
Setelah mengantar kepergian Alex, Bella masuk dengan bertanya-tanya. Kemana Sofia dan Elora? Mereka berdua tidak ikut sarapan tadi.
Tak lama suara keributan di lantai atas terdengar, beberapa pelayan turun dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" Ia bertanya pada salah pelayan yang turun.
"Nona muda kesiangan, kami harus menyiapkan sarapan sesegera mungkin sebelum mereka berangkat tanpa sarapan seperti waktu itu. Kami bisa terkena masalah nanti."
"Baiklah, lanjutkan."
Bella menghela nafas, untunglah Jourell sudah dibawa Clarissa pergi untuk dipamerkan ke teman-teman arisannya. Dasar orang kaya, pikirnya.
Di atas, tepatnya dikamar yang ditempati Sofia dan Elora sangat berantakan. Pakaian berhamburan dan teriakan kalang kabut sukses membuat Bella memijat pelipisnya pusing.
Mereka berdua sama saja!
Sofia dan Elora tidak berhenti saling mendorong untuk masuk ke kamar mandi lebih dulu. Para pelayan disana bingung harus berbuat apa. Jadi, Bella mendekat dan mendorong keduanya masuk bersamaan.
"Kakak!" Mereka berdua nyaris mencium lantai jika tidak berpegangan pada wastafel.
"Sudah tahu kesiangan, tapi malah berdebat! Kalian sama-sama wanita, kan? Jadi mandi saja bersama." Bella langsung menutup pintu kamar mandi.
"Kakak!"
"Cepat atau terkunci sampai sore!" ancamnya.
"Kau menyebalkan!" teriak keduanya dari dalam, Bella menahan tawa.
"Siapkan pakaian mereka," pintanya pada Pelayan. Pelayan yang masih terpaku dengan tindakan Bella yang sangat berani mendorong mereka segera sadar dan bergerak.
Bella duduk menunggu di sofa kamar sambil memainkan ponselnya. Kepala pelayan Smith masuk membawa sarapan mereka dan meletakkannya di meja depan Bella.
"Thanks, Paman. Biar aku yang mengawasi mereka."
"Baik, Mrs." Smith menunduk dan keluar dengan pelayan lainnya.
Ceklek
Sofia dan Elora keluar dengan wajah memberengut, Bella hanya tersenyum tipis. Dua gadis polos ini meskipun sudah dewasa, tapi masih sedikit kekanakan.
"Makan dulu sarapan kalian." Bella mengingatkan saat keduanya sudah rapi dan ingin pergi.
"Kak, kami sudah sangat terlambat. Hari ini mata kuliah si dosen killer, terlambat lebih banyak bisa mati kami." Sofia ingin menangis, Elora juga sama. Dia anak baru, tapi sudah terlambat dihari pertama?
"Aku sudah mengatakan jika kalian ada sedikit urusan keluarga, jadi akan terlambat. So, makanlah dulu." Santai Bella membuat mereka berdua saling tatap.
Dan ....
"KAKAK! KENAPA TIDAK BILANG SEJAK TADI!"
Tau begitu, mereka tidak akan kelimpungan seperti orang gila. Bahkan sampai harus mandi bersama! Meskipun sama-sama wanita, mereka masih punya rasa malu.
.......
__ADS_1
...--- o0o ---...
.......
"Belajar yang giat ya adik-adik," goda Bella, menompang wajahnya di jendela mobil sambil tersenyum.
Yes. Bella ikut mengantar mereka berdua ke kampus dengan Seinth sebagai sopir tentunya.
"Jika kalian bisa mendapat nilai yang memuaskan tahun ini, aku akan membawa kalian berlibur ke Korea selama seminggu." Sofia yang masih kesal langsung membola.
Seriously?
Itu memang negara impian Sofia sejak lama, namun hingga saat ini dia belum berhasil pergi kesana. Alasannya karena tidak diizinkan pergi sendiri dan bahasanya juga sulit di mengerti olehnya.
Elora? gadis itu hanya sebelas dua belas dengan Sofia dan Bella tahu itu. Tentu saja ini akan menjadi kali pertamanya pergi juga.
Bagi pecinta drama Korea, pasti tidak jarang menginginkan sesuatu yang ada di dalam drama. Termasuk makanan khas mereka yang bisa menarik perhatian juga.
"Tidak percaya?" Sofia dan Elora masih menatap curiga.
"Seinth, tunjukkan."
Seinth mengeluarkan Tab nya dan menunjukkannya pada mereka. Akan ada konser besar yang di adakah disana dan nama mereka sudah terdaftar di kursi VIP.
Lagi-lagi mereka tercengang.
"I— ini ...."
"TIDAKK!" teriak mereka bersamaan, Bella mengulum senyum.
"Ah sepupu ipar, tentu saja kami akan mendapatkannya. Bulan depan sudah ujian, kami akan membuktikannya." Elora yang biasanya menunjukkan wajah tidak suka kini memasang wajah penuh pemujaan dan berkata super lembut dihadapannya.
Dia tidak akan menyiakan kesempatan emas ini. Meskipun termasuk dalam keluarga kaya, bukan berarti dia bisa menggunakan uang sesukanya. Orang tuanya tidak sebaik itu.
"Baiklah, cepat masuk!"
-
-
"Sebenarnya dia dari keluarga mana? Dan dimana kalian menemukannya," ucap Elora yang kini berada di dalam kampus.
"Kak Al yang menemukannya. Katanya jatuh cinta pandangan pertama," cibir Sofia.
"Soal keluarga, yang jelas dia hidup sendiri sejak lama."
"Apa dia kaya?" Elora tidak bisa tidak penasaran, Sofia mendelik.
"Jika tidak, bagaimana?"
"Ya, wajar jika aku curiga jika dia hanya menginginkan—"
"Harta kakak begitu?" Potong Sofia kesal.
__ADS_1
"Asal kau tahu, dia bahkan sanggup membelikanmu puluhan pesawat jet jika mau!" Elora membola.
"Itu artinya sangat kaya."
"Memang apa lagi bodoh!" Elora berdecak, apa tidak bisa bicara baik-baik.
"Sofia!" Renata berteriak dari ujung sana sambil berlari mendekat. Elora memperhatikannya lekat, siapa lagi ini?
"Ku pikir kau tak datang."
"Mana bisa saat Kak Bells ada dirumah." Renata terkekeh. Selain takut pada tuan muda Marcel, ternyata Sofia juga takut pada kakak iparnya.
"Dia siapa?" bisik Renata. Dia mulai risih dengan tatapan tajam Elora.
"Ini Elora, sepupuku. Elora ini Renata, sahabatku." Sofia menendang betis Elora agar berhenti menatap Renata bengis.
"Kau berteman dengannya, liat penampilannya— Aw."
Sofia sudah menginjak keras kaki Elora, sepupunya ini sangat suka menilai orang sembarangan. Bahkan Bella tak luput menjadi penilaiannya.
Renata yang melihat itu tertunduk malu, dia sadar jika mereka berbeda. Dia hanya mahasiswa dengan beasiswa, itu sebabnya bisa masuk ke universitas terbaik ini.
"Tidak usah dengarkan dia, Nat. Dia memang seperti itu." Sofia tidak enak. Renata hanya tersenyum lirih.
"Ikut aku." Sofia menarik tangan Elora menjauh.
"El! Bisa tidak jaga mulutmu itu. Dia gadis yang baik, tidak peduli dari kalangan mana!"
"Aku tidak masalah. Bagaimana jika dia hanya memanfaatkan mu? Kau kan sangat kaya."
"Elora! Kau ini kenapa! Perkataanmu bisa menyakiti orang tahu tidak! Aku sudah mengenalnya sejak lama, bahkan sebelum dia tahu identitas asliku!"
"Maksudmu?"
"Dulu aku hanya mengaku sebagai anak penjual roti!" Elora membola. Apa tidak ada yang lebih baik?
"Astaga, Sof. Kau memalukan."
"Biar saja. Jika tidak mau berteman dengannya, maka jangan dekat-dekat denganku. Berteman saja dengan gadis elit lainnya sana!" Sofia langsung pergi.
"Ayo, Nat." Menarik Renata.
"Hei! Okay, I'm Sorry. Aku tidak bermaksud." Elora menghalangi mereka. Memang benar, dia memang selalu waspada pada orang lain. Terkadang musuh bisa jadi orang terdekat kita, bukan?
"Tidak, aku sadar jika aku memang tak pantas—"
"Tidak tidak, jangan buat aku merasa bersalah. Ayo berteman, Renata." Elora tersenyum mengulurkan tangannya.
Melihat wajah tulus Elora, Renata membalas uluran tangannya. "Kita teman. Thank you karena menerimaku."
"Seperti itukan bagus! Ayo." Merangkul keduanya masuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1