Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 38 | Hamil


__ADS_3

Ramona Mansion, 05.00 a.m


Alex membuka matanya berat saat mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar mandi. Sekitar jam satu pagi tadi Bella kembali berbuat ulah. Dia merengek ingin berkeliling menggunakan mobil sport milik Alex. Alex benar-benar heran dengan tingkah aneh Bella. Setiap kali dia mencoba menolak permintaannya, wanita itu pasti akan menangis dan merajuk padanya. Mau tidak mau dia hanya menurut saja.


Alex langsung berlari ke kamar mandi dan mendapati Bella sedang memuntahkan cairan bening. Wajahnya sedikit pucat dan lemas. Alex menyingkirkan rambut calon istrinya dan memijat tengkuknya pelan.


“Ada apa, Bebe!” Alex khawatir melihat wajah pucat Bella.


“Pergilah Al! Ini menjijikan.”


“Tidak ada yang menjijikan!” Alex terus mengusap punggung Bella agar rilex.


Setelah membersihkan mulutnya, Alex membopongnya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Dia mengusap kepala Bella sayang sedangkan tangan satunya sedang mengetik sesuatu kepada Bean.


“Apa yang sakit?” tanya Alex lembut. Bella menggeleng dan menarik Alex agar memeluknya. Alex yang mengerti langsung merebahkan diri disampinya dan memeluk Bella erat.


Alex tidak keberatan dengan sikap manja Bella akhir-akhir ini. Justru memang ini yang dia harapkan. Bella kembali tertidur setelah merasa nyaman dengan posisinya. Tak lama kemudian Bean datang membawa dokter wanita.


Dokter itu sedikit malu melihat adegan didepannya. Masih dengan memeluk Bella, Alex enggan untuk beranjak karena takut membangunkan Bella. Dokter itu hanya menurut dan memeriksa kondisi Bella.


“Bagaimana?”


“Ini masih prediksi saya, Tuan. Berdasarkan tanda-tanda yang dialami Nona, saat ini Nona tengah hamil. Namun untuk memastikannya, sebaiknya lakukan pemeriksaan dengan Dokter kandungan di rumah sakit.”


Hamil ... anakku? Alex terdiam, tidak lama dia tersenyum cerah dan mencium seluruh wajah Bella, lalu mengusap perutnya sayang. Bella yang terusik akhirnya terbangun dan menatap bingung mereka semua.


“Al?”


“Kau hamil, Bebe. Anak kita ada disini.” Alex terus mencium perut Bella yang masih tidak percaya. Dia menatap Bean dan Dokter itu bergantian kemudian dibalas anggukan oleh Bean yang ikut bahagia. Bella menintikkan air mata sambil tersenyum menatap Alex


“Thanks, Bebe. Ini adalah hadiah terindah dalam hidupku. I love you!”


Dokter itu hanya bisa menatap iri keduanya. Dia masih tidak percaya jika Tuan Marcelio adalah orang yang sangat mencintainya wanitanya. Orang yang sangat dingin dan tidak tersentuh ini ternyata punya sisi lembut terhadap wanita cantik didepannya ini.


Dokter itu menyampaikan banyak hal mengenai wanita hamil seperti pola makan dan perubahan emosi akibat hormom kehamilan. Apa saja yang harus diperhatikan dan masih banyak lagi. Alex kini mengerti dengan sikap aneh Bella, ternyata itu semua disebabkan oleh hormon kehamilan.


Akhirnya ....


Pagi ini, mansion digemparkan dengan berita kehamilan Bella. Clarissa sudah mengeluarkan ultimatum kepada seluruh penghuni mansion. Tidak tanggung-tanggung, Alfred juga memperkerjakan chef ahli gizi dan membuatkan ruangan khusus yang menyerupai poli kandungan agar Bella tidak perlu lagi pergi ke RS.


Berdasarkan pemeriksaan, usia kandungan Bella baru memasuki 4 minggu membuat semua orang sangat berhati-hati. Bella hanya menghembuskan nafas pasrah dengan sikap overprotektif mereka. Meski begitu, Bella sangat bahagia karena ditemani oleh orang-orang yang menyayanginya.


Di kamar ....


Bella membuka lembaran demi lembaran foto masa kecilnya bersama ibunya dulu. Ada banyak kebahagian dan kecerian yang menghiasi keduanya. Namun sekarang, Bella hanya bisa mengenangnya sendiri. Jika saja ibunya mengingatnya, dia pasti akan menjadi orang paling bahagia yang mendengar kehamilannya.


Eomma, Putrimu yang cantik ini akan segera menjadi seorang ibu.


Ceklek


Bella meletakkan sembarang album foto diatas kasur. Dia berlari turun dan memeluk pria tampan yang sudah dirindukannya sejak pagi.


“Bebe, jangan berlari! Kau tidak sendiri, ingat.”

__ADS_1


“Sorry, I miss you.” Alex hanya bisa tersenyum lalu menggendong Bella. Alex mendudukkan dirinya dikasur, dengan Bella dipangkuannya.


“Hai, Baby. Kau merindukan Daddy?” Alex mengelus perut Bella sesekali menciumnya gemas.


“Yes, Daddy.” Kecupan berkali-kali mendarat di bibir dan wajah Bella ketika wanita itu menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


“Al ... geli ...” Bella menutup mulut Alex dengan tangannya tapi dibalas jilatan basah di telapak tangannya. Bella sontak menarik kembali tangan miliknya.


“Al!” Alex tertawa lucu kemudian mengecup singkat bahu Bella.


“Maaf meninggalkan mu terlalu lama. Rasanya aku ingin mengutuk Bean karena terus mencegahku pulang.” Bella terkekeh, menyandarkan kepalanya di bahu Alex sembari mengelus rahang tegas itu.


“Jika tidak seperti itu kau akan meninggalkan pekerjaan mu lagi.”


“Aku hanya akan pergi sebentar untuk melihatmu.” Hell ...! Sebentar? Nyatanya Alex tidak akan kembali jika saja Bella tidak mengusirnya. Dia akan dengan senang hati memeluk Bella sepanjang hari tanpa peduli dengan pekerjaannya.


Bella hanya menghela nafas pelan. Dia bangun dan menarik Alex agar berdiri. Pria itu masih memakai kemeja kerjanya lengkap dengan sepatunya. Kecuali jas dan dasinya yang sudah dilemparnya di pinggiran sofa.


“Mandilah!”


“Mandi bersama?” Seringaian mesum terbit di bibir Alex.


“Tidak!” Dia pikir Bella tidak tahu maksud terselubung didalamnya!


“Come on, Bebe. Apa kau tidak kasihan dengan adikku?” Alex memasang wajah memelasnya. Dia tahu jika wanita ini paling tidak bisa melihat tampang menyedihkannya.


Sudah hampir seminggu Alex tidak pernah melakukannya lagi karena Bella takut dengan janinnya yang masih sangat muda. Hal itu sukses membuat seorang Alex mandi air dingin setiap malamnya. Apalagi Bella tanpa rasa bersalah menggunakan pakaian tidur yang menurut Alex sangat ... errr. Cukup membuat libido nya bangkit hanya dengan melihatnya.


“Lakukan dengan lembut.” Alex berbinar senang. Akhirnya penantiannya terbayar sudah.


-


 


-


Setelah pergulatan yang dilakukan berjam-jam akhirnya membuat Bella menyerah. Bella menyandarkan dirinya di dada Alex. Wanita kembali membuka album foto dirinya yang kini ada Alex yang menemani.


“Siapa ini?” Alex menunjuk foto sepasang anak laki-laki dan perempuan yang ada di album Bella. Dia sedikit tidak asing dengan gambar ini.


“Aku. Memangnya siapa lagi. Why?” Alex mengulas senyum tipis. Ah ... dia ingat. Sekarang dia benar-benar yakin jika Bella memang takdirnya.


“It’s me.” Bella membola. Bagaimana mungkin!


“Matamu bisa keluar nanti.” Alex mengecup mata Bella singkat membuat Belle mengerjap.


“Jadi ...” Alex mengangguk. Foto ini diambil 3 hari sebelum kecelakan yang menimpa Bella dan ibunya.


Saat itu, Alfred dan Clarissa membawa Alex dan Sofia ke Korea untuk perjalanan bisnis. Dia berusia sebelas tahun kira-kira, sudah sangat pintar mengetahui lingkungannya. Karena bosan Alex pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang tengah berbincang dengan salah satu relasi mereka di restoran itu.


Tapi Korea adalah hal yang baru baginya, dia sedikit kesulitan dengan bahasa mereka. Jadi Alex hanya berjalan – jalan seperti yang dilakukan banyak orang disini. Tampaknya dia tidak sadar jika sudah pergi cukup jauh.


Saat ingin bertanya, ternyata kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa inggris. Dia berusaha tenang dan duduk di salah satu kursi taman. Berharap orang tuanya menemukannya. Dia mulai gusar karena sudah cukup lama berada disini. Bagaimana jika orang tuanya tidak menemukannya?

__ADS_1


“Kau baik-baik saja?” Seorang gadis kecil berwajah imut dan manis khas Korea - Inggris mendatanginya. Gadis itu hanya sendiri. Alex sedikit bingung menjawabnya, karena dia tidak mengerti apa yang dikatakannya. Gadis kecil ini pasti juga tidak akan mengerti bahasanya.


“You can’t speak Korea?” Apa dia tidak salah dengar. Atau gadis ini hanya kebetulan tahu? Alex mengangguk sambil menatapnya.


“Don’t worry. I can speak English. Jadi kau bisa berbicara padaku.” Bukan kebetulan ternyata. Gadis itu duduk disamping Alex menghadapnya sambil tersenyum ramah.


“Aku tersesat.”


“ Memangnya kau darimana?”


“Awalnya aku di restoran tempat relasi bisnis orang tuaku. Aku bosan jadi pergi jalan – jalan.”


“Restoran mana? Disini ada banyak.” Sebenarnya Alex kurang yakin dengan gadis kecil ini. Tapi melihat cara tanggapnya yang cepat, sepertinya dia gadis yang pintar.


“Hyuna restaurant. Kau tahu?”


“Sure. Aku juga dari sana.”


“Sungguh!” Alex tampak berbinar. Gadis itu mengangguk.


“Apa kau bisa mengantarku kesana?” Gadis itu mengangguk lagi.


“Siapa namamu adik kecil?”


“Hyuna.” Alex tersenyum. Gadis ini sangat cantik dan manis, apa mereka bisa bertemu lagi?


“Aku Alex.”


“Ayo pergi!” Alex menggenggam tangan mungil itu. Tapi Hyuna menahannya.


“Ayo ambil foto bersamaku. Aku akan menunjukkannya pada Eomma jika aku bertemu kakak yang tampan,” ucapnya polos dengan mata berbinar.


Bella terbahak mendengar cerita Alex. Dia tidak percaya jika dia berbicara seperti itu. Kakak tampan? Ayolah ... kenapa pertemuan mereka terkesan Bella lah yang menggoda Alex lebih dulu. Bella ingat jika anak laki-laki itu mengaku dengan nama Alex, tapi nama Alex tidak hanya satu! Bisa jadi siapa saja.


“Aku akui jika saat itu aku sudah tertarik pada Hyuna. Tingkahnya sangat manis dan polos,” goda Alex


“Jika boleh, aku sangat ingin membawanya pulang saat itu.”


“Al ...” Alex terkekeh, dia memeluk Bella erat sambil mengecup puncak kepalanya.


“Aku sangat bahagia karena itu kau. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku mencintaimu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Semoga para reader tidak bosan menunggu dan tetap setia membaca novel ini. Terima kasih untuk kalian yang sudah memberi vote dan like nya....


...Gamsahabnida❤...


...VOTE...


...LIKE...


...COMMENTS...

__ADS_1


__ADS_2