untuk menyelesaikan semua masalah keluarga yang menimpanya dan orang terdekatnya.
Mobilnya sudah berhenti di depan perusahaan milik keluarga Victor. Bella menatap lurus ke depan tanpa berniat keluar. Dia penasaran seperti apa reaksi Daddy Hans ketika tahu jika Bella sebenarnya bukan putri kandungnya.
Seinth juga tidak berniat menganggu Bella. Wanita itu pasti sedang memikirkan beberapa kemungkinan. Jadi, akan lebih baik jika dia diam.
Setelah terdiam cukup lama, Bella akhirnya menghela nafas kasar. Dia meraih tas selempangnya dan beranjak keluar. Bella meminta Seinth menunggu di mobil agar tidak terlalu menarik perhatian.
Begitu memasuki loby, semua pandangan langsung mengarah kepadanya. Banyak yang menatapnya dengan pandangan bingung sekaligus terkesima. Mereka seperti tidak asing tapi juga tidak mau asal menebak.
Pasalnya, Bella terlihat seperti anak gadis yang masih kuliah. Pakaian casual, tas selempang serta topi biru membuat mereka seperti melihat orang berbeda namun sebenarnya sama.
Bella memang tampil seperti dirinya dulu sebelum menikah. Tampilan sederhana dan tidak menarik perhatian. Tapi pada dasarnya, seperti apapun penampilannya, selalu ada saja yang menatapnya lapar.
Bella mendekati resepsionis untuk menanyakan keberadaan ayahnya. Sebenarnya, ini adalah kali pertamanya ke Victor grup. Jadi wajar jika tidak ada yang mengenalnya sebagai putri Hans.
"Aku ingin bertemu dengan Presdir Hans," ungkap nya pada resepsionis itu.
"Mrs. Ramona?" gumam resepsionis itu. Semua orang disana juga penasaran.
Ya. Mereka menebak jika Bella adalah Mrs. Ramona. Tapi karena penampilan Bella yang jauh dari mewah membuat mereka ragu karena mereka sendiri tidak pernah melihat Bella dari deka. Kecuali, lewat fotonya di media sosial.
Bella juga tidak ingin membuang waktu dan tidak peduli tentang pendapat mereka. Tujuannya hanyalah ayahnya.
"Yeah. It's me. So, bisa katakan dimana Tuan Hans sekarang?" Mereka membola. Tidak percaya jika wanita berkarisma itu ada dihadapan mereka semua.
Ternyata benar! Mrs. Ramona memang kecantikan dunia Bahkan penampilan seperti ini tidak menghilangkan pesona nya sama sekali.
"Excuse me." Bella mengetuk meja pelan untuk menyadarkan resepsionis wanita yang tidak berkedip menatapnya.
__ADS_1
"Ah. I'm sorry, Mrs-"
"Kak Bells!" Teriakan seseorang mengalihkan semua pandangan. Bella tersenyum melihat siapa yang tengah berlari mendekatinya. Lalu, memeluknya.
"Selo." Bella membalas pelukan adik tirinya ini. Atau mungkin akan berubah menjadi bukan siapa-siapa.
"Aku tidak percaya Kakak kemari." Selo terlihat senang.
"Ada sesuatu yang harus diselesaikan. Bagaimana denganmu. Tidak kuliah?" Bella merengkuh wajah tampan Selo dan mengapit nya gemas.
"Aw aw ... tenaga Kakak masih sangat kuat ternyata." Selo merasa pipi nya panas karena cubitan Bella. Wanita di depannya ini sebenarnya sangat pandai bela diri. Coba saja jika tidak percaya. Mungkin dia terlihat seperti anak kecil jika diperlakukan seperti ini, tapi dia tidak masalah jika itu Bella.
Semua orang hanya bisa terkejut lagi. Dua orang ini terlihat sangat dekat. Apa hubungan mereka? Kedatangan Bella kemari saja sudah membuat mereka penasaran. Sekarang harus menyaksikan dua orang ini lagi.
"Aku masih kuliah. Kakak tidak perlu khawatir aku membolos. Aku kemari membantu Dad jika jadwalku kosong," jelas Selo.
Laki-laki itu merengkuh sang kakak dan membawanya pergi dari sana. Mereka memasuki lift menuju ruangan Hans.
Jika Alex melihat, sudah dipastikan wajahnya akan menggelap karena amarah. Dengan mertuanya saja dia cemburu, apalagi dengan Selo yang notabennya tidak memiliki hubungan darah.
Sekretaris Presdir menyampaikan kedatangan mereka. Hans yang melihat kedatangan Bella untuk pertama kali merasa senang. Dia memeluk sayang putri pertamanya itu.
Bella tersenyum paksa. Rasanya dia ingin menangis melihat rasa sayang adik dan ayahnya untuk dirinya yang sebenarnya tidak pernah memiliki hubungan darah apapun dengan mereka.
"Apa Dad sibuk?"
"Tidak. Kami cukup santai hari ini." Hans tersenyum.
"Ada sesuatu yang ingin ku katakan," lirih Bella.
Hans dan Selo menatap Bella. Wanita ini seperti menampilkan kesedihan. Apa ada masalah?
__ADS_1
"Ada apa? kau baik-baik saja, kan." Hans membawa Bella kepelukannya. Jujur, dia belum pernah melihat Bella sedih sebelumnya. Putrinya ini sangat tenang hingga dia berpikir jika wanita ini tidak takut apapun.
"Kakak bisa menceritakannya pada kami. Jangan memendamnya sendiri." Selo ikut cemas.
Bella melepas pelukannya. Wanita itu menatap keduanya dengan pandangan sendu. "Dad ... aku bukan putrimu."
Deg ....
"Apa maksudmu, sayang? Apa Dad berbuat salah padamu, katakan." Pria paruh bayar itu sedikit khawatir. Dia takut untuk mendengar lagi kebenaran yang selama ini dia simpan.
"Dad. Jika kau sudah tahu, maka kau tidak perlu menyangkalnya. Antara aku, Eomma dan Daddy jelas ada banyak perbedaan."
"Aku merasa Dad sudah tahu tapi menolak kebenaran itu. Benar, kan? Apa kau juga menganggapku pengganti." Air mata Bella merebak keluar. Wanita itu menunduk, tidak ingin melihat Hans yang terdiam dengan tatapan berbeda.
"Selo. Aku bukan kakakmu. Aku hanya orang asing yang masuk dalam keluargamu."
"Kak ..." Selo sungguh tidak peduli jika memang itu kenyataannya. Dia menyayangi Bella apapun yang terjadi.
"Mungkin Grandma juga menyadarinya, itu sebabnya dia tidak menyukai ku dulu. Aku ingat ketika Daddy mencarikan pendonor darah untukku, karena darah Dad tidak cocok padaku. Bahkan golongan darahku juga berbeda dengan Eomma."
"Kalian sudah tahu, tapi kenapa tidak mengatakannya! Mungkin aku akan tahu diri dan pergi lebih awal. Itu lebih baik daripada melihat kalian bersikap dingin padaku," Bella terisak.
"Aku sudah bertemu dengan orang tua kandungku." Hans langsung menoleh. Dia menatap putrinya yang berurai air mata.
Ya. Dia memang sudah tahu. Tahu jika Bella bukan putrinya. Tapi wajah Bella yang mirip dengan Hyurin, membuat pria paruh baya itu enggan untuk mengakui kebenarannya. Bagaimana pun, dia sudah terlanjur mencintai Bella seperti putrinya sendiri. Bagaimana mungkin dia akan setega itu membenci, hanya karena Bella bukan anak kandungnya.
Hans menyentuh wajah cantik itu dengan lembut. Matanya berkaca-kaca. Melihat iris coklat wanita itu, bukankah sudah cukup membuktikan? Benda coklat itu sudah memberitahu sejak awal.
"Mereka pasti sangat terpukul karena kehilanganmu." Hans tersenyum sedih. Putrinya sudah dewasa, bukan gadis kecil lagi. Sekarang sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Sebagai Ayah, dia sudah cukup bahagia.
"Kebenaran tidak akan membuatku membenci putri kecil, Dad. Aku sudah menjadi ayahmu selama bertahun-tahun. Bukankah aku juga orang tua? Lalu orang tua mana yang akan membenci anaknya sendiri."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...