
Setelah dua hari menginap di rumah sakit yang pastinya sukses membuat seorang Qiara Arabelle bosan setengah mati, akhirnya hari ini dia diperbolehkan pulang.
Kepala pelayan Smith dan para pelayan sudah setia menunggu sang majikan kembali menginjakkan kaki usai berjuang melahirkan sang buah hati.
"Selamat datang kembali, Mrs."
"Thank you, terima bonus kalian hari ini sebagai ucapan syukur dari kami," ucap Bella tersenyum.
"Terima kasih banyak, Mrs." Para pelayan berbinar senang.
Mereka juga ikut senang mendengar kelahiran tuan muda kecil mereka. Dalam hati mereka bersyukur karena Bella lah yang menjadi Nyonya muda di kediaman Ramona ini.
Meskipun hidup dengan limpahan kekayaan dan tumpukan uang, tidak pernah menjadikan wanita itu sombong dan semena-mena. Menghargai mereka yang berada dibawahnya dan memberi dukungan bagi mereka yang ingin berjuang.
"Sama-sama."
-
-
"Oh may God, sejak kapan kau membuat kamar ini?" Bella terperangah melihat kamar yang tepat berada di samping kamar mereka dengan pintu terhubung dari dalam kamar, jadi tidak perlu repot keluar kamar untuk menuju kamar Jourell.
Kamar yang di desain khusus untuk Jourell, bahkan ukuran kamar ini cukup luas untuk ukuran bayi yang masih berusia tiga hari itu. Disudut lain juga ada tempat untuk bermain.
Semua sudah direncanakan sejak awal. Bella sendiri saja tidak memikirkan hal ini, didalam pikirannya Jourell bisa tidur dengan mereka. Tapi Bella tidak tahu jika pikiran Alex jelas berbeda. Meski Jourell anak mereka, bukan berarti dia akan membiarkan sang anak menguasai istrinya seorang diri.
Apalagi sampai tidur bersama di satu kasur, selama tiga hari di rumah sakit saja Bella jarang memperhatikannya dan itu membuat Alex cemburu pada putranya sendiri. Jadilah sekarang dia membuat kamar ini agar tetap bisa memeluk istri tercintanya ini meski masih belum bisa berbuat lebih.
"Tiga hari yang lalu," jawabnya.
"Tiga hari? Aku baru tau kalau disini ada pintu yang menghubungkan ke sebuah ruangan." Bella heran.
Seingatnya tidak ada pintu disini, hanya tembok rata yang pastinya keras, lagipula dikamar mereka hanya ada dua pintu. Pintu menuju Walk in Closet yang sudah jelas satu paket dengan kamar mandi, lalu ada ruang olahraga Alex.
__ADS_1
"Memang tidak ada," datarnya..
"Sudah kubilang, ini dibuat saat kita masih di rumah sakit. Bean yang mengurusnya."
Membuat ruangan dalam tiga hari! Bagaimana bisa? Ya tuhan, jangan lupa jika pria yang berstatus suamimu ini selalu punya caranya sendiri.
"Sudahlah. Lagipula Baby Jo akan tidur bersama kita, jadi kamar ini mungkin tidak terpakai dulu." Santai Bella menuju ranjang.
Mata Alex melebar, dia langsung mendekati Bella dan meraih Jourell yang akan ditidurkan disana.
"Al?"
"Apa gunanya kamar jika tidak digunakan," ketus Alex.
"Tapi dia masih kecil, Sayang." Sabar Bella.
Yes! Si kecil yang berbahaya.
"Dia harus terbiasa sejak kecil," kilah Alex lagi, Bella mengerjap heran.
"Memangnya aku kenapa?" Bella menghela nafas.
"Letakkan Baby Jo, Al. Nanti dia terbangun."
"Oke." Alex langsung membawa Jourell menuju kamar barunya, Bella langsung mengejar.
"Bukan disini, Tuan muda! Tapi di ranjang kita!" Bella hampir meledak.
"Diamlah." Acuh Alex tidak peduli, Bella terkekeh sinis.
Alex memeluk Bella setelah meletakkan Jourell di tempat Bayi dan menutup pintu. Alex Menyelipkan tangannya di antara lengan Bella.
"Kau jarang memanjakanku lagi, Bebe. Kau hanya sibuk bersama dengannya," ucapnya pelan di leher Bella.
__ADS_1
Bella terdiam sebelum kemudian dia tersenyum lucu. Hell! Jangan bilang dia membuat kamar ini karena cemburu dengan Jourell?
Bella terkekeh, merengkuh wajah maskulin itu dan mengecup bibirnya berkali-kali.
"You're Jealous?" Alex memasang tampang sedih kemudian mengangguk pelan. Bella langsung tertawa.
"Uh ... my husband is so cute." Mengapit pipi suaminya sambil tertawa.
"Kau senang sekali menertawakanku." Bella tertawa lagi.
Mengalungkan tangannya di leher Alex dan mencium bibirnya lembut. Alex harus berucap syukur hari ini, karena Bella sangat jarang mau berinisiatif.
Bella melepas pangutannya saat dirasa ciuman Alex semakin liar. Bahkan tangannya sudah menjalar ke dalam pakaiannya.
"Aku baru saja lahiran, Sayang."
"Memangnya kenapa," gumamnya masih sibuk menjelajahi leher Bella.
"Tentu saja tidak boleh!" Bella menegakkan kepala pria itu agar terlepas dari bibir nakalnya.
"Kenapa tidak boleh," ketusnya tidak suka.
Bella memijat pangkal hidungnya heran, apa yang dipelajari pria ini saat disekolah dulu?
"Memang tidak boleh, Sayangg ... kau harus berpuasa setidaknya enam minggu." Bella gemas.
Alex membola, enam minggu! Tidak sampai tiga hari saja dia sudah tidak tahan, tapi ini? Alex menatap memelas pada Bella.
"Bersabarlah," ucapnya lembut. Alex mengangguk terpaksa.
Sial! Siapa yang membuat aturan seperti ini!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Bagi hadiahnya😆...
@ftdwi04_