Arabelle : My Perfect Wife

Arabelle : My Perfect Wife
Episode 121 | Sungguh, Sosok Ayah yang Luar Biasa!


__ADS_3

Di sebuah kamar bernuasa khas pria, seorang bayi berusia enam hingga tujuh bulan terus saja bergerak aktif. Sang nenek awalnya dibuat kewalahan karena cucu kesayangannya ini tak henti - hentinya menyeret tubuhnya dengan tangan dan kaki kecilnya di lantai.


"Pastikan lantai kamar ini selalu bersih. Aku tak mau cucuku terkena kotoran atau debu!" perintahnya pada pelayan yang ada disana.


"Yes, Mrs."


Jourell bayi kecil itu, usianya sudah beranjak enam bulan lebih. Di usia seperti ini, Jourell sudah mulai belajar merangkak, bermain, bahkan sudah mulai makan dua hingga tiga sendok makan meski hanya bubur halus.


Semua orang di mansion mulai berhati-hati dalam bicara atau bertindak karena bagaimanapun Jourell mulai belajar banyak hal termasuk mendengar dan mengenal sekitarnya. Jangan sampai bayi kecil itu belajar sesuatu yang buruk di masa kecilnya.


Big no! Anak Mommy Qiqi tidak boleh menjadi pria nakal.


Bella datang dengan semangkuk salad buah penuh keju dan susu manis ditangannya. Sepanjang lorong, ibu satu anak itu makan sambil berjalan.


"Lepas alas kakimu, gunakan sandal rumah disana," tegur Clarissa ketika Bella hendak masuk.


Bella sontak berhenti, dia sedikit mendengus. Mertuanya sekarang sudah berubah menjadi sangat overprotektif melebihi dirinya. "Ini juga sandal rumah, Mom." Bella menunjuk kakinya.


"Itu sandal rumah untuk satu mansion, tapi ini khusus untuk kamar Joy!" Entah sejak kapan panggilannya berubah, intinya mereka sudah terbiasa dengan itu.


Bella menghela nafas pasrah, dilepaskan benda itu dari kakinya dan memakai sandal khusus di dekat pintu.


"Aku bisa diabetes jika memakan makananmu." Clarissa bergidik melihat salad yang tenggelam di susu kental berwarna putih dan parutan keju.


"Ya sudah, tidak usah dimakan," santainya.


Bella menatap putranya yang masih sibuk menggerakkan tubuhnya itu. Tak lama dia kembali menatap mertuanya. "Lantainya bersihkan, kan, Mom?" tanyanya polos.


Clarissa langsung menahan sabar, memangnya dia meminta untuk melepas alas kakinya untuk apa? Kenapa menantunya jadi bodoh seperti ini. "Coba lihat apa ada wajahmu disana," tunjuk Clarissa pada lantai keramik itu.


"Tentu saja ada. Lantainya bersih, Mom,"


"Itu jawabannya," jawab Clarissa singkat. Bella langsung berdecak.

__ADS_1


Masa bodohlah ....


"Bebee ..." Bella menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar suara familiar sudah menggema di luar kamar.


Hanya satu orang yang memanggilnya begitu, jadi tidak perlu diberitahu lagi, kan?


"Bebe—"


"Lepas sepatumu!" ucap dua wanita itu bersamaan.


Alex tidak jadi masuk. Sama seperti Bella awalnya, dia membuka sepatunya dan memakai sandal rumah. Seperti biasa, pria itu akan mencium istrinya dulu, barulah dia akan mencium putranya yang menatapnya senang.


Clarissa memilih pergi setelah mendapat kecupan di kening dari Alex juga. Setidaknya anak itu tidak melupakan ibunya yang ada disana juga.


"Tumben sekali pulang cepat," gumam Bella heran, tapi dia tidak peduli. Wanita itu hanya makan dan mengawasi anaknya.


"Aku sangat malas berada di kantor hari ini," jawabnya memeluk Bella manja di lesehan.


"Bebe ... kau tidak bertanya kenapa?"


"Kenapa?" tanya Bella akhirnya. Alex berdecak. Apa istrinya tidak punya inisiatif?


Alex baru sadar jika ada semangkuk salad di tangan wanita itu. Ah ... pantas saja. Mau merengek seperti apapun, kau tak akan menang melawan makanan!


"Bebe ... kau harus selalu percaya jika aku hanya mencintaimu. Jangan mudah percaya dengan apa yang hanya dilihat dari mata."


Bella sontak berhenti dan meletakkan mangkuknya di atas nakas. Matanya memincing menatap suaminya yang sudah melepas pelukannya. " Kau selingkuh ya ..."


"Astaga ... aku berkata begini saja kau berpikir begitu. Bagaimana jika kau melihat yang tidak-tidak," keluh Alex.


"Apa kau berniat melakukan yang tidak-tidak!" Bella sudah menatap dengan mata membunuh.


Alex langsung menariknya ke pangkuannya. Jangan sampai singa betinanya mengamuk, bisa rusak malam-malam indah mereka nanti.

__ADS_1


"Mau apa kau!" Bella ingin turun, namun ditahan.


"Model untuk produk Bell's Bilka berusaha menggodaku terus. Aku jijik, Bebe ... bagaimana jika kau melihatnya dan mengira aku bermain nakal." Alex menenggelamkan wajahnya di ceruk istrinya.


Masih ingat dengan pemotretan tangan Bell's Bilka yang akan dilakukan di kantor pusat? Ada sedikit kendala sehingga peluncuran ditunda dan baru akan dilakukan bulan ini. Pemotretan juga dilakukan di kantor pusat milik Ramona karena QA tidak pernah melakukan syuting di kantor pusat.


Model sudah di dapat, tapi siapa sangka jika wanita itu hampir tak tahu malu dan berusaha menarik perhatian dari bos besar itu. Tentu bukan Soo-Jin atau Bean yang mencarinya, ini adalah tugas dari divisi kreatif!


"Yang benar saja," gerutunya.


"Aku takkan membiarkannya menyentuhku, hanya istriku yang boleh. Jika dia berani, aku akan melemparnya keluar dan menjadikannya gelandangan!"


"Asal kau tidak tergoda saja."


"Tidak akan! Bahkan sebelum bertemu denganmu saja, aku tidak pernah tertarik dengan siapapun. Bagaimana mungkin wanita itu bisa, dia tidak bisa dibandingkan denganmu." Alex semakin mengencangkan pelukannya.


Bella terkekeh. "Joy ... lihat Daddymu. Dia sedang sedih atau mencari kesempatan?" Bella memang pandai mencairkan suasana. Mata dan telinganya selalu bekerja dengan baik. Meski Alex sedang berkeluh kesah, tapi tangan pria itu sebenarnya sudah mengelus dadanya dari dalam kaus lengan pendeknya.


Joy tertawa, membuat Alex berhenti dan menarik tangannya lagi. Pria itu selalu lupa suasana jika sedang bersama sang istri. Jika Bella tidak menyebut nama Jourell, Alex pasti sudah lupa dengan kehadiran putranya.


"Jaga Joy dulu, aku ambil makan siangmu." Bella hendak bangun.


"Kau tidak meresponku sejak tadi," tahan Alex.


Bella menghela nafas. "Aku percaya suamiku hanya mencintaiku. Aku hanya bercanda, tidak mungkin aku tidak percaya. Oke?" Bella mengecup rahang kokohnya, lalu beranjak pergi.


"See ... dia istriku dan milikku. Kau harus berhenti menarik perhatiannya dan mengambilnya dariku," ancam Alex.


Jika semua orang berusaha menjaga sikap jika di dekat bayi kecil yang mulai belajar itu, berbeda dengan Alex hanya selalu memberi peringatan seakan itu adalah saingan cintanya. Namun, Alex hanya berani melakukannya ketika mereka hanya berdua, lain cerita jika ada dua nyonya bersama mereka.


Alex terus mengajaknya berbicara dan ditatap serius oleh bayi itu. Ketika mendengar Bella sudah datang, Alex segera mengendongnya sayang sambil menimang-nimangnya. Sungguh, sosok ayah yang luar biasa!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2