
"Woah ... apa ini yang namanya Seoul. Cukup padat jika dilihat dari atas sini, namun juga cukup indah." Sofia berdiri di depan kaca etalase yang langsung mengarah keluar.
Kini mereka sudah berada di ruangan milik Bella. Bisa dikatakan hanya ruangan khusus selama Bella berkunjung, bukan ruang kerja. Jadi tidak heran jika tidak ada satu dokumen pun mengenai pekerjaan karena semua langsung dikirim ke kantor pusat setelah mendapat persetujuan dari Soo-Jin sebagai Direktur.
"Ini akan lebih indah jika dilihat di malam hari. Aku akan membawa kalian ke Namsan tower nanti malam," ucap Bella menatap keluar.
"Yes!" Elora dan Sofia bersorak.
"Ingat, kalian tidak boleh pergi sembarang tanpa pengawasan kami. Jika kalian hilang, aku tak akan peduli dan meninggalkan kalian," tegas Alex.
"Iya iya. Kami juga tidak akan berani," cibir Elora. Sepupu nya ini memang selalu menyebalkan.
Tak lama Soo-Jin masuk dengan membawa sesuatu. Dia meletakkannya di depan Bella. Sofia dan Elora ikut mendekat dan duduk di salah satu sofa kosong.
"Ini adalah sample kita, Nona. Setelah rapat dengan pemegang saham nanti dan hasilnya memuaskan, kami akan langsung meluncurkannya."
Sebuah tas tangan yang sudah diletakkan dalam kotak kaca khusus. Tas tangan ini terbuat dari bahan platinum serta bertahtakan emas putih delapan karat dan permata menawan. Bernilaikan satu juta dollar lebih atau setara dengan Rp. 24,7 miliar. Bahkan tali pada tas bisa dilepas pasang untuk dijadikan sebagai kalung atau gelang.
"Tas ini bahkan lebih mahal daripada perhiasan Mommy." Kedua gadis itu menatap takjub benda di depan mereka.
"Kami hanya akan memproduksi enam produk saja. Salah satunya akan diberikan pada Nona Qi."
"Nona Qi? Apa dia sudah memesan lebih dulu?" tanya Elora. Wanita asli Korea itu mengerjit bingung dengan pertanyaannya.
"Tidak," jawab Soo-Jin heran.
"Lalu, kenapa itu diberikan padanya?"
"Karena Q'Bells adalah perusahaan cabang dari QA, bodoh! Jadi wajar jika dia mendapatkan satu," seru Sofia kesal.
__ADS_1
"Aku kan tidak tahu!"
"Tapi kenapa Kak Soo-Jin membicarakannya dengan Kak Bells. Dan kenapa memanggilnya nona bukan Bella seperti Kak Jung?" Sofia rasanya ingin sekali memukul kepala sepupunya ini.
Ketiganya tidak berniat menjawab, biarkan Soo-Jin yang meladeninya. Jourell masih belum tidur namun tidak cerewet. Bayi tampan itu hanya duduk manis dengan bersandar di dada ayahnya. Alex menahannya dengan tangan kiri karena tangan kanannya sibuk merengkuh istrinya yang kini ikut bersandar padanya.
Sofia sendiri memilih berdiri dan mulai memotret semua pemandangan di luar kaca untuk dipamerkan di media sosialnya. Sayang sekali Renata tidak bisa ikut, padahal Bella sudah mengajaknya juga.
Jelas kehidupan keduanya berbeda. Renata yang memang hanya dari kalangan biasa tak selalu bisa sebebas Sofia. Disaat liburan seperti ini, pastilah gadis itu manfaatkan waktunya untuk membantu ibunya yang bekerja keras di toko kecil mereka. Ayahnya sudah lama meninggal sehingga mereka hanya tinggal berdua.
Sofia sebenarnya selalu ingin membantu agar bisnis mereka bisa menjadi lebih besar. Tapi Renata menolak karena tak ingin Sofia mengeluarkan uang untuk membantunya. Dia tidak ingin dikatakan hanya memanfaatkan persahabatan mereka.
Soo-Jin tahu jika yang lain enggan menjawab. Gadis ini mungkin belum mengetahui apapun tapi mereka juga malas memberitahu. Pada dasarnya, bagi Bella, hal seperti ini tidak perlu di umumkan. Bella tidak ingin menjadi pusat perhatian karena statusnya, apalagi harus berurusan dengan para penjilat.
Namun, bukan berarti Bella begitu merahasiakannya. Ini bukan rahasia atau sesuatu disembunyikan, jika memang ada yang mengetahui identitasnya, maka tidak masalah. Tapi jika tidak, maka dia juga tidak peduli.
"Baiklah, Nona Elora. Kenapa saya memanggilnya Nona karena dia memang Nona saya ..." Soo-Jin menahan Elora ketika hendak bertanya lagi.
"Lalu, kenapa saya mendiskusikan produk penting ini pada Nona juga karena dia adalah Nona Qi. Atasan saya, pemilik perusahaan QA yang salah satu cabangnya ada dibawah kepemimpinan saya," jelas Soo-Jin, sengaja melambatkan setiap ucapannya.
Memangnya orang lain akan percaya begitu saja? Tentu tidak. Mereka pasti menginginkan bukti dan penjelasan lebih, tapi Bella bukan wanita yang suka berbicara panjang lebar dengan sesuatu yang menurutnya tidak penting.
Elora menghentikan tawanya ketika semua orang sudah memandangnya datar. Dia berdehem canggung karena kelepasan tertawa. Tapi melihat wajah Soo-Jin yang nampak serius, dia jadi ragu.
"Apa ini sungguhan?" tanyanya lagi.
Bella menghela nafas, ditepuknya lembut bahu gadis kelahiran Inggris itu. " Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak bisa otak kecilmu terima. Jangan menjadi gila hanya karena memikirkannya sesuatu yang tidak penting," ucap Bella memberi nasehat yang sebenarnya sindiran bagi yang mengerti.
Memang disetiap kata-katamu terdapat makna terselubung.
"Jadi benar tidak?" Elora jadi kesal.
"Tidak usah bertanya lagi jika tidak percaya!" sahut Sofia ketus. Elora mendengus.
__ADS_1
"Sudahlah. Rapat pemegang saham sudah dijadwalkan satu jam lagi. Jadi, Tuan dan Nona ingin datang atau tidak?"
Bukan masalah datang atau tidaknya, tapi kenapa Alex juga ikut? Bella dibuat bingung jadinya.
"Ah, benar. Tuan Marcel adalah pemegang saham terbesar di Q'Bells," ungkap Soo-Jin.
"Sejak kapan?" Bella tentu terkejut! Dia menatap suaminya yang hanya berwajah datar itu.
"Sejak tiga tahun lalu hingga sekarang," jawabnya.
Seriously?
"Kenapa aku tidak tahu?" gumamnya heran.
Alex terkekeh. "Karena kau terlalu acuh hanya untuk mendengar ini."
Memangnya siapa Bella? Wanita itu tak akan mau repot mengingat atau mengenal orang-orang yang kebetulan bertemu atau terlibat. Alex yang terkenal hampir di seluruh dunia saja dia tidak kenal saat itu, apalagi para jajaran pemegang saham di semua perusahaan cabangnya yang tersebar di banyak negara.
"Tapi memang tidak ada yang mengatakannya."
Meskipun ada, mungkin aku juga tidak akan ingat. batinnya melanjutkan.
Soo-Jin menghela nafas pelan. " Maaf, Nona. Selama ini Nona memang tidak mau pusing untuk menghafal para pemegang saham. Selama mereka tidak berbuat masalah yang merugikan, itu sudah cukup," jelasnya.
"Ya ... terserah," acuhnya tidak peduli.
Baru saja dibicarakan, masa bodohnya terlihat lagi. Pada dasarnya, memang wanita ini tidak pernah mau mengambil pusing sesuatu.
"Tidak heran kau mau ikut kemari. Ternyata menyelam sambil minum air ya," cibir Bella pada suaminya.
"Bahkan jika tidak, aku akan tetap ikut. Memangnya siapa yang mau melepasmu sendiri. Bersamaku saja mereka masih berani menatapmu, apalagi jika kau sendiri. Cih!"
Ya. Pada intinya kau masih pencemburu. batin mereka semua.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...