
Huekk
Seseorang sedang berjongkok di depan closet, memuntahkan kembali makanan yang baru ia cerna. Di sampingnya, seorang lainnya menatap iba seraya memberi pijatan kecil di leher, sesekali mengelus punggungnya agar rileks.
"Bebee ..." Alex menatap Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Sayang," jawab Bella lembut, tangannya mulai membersihkan mulut suaminya dengan tisu dari bekas muntahan.
"Lidahku terasa pahit, tenggorokan ku juga tidak nyaman dan sakit. Tidak enak!" keluhnya tersiksa, lalu merebahkan kepalanya di bahu istrinya. Bella mengangguk paham seraya memeluk dan memberi kecupan di puncak kepala Alex.
Mual dan muntah adalah keluhan yang biasa dialami oleh ibu hamil. Berhubung Alex mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik, pria itu benar-benar mengalami apa yang pernah Bella alami dulu, termasuk mual dan muntah.
Setelah beberapa saat, ketika pria ini mulai tenang, Bella bertanya, "Masih mual?" Alex mengencangkan pelukannya dan menggeleng.
Bella lantas menuntun suaminya itu keluar dan mendudukannya di ranjang. Lemas sekali pria ini, seperti kehilangan semangat hidup. Bella terkekeh dalam hati.
Keduanya bahkan sudah siap dengan setelan kantor masing-masing, tapi Alex tiba-tiba saja kembali ke dalam untuk memuntahkan makanannya.
"Tidak perlu ke kantor, kau istirahat saja," putus Bella.
"Tidak bisa, Bebe. Aku ada pertemuan penting dengan investor dari Jepang." Alex memelas di pelukan Bella.
"Biar Bean yang menggantikan mu."
"Tidak bisa, Bebe. Ini pertemuan penting."
"Kalau begitu aku yang gantikan."
"Tapi aku ingin kau bersamaku." Melasnya lagi.
"Lalu bagaimana? Lihat keadaanmu!" Suara Bella mulai terdengar tidak ramah. Alex spontan menunduk takut.
"Bebe, kau sangat menyeramkan," lirihnya menunduk.
Bella melotot sesaat, lalu menghela nafas panjang. Sudahlah! seperti orang bodoh saja jika marah-marah tidak jelas.
"Aku sudah baik-baik saja. Kau ikut denganku ya, setelah itu baru kita ke kantormu," pintanya memohon, memeluk perut Bella yang sedang berdiri.
Bella hanya menatapnya diam, antara kesal juga kasihan. "Terserah," jawab Bella akhirnya, dibalas kecupan bertubi-tubi di perutnya.
__ADS_1
"Al ..." Bella menghentikan ciuman Alex, geli dengan sentuhannya. Tapi kemudian, Bella tersenyum dan memeluk kepala suaminya itu sayang.
"Mom, Dad," panggil seseorang di depan pintu kamar yang terbuka.
Keduanya menoleh, Jourell dan Bean berdiri disana. Bean sedikit canggung melihat keromantisan itu di pagi hari seperti ini, berbeda dengan Joy tampak biasa saja, justru malah mendekat.
"Daddy baik-baik saja?"
Sejak tadi, ia dan Bean sudah menunggu di bawah, tapi tidak ada tanda-tanda orang tuanya akan keluar. Melihat sikap manja ayahnya, Joy tahu jika pria ini pasti sedang dalam pengaruh hormon lagi.
"Hm ... aku baik-baik saja, jangan khawatir." Mengelus kepala putra kesayangannya itu.
Bean seperti orang asing diantara mereka. Keluarga ini sangat harmonis dan penuh cinta, ia memperhatikan dengan bahagia. Tidak lama sampai mulut beracun nona mudanya itu bicara hingga serasa menusuk bagian terdalamnya.
"Kapan kau menikahi Vivi? Lihat usiamu sudah semakin tua. Jangan sampai anakmu kelak mengira kau kakeknya." Tajam dan menusuk! Wanita ini memang sulit sekali menjaga mulutnya.
Aku seumuran suamimu, Nona! batinnya berteriak.
"Tidak akan, Nona." Bean menjawab dengan wajah datarnya.
"Begitu yakin?"
Ketiga orang itu terperangah mendengar penuturan Bean yang penuh percaya diri. Joy mencibir penuh ejekan, orang ini lebih menyebalkan dari ayahnya sendiri.
"Paman lebih narsis dari daddy. Aunty Vivi pasti malu melihatnya."
Anak ini ...!
"Sudahlah, kita harus pergi sebelum terlambat." Bella mengambil tasnya.
.......
...--- o0o ---...
.......
Di sebuah ruangan besar milik seorang Direktur tengah dilanda kesunyian yang pekat, padahal ada enam orang di dalamnya. Tidak tahu apa yang mereka lakukan hingga menciptakan keheningan yang begitu tenang.
Monica duduk santai di sofa tunggal yang menghadap kelima orang lainnya. Di sisi kirinya ada satu wanita serta dua laki-laki dewasa, sedangkan di sisi kanannya terdapat pasangan paruh baya serta wanita yang lebih tua.
__ADS_1
Terlihat sekali wajah malas Monica hingga mengalihkan perhatiannya pada lembaran-lembaran yang sempat dibawa oleh salah satu pria disana. Jika boleh dia mengeluarkan unek-uneknya, sudah sejak tadi mulutnya menembak kata-kata.
Ceklek. Semua perhatian beralih kesana.
"Kupikir semua orang sudah mati," katanya acuh ketika melihat keheningan di ruangan ini. Monica memutar bola mata jengah.
Grace berjalan melewati mereka, meletakkan dokumen baru di meja kebesaran Monica. Wanita itu keluar lagi, namun sebelum menutup pintu, Grace berkata, "Bernafas, Mon," ejeknya.
"Sialan kau!" sentaknya, membuat salah satu pria disana terkekeh. Monica langsung menatap tajam.
"Tutup mulutmu, Zee!"
Ya. Pria itu Zeeland Willian, Direktur dari RM Intertaiment. Pria itu datang membawa keluarga Victor yang ingin bertemu dengan Bella. Sela sudah mengetahui jika 'nona' dari Zee adalah kakak tirinya yang ternyata juga seorang yang begitu berpengaruh dalam dunia bisnis.
"Baik, aku diam." Mengatup bibirnya rapat, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman untuk wanita itu.
Sela sedikit merasakan kecemburuan di hatinya. Hari ini, dia melihat banyak hal berbeda dari lelaki yang banyak membantunya ini. Mulai dari tersenyum hingga menunjukkan tawanya untuk pertama kali karena wanita yang berstatus Direktur ini.
Meski begitu, dia tahu batasannya. Monica adalah wanita berkelas, cantik serta berjabatan tinggi. Di cap sebagai orang nomor dua di QA, sedangkan dia? Tak bisa dibandingkan dengan wanita itu.
Yang lain memilih menunggu tanpa membuka suara. Kini mereka tahu ketakutan orang-orang, para antek-antek ini sebenarnya tidaklah ramah dan mudah tersinggung. Meski sering mendengar, merasakannya sendiri jelas berbeda.
"Kapan Kak Bells datang?" Selo sendiri tidak terlihat takut, tapi tubuhnya gugup untuk bertemu sang kakak.
"Nona sedang menemani tuan muda di rapat penting, tidak bisa ditinggalkan begitu saja," jawab Monica apa adanya.
Hans, Quela serta Norin sendiri sudah tidak sabar bertemu wanita cantik itu. Ada banyak hal yang ingin mereka katakan, terutama Norin dan Sela yang telah banyak berbuat kesalahan padanya.
Belum lagi, harta keluarga yang dibangun Hans dengan perjuangan itu sudah kembali berkat wanita yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah apapun dengan mereka.
Malu, itulah yang mereka rasakan. Bella tahu jika dia bukan siapa-siapa, tapi kenapa masih mau membantu mereka sejauh ini? Padahal itulah alasan keluarga Victor untuk pergi, tidak ingin melibatkan Bella lagi yang sudah begitu baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Novel ini udah tamat😉 Jadi extra part sebenarnya tidak wajib. Dia hanya sebagai tambahan atau bonus buat pembaca, jadi jangan begitu ditunggu ya😜...
...Aku kasih bocoran untuk Extra part bagian terakhir nanti. Di bagian itu bakal aku kasih sedikit story Jourell yang udah remaja. Dan YA, nnti bakal ada sekuelnya untuk tuan muda yang satu ini ( Sekali lagi : tidak sekarang!)...
...Nanti kalian bakal tahu kok. Yg jelas, gendre untuk novel Joy nanti adalah teen (paham kan? 😂) cerita anak muda gitu. Aku juga masih nyari MC wanitanya, jadi belum bisa untuk saat ini. Ocee👍...
__ADS_1