Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 134 | Perlakuan Sebenarnya


__ADS_3

Brakk ....


Suara hentakan benda mengagetkan Sela yang sedang mengerjakan tugasnya. Seorang wanita seksi dan anggun berwajah sinis kembali memberinya setumpuk dokumen yang seharusnya bukan tugasnya.


"Periksa semuanya, harus selesai siang ini!" perintah wanita itu kasar.


"Baik, Miss Jesse."


Sela hanya bisa menerima seperti biasa. Jangan lupa jika posisinya memang yang paling rendah di antara mereka, terlebih lagi dia di terima karena terpaksa.


Banyak yang memandangnya sebelah mata, bohong jika dia baik-baik saja selama bekerja. Bullying tak jarang Sela dapatkan, tapi dia tidak pernah mengadu atau sekedar membela diri.


Lagi-lagi, Sela terpaksa melewati makan siang. Mungkin dulu dia sedikit kesulitan, namun sekarang sudah terbiasa. Sela mengambil hal positif dari sini, menambah pengetahuan dan keterampilan.


"Makanlah dulu, biar aku lanjutkan."


Teman satu divisinya, Zoe, satu-satunya yang peduli padanya. Mereka tidak dekat apalagi berteman, tapi sifat keibuan dan rendah hatinya membuat Sela nyaman.


"Thank you." Sela tersenyum lemah.


Zoe hanya mengangguk seraya mengerjakan tumpukan dokumen milik Sela yang diberikan Manajer mereka. Wanita itu merasa kasihan sekaligus prihatin, Sela terlalu lemah untuk membela diri, tapi dia juga tak ingin ikut campur.


Namun, hampir setahun ini wanita yang jauh lebih muda darinya itu diperlakukan tidak adil. Tanpa sepengetahuan siapapun, Zoe akhirnya memilih membantu secara diam-diam.


Esoknya, Jesse sang Manajer datang dengan keadaan marah. Melihat Sela, pikirannya semakin dipenuhi kemarahan. Kemarin, dia mendapat panggilan ke ruang direktur atas tindakan semena-mena.


Jesse langsung berpikir jika Sela sudah berani mengadu. Seandainya dia tidak pandai merayu, mungkin dia sudah dipecat sekarang.


"Ikut aku!" Jesse menarik kasar lengan Sela.


"Miss, Jesse ... ada apa?" Sela mengikuti dengan tertatih-tatih.


Semua karyawan satu divisi sempat terkejut dengan kedatangan Jesse yang tiba-tiba dan berbuat kasar, tapi seperti biasa, tidak ada yang berani membantu. Bukan hal baru lagi jika Jasse berbuat demikian pada Sela, mungkin sudah seperti rutinitas sehari-hari.


Zoe ingin mengikuti, namun segera dicekal oleh yang lain. "Sebaiknya tidak usah ikut campur, Zoe ... atau kau akan terkena masalah juga." Zoe tidak mendengarkan, dia tak ingin tutup mata lagi.


Bruk


"Shh ..." Sela meringis ketika punggungnya menabrak keras dinding toilet.


"Berani nya kau mengadukanku! Pikirmu kau siapa!" bentak Jesse.


"A— a— apa maksud anda?" Sela bergetar takut, tak mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


"Sok polos, padahal tak lebih dari sekedar ular!" hardiknya lagi, menarik kasar rambut Sela hingga wanita itu meringis sakit.


"Miss Jesse ..." Menahan tangan Manajer itu agar tidak semakin menarik rambutnya sembari meringis.


"Jangan bermain-main denganku jal*ng kecil, mudah saja menghancurkanmu!"


Jesse melayangkan kembali tangannya, berniat menampar Sela, namun sebelum tangan itu mendarat di pipi mulusnya, seseorang menahan tangannya.


"BERANI NYA KAU!"


"Maaf, Miss Jesse. Anda dipanggil oleh Sutradara ke lokasi." Zoe berkata lebih awal.


Jesse melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Sela kembali membentur dinding. "Kau selamat hari ini," geramnya, meninggalkan dua orang itu disana.


Sela terduduk lemas, dia mencengkeram dadanya, menangis. Sakit, seperti inilah rasanya di bully. Dulu dia sangat menikmatinya, menjadi pihak yang menindas. Tapi apa yang dirasakan pihak lain? Dia tidak peduli.


Andai bisa, dia ingin mengembalikan waktu dan menjadi gadis yang baik. Namun, semua sudah terlambat. Waktu sudah berputar dan berlalu, meninggalkan penyesalan dan air mata. Apa ini karma atas semua perbuatannya dulu?


Zoe menatap iba pada wanita malang itu, direngkuhnya tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, membuat wanita itu semakin sesugukan. Pelukan Zoe mengingatkannya pada Bella kecil yang dulu sering memeluknya ketika menangis.


Kak Bells, Sela rindu.


**


Sela mengangguk. "Hm ... thanks."


"Sebenarnya ada apa?" tanya Zoe hati-hati, tak ingin membuat suasana hati wanita muda ini kembali buruk.


"Aku tidak tahu, Mrs. Zoe. Miss Jesse bilang aku mengadukannya, aku tak mengerti."


Zoe terdiam, bukannya jera, Jesse malah semakin berani. Ya, dia yang mengadukan tindakan semena-mena Jesse, tapi wanita itu mengira jika Sela lah yang melakukannya.


.......


...--- o0o ---...


.......


Siang itu ....


Semua orang nampak riuh dan ricuh. Perusahaan kedatangan sponsor yang akan bekerja sama dengan mereka juga. RM Entertainment, akan menjadi sponsor terbesar dalam film layar lebar yang akan mereka produksi. Dari yang semua orang dengar, Direktur RM itu sendirilah yang datang.


Beberapa divisi yang bersangkutan turun untuk memberi sambutan. Tidak ada yang menyadari jika sudut mata dari Direktur RM Entertainment senantiasa menatap satu orang yang terus menunduk tanpa rasa penasaran seperti yang lainnya.

__ADS_1


"Ini adalah Tuan Zeeland William, Direktur RM Entertainment. Suatu kehormatan besar bagi perusahaan kecil kami untuk menerima sponsor besar dari perusahaan Tuan Zeeland." Katanya dengan penuh hormat.


"Hm ... jangan menyia-nyiakan kesempatan," datarnya acuh, masih setia melirik seseorang diam-diam.


"Kita bisa langsung ke lokasi shooting. Manajer Jesse dan beberapa karyawan divisi produksi segera persiapkan yang diperlukan." Asisten Direktur JA Entertainment mengarahkan.


"Mari, Tuan Zee." Dibalas anggukan olehnya.


"Persiapkan semua, ambil berkas-berkas kemarin dan bawa padaku ke lokasi," ujar Jess, seraya menatap tajam pada Sela.


"Baik, Miss."


-


-


"Kami memang baru akan memulai, Tuan Zee. Semua orang sedang melakukan persiapan agar bisa segera di lakukan secepatnya," jelas Direktur JA.


Pria paruh baya bertubuh gempal itu tidak ingin kehilangan moment apapun. RM Entertainment merupakan agensi terbesar di Amerika yang telah melahirkan banyak artis berbakat. Kedatangannya bersama kontrak kerja sama menjadi kejutan tersendiri bagi Direktur JA.


Pasalnya, RM Entertainment tidak pernah memulai kerja sama lebih dulu, kecuali pihak lain yang menawarkannya lebih dulu. Namun, tak jarang pula mereka mendapat penolakan. Tapi sekarang, tuan Zeeland itu sendirilah yang datang jauh-jauh ke Jerman untuk hal ini.


Manajer Jesse turut hadir disana, memberi penjelasan pada Direktur Zee untuk seluk beluk yang lebih dalam. Terlihat jelas jika ada ketertarikan di matanya, wanita itu terus memasang senyum manis yang memikat.


Siapa yang tidak mau dengan Zeeland William? Berwajah tampan, kaya dan bertubuh tegap layaknya atlet. Pria itu diketahui telah berusia tiga puluh tiga tahun, usia matang untuk pria dewasa.


Tapi, Jesse hanya bisa tersenyum pahit, pasalnya pria yang di kagumi oleh para wanita itu tidak pernah menatapnya, seakan dirinya hanyalah angin yang beterbangan.


"Tuan Zee—" Ucapannya terputus kala seseorang dari arah berlawanan tak sengaja menabrak tubuh atletis itu.


"KAU LAGI! DASAR TIDAK BERGUNA!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Kita bahas kehidupan Sela dulu ya guys. Tokohnya ga bisa dilupakan gitu aja karena kehadirannya menjadi salah satu tujuan hidup Bella untuk bertahan....


...Semoga kalimat ga bosen, aku pengen semuanya bisa happy ending tanpa masalah lagi atau sesuatu yang belum tercapai dan jadinya mengganjal....


...Makasih atau support dan hadiah kalian❤ Semoga kedepannya novel ini bisa menjadi salah satu novel terbaik yang di gemari pembaca....


...See you next time guys, stay tune terus ya😘...


@ftdwi04_

__ADS_1


__ADS_2