
Bella berdiri di depan pintu, bersiap mengantar kepergian suaminya ke kantor. Alex sendiri tampak tidak bersemangat untuk pergi, apalagi Bella dengan santainya tersenyum sambil melambai-lambaikan tangan Joy sebagai tanpa perpisahan.
"Semangat, Daddy. Tidak boleh malas, nanti Uncle Bean kesal." Bella tersenyum. Bean yang sudah berdiri di dekat pintu mobil langsung terbatuk kecil.
Kenapa saya lagi, Nonaa ....
"Memangnya kenapa jika dia kesal, seharusnya aku yang kesal!" Alex tidak jadi masuk mobil. Pria itu malah menggerutu.
Memangnya siapa yang bos!
Alex tidak merasa senang sejak tadi pagi. Dia masih kesal karena pagi indahnya bersama sang istri tidak sesuai harapan. Miliknya yang sudah masuk sedikit harus batal karena tangisan Jourell yang seperti tahu jika Bella akan dimakan ayahnya.
Kenapa bayi itu harus bangun sepagi itu. Apakah dia sedang belajar menjadi anak yang tepat waktu? Ck! Menyebalkan. Masih kecil saja sudah bertingkah.
Pagi itu juga Bella harus dibuat pusing dengan tingkah anak dan ayah itu. Hampir tidak ada bedanya! Apalagi Alex yang langsung merajuk dan terus menampilkan wajah masam. Orang tua ini!
"Astaga, Sayang. Kau bisa terlambat." Bella mulai gemas.
"Aku bosnya," jawabnya ketus. Siapa yang berani memarahinya?
Bean memilih menulikan telinga, tak mau tahu dan ikut campur tingkah bosnya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat karena istrinya. Pria ini tidak bisa dikatakan kejam apalagi dingin jika sudah bersama Bella, justru berubah menjadi pria posesif yang tak mau kalah.
"Abaikan saja dia, Honey. Anak kecil itu sudah bertingkah," tegur Alfred di dekat pintu. Alex mendelik kesal.
"Tidak usah ikut campur!"
"Katakan sekali lagi!" Alfred berjalan mendekat, ingin memberi pelajaran pria dewasa ini.
"Sudah, jangan menjadi anak kecil juga!" Clarissa menarik kerah belakang suaminya dan membawanya masuk.
Bella menahan tawa. "Berani tertawa!" Alex menatap tajam.
"Haha ... Sayang. Lucunya suamiku ... Mommy Qiqi makin cinta." Muah muah, memberi kecupan di bibir. Alex langsung tersenyum.
Sudut bibir Bean berkendut, bahkan Bella sudah menjadi budak cinta juga. Cinta, cinta, bisa membuat orang buta dan lupa diri. Padahal dirinya juga seperti itu.
"Aku akan memberimu hadiah nanti," bisik Bella menggoda, membuat Alex ingin sekali menculiknya agar tidak ada yang menggangu.
"Awas jika kau berbohong atau kubuat pinggangmu sakit dan tak bisa berjalan," ancam Alex, lalu merangkul wajah istrinya dan menciumnya singkat.
Kasihan sekali anda, Tuan muda kecil. Semoga tidak terekam dalam ingatan anda. batin Bean iba.
...--- o0o ---...
Meski sudah mendapat dan memberi ciuman, rupanya tidak cukup membuat pria sejuta pesona itu luluh. Alex diam-diam masih menggerutu kesal hingga membuat Bean jengah.
__ADS_1
Ini resiko karena memiliki anak yang tidak jauh berbeda dengan anda, Tuan.
"Aku akan memberinya pelajaran."
Eh ... siapa?
"Tentu saja wanita nakal itu," ketusnya, seakan tahu pikiran Bean.
"Nona muda?"
"Masih bertanya!" Tidak dengar tadi dia bilang apa?
"Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat anda menyesal, Tuan. Nona muda bukan musuh yang mudah." Bean memberi nasihat.
Jika saya tidak dilibatkan, saya tidak akan peduli, Tuan.
Memangnya kapan dia tidak salah? Tuan maupun nonanya sangat suka melibatkan dirinya yang tak bersalah.
Jangan pura-pura tuli, Tuan!
Berbicara dengan Alex seperti berbicara dengan batu. Diberi nasihat atau peringatan sekalipun, tidak akan berpengaruh padanya.
Mobil mewah itu sudah memasuki lingkungan kantor. Alex segera turun setelah Bean membuka pintu. Memperbaiki jasnya, Alex berjalan masuk. Semua orang menunduk hormat pada atasannya, sekaligus bergidik melihat aura gelap yang terpancar dari CEO tampan mereka.
Bean hanya bisa gigit jari, wanita itu apa tidak jera? Sekarang, pasti dialah yang akan di salahkan. Bean langsung menutup matanya ketika Alex membalikkan badan, bersiap menerima amukan tuannya. Namun, beberapa detik kemudian, masih tidak ada pergerakan.
Eh ... ada apa dengannya?
"Bean."
"Iya, Tuan?"
Bean membuka matanya perlahan. Alex ternyata sedang tersenyum menyeringai.
"Aku akan memulai pelajarannya sekarang."
Tuan, anda memang keras kepala!
-
-
Kesal. Nyatanya kesabaran Bella tidaklah banyak. Pada akhirnya, wanita itu mulai jengah dengan prilaku model terkenal, Stefanie Miley si ulat bulu. Bean mengiriminya pesan jika mereka akan melakukan rapat lagi bersama divisi pemasaran dan periklanan.
__ADS_1
Stefanie datang lebih awal bersama Manajer Flo, padahal Bean sudah memberitahu waktu tepatnya. Mudah saja menebak maksud terselubung wanita itu, apalagi jika bukan mencari kesempatan untuk mendekati suaminya.
Penampilan Stefanie bahkan sangat mengundang banyak mata, tapi membuat sakit mata bagi sebagian orang. Dress ketat yang mencetak jelas tubuhnya, leher rendah memperlihatkan belahan dadanya yang besar, dan rok yang hampir memperlihatkan semua pahanya. Pendek.
Lebih kesalnya, wanita itu sekarang sedang berada satu ruangan dengan suaminya! Dan lagi, Alex tidak mengusirnya bahkan meladeni wanita itu.
Bella menjadi gerah meski pendingin ruangan sedang menyala. Awas saja jika berani menyentuh miliknya atau tidak ada ampun bagimu! Dan awas saja jika Alex sampai menyentuhnya juga!
Ah ... apa nona muda sedang cemburu? Entahlah. Intinya dia kesal dan panas.
Jourell duduk tenang diatas ranjang sambil memperhatikan ibunya yang menggerutu dengan bibir manyun. Bayi tampan itu seakan mengerti jika ibunya sedang kesal dan tak berniat mengganggu. Tidak berceloteh, matanya sibuk mengikuti pergerakan Bella yang kesana-kemari.
Jiwa bar-bar Bella mulai terpancing. Dia mulai mengambil satu-persatu dress mahalnya di lemari, mencocokkan di tubuhnya.
"Terlalu panjang."
"Terlalu mencolok."
"Ah ... terlalu pendek."
"Memangnya kenapa jika pendek? Lihat saja, aku akan membalas pria itu!" tekatnya menyala.
"Joy, daddy mu ingin berperang, kau harus mendukung Mommy ya." Jourell yang tidak mengerti hanya mengangguk sambil bertepuk tangan.
"Anak pintar."
Muah muah
"Sekarang dengan Grandma dulu, oke?" Bella menggendong putranya keluar.
Dibawah, Bella tidak melihat keberadaan ibunya, melainkan dua gadis muda yang sibuk dengan buku dan kertasnya.
"Eh?" Elora tersentak kaget ketika seseorang mendudukkan Joy dipangkuannya.
"Kak—"
"Berikan pada Mommy jika dia datang, aku sedang sibuk. Jaga putraku dulu." Bella kembali berlari keatas.
"Kak, tugas kami sedang menumpuk!" teriak Sofia, namun sosoknya sudah menghilang. Keduanya saling menatap, lalu menghela nafas pasrah. Asal tidak menangis saja, mereka bisa tenang.
Beberapa saat kemudian, keduanya kembali menoleh ketika mendengar suara heels berpadu dengan lantai. Keduanya membulat sempurna melihat penampakan yang tidak seperti biasanya.
"Kakak!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1