
Di meja makan tempat keluarga besar berkumpul, terdapat lima orang berbeda usia sedang makan malam bersama seperti biasa. Tidak ada suara selama makan malam berlangsung. Semua hikmat dengan makanan masing-masing.
Bunyi dentingan sendok beradu dengan piring kaca menandakan mereka telah selesai. Tidak langsung beranjak, lima orang itu akan bersantai sejenak untuk saling bertukar cerita.
"Ray membawa seorang gadis ke restoran. Aku sudah senang mendengarnya, tapi ternyata hanya teman," ucap wanita tertua diantara mereka.
"Bagaimana menurutmu, Joy?" tanyanya pada laki-laki tampan disana.
"Ya?" Jourell terkejut karena pertanyaan ibunya.
"Sejak kapan kau jadi kolot," cibir sang ayah disamping ibunya.
"Dadd!!" desis Joy kesal.
Semua masih sama. Bella sang ibu masih cantik dan awet muda. Mungkin orang lain akan ragu untuk percaya jika wanita itu sudah berkepala empat dan memiliki tiga anak jika tidak mengenal sosoknya.
Begitupun ayahnya, Alex. Masih pria arogan dan dingin tak tersentuh kecuali dengan keluarganya. Pria berwajah tembok dengan tahta tertinggi di dunia bisnis masih sama. Meski bertambah usia semakin membuatnya tampan dan karismatik.
"Kak Eric bilang kak Joy mencampakkan banyak gadis. Semuanya cantik! Aku khawatir kakak tidak normal," sahut Melva sang adik di sisi lain Bella.
"Diakan seperti daddy!" bisik Melvin saudara kembarnya.
"Bicara apa kau!" Jourell menendang kaki Melvin dibawah meja, membuat bocah itu diam.
"Kembali ke topik awal." Bella mengingatkan.
"Itu urusan Ray, Mom. Aku tidak peduli," jawabnya.
"Benar juga. Gadis itu manis. Ray akan menjaganya kan, Sayang?" Bella menatap suaminya yang acuh seperti biasa. Melihat tatapan istrinya, Alex tahu harus melakukan apa.
"Tentu saja. Sama seperti aku mencintaimu, Bebe. Bocah itu juga akan begitu. Perlu kusiapkan pernikahan?"
"Perfect! Akan ku bicarakan dengan Rose–"
__ADS_1
"Mom, Dad ... hubungan mereka tidak sejauh itu," potong Jourell tiba-tiba.
"Oh iya? Lalu seperti apa?" Bella menahan senyum, begitupun yang lainnya.
"Mereka hanya bertemu sebentar. Milla menyukaiku, jadi Ray membawanya untuk menghibur karena aku menolaknya."
"Jadi namanya Milla?" Jourell terdiam. Tunggu, ada yang aneh disini.
"Kakak terlalu jual mahal. Dia akan sendiri dalam waktu yang lama seperti daddy dulu," bisik Melva pada Melvin.
"Namanya tidak asing," gumam Bella. "Tidak masalah. Nampaknya Ray menyukainya. Cinta datang karena terbiasa," putusnya tidak peduli.
"Gadis itu bisa belajar. Itu lebih baik daripada mengejar cinta sepihak," sambar Alex kemudian. Padahal dirinya juga pernah melakukan hal yang sama. Bella mencibir dalam hati.
"Mom, Dad! Tidak perlu ikut campur. Milla tidak akan menyukainya." Lagi-lagi Joy menyahut.
"Kakak seperti laki-laki yang sedang cemburu. Wajahmu saja sudah memerah. Atau kau suka padanya, heh?" Melvin memasang wajah mengejek.
"Mimpi saja! Satu-satunya wanitaku hanya Mommy dan Melva."
"Ck! Tidak lihat umur."
"Jourell!!" Alex mulai kesal. Padahal seperti itulah dirinya dulu, tidak ada bedanya dengan sekarang. Hanya saja itu tumbuh dalam sosok lain yang merupakan putranya sendiri.
"Hentikan!" Keduanya bungkam saat ibu ratu angkat suara.
"Sudahlah. Kembali lah ke kamar. Besok masih ada kelas, kan," perintah Bella pada Melva dan Melvin.
"Baiklah. Selamat malam, Mommy, Daddy dan kakak." Keduanya mencium pipi orang tuanya seperti biasa.
"Aku juga akan tidur," ucap Joy setelah keduanya menghilang. Sebelum pergi laki-laki itu melakukan hal yang sama seperti kedua adiknya. Namun seperti biasa pula ia harus mendapat tatapan menusuk dari ayahnya yang sangat pencemburu bahkan pada anaknya sendiri.
Hanya mencium ibunya! Jangan harap mencium ayahnya juga.
__ADS_1
"Selamat malam. Aku mencintai Mom, sangat!" Bella tersenyum lucu. Belum lagi Alex sudah menarik putranya agar menjauh.
"Langsung pergi saja apa tidak bisa. Jangan mengambil istriku terus!"
"Al ...," tegur Bella.
"Lebih baik dia punya pasangannya sendiri, Bebe. Jodohkan saja dengan Chloe!"
"Urus urusanmu sendiri, Pak tua!"
"See?! Anak itu memang kurang ajar." Alex tidak terima.
"Jangan lupa dia putramu." Kearoganan kalian sudah mendarah daging!
"Joy ..." panggil Bella sebelum Joy benar-benar pergi.
"Mom tidak akan memihak siapapun. Bersainglah secara sehat. Kalian semua sama dimataku. Jangan sampai kau menyesal pada akhirnya." Tanpa dijelaskan pun Joy tahu kemana ucapan itu mengarah.
"Jangan khawatir, Mom." Langsung pergi setelahnya.
"Khawatir?" tanya Alex lembut.
Bella tersenyum sembari menggeleng. "Aku tidak ingin ada pertengkaran."
Mereka tumbuh besar bersama. Bella mengenal semua anak-anak itu meski bukan anak kandungnya. Kehidupan anak muda biasanya lebih labil. Belum lagi bukan sekali Bella memperhatikan keseharian mereka.
Sekarang yang menjadi sorotannya adalah Raymond, putra dari Roselea. Laki-laki itu lebih dewasa daripada Eric maupun Jourell sendiri. Tatapan yang dipancarkan, Bella bisa melihat ada sesuatu disana.
Milla ....
Gadis itu kini menjadi peran utama dalam keluarganya. Gadis piatu yang tinggal bersama bibinya. Ayahnya sudah menikah lagi dan istrinya memiliki satu anak perempuan bawaan seusinya.
"Perlu kusingkirkan?" Alex tidak suka apapun yang menggangu ketenangan istrinya.
__ADS_1
"Tunggu hingga penentuan akhir."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...