
Dalam hidup ini kadang ada fase dimana kita dihadapkan dalam situasi yang sulit, misalnya mendapat cobaan atau masalah kehidupan. Dalam setiap masalah yang terjadi, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi dan mencari solusi terbaik atas permasalahannya tersebut. Ada yang mengedepankan kata hatinya dan ada pula yang perlu kehadiran orang lain dalam mengambil keputusan.
Manusia adalah makhluk sosial, itu berarti kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Kadang ada seseorang yang terlalu individualis sehingga mereka mengabaikan semua pendapat orang lain. padahal masukan dari orang lain tidak semuanya bersifat buruk terhadap diri sendiri.
Mungkin dari sekian banyak pendapat, mungkin ada beberapa pendapat yang bisa kita terima selagi hal itu untuk kebaikan kita. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa memahami ini.
Hidup adalah sebuah pilihan. Ketika kita menghadapi situasi yang sulit, mungkin cuma ada dua pilihan yaitu mengikuti kata hati atau mengikuti alur cerita dengan pasrah.
Mengikuti kata hati mungkin akan membawa kita untuk melalui perjalanan kehidupan yang menakjubkan dan keluar dari zona nyaman. Menjadi orang yang berbeda dengan cara yang berbeda dirasa lebih baik ketimbang kita mengikuti alur cerita yang mudah ditebak.
Hidup adalah pilihan! Melawan gelombang atau mengikuti arus. Masa depanmu tidak selalu mengikuti rencanamu, tetapi selalu mengikuti tindakanmu. Jadi diri sendiri itu lebih menenangkan ketimbang harus mengikuti gaya hidup orang lain.
"Bertengkar lagi?" tanya pria yang sudah berkepala empat.
Yang ditanya hanya diam sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Jika mommy mu masih ada, ia pasti akan menggantung mu sekarang." Ada kesedihan di mata laki-laki itu.
"Jangan mengingatkanku, Dad!" Menatap tajam sang ayah.
"Kenapa? Kau ingin jadi anak cengeng?" ejek sang ayah lagi.
"Daddy!" desisnya kesal.
Hanya berdua dengan sang ayah memang membuatnya kesal. Pria itu selalu mengejeknya, seolah ia masih Joy kecil yang akan menangis ketika mengingat sang mommy.
Padahal memang benar!
"Aku pulang!" teriak anak laki-laki lainnya yang baru tiba.
"Kak Joy bertengkar lagi?" Pertanyaan yang sama melayang dari mulut laki-laki berusia tiga belas tahun itu.
Joy berdecak. Tidak ayah, tidak adik, semua sama saja. Tidak sadar jika diri sendiri juga tak kalah sama.
Karena mereka satu gen!
"Kau jangan meniru kakakmu, Son." Alex mengacak rambut putra keduanya gemas.
__ADS_1
"Apaan sih, Dad!" Tidak suka rambutnya berantakan.
"Jangan dengarkan Daddy, Melvin. Kau tahu ia menyebalkan!" ketus Jourell kesal.
Melvin menggelang tidak setuju. "Mommy tidak akan suka jika Kak Joy berbicara kasar pada Daddy." Sok bijak, padahal dirinya yang paling sulit diatur.
Mendengar kata 'mommy' Joy memalingkan wajahnya, siapapun tahu kebiasaan Joy yang akan menangis jika tidak bisa menahannya.
"Aku merindukan mommy," lirihnya, tidak menahan malu lagi.
Melvin merubah raut wajahnya, ikut menunjukkan kesedihan. Tangannya terulur meraih tisu di atas meja dan memberikan pada kakaknya.
"Aku juga sedih kak. Aku bahkan belum sempat bertemu dengan mommy." Mununduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Jourell tiba-tiba menatapnya kesal, ditendangnya kaki bocah itu. "Kau mengejekku, kan!"
Benar saja, Melvin langsung tertawa setelah itu. Lucu sekali melihat kakaknya yang garang dan dingin itu menangis seperti bocah. Jika orang lain yang melihat, mungkin akan pingsan ditempat karena terkejut.
"Berani menertawakan ibumu!" Alex menarik telinga Melvin hingga bocah itu meringis.
"Aa ... aa ... bukan mommy, Dad!"
"Bersihkan dirimu, Son. Jangan sampai keadaanmu kacau besok." Menepuk bahu Jourell dan diangguki olehnya.
Alex berlalu pergi meninggalkan kedua putranya menuju kamar yang pernah ditempatinya bersama sang istri. Rasa rindu menyeruak masuk hingga dadanya terasa terhimpit. Sudah berapa lama ....
Ditatapnya figura besar dimana terdapat foto pernikahan mereka disana. Ada wajah yang paling dicintainya tersenyum lebar menatap dirinya yang berbalut jas putih.
Apa kau bahagia bersama putri kita disana? Kau jahat sekali meninggalkanku sendiri.
"Kak ..." Alex tidak bergerak dari tempatnya ketika suara Sofia memasuki pendengarannya.
Sofia menghela nafas panjang. Semenjak kepergian kakak iparnya, Alex sering melamun menatap wajah Bella. Pria itu tidak banyak berubah, masih tetap tampan meski bertambah usia.
Kak Bells ... lihatlah kak Al. Dia selalu seperti ini sejak kau pergi. Menatap foto Bella.
"Besok adalah peringatan kematian. Jangan terus murung atau kakak tidak akan suka." Sofia mengingatkan, lalu beranjak keluar meninggalkan sang kakak.
__ADS_1
Kembalilah ....
Sesuatu yang mustahil untuk terwujud, tetapi ia tak pernah menyerah untuk terus meminta.
.......
...--- o0o ---...
.......
"Kak Joy! Tunggu aku ..." Seorang gadis berteriak ketika melihat Joy hendak meninggalkan parkiran.
Dua remaja lainnya ikut berhenti. Joy tidak menoleh, ia justru meraih helm nya dan memakainya di kepala, lalu menghidupkan motor sportnya.
"Jangan mendekatiku," datarnya, benar-benar pergi setelah itu.
Chloe menghentakkan kakinya kesal. Tidak berubah! Masih sama seperti dulu.
Dua remaja yang berhenti itu menepuk pundak Chloe. Sudah tahu sejak lama sudah seperti itu, masih saja.
"Naiklah, biar kuantar." Ray menepuk jok motornya.
"Kau juga, sudah tahu Joy tidak suka disentuh. Masih saja ingin bersamanya." Eric mencibir.
Dasar kaum wanita!
"Aku tahu! Tutup saja mulutmu itu." Memukul kepala Eric yang tertutup helm itu.
"Sebenarnya mengikuti siapa sikapmu itu. Bibi Anna saja tidak sepertimu,' gerutunya.
"Kau– Ray!" Tidak sempat membalas Eric, Raymond sudah menancapkan gasnya hingga Chloe di belakangnya terkejut.
Suka sekali berdebat!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Oh iya, setelah ini kalian liat info novel terbaru aku di postingan paling terakhir aku ya. Thanks gaess!