
Alex tersenyum menatap layar didepannya. Istrinya ini memang sangat kuat dan tegas. Tidak sesuai dengan tubuhnya yang terlihat kecil dan lemah. Dia seperti tidak bisa berpaling dari wajah dingin dan penuh wibawa itu. Berbeda dengan Bean yang sudah bergidik sejak tadi.
Dia membayangkan jika rambutnya mengalami hal yang sama, pasti menyakitkan. Melihat tenaga Bella yang bahkan bisa merusak pintu dengan rancangan kuat. Meski hanya toilet, semua fasilitas di Ramona Company sudah dipastikan adalah yang terbaik.
Bean memang mendapat laporan dari divisi keamanan jika keributan tertangkap oleh kamera CCTV yang memang ada di setiap penjuru perusahaan. Begitu melihat siapa yang menjadi tokoh utama, Bean langsung memberikannya pada Alex.
Meski begitu, tak ada niat untuk mereka bertindak. Sebagai seorang pemimpin, Bella Pasti tahu apa yang dia lakukan. Tidak heran jika para pekerja di QA begitu takut padanya dan antek-antek nya. Karena peristiwa seperti lebih mengundang mereka bermain fisik.
Sosok yang dikagumi akhirnya muncul dari balik pintu. Wajahnya tampak polos seperti tidak terjadi apa-apa. Bella yang memang kelewat santai hingga hal yang sempat menggangu pun hanya dianggap angin lalu olehnya.
"Apa yang kalian lihat?" Bella tersenyum seraya mendekat. Wanita itu ikut melihat ke layar yang menampilkan adegan di bawah.
"Melihat gadis belia mengamuk," ujar Alex tersenyum. Senyum Bella menghilang. Dia mendelik kearah Alex.
"Gadis belia yang punya satu anak maksudnya," sergah wanita itu.
"Nona, usia anda memang masih tergolong muda untuk ukuran seorang wanita," celetuk Bean.
"Benar. Seharusnya aku tidak terlalu cepat menyelesaikan kuliahku dan tidak menikah secepat ini," katanya berpikir.
"Tapi jika begitu, bukankah aku masih di Inggris sekarang? Dan pertemuan kita saat itu tidak akan terjadi."
Benar, kan? Mereka mungkin tidak bertemu dan belum tentu berjodoh seperti ini. Menikah pun belum tentu karena mereka tidak saling mengenal.
"Itu namanya takdir, Bebe. Tidak peduli sejauh apa dan bagaimana keadaannya. Jika kita memang berjodoh, pasti akan bersama pada akhirnya. Seperti sekarang." Menarik Bella agar duduk di pangkuannya.
Bean menghela nafas dan memiliki keluar. Lebih baik pergi saja sekarang daripada harus menyaksikan dua pemilik bumi ini bermesraan. Berbicara soal Bean, hubungannya dengan Vivi ternyata berjalan baik. Meski hanya lewat ponsel, Bean tidak pernah absen menghubungi wanita itu.
Vivi juga sudah menerima Bean dan mau membuka hati kerasnya. Tapi Vivi belum ingin menikah saat ini, dia bilang ingin membiasakan diri dulu untuk saling mengenal lebih jauh.
"Kau berubah," ucap Alex ditelinganya. Tangannya sudah melingkar di perut sang istri.
"Memangnya apa yang berubah dariku?" Menatap Alex yang ada di bahunya.
__ADS_1
Pria itu tersenyum, lalu mengecup sekilas bibir istrinya. "Kau semakin cantik." Bella terkekeh lalu memukul pelan dada Alex.
"Mulut anda manis sekali, Tuan," cibir Bella.
"Kalau begitu cobalah."
Eh? Apa yang dicoba ....
"Tidak mengerti? Biar kuajarkan." Alex langsung merapatkan tubuh mereka dan mencium bibirnya lembut. Bella sedikit terkejut sebelum akhirnya membalas dengan membiarkan lidah pria itu masuk untuk menyesap bibir dan lidahnya.
Bella tak ingin adegan ini berlangsung lama atau akan berakhir di balik pintu kamar. Jadi di dorongnya pelan tubuh Alex agar berhenti dengan cumbuannya. Tidak dulu untuk sekarang. Semalam pria ini harusnya sudah cukup puas setelah semalam memasukinya berkali-kali.
Memangnya dia pernah puas?
"Al ... tidak sekarang." Bella memasang wajah serius. Alex hanya bisa mendengus.
"Aku rindu, Eomma. Dia benar-benar tidak menghubungiku lagi." Bella merebahkan kepalanya di bahu Alex.
"Kau ini sangat tidak peka! Maksudku, ayo kita kunjungi dia. Tidak ... aku ingin menginap."
Pria itu menghela nafas lagi. Untuk apa juga memberi kode. Langsung bicara saja selesai, kan? Diambilnya tangan wanita itu, lalu dikecupnya gemas.
"Hm. Setelah mengambil Baby Jo, kita langsung pergi."
"Thanks, karena mau menemaniku terus." Belakangan ini mereka memang sudah jarang tidur di Mansion. Mulai dari menginap di Mansion Kim lalu liburan mendadak dan hari ini mereka akan menginap lagi di kediaman Englerth.
"Jangan ada kata terima kasih, Bebe. Aku suamimu, sudah seharusnya aku menemanimu."
...--- o0o ---...
Siangnya, Bella dan Alex memutuskan untuk makan diluar bersama. Bean tidak ikut karena sudah ada Seinth yang menjadi sopir nya.
Diperjalanan, suara dering ponsel terus berbunyi. Sang pemilik tidak ingin mengangkatnya karena sedang membawa Tuan dan Nona nya. Dia lupa menggunakan earphone nya, jadi tidak mungkin mengangkatnya sambil menyetir.
__ADS_1
"Siapa, Seinth?" Bella tidak terganggu hanya saja dia penasaran siapa yang terus menelepon.
"Saya belum melihatnya, Nona."
"Berikan padaku. Mungkin itu istrimu yang sedang rindu." Bella terkekeh. Mendengar suara manja Grace sesekali tidak apa, kan? Alex hanya menggeleng melihat tingkah istrinya.
Seinth tidak menolak, dia meraih ponselnya dan memberikannya pada Bella. Memang tidak ada rahasia diantara mereka. Lagipula Bos nya ini sangat menjaga privasi mereka semua, jadi tidak perlu takut. Bella menekan loudspeaker agar semua mendengar.
"Kenapa lama sekali. Aku hampir melempar ponsel ini tahu tidak!" Bella pikir itu Grace karena nama yang tertera adalah namanya. Tapi justru wanita lain yang sedang memaki.
"Apa kau mulai tertekan setelah memberi makan orang banyak, Vi?" goda Bella. Seinth tersenyum tipis. Kena kau Vivi.
"No ... Nona. Maaf, saya tidak tahu itu anda." Vivi menggigit jari diujung sana.
"Ada apa? Seinth sedang menyetir."
"Saya ingin memberi tahu keadaan Grace." Entah seperti apa ekspresi Vivi diujung sana.
"Ada apa dengannya? Dia baik-baik saja, kan?" Bella menegakkan punggungnya sedikit cemas. Seinth juga ikut cemas tapi tetap mencoba fokus.
"Grace pingsan dan belum sadar."
Seinth seketika langsung menginjak rem hingga mereka tersentak kedepan. Untunglah sudah mengenakan sabuk pengaman atau akan berakhir dengan terbentur.
"Apa yang terjadi?" sentak Seinth mengambil alih ponselnya.
Alex ingin mengumpat karena membuat Bella terkejut hingga dadanya naik turun. Tapi tidak mungkin karena pengawal itu sedang cemas dan tidak sengaja melakukannya.
"GRACE HAMIL!" Vivi berteriak senang. Dia tidak tahu jika orang-orang ini sedang khawatir dan panik.
"SUNGGUH!" Seinth dan Bella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1