Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
S2 | Prolog


__ADS_3

Sekuel aku lanjut disini juga yu guys🤗


.


.


.


Cuaca dingin di kota New York yang tertutup awan gelap membuat sebagian aktivitas dilakukan di dalam ruangan. Jalan yang biasa menjadi tempat berlalu-lalang kendaraan umum mulai terlihap sepi. Beberapa orang masih terlihat melintas. Terdapat juga beberapa pejalan kaki yang terburu-buru.


Saat semua orang sibuk dengan aktivitasnya, disebuah jembatan besar yang dikenal dengan Manhattan Bridge, seorang gadis yang mengenakan mantel berbulu tebal dengan rambut panjang terurai bebas hingga ke punggung tengah menatap kosong ke arah sungai yang berarus deras di bawahnya.


Gadis itu berdiri di luar pagar pembatas dengan tangan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tidak ada ekspresi jelas di wajahnya yang manis. Mata itu kosong seolah tidak ada gairah kehidupan.


Dengan perlahan jari-jemari lentik itu mulai melepas kaitannya di pinggiran pembatas. Sedikit lagi tubuh mungil itu akan jatuh dan terbawa arus. Namun sebelum terjadi, gadis itu merasakan sesuatu menyentuh pundaknya.


"Kebanyakan orang mengira mati adalah jalan terbaik. Tapi sebenarnya itu adalah hal paling bodoh yang pernah dilakukan."


Gadis itu mengenal suaranya. Sangat tidak asing bagi dirinya yang sering mendengar dan menyaksikan.


"Jika bunuh diri tidak berdosa, mungkin sudah lama aku melakukannya," lanjut suara itu.


Gadis itu tertegun. Ia kemudian mengeratkan pegangan tangannya yang hampir terlepas dengan jantung berdebar kencang.

__ADS_1


"Mrs. Ramona ...," gumamnya tidak percaya saat memastikan dugaannya benar.


Qiara Arabelle, siapa yang tidak mengenalnya? Ratu dari segala bisnis yang mendunia. Wanita dengan paras bak dewi dan kesempurnaannya yang seolah tanpa celah. Meski tidak lagi muda, wajahnya masih mampu menipu banyak mata yang memandang.


"Perbaiki posisimu, kecuali kau ingin bertemu Tuhan lebih cepat. Itupun jika bertemu." Lidah tajamnya masih berfungsi dengan baik.


Bella membantu gadis muda itu melewati pembatas, lalu membawanya duduk di pinggiran trotoar jalan.


Gadis itu merapatkan mantelnya, sesekali melirik Bella yang ikut duduk di sebelahnya. Ia tidak percaya wanita seperti Bella mau duduk di pinggir jalan seperti sekarang. Kini ia menyaksikan sendiri betapa luar biasanya wanita itu.


"Siapa namamu? Dan berapa usiamu?"


"Hm ... Milla. Usiaku 19 tahun," jawabnya pelan.


"Kalau begitu istirahatlah, lalu kembali dengan versi terbaik dirimu sendiri."


Tatapan mereka bertemu. Milla merasakan perasaan sejuk saat memandangnya. Inilah sosok ibu dari laki-laki yang disukainya. Ia belum mencoba, baru bertemu sudah membuatnya menyerah lebih dulu.


Bagaimana cara menjadi seperti dirinya?


"Kehadiranku tidak diinginkan. Apa seharusnya aku tetap ada?" Milla tidak tahu mengapa ia berkata begitu. Padahal ia gadis tertutup yang tidak mudah bercerita.


"Itulah kehidupan. Tidak semua orang akan menerima kita."

__ADS_1


Milla menunduk dalam. Kehidupannya tidak semudah itu untuk ia lalui. Berulang kali Milla mencoba bertahan, tapi sekian kalinya juga ia merasakan putus asa.


Tanpa sadar lelehan bening mengalir keluar dari sudut matanya. Bella menyadari itu. Bisa ditebak kehidupan gadis ini cukup berat. Air mata yang keluar tanpa diminta sudah cukup memperlihatkan kondisi Milla.


"Aku sudah menjalani kehidupanku sendiri sejak berusia 16 tahun. Saat kuliah aku tidak memiliki teman karena sifatku yang dingin. Hidupku dulu tidak seberuntung sekarang. Cobalah bertahan sedikit lagi. Kita tidak tahu keberuntungan apa yang ada di depan. "


"Melompat dari jembatan bukan jalan yang seharusnya kau pilih. Kau yakin akan lebih baik setelah mati? Tuhan membenci mereka yang bunuh diri."


"Aku tahu," cicitnya rendah.


Bella tersenyum tipis. Ia meraih penutup mantel milik Milla, menutup kepala gadis itu yang langsung mendongak menatapnya. Bella juga merapatkan kerah mantelnya yang terbuka.


"Kau seusia putraku. Hanya berbeda setahun. Nikmati masa mudamu sebelum kau merindukan hal tersebut. Banyak orang yang ingin kembali pada masa seperti ini. Hadapi masalahmu, bukan lari." Mengelus kepala Milla lembut.


Bella kemudian menyentuh kelopak mata Milla. "Tutup matamu dari hal yang tidak perlu dilihat. Tutup telingamu dari hal yang tidak perlu didengar. Dan bibir ini ... Tetaplah tersenyum sampai senyum terpaksamu berubah menjadi senyum kebahagiaan." Bella menyentuh satu-persatu mata dan bibir Milla.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo gaess ... seperti permintaan kalian, aku udah buat sekuel dari kisah Bella dan Alex. Setelah sekian lama akhirnya aku berani up cerita ini.


Mungkin isi ceritanya tidak sesuai dengan harapan kalian nantinya. Tapi setiap penulis pasti mempunyai jalan pemikiran sendiri. Aku pengen mencoba hal baru dari cerita yang ku buat.


Aku berharap kalian suka ya(θ‿θ)

__ADS_1


__ADS_2