Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Extra Part 6


__ADS_3

...~ Hari ini dunia adalah nyata, akhirat hanya cerita. Tapi setelah mati, dunia hanya cerita, akhirat jadi nyata. ~...


.......


.......


.......


Kematian menjadi pengingat kita untuk selalu mengingat mati. Hidup dan mati ada di genggaman illahi. Tak ada seorang pun yang bisa menghindar dari kematian yang sudah ditakdirkan Tuhan.


Kematian adalah suatu hal yang dekat dengan kita sendiri, sangat dekat. kematian tidak memandang usia, jabatan, paras, waktu, dan lain sebagainya. Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi kapan kematian akan menghampiri setiap orang.


Sekumpulan orang berpakaian serba hitam terlihat mengitari sebuah nisan bertuliskan nama seseorang. Peringatan kematian sudah dihadiri oleh sebagian pihak keluarga. Berdiri dengan hikmat seraya menghantarkan doa untuk orang terkasih yang sedang beristirahat di alam sana.


Setiap tahun, peringatan kematian selalu dilakukan. Setiap tahun pula, kesedihan melanda sebagian orang yang ditinggalkan. Namun, tidak terdengar isakan tangis disana, hanya air mata yang mengalir tertahan.


Jangan menangis, itu bisa membuat mereka yang ditangisi tersakiti.


Tidurlah dengan tenang, doa kami selalu menyertaimu.


Keluarga Ramona berdiri tak jauh dari sana. Dua saudara Joy dan Melvin ikut menunduk mengikuti semua orang. Keduanya perlahan mengangkat kepala untuk melihat sang daddy. Masih ada jejak kesedihan yang tersisa disana. Rasa kehilangan yang mungkin paling banyak ia rasakan.


Hingga ...


Brukk


"Aw!" Melvin sudah terbaring di tanah berumput dengan seorang gadis seusianya terduduk di atasnya.


"MELVA!" teriaknya kesal, membuat semua perhatian teralih pada mereka.


Gadis yang di teriaki hanya menyengir tanpa dosa. Ia mengulurkan tangannya, meminta pria tampan lain yang menatapnya datar di depannya untuk menariknya.


"Kakiku tersandung, salahmu berdiri disana." Menepuk-nepuk pakaian agar bersih setelah dibantu berdiri oleh sang kakak.


"Daddy! Lihat dia," adunya pada Alex.


Sayangnya, pria itu sudah menghilang dari tempatnya, entah kemana perginya. Beberapa orang yang sempat bersedih menjadi terhibur melihatnya. Melvin berdecak kesal.


"Kau bersama siapa?" tanya Joy, matanya menelusuri sekeliling.


"Memangnya bersama siapa lagi!"


"Pantas saja. Daddy bahkan bergerak lebih cepat darimu," ejek Melvin setelah berdiri.


"Is!" Secepat itu pula Joy langsung berlari meninggalkan area pemakaman.


"Daddy dan kak Joy memang sama!" gerutu Melva.


"Mereka berdua menangis selama kalian pergi," kata Melvin.


"Apaan! Kami kan hanya pergi seminggu. Mereka saja yang berlebihan."

__ADS_1


"Stt ... diamlah!" Sofia meminta mereka diam, lalu menarik keponakan yang cantik itu ke sisinya.


-


-


-


"Bungaku tidak tertinggal, kan?" tanya wanita yang hampir berkepala empat disana.


"Sudah lengkap, Mrs," jawab sopir pribadinya.


Hari ini mereka menghadiri peringatan kematian salah satu kerabat besar keluarga Ramona.


"Anak itu main pergi saja!" Bersedekap kesal menatap gerbang pemakaman.


"Jangan khawatir, Mrs. Biar saya yang membawanya."


Wanita itu menoleh, lalu tersenyum. "Thanks, Paman. Aku hanya ingin Melva belajar. Ia sudah besar, tapi masih sering memerintah orang."


"Nona Melva gadis yang ceria, Mrs. Ia tidak bermaksud begitu." Bella tersenyum mendengarnya.


"BEBE!"


Well ... drama akan segera dimulai.


"Aku merindukanmu." Alex memeluk istrinya begitu erat, tak percaya jika wanita itu benar-benar disini.


Alex menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Bella, tak peduli dengan ejekan istrinya. "Kau bilang masih ada dua Minggu."


Bella langsung mencibir, "Dua Minggu? Baru satu Minggu saja kalian sudah menangis seperti menangisi orang mati!"


"Karena aku tidak bisa jauh darimu, Bebe," rengeknya.


"Aku kan sudah meminta kalian ikut! Kalian saja yang sok sibuk. Rasakan sendiri, kan?" Makin menjadi saja mulut wanita ini.


Seminggu yang lalu, Bella memang akan pergi ke Korea untuk peresmian cabang baru, juga untuk pengalihan pemilik baru dari salah satu butik miliknya pada putrinya.


Melva Anathasia Ramona merupakan putri pertamanya yang berhasil ia lahirkan dengan selamat meski harus menjalani operasi caesar. Ia sempat tidak sadarkan diri selama dua hari akibat kekurangan banyak darah dan tenaga pasca melahirkan putra keduanya, Melvin Dionisius Ramona.


Tahu kebiasaan baru suami berserta anaknya yang akan menganggap kepergiannya berlebihan lantas mengajak keduanya untuk ikut juga. Namun, kedua pria itu beralasan jika masih banyak agenda sekolah dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Berbeda dengan Melvin, bocah itu tidak segila ayah atau kakaknya. Bocah itu hampir tak pernah menunjukkan kesedihan maupun kesulitannya. Jadi tak heran jika Keluarganya mengatakan dirinya lebih mirip sang ibu meski wajahnya mirip sang ayah.


Mau tidak mau, Bella beserta putrinya harus kembali lebih awal sebelum dua pria ini benar-benar menjadi gila karena menangis.


"Ingat usia, Al. Kita sudah tua!" Mencubit gemas perut suaminya.


"Bagiku kau masih sama." Menarik kedua tangan istrinya agar memeluknya.


"Ya, kau memang masih sama," jawab Bella tersenyum seraya mendongak.

__ADS_1


Alex ikut tersenyum, saling menatap dengan penuh cinta. Seolah lupa dengan tujuan mereka, keduanya sudah saling menyatukan bibir.


Jika kau benar-benar mencintai pasanganmu dengan tulus, maka penampilan, fisik dan harta seharusnya tidak menjadi masalah bagimu, begitupun sebaliknya. Kau akan menerima pasanganmu dalam keadaan apapun, saat susah maupun senang. Inilah arti cinta sebenarnya.


Menerima kekurangan dan menerima untuk saling melengkapi.


"Mom!"


Alex berdecak di sela-sela ciumannya. Bella berulang-kali ingin melepas tautannya, tapi Alex terus menahan tengkuk dan wajahnya. Enggan melepaskan.


"Hmph ... Al!" Terlepas juga akhirnya.


Bella menatap tajam pria itu. Gila apa! Tapi Alex hanya memasang wajah santai, tidak peduli jika putranya melihat ciuman panas mereka.


"Mom, aku merindukanmu." Joy memeluk Bella erat setelah menggeser posisi ayahnya, Alex langsung menatap kesal.


Anak nakal!


"Aku juga, tapi lain kali tidak perlu mengatakannya," cibir Bella.


"Mommy jangan sering bepergian, tidak baik. Aku tidak mau punya Daddy baru!"


Plakk. Satu pukulan di pundak Joy mendarat keras. Perkataan seperti ini rupanya sangat sensitif bagi Alex. Pria itu sepertinya sadar jika usianya tidak semuda istrinya, sehingga takut jika Bella akan melihat orang yang lebih muda darinya.


Dua pria ini memang tidak normal, bahkan ia yang hanya pergi setengah jam saja sudah dirindukan begitu berat. Katanya, Bella tidak terlihat tua atau lebih tepatnya telah menyandang gelar hot mommy sejak lama. Mungkin itu sebabnya anak dan suaminya begitu over pada dirinya.


"Kau ini! Jangan mengganggu daddymu. Ayo masuk." Merangkul lengan anak dan suaminya di sisi kiri dan kanan nya.


.......


.......


.......


..."Cinta tidak mengenal hambatan. Ia melompati rintangan, melompati pagar, menembus tembok untuk sampai di tujuannya dengan penuh harapan."...


.........


...~ Extra Part The End ~...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Di Extra Part 5, para mahkluk bumi yang bersembunyi pada menunjukkan diri ya😂 Siapa nih yang belum keluar sarang?...


...Perasaan aku gk pernah nulis Bella mati deh☺️ Di bagian pemakaman pun aku gk nulis itu RIP Bella. Pergi bukan berarti meninggoy ya😛...


...Hehe ... kena prank berjamaah nih ceritanya😆...


...Sampai disini dulu untuk novel The Perfect Couple. Terima kasih atas dukungan para reader semuanya yang selalu suport aku dengan hadiah, vote, like, rate, serta komentar yang membangun🙏...


...Jangan di Unfavorit dulu ya gaess, karena aku bakal bagi info novel terbaruku disini, terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2