
Di ruangan besar itu, kini hanya menyisakan empat orang. Soo-Jin dan Alex sudah pergi untuk rapat bersama para pemegang saham. Dengan kehadiran Alex, Bella yakin tidak perlu repot untuk datang juga. Bella hanya berharap mereka semua tidak terlalu tegang apalagi ketakutan karena kehadiran suaminya.
"Kalian ingin makan sesuatu?" tanya Bella pada kedua gadis yang matanya sudah menjelajah itu.
"Hm ... sebenarnya aku lapar." jawab Elora tersenyum malu. Di angguki juga oleh Sofia.
"Ya sudah. Kita kebawa ke kantin perusahaan saja." Bella berjalan keluar. Keduanya langsung mengikuti.
"Kak. Kau sungguh Nona Qi?" Rupanya gadis asli Inggris itu belum menyerah.
"Kesal juga rasanya mendengarmu terus bertanya." Sofia kesal.
"Hei ... aku juga kesal kau menyahut terus," balasnya.
"Stt ... anakku sedang tidur. Jangan berisik," tegur Bella pelan. Jourell akhirnya tidur juga setelah beberapa kali ditimang.
"Tunggu, Kak." Sofia menahan Bella agar berhenti berjalan. Gadis itu rupanya gemas dan tak ingin kehilangan moment itu. Dipotretnya Jourell yang sepertinya sudah kekenyangan karena menyusu pada ibunya.
"Ah ... imutnyaa ..." Sofia ingin menciumnya tapi Bella lebih dulu menghindar.
"No ... nanti dia terbangun," tolaknya. Sofia langsung cemberut.
Elora terkekeh. "Nanti saja kita bawa dia setelah bangun. Mumpung tidak ada Kak Al, jadi Kak Bells bisa puas memeluknya."
"Good girl," puji Bella.
.
.
.
Suasana di kantin sangat sepi alias kosong kecuali para pekerja khusus disana. Sekarang memang belum waktunya makan siang, jadi wajar jika belum ada satupun karyawan yang datang.
Bella berjalan santai menuju meja khusus tempat berbagai hidangan di sajikan. Di Korea, memang di beberapa tempat cenderung mengambil makanannya sendiri dan bebas memilih. Sudah menjadi kebiasaan dan tidak perlu heran.
Bella meminta kedua gadis itu untuk memilih sendiri dan menjadikan satu di piring khusus. Seharusnya Bella tidak perlu menjelaskan apapun lagi karena mereka pasti sudah paham setelah menjadi penggemar drama.
__ADS_1
"Aku akan mengikuti Kakak saja. Aku belum pernah mencoba makanan Korea meski di New York sekalipun," katanya jujur.
"Tidak semua orang Eropa menikmati makanan Asia. Salah satunya kami, tapi tidak ada salahnya mencoba," ujar Elora juga.
"Wah ... sayang sekali. Kalau begitu cobalah dan makan yang kenyang." Bella mulai memasukkan satu persatu makanan disana ke piring keduanya. Dia juga pemilih sebenarnya, jadi agak sedikit berpikir.
"Sudah." Wanita satu anak itu menjadi lapar ketika melihat piring berisi nasi goreng kimchi, sup rumput laut, telur dan sayur pendampingnya.
"Sepertinya enak." Sama halnya dengan Bella. Kedua gadis itu juga merasakan hal yang sama.
"Kita duduk disana." Bella menunjuk sebuah meja di dekat kaca.
...--- o0o ---...
Di ruangan besar dimana para petinggi perusahaan berkumpul, Soo-Jin berdiri sambil menerangkan layar lebar di depannya. Suasana sangat hening kecuali suara wanita itu.
"Sesuai kesepakatan bersama, tas tangan Bell's Bilka siap dipasarkan satu bulan kedepan setelah dilakukannya promosi. Dan akan memecah rekor sebagai tas termahal di dunia."
Tepuk tangan semua orang langsung terdengar. Meski hanya memasarkan lima buah saja, keuntungan yang didapat juga tidak akan kalah besar dengan memasarkan ratusan buah.
Bekerjasama dengan QA memang gudangnya harta. Apalagi Ramona Company sudah menjadi pemegang saham tertinggi meski bukan di kantor pusat. Jika bisa, mereka juga ingin menanamkan modal dan menjadi salah satu pemegang saham Ramona, tapi sayangnya mereka tidak akan sanggup jika harus berurusan langsung dengan kantor pusat.
Jadilah salah satu alternatif mereka adalah pergi ke kantor cabang milik QA. Keuntungan yang diraih sudah seperti bekerja sama dengan tiga perusahaan sekaligus.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan, Tuan muda Marcel?" tawar Soo-Jin.
Semua pandangan langsung mengarah pada sosok mendominasi di ujung sana. Memang sosoknya adalah yang paling luar biasa. Jika Tuan muda Marcel adalah orang yang ramah dan tidak menakutkan, mungkin sudah banyak wanita yang mengejarnya secara terang-terangan. Tapi karena terlalu kejam, para pengusaha yang memiliki putri pun tidak bisa berbuat banyak.
Mungkin hanya satu orang yang beruntung dan sekarang telah menjadi istrinya. Benar jika jodoh adalah cerminan diri, buktinya Nona Qi sebagai penguasa wanita yang juga disegani dan dianggap kejam di dunia bisnis telah dipilih Tuhan menjadi takdirnya.
Mungkin itu hanya pendapat bagi mereka yang sudah mengenal Bella dan melihat sisi lainnya. Namun berbeda lagi jika itu orang lain. Intinya kembali ke penilaian masing-masing.
"Akhiri saja," perintahnya datar.
"Baik, kita akhiri sampai disini. Jika ada pertanyaan atau keluhan, silahkan menghubungi Sekretaris saya langsung."
__ADS_1
Semua orang menundukkan kepala satu sama lain sebagai tanpa hormat. Alex keluar lebih dulu dengan Soo-Jin dibelakangnya. Pikiran pria itu tidak jauh dari sang istri dan putra kecilnya yang pastinya sedang bersama sekarang. Tapi begitu sampai, keduanya hanya mendapati ruangan kosong tanpa penghuni.
"Ini sudah memasuki makan siang, Tuan. Nona biasanya akan makan di kantin bawah," ungkap Soo-Jin.
"Bawa aku kesana," datarnya.
Benar saja, empat orang itu sudah ada disana. Makan di meja pojok samping dinding kaca. Sebenarnya hanya Elora dan Sofia yang makan dengan lahap, Bella sendiri belum menyentuh makanannya dan hanya memperhatikan keduanya sambil tersenyum.
Soo-Jin tidak ikut bergabung karena sudah punya janji dengan Jung untuk makan diluar.
"Bebe," panggilnya. Bella tersenyum lebar melihatnya.
"Sudah selesai?" tanyanya setelah Alex duduk disampingnya.
"Hm ... kenapa tidak makan?" tanya Alex mengambil piring Bella untuk menyuapi istrinya.
"Kami sudah memintanya makan, Kak. Tapi dia bilang ingin menunggumu saja," celetuk Elora.
Alex tersenyum. Dikecupnya kening istrinya sayang. Tak lama dia terkekeh ketika ingin mencium Jourell. Putranya itu tertidur dengan mulut terbuka, sangat lucu. Tidak heran kan jika Sofia sampai gemas. Bella saja tidak mau bergerak banyak dan hanya memeluknya. Takut jika putra kecilnya yang tampan ini terusik.
"Dia sepertimu ketika tidur," goda Alex.
"Aku tidak tidur dengan mulut terbuka," bantahnya.
"Bagaimana kau tahu?"
"Intinya tidak!" Alex terkekeh lagi. Dipeluknya Bella pelan dan mengecup pipinya berulang kali. Bella tersenyum.
"Hei ... jangan bermesraan di depan kami." Keduanya memang pemilik bumi. Memangnya tidak lihat jika masih ada mereka berdua!
"Tutup saja mata kalian," ucap Alex santai, dia mulai menyuapi Bella makan bergantian dengan dirinya.
"Menyebalkan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1