Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 114 | Pertengkaran Dua Pemilik Bumi


__ADS_3

Bella mengerjapkan matanya. Dia sudah berada di atas ranjang empuk yang membuatnya nyaman. Bella menatap keluar jendela. Sudah mau malam? Berarti dia tertidur cukup lama di mobil. Tidak heran sih, dia memang cukup lelah seharian didalam pesawat.


Berdiam diri di satu tempat atau duduk diam saja memang akan membuatnya bosan dan cepat mengantuk. Jadi tidak usah heran jika dia mudah tertidur jika sedang di dalam mobil yang berjalan.


Bella menatap sekeliling. Tempat ini masih sama dari hari terakhir dia meninggalkannya. Soo-Jin benar-benar merawatnya dengan baik.


Bella menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Dia tidak melihat Alex. Dimana pria itu? Tidak perlu dicari, memangnya dia akan kemana. Mana bisa dia berjauhan dengan makhluk yang dianggapnya adalah wanita paling cantik di dunia.


Benar saja, pria itu baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah hingga terlihat seksi dengan air yang mengalir di beberapa tempat.


Alex tersenyum melihat istrinya sudah terbangun masih dengan wajah mengantuknya. Dia mendekati Bella dan duduk disisi ranjang. Diberikannya handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Bella mengerti dan menerimanya. Dia berdiri dan mulai mengeringkan rambut suaminya itu.


"Kau tinggal sendiri selama disini?" Alex memeluk pinggang ramping istrinya.


"Tidak juga. Sesekali Jung atau Kris datang menemaniku," santainya.


Bella tidak menyadari jika atmosfer di kamar mulai berubah sedikit gelap. "Menginap?" tanyanya lagi dengan nada datar namun terdengar mengerikan.


"Tentu saja. Kan sudah kubilang mereka menemaniku- aw ..." Bella mengaduh ketika Alex menggigit perutnya setelah menyibak sedikit bajunya.


"Woah ... aku heran kemana semua tetanggamu sehingga tidak memergoki kalian. Bukankah ini Korea? Hal seperti itu juga dilarang," katanya sinis.


"Semua orang disini mengenal kami sebagai sahabat. Dan juga aku sudah tinggal lama disini sehingga mereka percaya kami tidak akan berbuat aneh," balasnya kesal. Dilemparnya handuk basah itu sedikit kasar di ranjang.


"Ya. Sepertinya kau suka sekali dikelilingi pria tampan, heh!"


Oke, fix. Tuan muda cemburu lagi. Dan aku tidak mau menjadi pihak yang kalah kali ini!

__ADS_1


Padahal adegan mereka tadi cukup romantis dan terlihat seperti pasangan normal yang saling mencintainya. Tapi karena satu pertanyaan dari Alex membuat adegan romantis itu menjadi pertengkaran kecil yang disertai cemburu buta tanpa alasan yang jelas.


"Look ... kau bahkan marah. Berarti benar, kan yang ku katakan." Alex masih datar namun menurut Bella sangat menyebalkan.


Tatapan tajam langsung mengarah pada pria kini sudah santai di kepala ranjang. "Bagaimana jika iya? Memangnya siapa yang akan menolak pria tampan dan kaya. Jika ada, sepertinya dia buta."


Baiklah ... sepertinya perang kali ini tidak akan ada yang mengalah. Pasalnya, sang Nyonya yang biasa membujuk ketika suaminya kesal malah membuat keadaan semakin panas. Mungkin mulut beracunnya mulai lepas kendali.


Alex tampak mengeraskan rahang. Wajah marah dan tatapan nyalang tercetak jelas disana. "Begitu? Jadi karena aku tampan dan kaya kau mau denganku! Jika aku sudah tidak kaya lagi, maka kau akan meninggalkanku."


"Bodoh! Jika seperti itu, sudah dari awal aku mengejarmu. Kau pikir aku wanita macam apa! Aku sendiri sudah kaya, jadi untuk apa pria kaya juga," teriaknya kesal.


Bella mengambil guling disana dan memukul - mukul kuat badan kekar yang masih berbalut handuk itu. Alex tertawa sambil melindungi diri dengan tangannya. Dia tidak benar-benar marah, wajah nyalangnya hanya dibuat-buat.


"Menyebalkan! Pria brengsek-" Alex menarik Bella dan memeluknya di bawah tubuhnya sebelum umpatan wanita itu berlanjut.


"Lepaskan aku. Aku mau pergi menjadi pria yang lebih kaya ..." Bella meronta.


Oh, please, Tuan muda. Jangan memancing kemarahan singa betina itu.


"Dasar arogan! Kau pria paling sombong yang pernah kukenal."


"Dan yan paling tampan, kan?" Alex tersenyum.


"Narsis!"


Alex tertawa lagi, jika Bella orang lain, mungkin hanya akan tinggal nama karena sudah berani mengatai bahkan berteriak di depan seorang Marcelio Alexander Ramona!


Alex semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bella. "Aku mencintaimu." Bella langsung terdiam.

__ADS_1


"Jangan marah padaku, Bebe. Aku tahu kau bukan wanita seperti itu. Lagipula kau hanya milikku, jangan harap bisa pergi dariku."


Egois? Thanks. Apapun yang menjadi miliknya tidak akan pernah dilepaskan begitu saja.


Bella sedikit tercekat. Hatinya sedikit menghangat mendengar ucapan suaminya yang menyatakan kepemilikan mutlak. Ya, dia juga tahu itu. Setelah masuk dalam kehidupan Alex, maka selamanya dia akan terkurung didalam sangkar cinta milik Tuan muda ini.


Namun yang namanya Alex tidak akan berkata manis jika tidak ada maunya. Terbukti dengan tangan pria itu yang sudah berjalan kemana-mana. Bahkan Bella tidak tahu kapan handuk yang dipakai Alex sudah terlepas dari tempatnya.


"Dasar mesuumm ...."


...--- o0o ---...


Malam ini, Jung baru saja sampai di rumah mewah milik Bella. Dia tidak bisa datang menjemput wanita itu di Bandara karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Begitu selesai, dia langsung melajukan mobilnya setelah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Sudah lama dia tidak kemari sejak Bella kembali ke New York. Sekarang, tempat ini kembali dihuni dengan orang-orang baru. Hal yang pertama kali dia lihat saat masuk adalah pemandangan wanita cantik yang sedang bermain dengan bayi kecil yang tampan.


Soo-Jin tersenyum dan melambaikan tangan kecil  Jourell kearahnya. "Selamat datang, Uncle Jung," sambut Soo-Jin menirukan suara anak kecil.


Jung tersenyum gemas lalu mengangkat Jourell yang sedang telungkup di karpet berbulu. Sebelumnya dia sudah memberi ciuman lebih dulu pada calon istrinya itu.


"Dimana orang tuamu, heh?"


"Masih dikamar, Uncle," jawab Soo-Jin.


"Ck! Kasihan sekali kau. Sudah punya anak tapi masih bertingkah seperti dunia milik berdua," cibir Jung.


"Sebentar lagi kau akan punya adik baru. Mereka sedang membuatnya-"


Plak. Satu pukulan keras mendarat di lengannya. "Jangan berbicara sembarang pada bayi! Jangan mencemari otaknya." Soo-Jin menatap tajam.

__ADS_1


Jung hanya mengusap lengannya pelan. "Aku kan hanya berbicara fakta," gumamnya pelan agar tidak terdengar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2