Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 132 | Hidup Baru di Kota Berlin


__ADS_3

Ibu kota Jerman, Berlin.


Seorang wanita dua puluh lima tahun terlihat memperhatikan jalannya shooting. Terbesit keinginan untuk menjadi salah satu dari pemeran, namun apalah daya, dia hanya karyawan kecil yang bahkan di pertimbangan cukup lama saat itu.


Jika bukan karena keadaan yang mendesak, pihak perusahaan yang bertanggung jawab tidak mungkin menerimanya. Untungnya dia masih memiliki beberapa kemampuan dari kampus, sehingga tidak begitu mengecewakan.


Arsela Victor mulai bekerja sejak setahun yang lalu. Terbiasa hidup mewah dan mudah membuatnya lupa jika keadaan bisa saja berada di bawah. Meski sempat berkuliah di Universitas ternama, sifat buruk dan sombongnya menutupi kepintarannya dan menganggap kecil sesuatu yang penting.


Sempat syok dengan keadaan, Sela mulai menerima jika dia bukan lagi wanita aristokrat. Dengan uang simpanan dan tabungan milik nenek dan ayahnya, mereka mulai menjalani kehidupan baru di negara ini.


Awalnya, dia ingin pergi menemui kakak perempuan yang selama ini dia jahati untuk membantu keluarganya, mengingat jika suaminya adalah orang berkuasa. Tentu keluarganya melarang, cukup tahu malu atas perlakuan buruk mereka.


Selo sendiri menjadi karyawan senior di perusahaan otomotif, tepatnya di bidang manajemen yang sesuai dengan kemampuannya. Pria yang sudah dewasa itu banyak dikagumi oleh penghuni kantor. Entah karena ketampanan atau kemampuannya, bisa dibilang hidupnya tidak begitu sulit.


Sela melihat jam di tangannya, sudah waktunya pulang. Wanita itu tersenyum melihat adiknya sudah menunggu di samping mobil, Selo membalas senyuman sang kakak.


"Bagaimana hari kak Sela di kantor?" Ketika keduanya sudah meninggalkan area kantor.


"Biasa saja, hanya bekerja," jawabnya sedikit tersenyum.


Terkadang dia malu karena Selo yang merupakan adik bisa lebih dari dirinya. Seharusnya dialah yang lebih bekerja keras dibanding adiknya, mungkin inilah hasil yang dia tanam di masa lalu.


"Bagaimana denganmu? Kau tidak terlihat baik." Melihat ada yang salah dengan Selo.


Pria itu tersenyum tipis. "Aku melihat Joy di media sosial kak Bells. Dia sangat tampan seperti tuan Marcel, Kak Bells juga semakin cantik." Terkekeh, matanya sedikit basah.


Terakhir kali melihat Bella dan bocah kecil itu saat usianya masih satu tahun, setelah itu terpaksa pergi karena keadaan.


Sela tahu adiknya merindukan mereka, hatinya menjadi sakit melihat kesedihan yang ditutupi itu. Dia mulai berubah sejak kejadian malam itu, membuatnya sadar jika dia sudah cukup buruk. Apalagi setelah tahu jika Bella tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan mereka.


"Aku bahkan belum meminta maaf," lirihnya, takut jika Bella sudah membencinya terlalu jauh.


"Kak Bells pasti sudah memaafkanmu sejak lama. Dia juga menyayangi Kak Sela."


"Itu dulu ... saat kami masih kecil. Sekarang sudah berbeda." Menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Hatinya tidak pernah berubah, meski keadaan sudah berbeda."


-


-


Mobil Selo memasuki pekarangan rumah minimalis, tidak besar namun juga tidak kecil. Keluarga mereka memang masih tergolong mampu sehingga tidak bisa dikatakan miskin.


"Kami pulang."


Sela memberi ciuman di pipi orang tuanya.


"Kenapa baru sampai?" tanya Norin.


"Hehe ... kami pergi berbelanja kebutuhan dapur sebentar." Sela mengangkat kantong plastik yang mereka beli di minimarket terdekat.


"Baiklah, bersihkan diri kalian dulu," ujar Norin. Keduanya mengangguk.


"Aku berharap mereka selalu bahagia." Memperhatikan kedua anak kembarnya yang memasuki kamar.


Terkadang, suatu kejadian buruk tidak selalu buruk. Ada hikmah yang bisa diambil dalam sebuah kejadian. Menjalani hidup baru sebagai orang bawah, justru mempererat hubungan keluarga mereka.


Menjadi masyarakat biasa membuat mereka mempelajari banyak hal baik. Mulai dari bersosialisasi, bercengkrama hingga berbagi makanan dengan tetangga membuat mereka menjadi lebih hidup. Terkadang bergosip ria tanpa perlu takut menyinggung sesamanya.


Berbeda ketika berkumpul dengan para sosialita. Seseorang seperti dipaksa untuk tersenyum dan menjaga sikap sebagai bangsawan. Image sangatlah penting bagi mereka yang berkasta. Salah bicara saja bisa membuat seseorang hancur karena kesombongan.


"Mrs. Irene menggelar pesta kecil untuk kelahiran anaknya, ajak Sela dan Selo ikut."


Quela baru saja memasuki pintu setelah bercengkrama sangat lama dengan tetangga sebelah hingga lupa waktu. Wanita tua itu sudah lama tidak tertawa semenjak masih menjadi nyonya besar.


"Aku akan membawa makanan kecil." Norin memasuki dapur.


...--- o0o ---...


Disebuah tempat, teriakan seorang wanita menggelegar. Dadanya bergemuruh tidak terima, anak-anaknya hendak meninggalkannya.

__ADS_1


"Kami hanya pindah rumah, bukan pindah negara, Mom." Alex jengah dengan reaksi ibunya yang berlebihan.


"Kenapa! Apa disini tidak cukup?"


Clarissa tidak terima dengan keputusan Alex yang ingin tinggal di mansion mereka sendiri. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran semua putra putri serta menantunya itu, apalagi sekarang ada cucu!


Bella sebenarnya merasa tidak enak, tapi Alex tetap pada pendiriannya. Dirinya luluh ketika suaminya mengatakan ingin membangun keluarga kecil mereka di rumah mereka sendiri. Mereka sudah menikah, tentu sudah memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Jangan terus membebani orang tua, meski tidak merepotkan sama sekali.


"Kami akan sering berkunjung, Mom." Bella memberi pencerahan, tidak tega melihat wajah sedih mertuanya.


Tiga manusia lainnya hanya menyimak, mereka tidak keberatan jika keputusannya saya seperti itu.


"Sudahlah, Mom. Kan masih ada aku dan Elora." Sofia membantu membujuk Ratunya rumah.


"Kapan?" tanya Clarissa lesu.


"Besok," jawab Alex datar.


Wanita paruh baya itu akhirnya mengangguk, meski masih tidak rela dalam hatinya. Semuanya bernafas lega.


"Joy tidur dengan Grandma ya malam ini." Berniat mencuci otak cucu tampan nya yang sejak tadi tidak peduli itu.


"Mom jangan coba-coba untuk membujuk Joy agar batal." Alex sudah tahu maksud ibunya. Clarissa mendengus.


"Tidak kok, aku hanya ingin bersama cucunya sebelum pergi," bantahnya.


Alfred terkekeh seraya menggeleng, istrinya tidak mungkin menyerah begitu saja. Semoga Joy cukup pintar untuk tidak terhasut sang nenek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jadwal Up sudah dihapus ya guys. Untuk kedepannya, Up tidak bisa seperti biasanya....


...Mengingat sudah masuk bulan puasa, aku gk berani buat terlalu fokus ngetik ini. Takut kelepasan😋...


...Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan🙏...

__ADS_1


...Makasih atas dukungannya selama perjalanan TPC. Semoga betah❤...


__ADS_2