
Note: AR Entertainment telah diralat, kini menjadi RM Entertainment (Ada kesalahan dalam pengeditan).
"Ma— maaf, Tuan." Sela bergetar, belum lagi gertakan Manajer Jesse yang membuatnya takut.
Dia tidak sengaja, sungguh. Lihat saja dokumen yang dibawanya hampir menutup penglihatannya. Sekarang, semua itu berhamburan di tanah berumput. Untungnya tanah sedang kering, jika tidak, entah masalah apa yang akan terjadi.
"Anda tidak apa-apa, kan, Tuan?" Jesse mencari perhatian, hendak menyentuh pria itu, namun segera ditepis. Jesse diam-diam mengepal.
"Apa yang kau lakukan!" Direktur JA marah. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu ceroboh seperti ini?
"Ma— maafkan saya, Mr. Arthur." Sela bergerak cepat, memungut kembali tumpukan berkas yang berceceran itu.
Semua orang seperti sudah terbiasa dengan pemandangan itu, Sela sudah nampak seperti lelucon bagi yang terbiasa. Keduanya sibuk memarahi wanita yang berlutut di tanah itu, tidak menyadari jika wajah seseorang sudah menggelap karena muak. Jika bukan perintah, dia enggan berurusan dengan para penjilat ini.
Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk wanita muda ini, tidak heran seseorang mengirimnya untuk mengawasi. Entah kemarahan seperti apa yang terjadi jika sang pemberi perintah tahu bahwa wanita ini di perlakukan begitu buruk.
Zeeland lantas bertekuk, membantu Sela memungut benda-benda itu. Semuanya terkejut. "Tuan Zee, apa yang anda lakukan?" Direktur JA sedikit membungkuk.
"Aku membantunya, apa yang salah?" dinginnya.
"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa melakukannya." Sela panik.
"Diamlah! Biar aku yang membawanya." Mengambil alih tumpukan dokumen yang tidak sesuai dengan tubuh kecil itu.
"Tuan ... dia sudah terbiasa." Manajer Jesse mencegah.
"Terbiasa? Apa seperti ini kalian memperlakukan seorang wanita? Bukannya membantu, kalian marah memarahinya lebih awal!" Pria itu tak sungkan lagi.
"Tuan Zeeland ... itu ..." Direktur JA gugup.
Manajer Jesse kembali mengepal. Bagaimana mungkin j*lang kecil ini mendapat perhatian dari orang besar ini. Dia semakin menatap Sela benci.
__ADS_1
.
.
Suara notifikasi pesan masuk di ponsel Sela yang tengah mengobati beberapa memar di lengannya, tangan lainnya memegang kompres di kepala nya. Sela sudah berada di kamarnya, kembali mengingat kembali rentetan kejadian di kantor hari ini.
Ini aku, Zeeland.
Satu kalimat itu membuat sang empu terkejut, bagaimana mungkin? Tidak mungkin! Pasti ada yang mengerjainya, seingatnya dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada Direktur besar itu.
Sela tersadar dari lamunan nya, kali ini adalah deringan telepon, masih dengan nomor yang sama. Dengan ragu wanita itu mengangkatnya, hingga suara familiar terdengar jelas.
"Keluarlah. Bawa mantel mu."
Tut. Panggilan terputus.
Sangat singkat, Sela hanya bisa tercengang. Buru-buru dia menyibak jendela kamarnya, benar saja, pria tampan itu sudah berdiri seraya bersandar di depan pagar rumahnya.
Takut menyinggung orang besar itu, Sela buru-buru keluar dengan mantelnya. Untungnya, semua keluarganya sedang keluar, Selo sendiri sedang lembur. Anggap saja ini keberuntungan atau dia akan dilempari berbagai pertanyaan.
...--- o0o ---...
Alex tengah duduk bersandar malas pada kepala ranjang, memperhatikan istrinya yang sedang memakai krim malam beserta antek-anteknya. Wanita kesayangannya itu semakin cantik saja menurut Alex. Apalagi sekarang dengan balutan lingerie hitamnya, membuat sesak sesuatu di dalam sana.
Ada yang bilang, wanita akan semakin terlihat kecantikannya setelah semakin dewasa atau bertambahnya umur.
Begitulah yang dialami Alex sekarang. Usia Bella baru memasuki dua puluh enam tahun, usia dewasa yang telah menunjukkan kematangan. Jika di usia dua puluh satu saja Bella sudah sangat cantik dengan wajah layaknya anak remaja, apalagi sekarang yang sudah sangat matang.
Jangan sampai dia lepas pengawasan sehingga pria lain bisa seenaknya mendekati istrinya. Bukan tidak percaya pada Bella, tapi Alex tidak percaya pada pria di luaran sana.
Alex langsung menegakkan tubuhnya ketika melihat Bella sudah mendekati ranjang. Pria itu menarik pelan istrinya untuk merapat padanya. Bella sendiri seakan sibuk dengan ponsel dan pemikirannya, sehingga tidak menyadari gelagat mencurigakan dari suaminya.
__ADS_1
"Aku baru tahu jika Ramona punya agensi hiburan, itupun kau yang memberitahuku," celoteh Bella, seraya membaca informasi yang diberikan Bean.
"Mereka punya jalurnya sendiri, Bebe. Tidak termasuk cabang, tapi masih dibawah naungan kami." Memeluk perut Bella dan menopang dagunya di bahu terbuka istrinya.
Bella tidak bicara lagi, dia kembali sibuk mencerna berbagai informasi yang masuk bertahap ke dalam ponselnya.
"Pantas saja dia menolakku saat itu, rupanya sudah menjadi orangmu," gerutu Bella lagi.
Dia jadi kesal ketika mengingat seorang pria yang pernah di tolongnya menolak untuk menjadi salah satu anteknya, padahal bisa dibilang mereka cukup akrab.
"Mungkin dia adalah orangku, tapi aku tahu dia memihak padamu." Mencium tengkuk istrinya, Bella menggeliat geli.
Wanita itu seakan menganggap biasa tingkah laku Alex tanpa curiga sedikitpun. Matanya hanya sibuk dengan ponselnya, salah satu alasan mengapa Alex tidak mau ditinggal ketika istrinya melakukan perjalanan bisnis.
Salah satu sifat Bella yang sudah lama Alex ketahui adalah gila kerja. Wanita itu akan seperti tuli dan buta pada sekitarnya jika sudah berhadapan dengan pekerjaan, berbeda dengannya yang hanya marah sampai orang ketakutan.
"Bebe ... ayo buat adik untuk Joy." Alex melepas tali lingerie yang tersisa.
"Sialan! Beraninya pak tua itu memarahi adikku. Siapa juga wanita itu, aku jadi mengingat ulat bulu gatal, kan!" Bella benar-benar sibuk sendiri sekarang, membuat Alex berdecak kesal.
Pria itu akhirnya menyalahkan si pengirim informasi. Sudah tahu seperti apa istrinya ini, masih saja memberi kabar di malam hari. Untungnya orang itu bukan Bean yang sedang tidur nyenyak sekarang, melainkan orang yang tengah berada di benua lain.
Bella masih menggerutu kesal, tidak menyadari jika Alex sudah bangkit melepaskan semua pakaiannya. Menunggu istrinya sadar seperti menunggu wanita bergosip, bukannya selesai tapi malah menjalar kemana-mana!
Ditariknya kaki Bella hingga terlentang, membuat sang empu memekik kaget. Bola matanya melebar saat melihat suaminya sudah polos tanpa pakaian dan yang berdiri tegak itu ... astaga! ( Jangan traveling!)
Tidak peduli dengan keterkejutan istrinya, Alex menarik paksa gaun tipis Bella yang sudah dibukanya beberapa bagian sehingga mudah saja melepas sisanya.
"AL!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Up nya malam, sengaja blee😝...