
Di sebuah kamar, tiga gadis muda sedang fokus pada layar di depannya. Bermacam – macam ekspresi menghampiri wajah mereka. Ada sedih, marah, hingga rona malu – malu tidak luput tercetak disana.
“Orang ketiga itu sangat mengerikan!” gidik Sofia yang begitu menghayati.
“Dan berbahaya.” Sambung Renata tegang.
“Biasa saja,” balas wanita hamil yang berada di tengah – tengah mereka. Sofia dan Renata saling menatap.
“Memangnya kakak tidak takut?” Sofia menatap Bella.
“Tidak.” Singkatnya.
“Bagaimana jika Kak Al selingkuh?” Sofia memelankan suaranya. Bella terdiam, lalu menatap mereka berdua.
“Maka bersiap mendapat lubang dikepalanya, lalu menyeret wanita itu ke kandang singa untuk makan siang.” Santainya membuat Sofia dan Renata bergidik ngeri.
Dia bukan wanita lemah yang akan kalah dengan yang namanya orang ketiga seperti drama yang mereka tonton. Menangis dan berlari pergi begitu mendapati sang suami berselingkuh tanpa berbuat apa – apa. Ck!
“Cih ... jika aku jadi dia, akan kudatangi mereka dan mencakar – cakar habis wajahnya. Apa peduliku, toh dia suamiku!” sunggut Bella kesal.
“Benar! Jika aku, akan ku seret rambutnya menjadi kain pel.” Renata ikut kesal.
“Akhh ... aku benci orang ketiga!” teriak Sofia tiba – tiba.
“Siapa yang membuat drama seperti ini. Akan kuhubungi sutradaranya agar mengganti karakter wanitanya. Terlalu lemah untuk membasmi hama.” Bella mengambil ponselnya.
Sofia dan Renata tertegun. Apa drama ibu hamil mulai lagi? Yang benar saja.
“Kak, tidak perlu. Jangan dibawa ke hati, kasihan Baby.” Menggambil pelan ponsel Bella dan menaruhnya jauh – jauh. Bahaya jika tangan wanita ini sudah mengetik sesuatu saat sedang marah.
“Kenapa tidak! Uangku takkan habis hanya untuk membayar mereka.” Sofia ingin menangis saja rasanya.
Kapan drama wanita hamil ini akan berakhir!
Orang kaya memang berbeda. batin Renata menjerit.
.
.
.
“Sayang, kenapa duduk sendiri? Dimana Sofia?” Clarissa dan Alfred dibingungkan dengan kehadiran Bella di ruang tamu yang duduk sendiri sambil bersedekap tangan.
“Sofia di kamar, Mom. Aku menunggu Al pulang.”
Alfred melihat jam tangannya. “Masih satu jam lagi, Honey. Tunggulah di kamar.”
“Tidak mau, Dad.” Bella menggeleng cepat, memanyunkan bibirnya lalu menompang dagunya di sandaran Sofa.
Drama apa lagi yang akan terjadi? Pasangan paruh baya itu saling tatap.
“Baiklah, kami naik dulu.”
“Hm ...” Menghela nafas, keduanya pergi meninggalkan Bella.
__ADS_1
-
-
Diatas, Clarissa dan Alfred mendapati Sofia dan Renata sedang mengintip dan saling menyalahkan. Tidak menyadari jika orang tuanya sudah ada dibelakang mendengar pertengkaran kecil mereka.
“Kau duluan yang merekomendasikan drama itu!” Renata membela diri.
“Tapi kau setuju!” Sofia tidak ingin kalah.
“Drama apa?” Dua gadis itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke asal suara.
“Mom ...."
"Bibi ...."
“Jangan bilang ini ulah kalian.” Alfred menyelidik.
“Bukan kami!” ucap mereka bersamaan.
“Lalu?”
“Orang ketiga!” jawab Sofia dan Renata serentak lagi.
“Hah?”
...--- o0o ---...
“Bau apa ini?” Alex mengendus di dalam mobil saat indra penciumannya menangkap bau aneh.
“Kau membawa wanita! Siapa?” teriak Alex. Dia tidak suka jika mobilnya dimasuki wanita lain kecuali Keluarganya tentunya.
“Tidak, Tuan. Saya tidak sengaja memecahkan botol parfum milik adik saya tadi. Sepertinya baunya tertinggal.”
“Kau ini! Awas saja jika besok aku menciumnya lagi.”
“Tidak akan, Tuan.”
-
-
Bella beranjak dari tidurnya begitu mendengar suara mobil yang diyakini adalah suaminya, dia langsung berjalan keluar. Bean turun lebih dulu, membuka pintu untuk tuannya.
Alex tersenyum melihat Bella sudah berdiri menunggunya pulang, memberi ciuman dan pelukan kepada belahan jiwanya. Tak lama senyuman pria itu menghilang, digantikan dengan wajah heran.
Begitu pula Bean yang masih mengamati keduanya. Pasalnya Bella kini sibuk mengendus – ngendus tubuh Alex, seperti mencari sesuatu. Satupun tak luput dari penciumannya.
“Ada apa, Bebe?” Ketika melihat wajah Istrinya yang seperti ingin menelannya hidup – hidup. Bean sendiri merasakan firasat buruk.
“Apa yang kau lakukan dikantor tadi!”
“Tentu saja bekerja,” katanya mengerjit.
“Bohong!” Alex membola.
__ADS_1
Ada apa lagi dengannya, Ya tuhan! batin Alex heran.
“Tidak, Sayang. Aku sungguh bekerja.”
“Wanita mana yang mendekatimu!” cercanya lagi. Tidak peduli dengan pengakuan Alex.
Wanita? Aku hanya bersama Bean seharian ini.
Ada apa lagi dengan, Nona. batin Bean prihatin melihat Tuannya yang selalu mendapat sikap abnormal istrinya.
“Tidak ada,” balas Alex menggeleng.
“Bohong!” Bella memukul dada Alex kesal. Alex meringis.
“Tidak, Bebe. Aku hanya bersama Bean." Alex berucap lembut.
“Lalu kenapa ada bau parfum wanita ditubuhmu! Bohong kan!” pekik Bella.
Alex langsung mengendus baunya. Shitt ... ini gara – gara parfum sialan Bean! Dia langsung menatap tajam Bean.
“Ini milik Bean, Sayang.”
“Benar, Nona. Saya tidak sengaja memecahkan parfum adik saya di mobil. Pasti tertempel di tubuh, Tuan,” jelas Bean membantu Alex.
“Bohong, bohong, bohong! Kau kan tidak punya adik. Kalian pasti bekerja sama menipuku ku, kan!”
“Tidak, Nona.” Geleng Bean cepat. Ini salah paham, maksud dia adik sepupu!
Alex menatap nyalang kearah Bean. Dia juga baru ingat jika Asisten nya ini tidak memiliki saudara alias tunggal! Berarti dia juga tertipu!
“Dia adik sep ....”
“Sudahlah. Tidak perlu bersandiwara. Dan kau! Jangan mendekatiku malam ini!” ancam Bella lalu berjalan masuk dengan kesal.
“Bebe ...” Mengejar Bella.
Awas kau, Bean!
Aku rindu Nona yang normal. batin Bean menangis.
**
Di sisi lain, empat pasang mata menyaksikan semuanya di dekat tangga. Setelah mengetahui sumber masalahnya, mereka berempat langsung mengintip di dekat tangga begitu mendengar Alex pulang.
Bella yang terlalu menghayati isi drama, ternyata terbayang – bayang akan sosok orang ketiga. Belum lagi saat Sofia dan Renata tanpa sadar memprovokasi Bella mengenai Alex jika berselingkuh?
Jika tidak hamil, mungkin Bella bisa bersikap normal dan menjadi pendengar yang baik. Namun, berhubung sang Nona muda ini sedang hamil, jalan pikirannya pun langsung berubah drastis.
Kadang normal dan terkadang bikin sakit kepala. Masalah sepele saja bisa menjadi besar jika calon ibu ini membuka mulutnya.
Orang ketiga memang menyusahkan! batin mereka berempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...VOTE VOTE VOTEE...
__ADS_1
...LIKEE...