
Bella sudah pergi lebih dulu, karena faktor kehamilan membuatnya lebih cepat lelah. Alex masih menerima para tamu yang seperti tidak ada habisnya. Sebenarnya berapa banyak undangan yang disebar ayah dan ibunya!
Disisi lain, Quela dan Hans merasa jika beban berat mereka telah terangkat. Saat mereka naik untuk menyalami keduanya dan meminta maaf. Lagi! Bella tampak terdiam namun tak lama langsung memeluk mereka. Quela dan Hans sempat terkejut.
“Aku pernah bilang tidak ingin beradu mulut karena mulutku terkadang tidak bisa ku kendalikan. Aku diam bukan berarti aku tidak berani, tapi aku menjaga agar tidak ada yang menjadi korban. Apalagi jika itu adalah kalian berdua.”
“Maafkan, Grandma.” Quela dan Hans sangat terharu. Apa tidak pernah ada dendam walau sedikit saja dihati wanita cantik ini? Sejak dulu Bella tidak pernah melawannya. Tapi percayalah, ada banyak luka dihatinya.
Namun sepertinya wanita ini tidak pernah membiarkan sedikit saja kotoran mengotorinya hatinya. Membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang berhati seputih kapas.
“Aku tidak pernah membenci Grandma dan Daddy. Setiap masalah pasti ada hikmahnya. Aku mungkin akan jadi gadis manja dan nakal jika kalian memanjakan diriku. Dan juga, aku tak yakin bisa sampai kepuncak sekarang.”
Quela benar-benar dibuat bungkam. Dia merasa sangat bodoh karena menelantarkan berlian yang sangat berharga hanya karena diluarnya seperti lumpur. Obsesinya pada derajat keluarga justru membawanya pada penyelasan terdalam.
Mendapat menantu dari keluarga yang sederajat tapi tidak memilik kebaikan dihatinya, begitupun dengan cucunya, Sela yang sama sekalinya tidak bisa dibanggakan.
Tapi Bella? dia hidup tanpa bergantung pada orang lain namun menjadi gadis sukses yang berprestasi. Dia bersyukur karena Selo lebih dekat dengan Bella daripada ibu dan saudaranya, sehingga memiliki hati seperti Bella.
Entah jadi apa dia nantinya jika menjadi seperti ibu dan saudaranya. Quela bahkan sengaja tidak membawa Sela dan Norin. Khawatir akan membuat kekacauan. Hans juga merasa gagal melindungi Bella. Karena kesibukannya pada pekerjaan membuatnya kurang memperhatikan Bella.
“Maafkan, Daddy sayang.” Hans menunduk. Suaranya tercekat. Bella hanya memeluk mereka berdua, meyakinkan jika tidak ada satupun kebencian pada mereka.
Alex hanya memerhatikan, begitupun dengan yang lainnya. Tuhan akhirnya memberikan kebahagiaan yang lengkap untuk Bella.
Eillen menintikkan air mata di kejauhan. Quela yang dulu sangat menentangnya dan menolak semua yang ada pada dirinya kini dibuat menyesal oleh putrinya. Meski ada sedikit rasa kesal pada Hans karena tidak menjaga anak mereka dengan benar, tapi semua selalu ada hikmahnya, bukan?
“Kau masih mencintainya.” Steph tidak suka melihat Eillen yang terus melihat kearah Hans.
“Kita sudah tua! Tidak ada waktu untukku berselingkuh. Kyle saja masih kecil,” ketus Eillen lalu pergi mendekati besannya sambil menggendong Kyle yang tertidur. Sam terkekeh melihat ayahnya yang masih suka cemburu pada ibunya.
“Dad, bersikaplah wajar seperti orang tua lainnya.” Sam tertawa lagi kemudian berlalu pergi sebelum ayahnya mengamuk.
“Dasar anak durhaka!”
.
.
.
Alex menghembuskan nafas lega. Akhirnya dia bisa pergi meninggalkan tamu yang seperti tidak ada habisnya itu. Biarlah ayah dan ibunya yang mengurus mereka.
__ADS_1
“Bebe ...” Alex tersenyum melihat Bella yang sudah rapi dengan piyama tidur terusannya, rambutnya sedikit basah. Wanita itu bersender di kepala ranjang dengan bantal yang diletakkan dibawah lututnya. Alex duduk disampingnya sambil memijat pelan kaki Bella. Pasti kelelahan karena terlalu lama berdiri.
“Enak?” Bella mengangguk sambil mengelus perutnya.
“Thank you, Daddy.” Alex terkekeh dan mengecup semua wajah Bella lalu berbaring sambil memeluk perut Bella yang sedikit menonjol dan menciumnya gemas.
“Kalo begitu beri Daddy hadiah.” Alex memajukan bibirnya. Bella berdecak. Pria ini selalu mencari kesempatan.
“Tidak mau! Pergi mandi sana.” Bella mendorong Alex namun tidak bergerak sama sekali. Alex menyembunyikan wajahnya diperut Bella.
“Kenapa Mommymu menjadi galak lagi, Baby?” Alex memasang wajah pura – pura sedihnya.
“Tidak usah mengadu! Daddymu sangat jorok kan, sayang?” Bella mengelus perutnya.
Alex yang gemas langsung mengapit kepala Bella dan menaruhnya di bawah ketiaknya. Hal itu sukses membuat Bella meronta. “Al ...!”
“Kau bilang apa, Bebe ...” desis Alex tajam sambil meremas paha Bella.
“Ku bilang Daddy jorokk ...” ucap Bella sedikit berteriak saat ada celah.
“Really?” Alex pura – pura terkejut lalu dengan cepat menyingkap piyama Bella hingga terlepas menyisakan dalamanya.
“Apa yang kau lakukan!”
“It's our first night, Bebe.” Alex menyeringainya kemudian mencium dan menyesap leher Bella hingga meninggalkan bekas. Bella melengguh pelan.
Ini bukan malam pertama, Sayang ....
“Aku lelah, Al”
“Kalo begitu biar pria jorok ini yang melakukannya.” Alex langsung mendaratkan bibirnya di bibir Bella. ******* dan mengeksplor isi mulut Bella.
...--- o0o ---...
Kini kehamilan Bella telah memasuki bulan keempat. Bella tidak lagi mengalami morning sickness pada masa kehamilannya tapi justru semua itu berpindah pada Alex.
Pria itu kini telah berubah menjadi bayi besar yang manja. Bella dan keluarganya hanya bisa geleng kepala dengan tingkah Alex. Hal ini juga membuat Bean harus begadang setiap malamnya.
Alex tidak hanya menjadi sosok manja tapi juga menjadi malas. Setiap pagi Bella harus dibuat pusing karena Alex tidak mau pergi kekantor kecuali Bella ikut bersamanya.
Terkadang Bella sampai turun tangan membantu Bean karena Alex benar – benar tidak mau menyentuh berkas-berkasnya. Lalu apa gunanya pergi ke kantor?
__ADS_1
Seperti sekarang Bella sedang sibuk mengecek semua laporan milik Ramona Company padahal bukan dia Bosnya. Alex? Pria itu hanya sibuk memeluknya sejak tadi tanpa niat membantu sekalipun. Semua karyawan sudah terbiasa dengan kehadiran Bella yang menjelma menjadi CEO pengganti dadakan disaat Alex mulai kembali kewujud bayinya.
Para karyawan sendiri tidak menyangka jika kemampuan bisnis Bella sangat luar biasa. Mereka semakin dibuat penasaran dengan latar belakang Bella yang sampai saat ini masih ditutupi? Meski hanya mengganti sesekali, kebiasaan Bella sebagai pemimpin tidak hilang begitu saja. Dia akan menjadi sosok berbeda yang membuat mereka seperti melihat Alex versi wanita. Benar – benar pasangan mengerikan pikir mereka.
“Bebe ....”
“Hm .... ”
“Bebe ....”
“Hm ....”
“Bebe ...!” Alex menjadi kesal karena Bella mengacuhkannya sejak tadi.
“Apa, Sayang ...” Bella tersenyum paksa sambil menoleh kearah Alex yang sudah merajuk.
Sabar, Bells. Pria ini tidak bisa dilawan dengan kepala panas.
“Kau mau apa? Hm ....”
“Tidak usah mengurusi laporan sialan ini. Berikan saja pada Bean!” ketus Alex.
Enak sekali bicaramu, Tuan muda! batin Bella. Ingin dia berkata begitu, tapi pria ini pasti akan membuat drama lagi.
“Bean juga manusia, Sayang. Dia juga bisa lelah.”
“Kau khawatir padanya!” suara Alex sedikit meninggi. Berani sekali mengkhawatirkan pria lain didepannya.
See ... salah bicara lagi!
“Tidak, Sayang. Bukan begitu! Jika Bean kelelahan, dia akan sakit. Jika dia sakit, siapa yang akan mengurus perusahaan,” ucap Bella lembut.
“Terserah!” Belle berdecak dalam hati.
Alex kembali memeluk pinggang Bella dan menaruh dagunya di bahu wanita itu. Dia diam memerhatikan Bell yang kembali sibuk dengan tumpukan dokumennya. Dia sendiri bingung dengan dirinya. Kenapa menjadi malas seperti ini?
Alex mengangkat kepalanya saat melihat Bella mengerutkan kening. Tangannya mengetik sesuatu dengan cepat di keyboard laptopnya.
“Ada apa?”
“Ada yang ingin bermain,” ucap Bella santai sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Alex terkekeh. Sepertinya orang itu sedang memanfaatkan situasi. Orang itu tidak tahu jika Bella dan Alex ibarat orang yang sama namun berbeda jenis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...