Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Extra Part 3


__ADS_3

Suasana ruangan sudah kembali seperti semula. Tidak! Karena sekarang, semua orang tengah duduk sambil menunduk. Satu orang yang menjadi penyebab kini sedang mendekap posesif tubuh mungil yang berbadan dua itu.


Bella berulang-kali menghembuskan nafas di dada pria itu. Alex bahkan tak membiarkan kepalanya bergeser untuk sekedar menoleh. Pria itu mendekap, tapi matanya selalu menatap tak suka pria dewasa lainnya di ujung sofa yang cukup jauh.


Selo sendiri mengalah, bukan karena takut ia menunduk, tapi meladeni sindrom couvade yang dialami Alex pasti tidaklah baik.


Bella saja tidak berdaya, apalagi dirinya!


"Hanya karena istriku menyayangi mu, kau pikir aku akan melepaskanmu!" sembur Alex terus memeluk istrinya, seolah takut wanita itu akan direbut darinya.


Belum selesai anda mengoceh rupanya, batin semuanya.


"Maafkan saya, Tuan."


Minta maaf sajalah, batin Selo.


"Al–"


"Berani membela!" Menekan kembali kepala sang istri yang sempat mendongak.


Ya Tuhan! Berhenti mempermalukan diri sendiri, Tuan! Bean menjeri dalam hati.


"Panggil aku Kak Al! Aku bukan tuanmu!" ketusnya lagi, menatap Selo.


"Baik, Kak Al." Intinya iyakan saja!


Bella tersenyum dalam pelukannya, dia memang tidak setuju mengenai panggilan tuan itu. Peka juga suaminya ternyata.


"Sayang, sudah. Kami harus bicara, lagipula aku sulit bernafas." Alasan saja.


"Kenapa tidak bilang!" Langsung melepas pelukannya, panik.


Berhenti berlebihan!


Bella cemberut. Puk. Memukul pelan dada suaminya. "Ish!"


Keluarga Victor yang tidak pernah bersuara diam-diam selalu tersenyum. Baru pertama kali melihat keposesifan Alex pada Bella, bahkan pada adiknya sendiri.


"Qi ..." Norin memberanikan diri untuk berbicara. Dialah yang paling bersalah disini. Sela menggenggam tangan ibunya, saling menguatkan.


"maafkan, Bibi." Tidak berani menyebut dirinya mommy, meski begitu, kata-katanya terdengar tulus.


"Kau mengalami banyak kesulitan karena Bibi. Hatimu pasti telah banyak terluka karena–"


"Aku sudah memaafkanmu," potong Bella, tidak suka jika mengungkit masa lalu. Baginya, yang lalu biarlah menjadi masa lalu. Cukup Berjalan kedepan dan jadikan masa lalu sebagai pelajaran.

__ADS_1


"Meski kau cukup kejam, tapi tidak cocok menjadi ibu tiri yang jahat," ucap Bella, membuat kebingungan serentak.


"Aku pernah membaca novel dan melihatnya di drama. Ibu tiri yang jahat suka sekali berbuat ulah dan menjadikan anak sambung mereka layaknya pembantu. Jadi, kau masih termasuk baik dan tidak masuk kategori jahat," jelasnya, mereka menatap tidak percaya.


Dia melantur atau bagaimana?


"Tapi Bibi sering berkata kasar dan mengataimu," ujar Norin sedikit keberatan.


Bella mengibaskan tangannya santai. Itu bukan apa-apa, maksudnya. "Aku bahkan lebih parah dalam hal itu, Bibi. Kalian tahu sendiri, kan seperti apa jika mulut ini berbicara? Toh, aku tidak ingin dikatakan sebagai anak tiri yang jahat juga."


Semua orang mengangguk, benar juga. Jika hanya kata-kata kasar, Bella pun tak berbeda jauh. Mulut wanita itu kan beracun, berarti ia lebih jahat?


Monica dan Zeeland saling menatap. Bella sebenarnya sedang membodohi mereka, namun tampaknya hanya ia dan Zee yang menyadari.


Bahkan asisten bodoh itu juga ikut mengangguk, batin keduanya lagi.


Intinya, Bella tidak ingin mengakui jika ia juga jahat!


"Kak Bells, aku juga–" Belum selesai Sela bicara, Bella sudah memotong kalimatnya.


"Aku juga sudah memaafkanmu," kata Bella percaya diri. Alex tersenyum tipis, istrinya sangat menggemaskan.


Norin, Sela maupun Quela tidak bisa menahan haru. Sebenarnya sangat mudah menyayangi wanita ini, tapi kenapa dulu begitu sulit? Apa karena masih menyangkut hati?


"Kak ... aku ingin memelukmu. Apa boleh?" kata Sela hati-hati, melirik Alex disebelah Bella. Pasalnya, pria itu masih tidak rela melepas istrinya.


Jangan bilang ia juga tidak boleh. Ia kan masih satu jenis.


"Al!" Bella melotot, membuat pria itu berdecak, lalu melepas rengkuhannya.


"Jangan kuat-kuat!" ketusnya.


Apa sih!


"Kemari."


Sela tersenyum, ia lantas langsung memeluk wanita itu. Bella mengelus punggungnya lembut ketika tubuh adik tirinya itu terasa bergetar. Sela menyesal, ia menangis dipelukan sang kakak yang pernah dicintainya dulu, sebelum akhirnya ia membenci tanpa sebab.


"Sorry ... i'm sorry," lirihnya terus-menerus.


.......


...--- o0o ---...


.......

__ADS_1


Roselea menatap bangunan besar di depannya, tempat dimana sahabat lamanya ditahan. Saat masuk, ia menyaksikan wanita itu hanya melamun memeluk lutut di balik jeruji besi yang mendekamnya. Ravenna terlihat pasrah, tidak memberontak atau bicara.


"Ravenna ..." ucap Rose menatapnya.


Wanita yang disebut mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca melihat siapa yang berdiri disana. "Rose ..." Ia bergerak pelan, mencoba mendekat kearah Roselea.


Ibu satu anak itu mengerti, lalu berlutut di depannya. Raven meraih dan menggenggam tangan Rose tanpa malu. Ia menangis, meratapi dirinya yang sekarang. Tak ada satupun Keluarganya yang datang, ia sendiri.


"Aku sungguh tak tahu apapun, Rose. Aku juga korban, dia menipuku. Kau percaya, kan?" Ravenna menangis, seolah mengadu.


"Aku percaya," jawabnya, mengelus kepala Ravenna.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku ingin berubah. Aku ingin menjadi gadis yang baik setelah bebas. Apa kau bersedia menjadi temanku nanti?" katanya mencoba kuat. Setidaknya masih ada yang mempercayainya.


Rose tersenyum, lalu mengangguk. "Aku dan Natalie akan selalu menjadi temanmu," ucap Rose tulus.


"Kau tidak membenciku, kan?"


"Tidak."


Raven tersenyum sendu. "Maafkan aku ... aku pernah melakukan kesalahan padamu."


"Lupakan, yang lalu biarlah berlalu." Meniru ucapan Bella yang pernah diucapkan untuk dirinya dulu.


"Thanks." Melepas genggaman tangannya, lalu bergerak menjauh.


"Pergilah, tempat ini tidak baik. Terima kasih sudah datang." Berusaha tersenyum.


Roselea tertegun. Bella benar, biarkan wanita itu kesulitan lebih dulu agar ia meratapi dan sadar pada akhirnya. Ravenna hanya ingin didengar tanpa meminta untuk dibebaskan. Wanita itu menerima takdirnya.


Beberapa orang baru menyadari dan menyesal setelah mengalaminya. Ia akan belajar, jadi tunggulah, ucap Bella tempo hari.


Setelah hampir satu bulan lamanya, Bella kembali memanggilnya. Wanita itu memberinya perintah untuk sesuatu yang tak diduga. Bella menjamin atas kebebasan Ravenna dan disinilah ia sekarang.


Bella bukan tidak peduli, tapi ia memberi pelajaran. Biarkan orang itu menyesal lebih dulu, setelah itu baru lepaskan dia. Dengan begitu, mungkin ia akan lebih baik.


"Karena tempat ini tidak baik, maka ikutlah denganku. Kita perbaiki rambutmu dan juga pakaianmu. Lihat, kau terlihat seperti pengemis. Jangan menangis terus, itu merusak matamu nanti. Sia-sia saja, kan uang yang kau keluarkan untuk perawatan?" Rose tersenyum cerah, mengulurkan tangannya.


"Rose ..." Ravenna bergetar.


"Berterima kasihlah pada Qiara." Masih tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Aku selang-seling kan sama Cleire dan Chris ya. Biar adil😂 Bagi hadiah wlee😛...

__ADS_1


__ADS_2